Pre-Story
Tiara. Gadis Indonesia-Korea sedang berdiri gelisah dibandara yang masih terasa sangat baru untuknya.
Dia merapatkan Coat (baju panjang) warna baby pink yang dikenakannya dan menggosok-gosokan kedua telapak tangan, mencoba mengurangi perasaan yang berbaur tidak karuan.
Ara, begitu ia biasa dipanggil, merasakan suasana yang sangat asing sejak pertama kali menjejakan kaki dibandara itu, Incheon Airport.
Orang yang lalu lalang tidak pernah sepi seakan saling mengejar waktu, sedangkan Ara terjebak dimana waktu seolah berhenti dimana ia harus menunggu.
Pandangan matanya terus beredar mengelilingi setiap sudut bandara yang tertangkap mata, berharap seseorang datang dan meneriakan namanya. Sepuluh menit, Tiga puluh menit, dan sekarang hampir satu jam berlalu, hasilnya nihil.
"Yak! apa-apaan ini? Aku harus menunggu berapa abad?" gerutu Ara dalam hati. Dia bisa menolerir beberapa hal tapi tidak yang satu ini. Ara sangat tidak suka menunggu.
"Kenapa lama sekali? Bukankah dia berjanji untuk menjemputku dibandara tepat waktu? Bahkan dia sudah bersumpah pada ayah dan ibu untuk menjagaku dengan baik selama disini. Kenapa dia sekarang justru menelantarkanmu?" gerutu Ara dengan bahasa yang tidak mungkin dimengerti orang-orang disekitarnya.
"Aa... Ara-ya!?"
Ara menoleh ketika mendengar ada suara seseorang yang memanggilnya. Tepat dibelakangnya, sang pemilik suara itu berdiri tegap. Ara mengerjapkan mata untuk memastikan penglihatannya.
Pria itu berdiri tegap dan sangat tampan. Sangat tampan. Jika boleh diibaratkan, dia sangat mirip Song Joong Ki.
Ara masih berdiri tanpa suara, otaknya berfikir keras. Dia takut salah mengenali orang, karena sebenarnya Ara agak sedikit lupa dengan wajah orang yang ditunggunya.
Selama ini dia hanya berkomunikasi melalui dunia Maya dan tidak pernah mau menunjukan foto masing-masing. Alasannya, supaya jadi kejutan saat bertemu. Tapi, Faktanya bukan kejutan, melainkan kebingungan.
Ara masih berpikir. Terakhir dia bertemu empat tahun yang lalu, sewaktu Ara masih berusia empat belas tahun. Sedangkan pria yang berdiri didepannya ini, memilih melanjutkan kuliah di Seoul, Korea.
Benarkan yang sekarang berdiri didepanku ini adalah dia? Kakak laki-lakiku? Batin Ara ragu.
"Oppa?" ucap Ara ragu.
"Yak! Apakah kau sudah lupa dengan wajah kakamu yang sangat tampan ini? Ck.. Ck.. Ck.., oke, oke, aku bisa memaklumi karna kapasitas memory ingatanmu memang kecil" sahutnya, sambil menggelengkan kepala dan meletakan kedua tangannya dipinggang.
Ya, aku tahu dia memang kakak laki-lakiku yang biasa kupanggil 'Yongjin Oppa', siapa lagi orang senarsis itu kalau bukan oppa, batin ara lagi.
"Oppa!!" pekik Ara senang dan langsung memeluk Yongjin kakak laki-laki yang berbeda ibu dengannya, tapi mereka saling menyayangi.
"Ya, ya, ya... Thanks good, ingatanmu sudah kembali" celutuk Yongjin jahil dan balas memeluk Ara.
"Ayo, aku akan mengantarmu ke apartemen setelah kita makan!"
"Oke! " sahut Ara senang.
Ara melangkahkan kakinya dengan perasaan senang yang meluap-luap. Selama dimobil, ia tidak berhenti memandang keluar, melihat gedung-gedung yang berderet cantik.
Hmm, Seoul. Tempat aku akan merangkai mimpi dan mewujudkannya, batin Ara.
Ara mengalihkan pandangan ke Yongjin, tapi pria itu justru tersenyum melihatnya .
"Oppa waeyo?" (Kaka Kenapa?)
"Tidak, Lama tidak melihatmu dan kau sudah menjadi gadis secantik ini"
"Oppa, jangan merayuku" sahut Ara yang langsung memegang pipinya yang langsung bersemu merah.
"Aku serius, Adikku tersayang sangat manis dan cantik. Aku harus menjagamu ekstra keras"
"Tentu, Oppa kan sudah berjanji pada ayah dan ibu untuk menjagaku"
"Tanpa dimintapun aku akan melakukannya. Lalu apa yang membawamu keseoul? Apakah ada seorang idola yang ingin kau kejar disini? Menjadi Stalker?"
"Mwo?" sahut Apa terkejut. (Apa?)
"Aku hanya ingin melanjutkan kuliahku disini"
"Oke, itu sudah jelas. Kau melanjutkan kuliah disini, tapi apa kau tidak punya niat lainnya? Katakanlah pada Oppa tersayangmu ini" goda Yongjin jahil.
"Sama sekali tidak. Niatku murni untuk kuliah" sahut Ara tegas.
Sebenarnya sedikit berbohong karena dia juga ingin bisa melihat idolanya secara langsung tapi tidak begitu ekstrim hingga harus menjadi stalker.
"Siapa mereka? BTS?"
Deg. Yak Oppa! Geumanhe! teriak Ara dalam hati. (Berhentilah!)
"Bukan? Lalu siapa? TXT, NCT, EXO, Super Junior, X1, AB6IX, SHINee, TCXQ, CNBlue, Big Bang, Beast, Infinite, Stray Kids, Boy Friend, B1A4 atau... "
"Oppa tau banyak tentang boyband?" potong Ara.
"Tidak juga"
"Siapa yang Oppa suka? SNSD, Blackpink, Wonder girl, Sistar, IU, Miss A, 2NE1, f(x) atau... "
"Yak! Berhenti. Aku yang bertanya padamu lebih dulu"
"Cari tau aja sendiri" jawab Ara tak peduli dan melemparkan pandangannya keluar kaca mobil.
"Aku tau" jawab Yongjin dan mengelus rambut Ara lembut dengan sebelah tangannya yang tidak memegang kemudi. Yongjin sangat menyayangi adiknya tersebut dan semua rindunya seakan langsung meluap ketika bertemu Ara.
"Ayah sudah menyiapkan Apartemen yang bagus untukmu di Apgujeong. Kita perlu waktu 60 sampai 80 menit menuju sana, jadi tidurlah dulu" lanjut Yongjin.
"Apgujeong?" gumam Ara. Dia seperti pernah mendengar nama itu. Tapi dimana? Ara berusaha keras memutar otaknya.
"Kawasan elite dikorea. Begitu kata orang-orang. Banyak butik mewah berjejeran dan kalau sedang beruntung, kau bisa saja bertemu dengan idolamu yang sedang berjalan-jalan disana" jelas Yongjin.
"Ah, aku ingat!" celutuk Ara tiba-tiba. Senyum diwajahnya mengembang seketika mengingat beberapa fakta kecil yang dia temukan tentang daerah itu.
"Apartemen BTS disana, kan?"
"Mana aku tau Oppa" elak Ara. Padahal dia tau pasti jawabannya, kalau informasi yang dia dapat tidak salah.
"Apakah tidak terlalu berlebihan menyewa apartemen didaerah itu?" tanya Ara ragu.
Ara memandangi wajah Oppa-nya. Ara sedikit ngeri membayangkan deposit untuk sebuah apartemen sederhana saja sebesar $9.090 dan sewa per bulannya $500.
"Tidak juga. Harga yang cukup dibayar untuk seorang anak gadis kesayangan ayahnya yang gila belanja serta sangat menyukai BTS dan X1" sahut Yongjin sambil mengerlingkan matanya jahil kepada Ara.
Ara hanya cemberut, tapi hatinya senang. Bahkan sangat senang. Mungkin saja besok Ara tidak sengaja bertemu Onew Bangtan di sebuah Kafe di Apgujeong street.
"Aku mengambil kelas persiapan TOPIK untukmu dan jadwalnya sudah aku sesuaikan dengan kelas persiapan masuk universitas. Ini... "
Ara mengambil amplop cokelat yang diberikan Yongjin.
Easy Korean Academy. Sinsa-dong 619-23F JeongJin Building, Gangnam-gu, Seoul.
"Tidak terlalu jauh dari apartemenmu dan kau mungkin hanya perlu berjalan kaki kesana atau naik taksi. Untuk kelas persiapan universitas, jadwalnya sudah aku sesuaikan dengan jadwal kosongku dan aku akan selalu mengantar-jemput"
"Tapi aku kan... "
"Aku tidak mengizinkan naik kendaraan umum. Taksi masih aku bolehkan. Tapi, selama aku bisa mengantar jemputmu, hal itu tidak akan terjadi"
"Tapi Oppa... "
"Aku tidak percaya padamu. Kau sangat parah dalam hal mengingat arah" potong Yongjin lagi.
____________________________________
Write : Tuesday, 3 September 2019.
Post : Saturday, 30 mey 2020