#Gimbab #Onigiri

844 Kata
Bab 2 Aku berlari pulang ke rumah. Setelah kejadian tadi, aku sangat takut. Ponsel apa itu? Mengapa dia tahu namaku? Apa itu hanya kebetulan? Tapi kalau iya, apa yang terjadi tadi terasa seperti nyata? Aku tiba di rumah. Perasaanku sungguh kacau. Kututup pintu rapat-rapat. Semoga kejadian tadi hanya mimpi karena aku lelah bekerja seharian. “Mengapa hari ini mendung? Salju juga sangat tebal. Tidak ada matahari. Aku tidak ingin membuka jendela hari ini”. Ruangan ini terasa sangat dingin. Aku merasa lapar. Kubuka mi instan yang kubeli kemarin malam. Aku kembali teringat tentang ponsel itu. Aku harus melupakannya. Pasti itu cuma kebetulan. Hari ini aku tidak ingin bekerja. Aku akan minta izin. Atau aku ingin dipindahkan ke K-mart lain. aku jadi merasa takut jika bekerja di situ. Teleponku berdering. “Halo, Suzy. Kamu hari ini tidak masuk?” kata Andrea menghubungi. “Aku tidak bisa masuk hari ini, aku tidak enak badan."' "Andrea, kemarin kamu tidak shift malam? Apa kamu digantikan anak baru?" tanyaku. “Iya, aku tidak bisa bekerja kemarin. Kakekku meninggal. Iya, kemarin ada anak baru.” “Apa anak barunya seorang pria tua?” “Hah? Pria tua? Mana mungkin. Kamu bermimpi ya? Mana mungkin pria tua bekerja part time.” “Tapi aku tadi malam ke K-mart dan aku bertemu penjaga kasirnya, pria tua.” “Kamu benar-benar bermimpi, Suzy. Sudah ya, aku harus bekerja menggantikanmu.” Andrea menutup telepon. Jadi sebenarnya pria tua itu siapa? Mengapa kejadian kemarin sangat menggangguku? Hari ini aku akan di rumah saja. Aku hanya akan keluar saat membeli makan malam. Trriiing. Ada pesan masuk. Itu dari ayah. “Transfer aku 100.000 won sekarang.” Dia selalu minta uang. Padahal aku terus berhemat hanya makan mi. Kenapa hidupku sangat berat? Jika tidak kuberi uang, dia akan datang dan memukulku. Sejak ibu meninggal, aku harus menghadapi ayahku yang mengerikan itu. Ah, bagaimana pun aku harus menghadapi hidup ini. Aku memejamkan mata dan tertidur. Hari sudah malam, sekarang pukul 21.00. Aku lapar. Aku tidak ingin makan mi lagi. Aku harus membeli makan. Aku akan ke toserba lain yang lebih jauh. Malam ini salju turun. Masih banyak orang berlalu lalang di jalan. Apa yang harus ku beli malam ini? Aku ingin makan nasi, tapi aku harus hemat. "Ding dong." Ini toserba K-24, tempatnya lebih luas. Apa aku pindah kerja di sini saja? Karena mereka juga butuh pekerja part time. Aku berjalan mengitari tokonya. Aku melihat ke arah makanan ringan. “Wah, di sini menjual gimbab tuna. Lihat. onigiri tuna juga ada.” Aku memegang keduanya. Aku ingin membeli ini untuk makan malam. Saat aku masih memegang dua makanan itu, sebuah dering ponsel terdengar. “ttareureung ttareureung.” Aku terdiam. Aku melihat kanan dan kiri di lorong itu. Tidak ada siapa pun. Kenapa keadaannya jadi sunyi? Bukankah tadi banyak orang sedang makan di meja itu? Deringnya berhenti. Aku tidak ingin mencari asal dering itu. Aku hanya ingin pergi dan membayar. Aku cepat-cepat menuju kasir. Kuserahkan gimbab dan onigiri. Kasir itu menatapku dan bertanya, “Pakai plastik?” “Iya.” Dia memasukkannya. Aku mengambil dari tangannya, tapi dia menghentikanku. “Itu ponselnya ketinggalan.” Ponsel lipat berwarna putih itu ada di atas meja kasir. Aku terkejut dan aku menatap ponsel itu. Lalu ponselnya berdering lagi, “ttareureung ttareureung.” “Ponsel kamu berdering.” “Itu bukan ponsel saya. Tapi dari tadi kamu meletakkannya di sini.” Aku menatap kasir itu. Aku tidak ingin berdebat dengannya karena di belakang ada orang yang mengantre. Aku mengambil ponsel itu dan pergi keluar. Aku duduk di meja luar sambil terus menatap ponsel itu. Deringnya sudah berhenti. Beep.. beep. Ini suara pesan masuk. Kubuka atau tidak? Tapi aku penasaran apa isinya. Kalau dia bilang hidupku tinggal 11 hari, berarti akan muncul pesan hari ke 2. Aku menghela napas, lalu perlahan membuka pesan itu. 1 pesan. Pesannya terbuka sendiri, tertulis, “Hari-2.” Mataku terbelalak membacanya. “Benar.... ini hari ke-2.” Beep beep. Masuk pesan lagi. Pesannya terbuka. “Suzy, apakah kamu percaya padaku?” Kututup ponsel itu, lalu kutinggalkan di atas meja. Aku kembali berjalan pulang. Rasanya aku ingin berlari. Apa maksud pesan itu? Kenapa dia terus menyebut namaku? Aku berlari, dan buk! aku menabrak seseorang. Dia mabuk. Aku mencium bau alkohol yang sangat kuat dari tubuhnya. Aku terjatuh. “Dimana matamu sampai menabrakku, dasar jalang!” Aku berdiri. “Maafkan aku.” “Tidak ada maaf-maafan. Beri aku uang sebagai ganti rugi. Kalau tidak, aku akan membunuhmu!” “Aku tidak punya uang. Maafkan aku.” Banyak orang melihat, tapi mereka semua tidak perduli. Pria itu mengancamku. Dia ingin memukulku. Plak! Dia menamparku. Aku menangis menahan rasa sakit tamparannya. Lalu dia pergi setelah memukulku. Apa yang terjadi? Kenapa aku harus menerima pukulan ini? Aku berjalan pelan sambil terus memikirkan isi pesan itu. Apa maksudnya aku harus mempercayainya? Aku berhenti. Aku harus menghubungi nomor yang ada di pesan itu. Aku kembali berlari ke toserba K-24. Aku mencari ponsel yang tadi ku tinggalkan. Tapi ponselnya sudah tidak ada. Sebenarnya apa maksud ponsel itu? Haruskah aku percaya bahwa waktuku tinggal sembilan hari lagi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN