.
TARA mengusak rambut Dee. Sayang.
"Cepet sembuh! Tambah gede malah tambah manja. Untung dia Juna, dia bisa tahan gadepin kamu, nggak tahu kalau cowok lain. Mungkin udah ngibrit, hahaha..."
Dee cemberut. Mulut Tara itu selevel pedasnya sama mulut Darrel.
"Dia nggak bisa ngibrit karena dia terikat tanggung-jawab, Ta. Makanya gue mau ngelepas dia...."
"Lo masih waras kan?" Tara loncat dari duduknya.
"Gue emang masih belum inget semua, Ta. Tapi ada beberapa yang tiba-tiba nyelip gitu aja. Gue mau fokus nyari orang yang namanya Arres. Pasti lo tau dia kan?"
Tara mengernyit,"Arres? Pasti dari Darrel. Gue nggak punya hak, Dee. Tapi dari semua orang di sekeliling lo, yang pengen banget lo sembuh dan inget semua, itu gue. Biar lo tau, seberapa deket lo sama gue."
Dee tersenyum.
"Arres selalu datang dalam mimpi-mimpi gue, Ta. Seolah pengen gue nginget dia,"
Tara mengangguk, lalu duduk menyandar.
"Jawab pertanyaan gue ya Ta? Bisa?"
Kali ini Dee menatapnya lemah.
"Gue coba, tapi jangan yang beribet atau yang bikin lo semaput lagi. Ogah gue!"
"Iya!"
"Juna sama gue emang nikah?"
"Yup!"
"Bukan nikah boongan kan?"
Tara menggeleng,"Asli. Sah."
"Lalu... Arres?"
Tara menatap Dee sekilas. Ada rasa tak rela bila Tara harus mengungkap semua. Lagi pula itu bukan haknya melakukan itu. Tahu atau tidak tahu bagi Tara sama saja, kedua opsi itu tetap beresiko dan tetap yang menjadi korban adalah Dee.
"Soal Arres, gue nggak yakin lo bakal kuat dengernya. Itu wilayah bahaya buat lo, gue nggak mau ambil resiko lo kenapa-napa," sahut Tara.
Dee mendengus, padahal dia sangat penasaran dengan sosok itu.
"Lalu siapa Jennie? Pacar Juna ya? Kalo dia nikahin gue tapi punya pacar, lalu maksudnya apaan tuh?"
"Jennie? Lo tahu dia? Dia juga ada di mimpi lo? Wah... Ck, soal itu tanya aja sama Juna. Gue nggak punya wewenang," rautnya tampak serius.
"Ck, dia nggak bakal jawab kali Ta."
Dee melempar pandangannya ke jendela sambil menggeleng.
"Setahun ini kita kayak boneka. Sejak gue bangun dari koma dan malah amnesia, yang tiba-tiba Juna, dari sahabat jadi suami gue. Gue bahkan sama sekali nggak inget kapan kita merit. Gue ikutin semua alurnya. Tambah sini gue makin penasaran, apalagi gue selalu mimpi yang sama...." ujar Dee.
Tara mengangguk-angguk paham.
"Sori, kalo gue dikit inget lo. Yang pasti kita deket kan?"
Tara mengangguk, memberikan senyumnya.
"Sans aja kali, Dee." Tara terkekeh.
"Darrel kayak ngasih clue gitu soal Arres. Tapi nambah bingung gue. Trus dia juga disuruh pergi sama Papa. Apa iya gue mesti mati dulu, baru semua mau cerita?"
"Ya! Gegabah banget sih lo," Tara mencekal lengan Dee.
"Kalau lo mati, lo nggak akan pernah tahu kebenarannya."
"Iya ya," cengir Dee meringis.
"Juna bisanya bikin gue frustasi, Ta. Dia bilang sayang sama gue, tapi selama ini... sebagai suami, dia belum ngambil haknya. It's ok, dia selalu bilang takut gue masih trauma bla..bla..bla.. Dipikir gue anak TK, apa?"
Dee mempoutkan bibirnya. Mata Tara membulat, sempurna. Heol!
"Jadi kalian ngapain aja kalau diranjang? Kerokan?" kelakar Tara.
"Ya tidur, dodol! Bahkan Juna baru seminggu ini mau tidur seranjang sama gue. Sebelumnya... boro-boro," ungkap Dee, sedih.
"Dan gue yakin, Juna pasti ngedapetinnya dari Jennie. Gue nggak semenarik itu ya, Ta? Apa iya gue jelek, sampe Juna nggak tertarik sama gue?" lirihnya sengau.
Airmatanya mulai menganak.
"Salah besar lo! Juna sayang lo kok. Percaya gue. Cuma saat ini, dia lagi dilema. Banyak masalah yang lo nggak tahu dan nggak bisa dia ceritain ke lo. Gue bukan belain Juna. Tapi kalo untuk sayang dan cinta, dia bener-bener sama lo. Kalo ternyata nggak, gue sendiri yang bakal ngebiri dia!"
Keduanya tertawa.
"Gue pengen nelpon Darrel, Ta."
"Oke, pake punya gue aja." Tara memberikan ponselnya.
"Gue nyari Juna dulu ya? Nyari sarapan di Mesir, apa? Lama banget." dengkusnya sambil melangkah keluar.
Dee tersenyum kecut. Menyedihkan sekali. Dia yang hilang ingatan, merasa sendiri, kesepian, punya suami tapi merasa tak punya suami. Dee yakin Juna cuma suami bonekanya. Mengingat satu hal perubahan drastis dari sang Papa, yang ternyata mampu memunculkan kearogansiannya.
Dee membuka folder galeri. Ada banyak foto Tara dan beberapa teman dan juga seorang gadis. Itu dirinya. Dee mengulum senyum. Ternyata, memang benar dia dan Tara berteman. Dari barisan lelaki yang berfoto bersama itu, ada yang menarik atensi Dee. Asing, karena baru ia melihat foto cowok itu. Tapi terasa familiar juga.
Apa lo itu Arres? Ternyata gue sedekat itu sama lo, Res?
Dee melihat foto dirinya yang menggelayutkan tangannya di lengan cowok itu.
"Arres? Juna? Mereka temenan juga? Jadi, Arres itu siapa? Tepatnya, dia siapanya gue? Mantan?"
Tapi Dee tersadar dari niat awalnya untuk menelpon Darrel. Sebelumnya Dee mengirimkan foto-foto yang baru ditemukannya itu ke ponselnya.
"Hallo..., Darrel?"
"Sejak kapan Tara berubah jadi cewe? Siapa nih?"
"Loh? Lo yang siapa? Gue Dee, pengen ngomong sama Darrel."
Tumben sekali kakaknya itu bawa-bawa perempuan. Jangan-jangan....
"Lo Liz?"
"Dee, lo baik-baik aja kan? Gue masih ada urusan, harus cepet kelar. Gue secepatnya pulang. Gimana Juna?"
"Makanya lo cepetan pulang, Rel. Gue butuh dukungan lo. Eh, itu siapa? Liz, ya? Lo bawa cewe ke Swiss?" cecar Dee.
Dari sebrang Darrel tertawa.
"Lo masih hapal suaranya Liz? Gue...jadian sama Liz. Sori ya... Dee."
"Ih! Dasar lo ya? Kapan? Wahhh... Pinter banget sih? Katanya lo nggak suka sama londo kampung. Tapi di tembak juga..." sungut Dee.
"Iya... gue minta maaf ya, pergi nggak pamit? Ok? Baru semalem kemaren gue confess. Doain abang lo ini. Lo mo dibawain apa dari Swiss?" tanya Darrel.
"Salju dan coklat Swiss!"
"Ok!"
Salju? Yang benar saja! Kalau coklat lain masalah.
Dee mengakhiri pembicaraannya dengan Darrel ketika Juna masuk.
"Hai, Dear... Telpon siapa?"
Juna duduk di sisi ranjang.
"Darrel. Dasar rompis! Bisa-bisanya bawa cewe trus jadian di Swiss. Romantis banget... Coba kalo Darrel bukan kakak gue."
"Eh? Apaan tuh? Kamu kan cuma punya aku, Dee. Aku juga nggak kalah keren dibanding Darrel atau Tara," kilah Juna, mimiknya jadi lucu.
"Iya, kamu keren. Ganteng. Baik," sahut Dee datar.
Juna menyadari sesuatu. Takut Dee curiga padanya.
"Kamu kenapa?"
"Kalo aku bilang baik-baik aja, apa kamu percaya?" Dee menatap Juna.
Fix! Juna yakin ada sesuatu. Pasti Tara mengatakan sesuatu hingga gadisnya seperti ini.
"Dee..." Juna menyentuh bahu Dee.
Tiba-tiba Dee memeluk Juna, erat. Menyusupkan wajahnya diceruk leher Juna.
"Jangan tinggalin aku, Jun. Aku takut. Nanti, sebentar lagi. Jangan sekarang. Aku butuh kamu," ucap Dee pelan dan terbata.
Apa maksudmu, Dee?
Hembus nafas Dee mengusik Juna.
"Cowo g****k yang mau ninggalin kamu. Aku nggak akan kemana-mana, Dee," sahut Juna membelai punggung istrinya.
Dan gue cowo g****k itu!
Dee tersenyum miris dibalik rengkuhannya.
Ijinkan gue menikmati sisa waktu tergoblok gue. Me time with Juna...
Sedang Juna merasa diremas habis karena merasa bersalah telah mengundang api dalam rumah- tangganya tanpa sengaja.
***
tbc