67

552 Kata

Dan benar saja, setengah jam setelah aktivitas melelahkan mereka usai. Suara tangisan keras Erfan yang kehilangan ibunya terdengar dengan keras. Angela yang kebetulan telah selesai mandi dengan rambut yang belum kering berjalan dengan cepat ke kamar Erfan melalui pintu penghubung. Pintu itu sengaja dibuat oleh Alvin mengingat mereka akan menanti kehadiran anak ke-dua mereka. "Lain kali jangan berlarian seperti itu, Angela!" delik Alvin dengan marah. Matanya menatap tajam pada sang istri yang tidak pernah memikirkan konsekuensi dari tindakan yang diambilnya. "Maafkan aku!" jawab Angela dengan senyuman bersalah. Hampir saja ia tergelincir ketika melewati pintu penghubung, beruntung Alvin dengan sigap menyambut tubuh montoknya hingga ia tidak merasakan dinginnya lantai kamar mereka. "Y

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN