PREGNANT

974 Kata
PREGNANT *WASHINGTON* Sudah hampir seminggu kepindahan Anisa bersama dengan keluarga Eliyana yang sudah dianggapnya sebagai Ibu kandungnya sendiri, Alkas yang tampak pulang pergi dengan kesibukannya yang baru yaitu memnyiapkan pembukaan kedai kopinya, sedangkan Alan masih juga belum memyusul mereka di tempat yang baru sesuai dengan amanah sang ayah sebelum pergi meningalkan dunia. Eliyana pun juga sering tampak kebingungan mencari cara agar Anisa anak gadisnya itu mau bersuara dan tidak mengurung dirinya terus-terusan di dalam kamar, hati Eliyana juga sangat sakit melihat Anisa menjadi terpuruk seperti ini, setiap dirinya hendak ke kamar Anisa, Anisa selalu menaggis dan mengucapkan kalimat bahwa dirinya sangat kotor. Sungguh hati orang tua mana yang bisa menahan perasaan sedih dan malang yang menimpa anaknya. Dan di siang itu ahirnya Alan yang sudah di nantikan oleh Eliyana besarta pengawalnya yang berada ikut serta ke Washington tiba, segera saja tanpa canggung Alan yang sudah rindu langsung berhambur meluk Sang ibu. Eliyana pun tak sungkan dengan masih mencium kedua pipi anak tertuanya itu. "Dimana Anisa bu, bagaimana kondisinya ?" "Masih sama seperti sebelumnya, dia terus mengurung diri di kamar" ucap Eliyana yang juga memeteskan air mata mengingat jika anak gadisnya terpuruk seperti itu, "Bujuklah dia untuk mau keluar dari kamarnya Al..,Alkas setiap hari selalu mengajaknya berbicara tapi setelah itu Anisa cepat-cepat mengusirnya..mungkin kau bisa membujuknya Al .." Ucap Eliyana kemabali, "Baik bu akan ku coba membuatnya ceria lagi seperti dulu". Kemudaian langkah Ibu dan anak tersebut menuju kamar yang seminggu ini di tempati menjadi milik Anisa. CEREKKK..., suara kenop pintu yang terbuka namun si empunya kamar tak sedikitpun menoleh pada suara siapa orang yang membuka pintu tersebut, hingga lamaunannya terhenti dan fokus matanya meyotot jari tangan dan mengusap pipinya yang menghapus air matanya, yang telah membasahi wajah putih ayu Anisa, sungguh Alan merasa sangat sesak dadanya kala mendapati adik yang di sayanginya dan mati Matian ia lindungi berpandangan kosong dan entah apa yang dipikirkanya saat ini, Anisa yang penuh tawa,ceria Dan kebahagiaan seakan sirna, bahkan Alan merasa jika adiknya kini malah bersikap seperti layaknya orang gila. "Nis... Are you oke ?" Ucap Alan pada Anisa yang menayakan perihal kabar dan keadaannya saat ini, seketika Anisa langaung meluk pingingan sang kakak dan menagis tersedu sedu. "A..aku baik .Kak...hanya saja aku masih sulit untuk menerima ini, a..ku..aku sudah kotor kak,..kotor hiks..hiks..." Alan kemudian memposisikan dirinya dengan sebaik mungkin sebagai seorang kakak, dirinya pun tak henti menarik nafas panjang dan berusaha menahan emosinya, karena setiap dia melihat Anisa yang seperti ini maka ingatannya pun teringat dengan lelaki berengsek itu kembali. "Suttttt...jangan menagis lagi sayang, bagi kakak, ibu dan semuanya kau sangatlah berharaga, jadi kakak mohon padamu untuk melupakan apa yang sudah terjadi..kau akan memulainya lagi dengan yang baru ...,kuburkan semuanya dan kau adalah berlian dalam keluarga ini...kau berhaga sebagai adik ku, adik Alkas dan juga ibu" Dan setelah mendengar ucapan kakanya anisa mendongak melihat senyuman di bibir kakaknya yang berkata tulus. "Berhenti menaggis terus ..apa tidak capek hem?" Seketia Eliyana langsung menghapiri kedua anaknya dan ikut menyambung kaliamt, "Iya menaggis kan juga butuh tenaga ya kan...,jadi untuk menagis kalian harus isi energi dulu...ibu tadi udah masak banyak dan juga masak ikan tengiri bumbu merah kesukaan kalian,...jadi makan dulu ya biar nanti nangisnya bisa lebih kenceng", seketiaka Alan langaung membulatkan matanya kepada sang ibu, "Ibu" ucap Anisa pada ahirnya dengan mecebik kan bibirnya dan suasana sedih itu langsung berganti Dengan tawa, sedangkan Dari arah puntu sudah ada Alaks yang baru saja kembali dari kesibukannya mengurus kedai kopi barunya. Dan tatapanya mengarah pada ketiga orang yang pada ahirnya berhasil membuat Anisa kembali memperlihatkan senyumannya. "Bu aku juga lapar...aku juga butuh energi untuk bisa melihat kalian bahagia seperti ini" kemudian Alkas menuju ke arah abangnya Alan, Dan langsung merangkul bahunya melepaskan rasa rindu dan kehuatirannya selama abang nya masih di kota dimana dirinya tidak aman lagi. Setelah itu mereka keluar kamar dan menuju rauang makan tapi Anisa mersakan pusing di kepalanya yang membuat pandangannya sedikit mengabur dan pada ahirnya Anisa memejamkan matanya tanpa bisa mengontrol tubuhnya yang mulai meluruh jatuh, tapi untung ada Alaks yang berjalan di belakang Anisa sehingga dengan sigap langsung membawa tubuh Anisa yang terjatuh dan kehilangan kesadaran. .... .... Anisa mulai memperlihatkan kesadarannya kembali setelah hampir 3 jam dirinya pingsan, namun saat pertama kali kesadarannya kembali fokus matanya melihat jika ibunya menaggis dan kedua kakaknya bermuka tidak bersahabat seperi menahan sebuah amarah. "Nisa puti ibu ..., kamu akan menjadi wanita yang sesungguhnya". Namun kata yang di lontarkan ibunya itu membuatnya tidak mengerti, dahi anisa pun tampak mengeryit tanda jika dirinya tidak paham, Eliyana yang menyadari ketidak mengertian Anisa kemudian bersuara lagi "Nak kamu sedang mengandung, kau akan jadi seorang ibu, seperti ibu". Sontak hal tersebut membuat Anisa semakin kaget dengan kenyataan yang menimpanya, bahwa dirinya sedang hamil dan yang membuatnya semakin merasa bahwa sangat menyedihkan di kehidupannya, dia harus mengandung tanpa seorang suami di usianya yang masih 17 tahun, hamil dari hasil pemerkosaan dan mengadung benih dari orang yang sangat di bencinya, memgandung anak dari orang yang telah membunuh ayahnya. "Tidak ...tidak ...tidak mungkin bu ..tidak mungkin aku HAMIL ARARHHHH", teriak Anisa yang semakin frustasi dengan keadaaanya saat ini dan memukul mukulkan kedua jarinya yang mengengam erat di perutnya, tangis anisa berderu sangat keras hingga membaut Alkas yang tidak bisa meleihat adiknya seperti itu mencekal kedua pergelangan tangan sang adik dan menghentikan aksinya, kemudian membawa Anisa dalam pelukannya seraya menenagkanya untuk bisa lebih menerima keadaan bahwa dia sedang mengandung. Eliyana pun tampak gusar mengingat jika Anisa masih sangat terlalu dini jika harus hamil, bahkan dirinya sangat polos dan tidak tau apa-apa soal kehamilan, dan Eliyana sangat tau betul jika Anisa, batin dan juga jiwanya kembali terguncang yang mau tidak mau harus menerima kehamilan yang tidak di inginkannya. Alan ? Alan rahangnya semakin menegras saat tau jika adinya itu mengandung benih buah hasil dari pemerkosaan Nicolas pada adiknya, dirinya semakin geram dengan pria k*****t itu yang telah berani merusak adiknya hingga sedalam ini, 'kau benar-benar k*****t,..pria b*****t' gumam Alan dalam hati dan samakin besar keinginannya untuk membalaskan dendam pada Nicolas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN