?? ~happy worries~ Juna masih mondar-mandir dengan gelisah. Tak mungkin dia minta pengertian dari Ananta atau pun Damanik. Semua bisa kacau dan mereka mana mau mengerti keadaan yang menghimpitnya sekarang. Tetap saja dirinya tak bisa gegabah mengambil keputusan. Andai saja Darrel.... Juna menghempaskan punggungnya ke dinding lalu perlahan merosot, terduduk menyandar. Dee kini berada di tangan seseorang yang sama sekali Juna tak mengenalnya. Bisa saja itu memang Jennie, Syuman atau orang suruhan mereka. Juna terpojok. Tak ada petunjuk yang mengarah pada salah satu diantara mereka. Ponselnya berdering kembali. Dahinya mengernyit sumringah. Setidaknya kehadiran salah satu sahabatnya itu bisa meringankan bebannya. "Ya, bro?" "Gue udah sampe rumah sakit." "Ya, gue di roof top. Tunggu,

