#Kopi #Mi Instan
Bab 1
“Ding dong,” terdengar bunyi bel saat seseorang masuk ke dalam K-mart.
Seorang pria mengenakan jaket dengan tudung kepala membeli secangkir kopi panas.
Dia menyeduhnya di mesin kopi, lalu pergi ke kasir untuk membayar.
Saat akan menuju kasir, dia berbalik lagi karena mendengar suara dering ponsel, “ttareureung ttareureung.”
Dia melihat sebuah ponsel di atas meja, ponsel lipat berwarna putih tepat di sebelah kopinya.
Namun suara deringnya berhenti. Dia mengambil kopinya dan juga mengambil ponsel itu, lalu meletakkannya di saku kanan jaketnya.
Di meja kasir, saat dia akan membayar kopi, ponsel itu berdering lagi, “ttareureung ttareureung.”
Hari ini aku bekerja shift malam. Sekarang pukul 23.50. Pria itu menghampiriku, menyerahkan uang 5.000 won untuk membayar kopinya. Aku harus mengembalikan uangnya 1.500 won.
“Ini kembaliannya,” kataku sambil menyerahkan uang itu. Saat itu juga aku mendengar nada dering dari ponsel seperti yang aku dengar dulu.
Suara dering ponsel yang membuat aku sangat ingin menghapusnya dari ingatanku.
Aku menatap wajah pria itu, “Dari mana asal nada dering itu?” kataku berusaha mencarinya.
Pria itu merogoh saku kanan jaketnya dan mengeluarkan ponsel lipat berwarna putih.
Aku terdiam melihat ponsel itu masih berdering, “ttareureung ttareureung.” Pria itu menatap ponsel dan bersiap untuk membukanya.
Aku menghentikan tangannya, mencegah dia membuka ponsel itu.
“Ini kembaliannya, Pak,” kataku sambil menatap serius pria itu. Dia juga menatapku. Kami terdiam selama tiga detik.
Lalu aku berkata, “Seharusnya aku tidak membuka pesan itu.” sambil menatap tajam padanya dan menggelengkan kepala, tanda aku tidak ingin dia membuka ponsel itu.
Dering ponsel berhenti. Pria itu pergi keluar dengan membawa kopi dan ponsel itu bersamanya. Namun dia berhenti di depan pintu keluar, lalu menatap ke arahku, masih dengan memegang ponsel di tangannya.
Dan ponsel itu berdering lagi, “ttareureung ttareureung.”
Kembali ke malam pertama aku menemukan ponsel.
“Malam ini sangat dingin, sepertinya -2 derajat,” gumamku sambil berjalan lebih cepat ke arah K-mart.
“Sudah pukul 23.50. Hari ini sepertinya shift malam Andrea, tapi kemarin ada pemberitahuan kalau Andrea akan diganti anak baru yang jaga shift malam,” aku mencoba mengingat.
“Ding dong,” aku masuk ke dalam K-mart.
“Malam ini sepi sekali, tidak ada orang berbelanja,” kataku sambil melihat kanan dan kiri.
“Dimana yang bekerja shift malam?” kataku, berusaha mencari keberadaan kasir.
Aku berjalan menyusuri rak demi rak di K-mart sampai aku berhenti di rak mi instan.
“Malam ini aku hanya makan mi instan, uangku tidak cukup untuk membeli lauk lengkap,” kataku.
Aku mendengar suara nada dering ponsel di dekat rak itu, berbunyi “ttareureung ttareureung.”
Aku mencari dari mana asal suaranya. Ternyata ponsel itu berada di belakang, tertimpa mi instan.
Deringannya berhenti.
Aku mengambilnya dan memperhatikannya. Ternyata itu sebuah ponsel lipat berwarna putih dan terlihat tua.
“Ponsel ini tua sekali,” kataku.
Kupikir orang tua zaman dulu masih menyimpan ponsel seperti ini. Mungkin dia lupa dan meninggalkannya di sini.
Jika kubuka, aku akan tahu siapa pemiliknya, karena ponsel seperti ini tidak ada sandi kunci. Aku bisa melihat nomor terakhir yang dihubungi dan memberitahunya bahwa ponsel ini tertinggal di sini.
Aku membuka ponsel itu. Benar saja, ponselnya tidak terkunci, tapi layar ponselnya sangat terang.
Di layarnya tertulis, “Jika kamu menemukanku, maka hidupmu tinggal 11 hari.”
Aku membaca tulisan itu lagi. Seketika seperti ada hawa dingin melewati tubuhku.
“Beep beep,” ponsel itu berbunyi saat ada pesan masuk.
Pesannya terbuka sendiri, bertuliskan, “Hari-1.”
“Beep.” Ponselnya berbunyi lagi. Aku merasakan ketakutan saat ini.
Masuk lagi pesan lain, bertuliskan “Suzy, aku menemukanmu.”
“Aaaah!” teriakku dan melempar ponsel itu.
Ponsel itu terjatuh di lantai, masuk ke dalam rak paling bawah. Aku langsung berjalan cepat menuju kasir.
Di sana sudah berdiri seorang pria tua menungguku untuk membayar mi instan yang aku pegang.
Aku melihat wajah kasir itu dan bingung. “Mengapa yang shift malam hari ini seorang pria tua?” gumamku.
Tapi dia memakai seragam biru seperti aku saat bekerja. Aku hanya membayar, tidak berani bertanya.
Kejadian tadi masih membuatku terkejut dan takut.
Aku menerima kembalian uang dan pergi keluar dari sana, tanpa melihat ke arah rak tempat aku menemukan ponsel tadi.
Saat berada di pintu keluar, aku menghentikan langkah kakiku dan menoleh kearah pria tua itu.
Dia berdiri diam, menatapku tanpa berkedip sama sekali.
Aku merasa ketakutan. Aku berjalan sangat cepat sampai berhenti di persimpangan.
Menunggu lampu merah, di seberang jalan aku melihat seekor kucing hitam menatap ke arahku.
Kucing itu sangat aneh. Dia masih melihatku sampai lampu hijau dan aku bisa menyeberang, tapi kucing itu masih di sana, tidak bergerak.
Aku berjalan perlahan. Tidak ada seorang pun yang menyeberang, hanya aku.
Tiba-tiba sebuah mobil melaju sangat kencang ke arahku.
“Aaaah!” Tubuhku terjatuh, meringkuk dan berteriak.
Aku terdiam, merasakan tubuhku. Tapi aku tidak merasa sakit apapun. Kubuka mataku dan kuperhatikan sekitar.
Tidak ada sebuah mobil. Kucing hitam itu juga tidak ada lagi di sana.
Tubuhku gemetar, seakan nyawaku hampir hilang.
Aku mencoba bernapas dan mengingat kembali pesan di ponsel itu.