Raga terduduk di kursi samping ranjang Nanda dengan pandangan kosong. Mata nya memanas, lalu air mata jatuh di pipi nya. Tidak ingin bersusah payah untuk menghapus air mata nya, Raga tetap menggenggam tangan Nanda dengan kedua tangan nya. Mengecup tangan Nanda berkali-kali. Bibir nya bergetar, lalu Raga terisak. Menangis sambil menahan suara nya. Tidak ingin menarik perhatian keluarga Nanda yang menunggu di depan. “Bangun, Nan.” Raga berbisik lirih. Mata nya terpejam, tangan nya terkatup masih menggenggam tangan Nanda, bibir nya terus bergerak merapalkan doa. Raga mejatuhkan kening nya di ranjang Nanda, menangis sejadi-jadi nya saat merasa hal yang selalu dia lakukan hanyalah omong kosong belaka. Raga selalu mengunjungi Nanda saat jam jenguk hampir habis setiap ha

