Cantik Paripurna

1880 Kata

Dedaunan bergemerisik diterpa siur angin pagi. Mentari pun telah menampakkan wajah, meski masih malu-malu bersembunyi di balik awan. Namun, tidak dengan Yasmin. Dia masih bergelung di bawah selimut. Mengeratkan pelukan untuk menghangatkan tubuh. Menikmati sisa liburan karena cuti pasca menikah. Tunggu! Mengeratkan pelukan? Memeluk siapa? Yasmin terlonjak ketika menyadari sedang memeluk sesuatu yang kenyal dan diyakininya bukan guling. Namun, wanita itu masih setia memejamkan mata. Aroma maskulin pun menggelitik indera penciuman saat meraba sesuatu yang bidang di hadapannya. Ah, dia semakin takut untuk membuka mata. Dengan perasaan ragu dan sangat perlahan, dia mulai melebarkan kelopak mata. Meneguk kasar salivanya tatkala melihat sosok pria yang sedang tersenyum menatapnya. Dia sekilas

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN