"Sayang, kita makan, yuk!" ajak Ghibran pada Yasmin yang tengah sibuk memainkan ponsel di ruang tengah sambil duduk di atas sofa. Tidak ada tanggapan sama sekali. Ghibran yang tengah bediri beberapa meter pun tampak menghampiri dan duduk di samping Yasmin. Tanggannya kemudian terulur, mengelus surai panjang yang terurai. "Hei, makan dulu!" Mendapat perlakuan itu, Yasmin dengan refleks menoleh ke samping kiri dengan tatapan sinis. "Enggak usah pegang-pegang, bisa enggak, sih?" protes Yasmin yang refleks menyingkir dengan menggeser tubuhnya, menghindari sentuhan dari tangan Ghibran yang selalu saja mencipta kekacauan di dalam sana. Karena jujur, dia selalu tidak bisa mengendalikan detak jantung yang makin berpacu lebih kencang daripada sebelumnya, setiap kali diperlakukan seperti i

