Chapter 4 - MORNING SICKNESS

932 Kata
"It's the best and most beautiful things in this world can not be seen or touched. They must be felt with the heart." Hellen Keller (Hal-hal terbaik dan terindah di dunia ini tidak bisa dilihat atau disentuh. Semuanya harus dirasakan dengan hati.) ••••• Darren Morrano Smith pov Huek.....huek.... Sayup sayup ku dengar suara orang sedang muntah. Aku mengerjabkan mataku. Fajar sudah menyingsing, mentari pagi telah menampakkan wajahnya. Huek....huek.... Aku menyingkap selimutku dan bergegas mencari sumber suara. Di kamar mandi ku melihat wanita semalam sedang berjongkok di depan kloset. "Kamu kenapa?" tanyaku. Dia kelihatan sedang tidak baik-baik saja. "Anda pergi dari sini, saya jorok," usirnya. Hey, bagaimana dia melupakan bahwa ini rumahku. "Kamu sakit?" kataku lagi. Aku bersandar di kusen pintu kamar mandi. "Setiap pagi saya selalu seperti ini____" Huek.....huek..... Ucapannya terpotong oleh muntahan. Aku mendekat ke arahnya, berdiri tepat di belakangnya. Aku tidak tega melihatnya. Lalu ku usap perlahan tengkuknya. "Biasanya kalau lagi begini diapain biar sembuh?" "Teh hangat bisa meredakan sedikit," jawabnya. Dia masih belum mau berdiri dari posisinya. "Yaudah saya buatkan, kamu duduk aja di sofa." Dia menggeleng. "Kenapa tidak mau?" tanyaku heran. "Saya lemas, nanti pasti mondar mandir ke kamar mandi, jadi lebih baik saya di sini dulu." Aku mengangkat tubuhnya. Dia diam tanpa perlawanan. Wangi ini, kenapa wanginya sama dengan wanita malam itu. Aku harus mencari tahunya lebih cepat. "Kamu di sini dulu, saya buatkan teh hangat sebentar," ucapku. Aku mendudukkannya di atas sofa ruang keluarga, tempatku semalam tidur. Beberapa saat kemudian, aku kembali dengan membawa segelas teh hangat. "Ini diminum," perintahku. Dia menurutinya, meminum teh yang ku berikan. "Makasih," tukasnya. "Namamu siapa?" tanyaku. "Diana, panggil saya Diana," ujarnya. "Tidak perlu kaku begitu, biasa saja." "Tidak sopan, saya tau anda lebih tua dibanding saya," katanya sambil menyeruput teh lagi. "Baru dua puluh tujuh, mungkin usia kita tidak jauh berbeda." "Aku delapan belas tahun," katanya. Aku kaget mendengar ucapannya. "Delapan belas tahun? Kamu baru lulus sma?" Dia mengangguk. "Kenapa bisa masuk diskotik?" tanyaku tidak percaya. "Diskotik?___" tanyanya. Dia nampak berpikir. "Ah ya, saat itu aku sedang merayakan kelulusan sekolahku." Oh keterkejutanku seakan belum hilang. Apakah benar aku menghamili anak kecil? Seingatku pakaiannya sangat seksi waktu itu, sama sekali tidak mencerminkan anak sma yang baru lulus. Mungkinkah dia menipuku? "Bagaimana kamu bisa sampai di sini?" kataku. "Anda___" "Sepertinya aku kamu lebih enak di dengarkan." Aku memotong kalimatnya. "Kamu dulu membawa kartu nama, aku mengambilnya." Bisa dipertimbangkan, aku memang kemana-mana selalu membawa kartu nama. "Bagaimana dengan orang tuamu?" "Aku diusir," ucapnya datar. "Oleh karena itu, aku butuh tempat tinggal. Tak apa jika kamu tidak mau bertanggungjawab, tapi akuilah bahwa ini anak kamu dan berikan aku tempat tinggal," katanya sendu. Aku masih belum bisa berpikir jernih untuk saat ini. Dia membekap mulutnya, sepertinya ingin muntah lagi. Aku langsung refleks mengelus perutnya. "Sepertinya dia tau sedang diusap ayahnya, jadi berhenti mualnya." Dia berkata seolah aku ini memang benar benar ayahnya. "Makanlah! mungkin dengan makan kamu tidak mual lagi." Jiwa kasihanku keluar, tidak tega juga dengannya. "Aku ingin makan sate ayam pakai lontong," ucapnya. "Maksudnya kamu suruh aku beli gitu?" "Anak kamu yang mau, harusnya sebagai calon ayah yang baik kamu turutin mau dia," ucapnya. Dia ini pandai sekali mengolah kata. "Oke, aku beliin." Aku berdiri mengambil dompet dan berlalu membeli sate ayam pesanannya. Untunglah hanya minta sate ayam. Kan jadi tidak jauh jauh belinya, di depan kompleks ada. Kebetulan juga hari ini sedang tidak antri. "Kenapa potongan cabenya dicampur sama kuah kacang?" tanyanya setelah membuka bungkusan sate ayam yang kubelikan. "Emang harusnya gimana? Udah aku beliin juga, susah itu carinya," kataku dengan sedikit nada tinggi. Air matanya perlahan menetes. Tangan kanannya digerakkan untuk mengusapnya. "Kok malah nangis bukannya dimakan," protesku agak galak. Orang mana yang nggak sebal jika direcokin pagi pagi. Tangisannya malah semakin menjadi. Matanya memerah karena itu. "Udah-udah jangan nangis ya." Kuusap punggungnya perlahan. Sepertinya memang aku harus mengalah. "Kamu bentak aku tadi," gumamnya serak, tapi aku masih cukup jelas mendengarnya. "Maaf, kamu maunya gimana?" "Aku nggak suka cabe dipotong-potong gitu, harusnya nggak pake cabe aja." "Yaudah aku beli lagi ya, udah jangan nangis dong." "Nggak usah, udah nggak pengen makan sate. Kamu buatin aku nasi goreng aja." Ingin ku teriak. Masak aja nggak bisa, gimana caranya buat coba. Aneh aneh aja ni cewek. Udah numpang, ngerepotin lagi. Tapi nanti kalau dibentak nangis. Jadi serba salah. "Aku nggak bisa buat nasi goreng," kataku perlahan, takut dia nangis. "Aku bisa," ucapnya. Kalau bisa kenapa nggak buat sendiri, bikin repot aja. "Kamu buat sendiri kalau gitu." "Aku kasih tau resepnya, kamu yang buat," katanya. Dia mengedip-ngedipkan mata puppy eyes nya. Kenapa lucu sekali. Ahh. "Ayo buruan, aku mau siap siap pergi ke kantor ni," ajakku. Aku belum pernah cerita tentang pekerjaanku. Oke, aku kerja sebagai karyawan IT di salah satu perusahaan swasta besar di Indonesia. Kantor pusatnya ada di Jakarta, dan aku mendapat penempatan di kantor cabang Bandung. Selain sebagai IT, aku juga seorang youtuber. Pekerjaan masa kini sekali. Youtube channel ku khusus membahas tentang design rumah. Karenanya, aku tidak jarang mendapat tawaran untuk membuatkan design rumah. Kembali lagi pada proses memasak. Setelah drama gosong akhirnya makanannya jadi juga. "Silahkan dinikmati tuan puteri. Aku mau mandi, takut telat ke kantor." "Makasih," ucapnya. Padahal belum tentu juga rasanya enak. Tadi waktu kurasakan lebih ke arah asin sih, tapi bodo amat, males buat lagi. Satu yang kupahami dari Diana, dia type orang yang selalu mengatakan terimakasih ketika diberi. Cukup baik juga itu orang. Tak terasa, senyumku mengembang mendengar ucapan itu. ••••• Sorry Typo ? WARNING !!! Jangan lupa tekan ? True Love ©2020 laelanhyt All rights reserved
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN