Karin bersyukur ternyata teman-temannya bisa beradaptasi dengan baik di Traumwelt. Mereka berkomunikasi cukup baik dengan Koi dan Si Kembar. Mereka juga terlihat sangat menyukai dunia ini, itu yang terpenting. Dan satu lagi yang paling Karin syukuri, ternyata Lizy akhirnya punya rasa malu juga untuk tidak melakukan hal-hal konyol dalam daftar yang telah ditulisnya. Mungkin ia sadar, saat mengelilingi Traumwelt, yang hanya dijadikan hewan tunggang kebanyakan adalah hewan terbang. Jarang sekali yang menggunakan hewan tunggang darat seperti kuda misalnya, karena kebanyakan dari warga Traumwelt menjadikan hewan darat sebagai peliharaan dan satwa yang harus dijaga. Apalagi ketika Lizy berniat untuk iseng menjewer telinga runcing Elves. Bahkan sebelum berani mendekat pun ia sudah bergidik ngeri melihat sorotan mata tajam nan menusuk mereka. Setelah dua daftarnya terlihat mustahil untuk dilakukan, akhirnya Lizy menyerah dan merobeknya hingga menjadi serpihan kecil-kecil.
“Kau masih belum lihat yang terakhir, bagaimana kalau itu memungkinkan?” ejek Denis sambil cekikikan.
“Haaah ... sepertinya semua yang Karin katakan benar, deh,” jawab Lizy pasrah. Sementara Karin yang disebut-sebut berusaha menahan tawanya.
“Baru sadar sekarang?” kata Karin ikut mengejek. “Otakmu bekerja terlalu lama, Lizy. Apa jangan-jangan sudah karatan? Wah, kalau begitu kau harus segera menggantinya. Hmm ... dengan otak udang mungkin? Kurasa kau akan sedikit lebih pintar jika mengganti otakmu dengan otak udang.”
Mendengar itu mulut Lizy langsung manyun, membuat wajahnya terlihat semakin mengundang tawa bagi Karin dan Denis. Sementara Koi yang sedari tadi ikut menyaksikan percakapan mereka, pria itu hanya menggaruk tengkuknya bingung karena tidak mengerti beberapa istilah yang membuat mereka tertawa.
Hari ini, tidak, tepatnya malam ini—ya, mereka ‘kan memang sedang ada di dunia mimpi walau sebenarnya ini terlihat seperti siang bukannya malam—Karin benar-benar sangat menikmati mimpi dalam tidurnya. Ia dan teman-temannya memang sama sekali belum membahas bagaimana cara memecahkan teka-teki mengenai kemampuan Karin, seperti yang menjadi tujuan kedatangan mereka kesini sebenarnya. Tapi biarlah. Bagi Karin melihat mereka tampak senang berada di Traumwelt saja sudah lebih dari cukup untuk membantunya. Soal mencari tahu apa sebenarnya kemampuannya, itu bisa di urus besok-besok.
Dan sepertinya kini waktu mereka di Traumwelt malam ini sudah berakhir. Energi yang seolah menarik mereka entah kemana sudah muncul. Itu tandanya mereka sebentar lagi akan menghilang dan terbangun di kasur empuk milik Lizy.
“Koi,” ucap Karin hendak berpamitan. “Sepertinya kami sudah harus kembali. Sampai jumpa besok.”
“Ah, secepat itu, kah?” jawab Koi terdengar kecewa. “Baiklah, sampai jumpa besok Karin, Lizy, Denis.”
Mereka semua tersenyum mengangguk. Lalu perlahan, Koi menyaksikan tubuh mereka yang mulai mengeluarkan pendar keunguan, kemudian mulai menghilang perlahan-lahan, hingga mereka benar-benar sudah tak terlihat sama sekali. Ya, mereka telah kembali ke dunianya.
Karin mengerjapkan matanya perlahan. Menyesuaikan cahaya yang masuk melalui celah kelopak matanya yang sedikit terbuka. Ia melihat jam dinding yang bertengger di hadapannya. Seperti biasa, ia selalu bangun di jam yang sama. Setengah tujuh pagi. Ia melirik ke kanan-kirinya memastikan kalau Lizy dan Denis juga ikut terbangun, tidak terjebak dalam dunia mimpi yang baru saja mereka datangi. Syukurlah karena mereka juga ikut terbangun.
“Mulai besok dan seterusnya ...,” ucap Karin membuka percakapan. Suaranya masih serak layaknya orang bangun tidur, tapi nadanya terdengar cukup serius. “... kalian akan terus berada di Traumwelt setiap malam. Kalian tidak akan bisa memimpikan hal lain selain Traumwelt dan isinya. Kuharap kalian tidak menyesal.”
Denis menghela napas sambil tersenyum. “Sebelum kami mengambil keputusan ini kami sudah memikirkan apa risikonya, Karin. Kalau dibilang menyesal sih, aku sedikit menyesal. Tapi aku juga senang. Toh itu berarti aku akan bermimpi indah setiap malam, tidak akan ada lagi yang namanya nightmare.”
“Ya, Denis benar,” timpal Lizy sumringah. “Lagi pula kami juga sangat menyukai Traumwelt. Kapan lagi kita bisa berada di dunia fantasi seperti itu? Mimpi indah setiap hari, siapa yang tidak mau?”
Karin tersenyum tipis. “Ya, kuharap Traumwelt akan selalu jadi mimpi indah bagi kalian.”
Lizy dan Denis tersenyum lebar. Keduanya saling menatap satu sama lain untuk sesaat. Tapi kemudian Lizy seperti menyadari sesuatu. Senyumnya langsung luntur seketika saat menyadari keberadaan Denis di kamarnya ini. Ia langsung menendang pria itu dari kasurnya dan mengusirnya keluar kamar.
Karin hanya diam menyaksikan keributan yang ditimbulkan oleh dua sahabatnya itu. Sebenarnya dalam benaknya kini terbesit sebuah pemikiran. Bagaimana kalau suatu hari nanti Traumwelt bukan lagi mimpi indah untuk mereka? Apa mereka akan menjauhi Karin dan menuntut ingin di keluarkan dari dunia itu? Apa yang harus Karin lakukan jika itu benar terjadi? 'Tidak,' batin Karin. ‘Tidak akan ada hal buruk yang terjadi.’ Ia terus mengulang hal itu dalam hatinya, hingga membuat Lizy menatapnya bingung karena ia terus-terusan menggeleng pelan.
“Kau kenapa?” tanya Lizy.
“Ah, tidak apa-apa, kok,” jawab Karin terkesiap. “Kau mau mandi lebih dulu? Cepat sana, jangan lama. Aku ada kelas jam delapan pagi.”
Lizy mendengus sebal. “Oke.”
•••
Seperti biasa, Karin selalu berkutat pada laptopnya setiap kali ia menghadapi kekosongan waktu. Walaupun tahu kalau ia hanya akan menemukan hal yang sama pada pencariannya, yaitu teori Lucid Dream, tapi tidak apa karena Karin memang hobi membaca. Dan teori Lucid Dream memang merupakan salah satu topik bacaan yang menarik baginya. Ia jadi mengetahui kalau ternyata sebenarnya Lucid Dream itu ada baik dan buruknya.
Baiknya, Lucid Dream bisa digunakan sebagai terapi untuk menyembuhkan trauma psikologis. Dan buruknya, ternyata Lucid Dream dapat menimbulkan seseorang menjadi Insomnia. Karena Lucid Dream adalah kondisi dimana seseorang sadar kalau ia sedang bermimpi, otomatis otaknya tetap bekerja untuk mengendalikan kehidupan di alam mimpi itu walaupun ia sedang tertidur pulas. Padahal seharusnya saat tertidur, itu adalah waktu istirahat untuk otak. Dari artikel tersebut Karin jadi sedikit berpikir. Berarti, Traumwelt memang terbentuk karena ia melalukan Lucid Dream. Karena pada awalnya, Karin hanya menyugestikan dirinya kalau ia ingin melihat dunia fantasi. Dan itu sungguh terjadi. Lalu, saat benaknya secara tidak sadar mengingat bangunan dan penduduk yang tampak seperti pada beberapa film fantasi yang pernah di tontonnya, semua itu pun perlahan terwujud. Dan menurut artikel yang dibaca Karin, hal yang seperti itu merupakan bentuk perkembangan dari Lucid Dream.
Tapi yang masih menjadi pertanyaan terbesarnya saat ini adalah, mengapa ia bisa membawa orang lain ke dalam bentuk perwujudan Lucid Dream-nya jika memang kemampuannya hanya sekadar itu? Pasti ada hal lain yang masih sangat misterius dan sulit sekali untuk di pecahkan. Ia juga teringat ucapan Denis yang berkata kalau mungkin saja kemampuannya memang tidak hanya sekadar mengendalikan Lucid Dream dengan baik saja, melainkan jauh lebih besar dari itu. Dan semua jawaban dari misteri kemampuan anehnya itu hanya bisa ditemukan di dunia yang Karin ciptakan melalui Lucid Dream-nya, Traumwelt. Jika memang asumsi Denis benar, harus kemana mereka mencari jawaban itu? Traumwelt tidak begitu besar. Tapi ada beberapa bangunan yang tidak pernah dikunjungi penduduk Traumwelt karena riwayatnya yang buruk. Apa Karin harus mencarinya disana?
“Haaah ... semua misteri ini benar-benar membuat kepalaku terasa seperti mau meledak!” keluhnya sambil menaruh kepalanya di meja kantin.
“Kalau begitu ledakkan saja sekalian. Biar heboh satu kampus,” sahut sebuah suara yang sangat dikenal Karin.
Karin melipat tangannya di d**a sambil melihat ke arah pria yang kini telah mengambil posisi duduk di hadapannya, Denis.
“Tumben sekali, kali ini aku tidak dikagetkan dengan suara cempreng yang biasanya selalu ada di sampingmu,” ucap Karin menyindir. Tentu saja ia bermaksud untuk menanyakan keberadaan Lizy. Denis cukup memahami itu. Ya, terkadang Karin memang punya cara tersendiri untuk menanyakan kabar seseorang agar tidak terdengar sok perhatian. Karin membenci hal itu.
“Lizy izin pulang cepat,” jawab Denis. “Orang tuanya sudah pulang dan ada rencana untuk makan malam bersama rekan bisnis Papanya.”
Karin langsung terduduk tegap. Ia menekuk wajahnya kesal.
“Cih, padahal dia memaksaku untuk menginap di rumahnya lagi nanti malam. Dasar plin-plan.”
“Ah, ya, soal itu tadi Lizy menitipkan pesan padaku untuk disampaikan padamu. Dia bilang nanti kau langsung datang saja ke rumahnya. Pembantunya ada di rumah kalau dia tidak ada ketika kau datang.”
Karin manggut-manggut mengerti. Ia mulai memakan makanannya yang sedari tadi didiamkan.
“Oh, ya,” ucap Denis tiba-tiba. “Ada perkembangan dari pencarianmu?”
“Ada, sih.” Karin menjawab sambil terus memakan makanannya. “Sudah kuduga ternyata semua ini memang berawal dari Lucid Dream. Traumwelt memang tercipta dari Lucid Dream yang kuciptakan. Tapi teka-teki terbesarnya masih belum ada pencerahan sama sekali.”
Denis mengangguk-angguk mengerti. Ia memainkan sedotan pada minumannya.
“Ya, seperti yang kubilang waktu itu, mungkin saja jawabannya memang ada di Traumwelt. Bagaimana kalau kita mulai mencarinya dari buku-buku yang ada disana? Siapa tahu ada pencerahan.”
“Ide bagus!” seru Karin senang. Mereka pun tertawa bersama sambil kembali mengobrol santai dan memakan makanan mereka di kantin ini.
•••
Malam harinya, Karin sudah berada di kamar Lizy dan hendak bersiap untuk tidur. Ini sudah larut malam tetapi Lizy masih belum juga pulang. Dasar orang kaya, apa sih yang mereka bicarakan ketika sedang makan malam bersama sampai memakan waktu selama ini? Yang membuat Karin jengkel, Lizy memaksanya menginap tetapi si tuan rumah membiarkan tamunya seorang diri dan harus menunggunya pulang walaupun matanya sudah tidak kuat menahan kantuk.
Sebenarnya Karin bisa saja tidur lebih dulu tidak perlu menunggu Lizy datang. Tapi apakah sopan jika ia datang seenaknya dan tidur seenaknya seperti tuan rumah? Kalau tidak ada keluarga Lizy sih tidak masalah. Tapi kali ini semua keluarganya sedang berkumpul di rumah besar ini. Tidak mungkin Karin tidak menunjukkan dirinya di depan mereka. Ya, walaupun mereka memang sudah sangat mengenal Karin dan menganggapnya seperti anak sendiri, tapi tetap saja ia harus menjaga sikapnya ‘kan.
Tepat tengah malam, mereka pun datang. Karin yang sudah mengenakan piyama serta menutupi dirinya dengan selimut langsung membangkitkan dirinya saat mendengar suara bel. Ibu Sumi, pembantu rumah Lizy yang membukakan pintu depan. Sementara Karin hanya menyambut sopan di ruang tamu.
“Maaf, lama ya?” ucap Lizy memberi ekspresi yang dibuat-buat.
“tidak apa, kok. Aku baru enam jam menunggu,” jawab Karin tersenyum sambil menutupi kejengkelannya. Terlihat sekali senyumnya itu amat sangat dipaksakan.
“Lizy, kenapa Karin tidak disuruh tidur duluan?” tanya Mama Lizy pada anaknya.
“Ah, tidak apa-apa kok, Tante.” Karin yang menjawab. “Tidak sopan kalau tidak menyambut tuan rumah datang 'kan.”
“Iya.” Lizy menyahut. “Lagi pula Karin itu seperti Kalong. Kuat begadang. Ya kan, Karin?”
Karin menahan gemasnya. Ingin rasanya ia menjitak kepala Lizy saat ini juga tapi ditahannya karena ada Mama-Papa Lizy yang melihat dan mendengar percakapan mereka.
“Kau jangan begitu dong, Sayang.” Papa Lizy menanggapi. “Kau tidak lihat tuh, mata Karin sudah tinggal lima watt?”
Karin tersenyum malu sambil menggaruk tengkuknya salah tingkah. Sementara Lizy hanya cekikikan mengejek Karin. ‘Dasar Lizy! Awas kau, ya!’ Batin Karin mendendam.
“Ya sudah sana kalian tidur!” seru Mama Lizy lembut.
Tidak menunggu disuruh dua kali, Karin langsung berbalik arah menuju kamar Lizy dan segera menjatuhkan dirinya ke atas kasur empuk milik Lizy. Ia tidak peduli dengan Lizy yang ada di belakangnya, memandangnya sambil cekikikan mengejek. Karin kini mulai fokus untuk satu hal. Yaitu tidur dan segera pergi menuju dunia tercintanya, Traumwelt.
Benar saja, baru beberapa menit ia memejamkan mata, ia sudah pulas dan bersiap ke dunia mimpinya. Tidak hanya Karin, Lizy pun begitu. Alam bawah sadar mereka mulai membawa jiwa mereka ke dalam dunia mimpi. Tapi tanpa sepengetahuan mereka, entah kenapa Karin malah pergi ke tempat yang berbeda dengan biasanya.
Keringat dingin langsung mengucur di sekujur tubuh Karin yang sedang tertidur ketika ia melihat sekelilingnya. Bagaimana tidak, tempat yang ia datangi kali ini bukanlah Traumwelt. Tapi ia sangat mengenali dunia ini. Ya, ini adalah tempat yang sama dengan yang pernah dikunjunginya setelah menonton bioskop bersama Lizy dan Denis, dunia hitam dengan aura mengerikan.
Jantung Karin mulai berpacu lebih cepat, ia benar-benar panik saat ini. Di sekelilingnya hanya ada dunia hitam tak berujung, dimana hanya ada pohon-pohon kering dengan nuansa mengerikan. Karin tidak tahu ingin kemana. Tidak ada jalan, tidak ada benda apa pun, juga tidak ada pintu. Bahkan ia tidak bisa membedakan yang mana yang digunakan untuk pijakan dan yang mana yang berupa dinding. Semua terlihat sama. Karin semakin bertambah panik. Ditambah lagi ketika hal-hal mengerikan yang kemarin-kemarin sempat ia alami, kini semua itu mulai terjadi lagi.
Kelebatan demi kelebatan bayangan seolah melesat di belakangnya secepat angin. Tapi saat ia menoleh, ia tidak merasakan pergerakan apa pun. Karin mulai ketakutan. Napasnya sudah tersengal bahkan sebelum ia berlari. Karin pun mulai berjalan perlahan namun berhenti lagi ketika merasa kalau dirinya seperti ada yang mengikuti. Sekali lagi ia menoleh, dan betapa terkejutnya Karin ketika melihat penampakan yang ada di hadapannya. Sebuah bayangan hitam yang melayang-layang dengan wajah yang bolong-bolong membentuk mata dan mulut dengan ekspresi menyeringai.
Karin langsung memacu kakinya entah kemana. Ia berlari sekencang-kencangnya walaupun ia tidak tahu ingin mengambil jalan yang mana. Yang ia tahu, ia hanya harus kabur dan segera terbangun dari tidurnya. Karin mulai mengingat-ingat apa yang dilakukannya saat itu, yang berhasil membuatnya terbangun dari tidurnya. Ya, pintu! Karin ingat saat ia berlari ia menemukan pintu berwarna ungu gelap dan langsung terbangun ketika memasuki pintu itu. Saat ini Karin hanya harus terus berlari sampai pintu itu muncul dan ia akan segera terbebas dari mimpi buruk ini. Begitu pikirnya.
Hingga berapa menit pun telah berlalu tapi Karin tak kunjung menemukan pintu itu. Tubuhnya sudah semakin kelelahan. Dan bayangan-bayangan di sekelilingnya sudah semakin menjadi-jadi. Melihat hal itu sekujur tubuh Karin gemetar ketakutan sekaligus kelelahan. Ia bertanya-tanya ada apa dengan dirinya sebenarnya? Mengapa ia datang ke dunia ini lagi padahal ia tidak mengalami kejadian horor apa pun sebelumnya?
Saat sedang berpikir seperti itu, tiba-tiba saja sebuah bayangan dengan seringai mengerikan menghadangnya dari depan, membuat jantungnya seolah berhenti mendadak. Namun sebelum ia terkepung, Karin segera menukik tajam ke arah kanan. Ia kembali berlari sambil sesekali menoleh ke belakang. Ya, mereka masih mengikuti. Saat menoleh ke depan lagi, Karin melihat ujung dari pelariannya. Nuansa hitam mengerikan berakhir di depan sana, berganti dengan nuansa ungu gelap yang tetap saja masih terasa mengerikan. Samar-samar di ujung sana, Karin melihat ada dinding batu yang di tengahnya ada sebuah pintu batu besar dengan nuansa ungu gelap. Karin sempat mengernyit bingung. Pintu itu tidak sama dengan pintu yang dimasukinya ketika ia ingin terbangun dari mimpi kemarin-kemarin. Dan lagi, pintu di hadapannya itu sudah terbuka lebar seolah ada yang membukanya.
Tapi masa bodo dengan hal itu. Yang Karin inginkan saat ini hanyalah ingin terbebas dari kejaran bayangan-bayangan mengerikan itu dan keluar dari dunia hitam mengerikan ini. Karin pun mempercepat larinya dan segera memasuki pintu batu besar itu. Secercah cahaya menyilaukan kedua matanya saat ia berhasil melewati pintu batu besar dengan nuansa ungu gelap itu. Ia mulai membuka matanya perlahan. Setelah berhasil melihat penampakan yang ada di hadapannya, mata Karin melotot sempurna.
Ia tahu tempat ini. Ia sangat mengenali rumput yang kini dipijaknya. Tapi kenapa pemandangannya tidak lagi indah, melainkan sebaliknya? Ya, ini adalah Traumwelt, dunia mimpinya yang semula tampak begitu Indah bagi Karin. Tapi kini, semua itu seolah berubah mendadak. Karena kini Traumwelt telah tercemar oleh bayangan-bayangan mengerikan yang beterbangan di tengah udara. Membuat semua warga histeris ketakutan melihatnya.
“Ap-apa ... yang terjadi?” tanya Karin pada dirinya sendiri yang tidak sanggup berkata-kata lagi.
Kini, kecemasannya selama ini benar-benar terjadi. Traumwelt yang tadinya merupakan mimpi indah, kini telah berubah menjadi mimpi buruk bagi dirinya dan teman-temannya. Sekarang Karin harus bagaimana?
•••