3. My First Kiss

957 Kata
Kayla berjalan menuju kamarnya. Memasukkan beberapa baju ke dalam tasnya. Tak lupa ia memilih baju untuk dipakainya sekarang. Celana jeans pendek dipadu dengan kaus warna pink mrnjadi pilihannya. Tak lupa sepatu kets warna putih dan tas warna senada dia pilih untu liburan kali ini. Dia keluar dari kamar dan melihat sang mama juga sudah siap. Membawa baju dan beberapa perlengkapan mandi dan juga obat. Om Arsen mambantu membawakan tas mamanya dan dengan perhatian membuka pintu untuknya. Sesekali dia mencuri pandang ke arah mama yang terlihat sangat menawan denga baju pantai yang dia kenakan. Mama memang sangat cantik kulit putihnya terlihat mencolok diantara wanita-wanita lain dan aura keibuannya membuat Om Arsen seperti bertekuk lutut kepadanya. Mama duduk disamping pria tampan kekasihnya itu, sedangkan Kayla dudu di belakang. Menjadi obat nyamuk diantara dua orang yang sedang jatuh cinta. Si wanita adalah mamanya sendiri manusia yang sangat berjasa dalam hidupnya dan si pria adalah satu-satunya manusia yang mampu membuat hatinya berdebar sejauh ini. Diantara teman-teman sekolah yang selalu mengirim bunga atau surat cinta untuknya. Kayla tidak tertarik. Setelah dua jam perjalanan sampailah ke tempat tujuan. "Kayla ayo kita mulai bersenang-senang," ajak Om Arsen setelah berhasil memarkirkan mobilnya. "Ayo sayang kita berjemur," usul Mama Elena sambil beranjak dari duduknya. Kemudian mereka bertiga mulai bersantai di beach bed dilengkapi meja kecil dan payung warna biru muda yang telah di pesan oleh Om Arsen sebelumnya. Mama Elena berada di tengah di antara kekasih dan putrinya. Mereka menatap keindahan ombak yang bergantian menerpa bibir pantai membuat wisatawan kompak berteriak dan kembali menunggu guyuran ombak selanjutnya. Kayla menatap ke arah ombak, ingin sekali berada di antara orang-orang yang gembira karena tersapu ombak. Namun, akankah mamanya mengijinkannya. Tidak semudah itu. Orangtua paling protektif ya mama Elena, maklum dia single mom dan Kayla satu-satunya keluarga yang dia miliki. "Mama Kayla ke sana ya?" rengek Kayla seraya menunjukan wajah yang sangat memelas agar mamanya mengijinkan. "Jangan Kayla itu bahaya," larang Mama Elena dengan suara tegasnya membuat Kayla beringsut kembali duduk dan tidak berani menatap sang mama. Seolah mengetahui kekecewaan Kayla Om Arsen, menatap gadis itu lalu tersenyum. Mengisyaratkan ingin membujuk wanita di sampingnya agar mengijinkan putrinya bersenang-senang. "Biarlah Kayla bersenang-senang, kita bisa mengawasinya dari sini," usul Om Arsen meyakinkan wanita keras kepala yang sedang menatap kesal ke arah putrinya. "Baiklah, kamu boleh ke sana tapi jangang terlalu dekat dengan ombak," kata Mama Elena sambil menunjuk arah ombak yang bergulung. "Sungguh?" tanya Kayla tidak yakin dengan ijin yang baru saja di berikan sang Mama. Mama Elena mengangguk, mengiyakan. Kayla menatap ke arah Om Arsen melempar senyuman ucapan terima kasih kepada pria itu. Kemudian lelaki itu tersenyum membalas. Bersenang-senanglah Kayla! Kayla berlari kecil mengahampiri orang-orang sedang menunggu datangnya ombak. Mereka berteriak ramai sekali, Kayla pun ikut bahagia. Setelah beberapa ombak kecil bergulir dan kini tibalah ombak yang lebih besar dari sebelumnya datang menyapu. Orang-orang di sebelah Kayla beranjak lalu berlari. Kayla yang sedang duduk tidak sempat berlari membuatnya terbawa ombak. Matanya gelap dia tidak mendengar lagi suara suara teriakan. Dia tak sadarkan diri dan terbawa ombak. "Kayla," teriak mama Elena sambil berlari mengejar putrinya yang terseret ombak. Om Arsen menghentikan langkah mama Elena dan dia sendiri yang berenang mengejar kayla yang semakin jauh terbawa ombak. Pria itu terus berenang mencoba meraih Kayla yang sudah mengambang tak sadarkan diri. Ombak semakin membawanya menjauh. Sementara itu, mama Elena terus memperhatikan Arsen yang berusah meraih putrinya. Hatinya seolah menloncat pergi melihat anak gadisnya semakin terbawa jauh. Beberapa penjaga pantai mulai berdatangan membantu Arsen. Dan akhirnya pria itu berhasil menarik tangan Kayla lalu membawanya berenang ke tepi pantai. Semua orang ikut mengelilingi tubuh Kayla yang masih diam. "Bangun Kayla," tangis mama Elena sambil menepuk-nepuk pipi anaknya. Tanpa berfikir panjang, Arsen membuka mulut gadis itu lalu memberikan nafas buatan, beberapa kali dia meniupkan oksigen ke bibir gadis itu. Bibir siapa ini, kenapa lembut sekali. Aku harus membuka mata sekarang juga. Kayla kamu sudah sadarkan! Kenapa seolah kamu menikmati nafas buatannya. Kayla buka matamu! Batun Kayla. "Uhukk," Kayla terbatuk dan dengan perlahan membuka matanya. Semua orang yang menatapnya khawatir bernafas lega melihat gadis itu sudah sadarkan diri. Om Arsen, kenapa wajahmu sesedih itu. Astaga Mama dimana Mama! Batin Kayla. "Mama," teriak Kayla sambil memeluk sang mama yang sudah menangis tersedu-sedu di sampingnya. Melihat orang-orang yang masih berkerumun mengitari Kayla, Arsen langsung menggendong Kayla dengan kedua tangannya. Diikuti Mama Elena yang berjalan di belakangnya. Degup jantung sang pria, membuat Kayla memperhatikan bibir pria yang sedang membawanya menuju kamar hotel. Disentuhnya bibirnya sendiri. Apakah tadi bisa disebut ciuman pertama? Tentu saja tidak, itu nafas buatan Kayla. Tetapi bukankah kamu merasakan bibir lembutnya tadi, manis dan membuat nyaman bukan? Kayla sepertinya kamu sangat menikmati nafas buatan yang di berikan pria ini kepadamu! Sadar Kayla dia kekasih mamamu! Tidak patas kamu berfikir seperti itu. Hentikan! Batin Kayla lalu menepuk keningnya dengan keras. "Kamu pusing?" tanya pria itu sambil menatap penuh perhatian. "Tidak Om," gumam Kayla pelan. Tanpa memperhatikan orang-orang yang menoleh ke arah mereka. Arsen twrus membawa gadis itu ke dalam kamar hotel dekan pantai yang sudah ia pesan. "Kamu istirahat dulu di sini," perintah Om Arsen sambil membaringkan Kayla di ranjang. "Sayang, maafin mama ya," ucap mamanya sambil terus meneteskan air mata. Kayla mengangguk lalu menatap mereka bergantian. Dia memunggungi kedua orang yang masih memperhatikan nya. Ada rasa sedih membuat mamanya menangis. Namun, ada rasa senang yang merambat pasti ke hatinya. Kenapa ciuman itu begitu membekas! Sadarkan aku, dia kekasih mamaku. Batin Kayla tak berani berbalik ke arah dua orang yang masih melihatnya dengan seksama. Tak berapa lama suara pintu kamar hotel menutup, membiarkan Kayla istirahat. Namun Kayla tak dapat memejamkan Mata meski hanya sekejap. Dada bidang Om Arsen yang menempel di lengannya, masih terasa hangat. Beberapa kali dia meraba bibirnya sendiri. Mencari sisa-sisa ciuman pria kekasih mamanya. Hal itu membuat jantungnya kembali berdebar dan melupakan niatnya untuk segera melupakan pria sepuluh detik tersebut. Cukup Kayla, kamu harus segera melupakannya! Jangan berdebar lagi karenanya! Bibirnya, cukup bibirnya saja yang menyentuhmu! Jangan biarkan kamu tenggelam dalam perasaan cinta terlarang. Batin Kayla. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN