Bab 6 - Kunjungan Pertama

2350 Kata
Hari sudah menjelang sore. Semua kelas telah selesai. Namun Karin, Lizy dan Denis masih tetap duduk santai di atas rumput, di bawah pohon rindang yang teduh—di taman belakang Kampus. Mereka tengah berbicara mengenai rencana mereka untuk pergi ke Traumwelt. Karin melihat Lizy yang tampak antusias dan semangat seolah hendak pergi berlibur ke luar kota. Dia bahkan sudah menuliskan jadwal apa saja yang akan dilakukannya selama satu jam di Traumwelt. Karin sempat melihat daftar tersebut berurutan dari awal hingga akhir. Pertama-tama, mereka akan pergi ke kediaman Kakek Mou dan berkenalan dengan semua penghuni rumah pohon itu. Selanjutnya Lizy ingin menunggangi kucing raksasa dan bermain bersamanya, kemudian pergi ke kawasan Elves dan menjewer salah satu telinga runcing mereka, dan yang terakhir, menikmati matahari terbenam sambil berbaring di rumput pinggir sungai bersama para kurcaci. Karin menepuk dahinya frustasi. Bagaimana tidak, hal yang ingin dilakukan Lizy itu tidak pernah terlintas di benaknya sama sekali. Semua tidak terlihat normal kecuali daftar pertama. Coba kau pikir ketika ingin menaiki kucing raksasa. Walaupun mereka besar, tapi tetap saja kucing terlalu imut untuk menjadi hewan tunggang. Bahkan tidak ada satu pun warga Traumwelt yang melakukan itu. Dasar Lizy! Dan bagaimana dia bisa berpikir untuk menjewer telinga runcing salah satu Elves? Ya ampun ... apa yang akan dilakukan Elves itu kepadanya nanti? Pasti mereka akan langsung membidik Lizy dengan busur ajaib mereka. Begitu pun dengan Kurcaci. Karin benar-benar menggeleng habis terhadap yang satu ini. Karin sudah berkali-kali bilang kalau Kurcaci bukanlah makhluk yang bisa diajak bicara. Apalagi di ajak berbaring menikmati matahari terbenam di pinggir sungai. Sebelum Lizy melakukan itu, Karin yakin ia akan lebih dulu mendapat semprotan kasar dari mereka lalu diusir dari kawasan Kurcaci. “Kau bodoh atau apa?” tanya Karin sedikit geram. “Memangnya kenapa? Apa yang salah dari daftar ini?” Lizy menjawab enteng. “Bilang saja kalau kau iri, kau tidak pernah melakukan ini, 'kan?” “Tentu saja, jelas aku tidak pernah melakukan hal bodoh macam itu! Lagi pula, ya, sebelum kau sukses melakukan daftar kedua, kau pasti sudah lebih dulu menjadi buronan di Traumwelt, asal kau tahu!” Karin melipat kedua tangannya di d**a, merasa sangat jengkel dengan Lizy yang keras kepala. Sementara Denis hanya tertawa membaca daftar yang dibuat Lizy. “Kau serius mau melakukan ini, Lizy?” tanya Denis sambil tertawa terbahak. “Aku tidak habis pikir kau mau menunggangi kucing. Dan apa-apaan ini? Kau mau menjewer telinga runcing Elves?! Astaga Lizy, kau ....” Denis tidak melanjutkan perkataannya. Ia malah kembali tertawa lebih keras lagi. Bagaimana tidak, daftar yang dibuat Lizy ini benar-benar sangat konyol. Bagaimana bisa otaknya memikirkan hal-hal seaneh ini. Lizy benar-benar lucu sekali. Karin menekuk wajahnya jengkel dengan kedua temannya. Sementara Lizy, ia menatap sebal Denis dan Karin yang menertawai daftarnya itu. “Kalian kenapa, sih?!” protesnya dengan raut sebal, membuat wajah imutnya menjadi semakin terlihat imut. “Coba kalian pikir, betapa serunya melakukan hal-hal ini. Ini adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa kalian lakukan di dunia nyata. Dengan melakukan semua hal yang ada dalam daftarku ini pasti akan sangat seru.” Karin menghembuskan napas sebal. Ia lalu memasang wajah manisnya yang dibuat-buat, kemudian menjawab perkataan Lizy. “Lizy sayang ... apa kau tega menunggangi kucing yang imut itu? Bahkan warga Traumwelt pun tidak ada yang melakukan itu. Dan kumohon jangan norak kalau melihat Elves apa lagi merasa gemas ingin menjewer telinga mereka. Itu adalah perbuatan paling kampungan yang tidak pernah mau  kulakukan. Satu lagi, kau jangan mengada-ada mau santai-santai bersama para Kurcaci itu. Yang ada kau akan dibuat menangis sakit hati karena hinaan mereka.” Denis terbahak-bahak mendengar penjelasan Karin yang tampak sangat sebal dengan Lizy. Sementara Lizy sendiri melipat tangan di dadanya tanda tidak setuju dengan Karin. “Pokoknya aku tetap mau melakukan semua hal yang ada dalam daftarku ini. Kalau kau tidak mau ikut ya sudah, tidak apa. Masih ada Denis yang akan menemaniku. Iya 'kan, Denis?” Denis yang di sebut-sebut namanya kemudian berhenti tertawa. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Ah, itu ... sepertinya aku juga tidak ikut deh. Itu terlalu memalukan untuk dilakukan.” “Apa?!” pekik Lizy tidak terima karena tidak ada yang mendukungnya. “Kalian kok tidak ada yang mendukungku, sih? Lalu untuk apa kita kesana kalau tidak ada rencana sama sekali?” “Kau lupa, ya, kalau tujuan kita ke Traumwelt itu untuk membantu Karin. Ini bukan liburan, Lizy,” jawab Denis serius. Lizy terenyak. Ia menyengir lebar tanda malu. “Oh iya, ya, aku lupa. Maaf, hehehe.” “Huuu ...,” sorak Karin dan Denis bersamaan yang langsung membuat Lizy kembali merengut sebal. Melihat raut wajah Lizy yang imut itu, mereka tertawa bersamaan. ‘Dasar Lizy,’ batin Karin. ‘Bodohnya keterlaluan tapi selalu berhasil membuat kami tertawa.’ ••• Malam harinya, mereka sudah merencanakan untuk menginap di rumah Lizy yang memang cukup besar. Sebenarnya bukan karena itu alasan mereka melakukannya di rumah Lizy. Melainkan karena hanya rumahnya saja yang saat ini kosong. Orang tuanya sedang berada di luar kota mengunjungi kakek dan nenek Lizy. Pembantunya sudah pulang sejak sore hari. Jika kalian bertanya-tanya mengapa mereka melakukannya dengan sembunyi-sembunyi, tentu saja karena ada Denis yang jelas-jelas berjenis kelamin laki-laki. Coba kalian pikir, apa pendapat orang tua mereka jika ada anak laki-laki yang tidur bersama dua orang anak perempuan dalam satu kamar? Orang dewasa itu terkadang selalu berpikir negatif karena ketakutannya daripada berpikir positif dan menerima alasan yang memang adalah kejujuran. Dari pada mereka mengambil resiko akan di arak-arak ke kantor RW karena kepergok tidur bersama dan dikira telah melakukan threesome, lebih baik mereka melakukannya dengan diam-diam saja tanpa melibatkan orang dewasa satu pun. Lagi pula mereka tidur satu kamar ‘kan bukan untuk tujuan yang seperti itu. Karin yakin ini hanya untuk yang pertama dan terakhir kali mereka melakukan ini. Agar Karin bisa mengantarkan mereka menuju Traumwelt. Ya, kecuali jika Denis menikah dengan Karin atau Lizy nantinya. Itu beda lagi ceritanya. “Kau tidak akan macam-macam, kan?” tanya Lizy serius pada Denis saat mereka sudah berada di kamar Lizy yang memiliki ranjang berukuran besar. “Tentu saja tidak!” jawab Denis yakin sekaligus tidak terima dengan perkataan Lizy yang seolah membuatnya jadi terlihat seperti pria b******k. “Kalian itu sahabatku. Tidak mungkin aku melakukan hal itu pada kalian!” “Ya, siapa tahu kau tiba-tiba khilaf, kan?” timpal Karin. “Awas saja kau kalau gerayang-gerayang, aku tidak akan segan untuk membunuhmu pakai salah satu s*****a milik Kakek Mou di Traumwelt nanti.” Denis bergidik ngeri. Tapi ia tak menjawab, malahan membuang muka sebal. Ia yakin kalau dirinya tidak akan berbuat seperti itu pada Karin dan Lizy karena kedua gadis itu adalah sahabat yang paling berarti baginya. Jangankan untuk menyakiti, ia bahkan akan merelakan nyawanya jika itu demi keselamatan keduanya. Denis terenyak dari lamunannya. Ia melihat ke arah dua sahabatnya yang baru saja keluar dari kamar mandi untuk membersihkan diri. Mereka tidak berganti pakaian menjadi piyama tidur karena Denis yakin mereka tetap takut kalau ia akan berbuat macam-macam pada mereka. Bagaimanapun Denis tetaplah laki-laki normal yang memiliki naluri tersendiri ketika melihat dua orang gadis berpakaian seksi. Hal itu tentu saja dihindari oleh Karin dan Lizy. Denis pun bergantian membersihkan diri lalu mengambil posisi tidur paling pinggir ranjang. Sementara Karin di tengah dan Lizy yang paling pojok dekat tembok. Sebelum mereka benar-benar tidur, tentu saja mereka membicarakan banyak hal sampai mengantuk satu sama lain. Karin menunggu sampai keduanya benar-benar pulas. Setelah terdengar suara dengkuran halus dari kedua sahabatnya yang ada di kanan-kirinya, ia ikut berbaring. Matanya mulai terpejam sambil menyentuh kedua tangan mereka. Waktu demi waktu berlalu. Semakin lama, Karin mulai pulas dalam tidurnya. Dan saat itulah, suatu energi keunguan yang berkerlap-kerlip muncul di keningnya. Perlahan merambat melalui pipi kanan dan pipi kiri, lalu ke lengan kanan dan lengan kiri  hingga sampai pada jemari kanan-kirinya yang memegang kedua telapak tangan sahabatnya. Energi itu merambat kepada Lizy dan Denis hingga sampai ke tengah kening mereka dan meresap ke dalamnya. Dan saat itulah, mereka telah tiba di Traumwelt. ••• Kedua pasang mata milik Lizy dan Denis mengerjap perlahan. Menyesuaikan cahaya yang masuk ke sela-sela kelopak mata mereka yang mulai menyipit terbuka. Hangatnya sinar matahari yang lembut berhasil membangkitkan mereka dari tidurnya. Hamparan padang rumput-lah yang menjadi pemandangan pertama mereka. Lizy dan Denis menatap ke arah tubuh mereka yang kini dibalut pakaian khas Traumwelt. Karin melihat gaun berwarna merah muda yang tampak sangat cocok bagi Lizy yang imut. Sementara Denis mengenakan pakaian khas Traumwelt dengan warna kombinasi cokelat muda dan kuning gelap. “Selamat datang di Traumwelt,” ucap Karin menyapa dengan riang. Lizy dan Denis mengabaikan Karin. Mereka terlalu sibuk melihat sekeliling padang rumput hijau yang bersih. Kemudian tatapan mereka beralih pada jalan setapak dari kerikil warna-warni yang tepinya terisi penuh oleh berbagai macam jenis bunga yang sangat cantik. Mata mereka juga menengadah ke atas karena merasa ada sesuatu yang bergerak di atas sana. Ya, ada kawanan burung elang yang ditunggangi oleh para Elves membentuk suatu formasi yang rapih. “Wow! Ini keren!” pekik Denis senang. Ia lalu menunjuk kawanan burung elang itu yang mulai menjauh. “Sedang apa mereka?” “Sepertinya sedang berpatroli,” jawab Karin. Sebenarnya ia agak bingung mengapa dua hari terakhir ini ia melihat kawanan burung elang patroli itu. Kemarin, kalau tidak salah lihat, ia juga melihat mereka sedang memutari Traumwelt di udara. “Apa mereka selalu melakukan itu setiap hari?” tanya Lizy antusias. “Entahlah. Biasanya aku hanya melihat mereka jika ada acara tertentu atau ketika ada serangan hewan liar yang membahayakan penduduk. Tapi sekarang sepertinya petugas patroli bertugas setiap hari. Kemarin aku melihatnya juga. Mungkin peraturan baru di Traumwelt.” Lizy dan Denis mengangguk-angguk paham. Mereka tidak tahu kalau sebenarnya Karin hanya menjawabnya dengan menerka-nerka. Ia juga tidak tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi di Traumwelt. Ia tahu, jika ada elang patroli, maka itu berarti sedang ada bahaya. Namun Karin tetap berusaha berpikir positif saja dari pada memikirkan hal yang buruk dan nantinya akan merusak suasana hatinya saat ini. Karin kemudian mengajak mereka mengunjungi kediaman Kakek Mou dan Nenek Mia. Dalam sepanjang perjalanan, Karin mendadak menjadi seperti pemandu wisata yang sibuk menjelaskan setiap spot-spot yang di lewati. Sebenarnya ia agak sebal melakukan itu, tapi ia menerimanya saja. Toh ini demi kebaikan teman-temannya juga agar mereka cepat hafal dengan setiap sudut Traumwelt. Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka tiba di hadapan pohon besar yang dikelilingi anak tangga. Lizy dan Denis menatap tak berkedip dari bawah hingga ke puncak pohon. Mulut mereka menganga lebar dan mata mereka menatap dengan berbinar. “Ada yang bawa kamera?” tanya Lizy tidak sadar. “Ngaco! Ini 'kan dunia mimpi, tidak ada kamera,” jawab Karin asal. “Harusnya kau menciptakan kota yang canggih di mimpimu ini, Karin,” timpal Denis. “Sayangnya aku lebih suka fantasi dari pada sci-fi. Aku lebih suka alam yang hijau ketimbang kota maju yang kaya akan teknologi.” “Kali ini aku setuju denganmu, Karin,” sahut Lizy. “Sepertinya aku mulai suka dengan hal-hal berbau fantasi.” Karin memutar bola matanya jengah. Ia mulai mempercepat langkahnya, kemudian segera menaiki anak tangga kayu yang memiliki aroma khas pepohonan. Lizy dan Denis pun mengikutinya dari belakang hingga sampai di puncaknya. Sebuah pintu bulat besar dengan ukiran yang elok kembali memanjakan mata kedua sahabatnya itu. Karin menatap mereka sesaat, yang sepertinya tidak bisa berhenti terkagum-kagum dengan setiap desain yang ada di Traumwelt. Ia lalu kembali mengalihkan pandangan ke arah pintu. Perlahan, Karin mengetuknya lembut. Terdengar langkah kaki dari dalam yang menghampiri pintu tersebut dan membukakannya. Seorang pemuda dengan rambut dan mata abu-abu yang tak lain dan tak bukan adalah Koi, ia tersenyum hangat melihat kehadiran Karin beserta Lizy dan Denis. “Halo, selamat datang di Traumwelt,” sapanya hangat. Lizy dan Denis hanya mengangguk sopan. Kemudian Koi mempersilahkan mereka masuk dan menemui Kakek Mou dan Nenek Mia yang telah menunggu mereka di kursi depan. Mereka tersenyum hangat pada Lizy dan Denis. “Selamat datang, teman-teman Karin,” sapa Nenek Mia. “Semoga kalian nyaman berada disini setiap malam.” Lizy dan Denis mengangguk sopan. Mereka saling bertatapan bingung. Karin tahu, sepertinya teman-temannya sedang merasa bingung akan bersikap bagaimana menerima penyambutan yang sangat formal ini. Inilah bagian yang Karin tidak suka. Mereka pasti akan sangat kaku beradaptasi di sini, seperti dirinya dulu. “Kita harus bagaimana?” bisik Lizy kepada Karin setelah duduk di kursi kayu memanjang dengan bantalan empuk itu. “Bicara seadanya saja,” jawab Karin singkat. “Eh, apa kita harus seformal itu juga?” Kali ini Denis yang berbisik bertanya. Karin memutar bola matanya tidak sabar. “Kalau bisa, ya. Kalian harus sopan terhadap Kakek Mou dan Nenek Mia. Mereka tetua di Traumwelt.” “Apa bicara formal itu seperti saat interview kerja?” tanya Lizy lagi. Karin menepuk dahinya frustasi. Ia menghela napas menenangkan diri lalu menjawab. “Argh! Terserah kau saja, yang penting sopan!” “Oke.” “Kakek Mou, Nenek Mia, ini teman-temanku yang akan membantuku di sini. Lizy dan Denis,” ucap Karin memperkenalkan. Kakek Mou dan Nenek Mia mengangguk tersenyum. Lizy menatap Kakek Mou takjub. Mata putihnya itu seperti menghipnotisnya. Ia berpikir, bagaimana bisa ada bola mata seperti itu? “Ternyata kalian tidak seperti Karin dahulu ketika pertama kali melihatku,” ucap Kakek Mou. Lizy dan Denis langsung terkesiap dan mengalihkan pandangan mereka ke segala arah. “Jangan takut padanya. Dia sebenarnya orang yang sangat baik,” sambung Nenek Mia dengan senyum hangatnya. “Kami tidak takut, kok. Kami justru terpukau,” jawab Denis. Karin menghela napas bersyukur karena ternyata Denis bisa menghangatkan suasana. Setidaknya di antara mereka berdua harus ada yang sedikit waras 'kan. Ia pun tersenyum. Tapi kemudian, ia teringat sesuatu. Ia menatap ke arah Koi yang berdiri di belakang kursi yang diduduki oleh Kakek Mou dan Nenek Mia. “Ah ya,” ucap Karin sambil menunjuk ke arah Koi. “Ini Koi.” “Pft.” Itu adalah suara tawa tertahan dari Lizy dan Denis. Dasar mereka! Tentu saja mereka pasti akan tertawa mendengar namanya. Karin meralat kalau Denis lebih waras dari Lizy. Dia juga sama saja! Karin pun menyenggol kaki Lizy dengan kakinya untuk membuatnya berhenti tertawa. Lizy memang berhenti tertawa. Tapi ia justru berbisik dengan Denis sambil cekikikan. “Kau dengar?” Bisik Lizy kepada Denis yang jelas masih terdengar oleh Karin. “Namanya Koi tapi dia abu-abu.” “Hahaha ... harusnya oranye, kan.” Karin tertunduk malu sambil memegangi keningnya. ‘Haaah ... oranye? Mereka anggap Koi apa? Ikan Koi?’ Batin Karin frustasi. Untuk beberapa saat hening. Karin tidak suka situasi kaku seperti ini. Ia harus mengakhirinya sesegera mungkin. Tapi bagaimana caranya? Ia sudah muak menanggung malu dengan kelakuan Lizy dan Denis. Ia harus segera menyingkirkan mereka berdua dari hadapan Kakek Mou dan Nenek Mia. Untungnya Koi mengerti Karin dengan cepat. Ia segera mengajak Lizy dan Denis untuk berkeliling dan langsung disambut senang oleh kedua orang itu yang memang sangat antusias untuk mengelilingi Traumwelt. ‘Fiuuuh ... akhirnya situasi canggung itu berakhir juga,’ batin Karin. Mereka pun berpamitan kepada Kakek Mou dan Nenek Mia lalu pergi keluar dengan perasaan semangat yang menggebu-gebu. Tanpa tahu kalau di sisi lain Kakek Mou dan Nenek Mia saling berpandangan dengan raut wajah penuh kekhawatiran, memikirkan suatu hal buruk yang tengah menimpa Traumwelt, yang sepertinya sudah hampir tidak bisa mereka tutupi lagi dari Karin. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN