UPACARA PEMAKAMAN
Setiap yang hidup pasti akan menemui kematian dan itulah hukum alam yang terus berlaku dalam berlangsungnya sebuah kehidupan. Dimana tak seorang pun dapat mencegahnya,menunda ataupun untuk bisa ditawar demi hanya sebagai jaminan hidup lama.
Di sinilah posisi Anisa saat ini, dimana dirinya tidak dapat menawar ataupun menghentikan apa yang sudah terjadi padanya dan pada ayahnya, sebab apapun yang telah terjadi itu semua hanya bisa direnungi sebagai sebuah kenangan masa lalu, terima tidak terima ini lah takdir yang telah di gariskan Tuhan kepadanya. kecewa,marah,sekaligus kesedihan itu lama kelamaan semakin mengerogotinya, dirinya benar-benar kehilangan, dari mulai kesuciannya sebagai seorang wanita bahkan orang yang teramat sangat dia cintai yaitu ayahnya. Kenapa ?,kenapa kenyataan itu semakin mencekik otak serta pikirannya kala Alan memberi tau nya jika semua dalang di balik terbunuhnya sang ayah ada nama Nicolas di dalamnya, sungguh rasanya jika saat ini kondisi Anisa tidak lemah maka dirinya paati akan membunuh Nicolas yang telah merenggut semua kebahgiaannya. Tapi...apakah pembunuhan akan begitu saja selesai jika membunuh si pelaku pembunuh ?.
Pandangan Anisa yang tampak nanar mengamati kotak peti mati berwarna putih dengan ukiran pohon cendana berbalut emas sang ayah yang diturunkan ke dalam liang lahat, bahkan Anisa tidak mampu lagi mengeluarkan air matanya yang sudah kering tak tersisa karena sangking banyaknya tak terhitung dirinya menagis. Alan,Alkas beserta Eliyana terus memberikan perhatian lebih pada Anisa mengingat jika dirinya yang paling rapuh diantara yang lainya, bahkan tadi Anisa sempat pingsan saat prosesi pemberkatan di gereja untuk menghantarkan ke peristirahatan terahir sang ayah. Dalam hati Anisa hanya berharap dan berdo'a agar Tuhan selalu memberikan tempat terbaik di sisi-Nya untuk ayahnya.
"Damailah disana yah..aku berjanji akan menjadi wanita yang lebih baik lagi dan pemberani seperti keinginanmu waktu itu".
Setelah semua prosesi upacara Pemakaman selesai dan para pelayat pergi, Anisa masih ingin berlama lama duduk disana sambil mengusap usap nisan nama sang ayah dan mencengkramkan tangannya pada tanah liat yang masih merah serta basah itu. Alkas berserta Eliyana sudah terlebih dahulu meninggalkan area pemakaman dan Alan masih setia menunggui sang adik di sampingnya dan mengusap bahu anisa yang dari tatapannya menyiratkan keputusasaan.
"Sudah nis ..ayah pasti akan sedih jika ku seperti ini terus, ayah sudah damai disana jadi kau ikhlaskan kepergian ayah..,jadi Ku mohon nis berhentilah meratap kita akan bangit kembali dan akan membals semuanya yang terjadi pada ayah sekaligus dengan dirimu"
Dengan segera wajah sendu itu menoleh pada Alan seolah memberinya sebuah kepastian untuk membalaskan dendam.
"Kita pergi ya dari sini hm"
Bujuk Alan pada anisa yang kemudian di setujui oleh anggukannya.
Di sisi lain dari pemakaman yang tak cukup jauh sebenarnya Nicolas beserta Danton ikut menyaksikan prosesi acara pemakaman Mahendra tapi dirinya enggan untuk bertegur sapa kerena sangat paham dengan situasinya yang sangat tidak memungkinkan, maka dari itu dia bersembuyi dan tak memperlihatkan dirinya pada semua orang terutama pada Alan. Pandangannya pun terus mengamati raut wajah serta tubuh wanita yang membuatnya gila jika memikirkannya, yah Anisa ... Nicolas melihat anisa yang terlihat pucat,wajahnya pun menyiratkan kesedihan yang mendalam dan dari situlah Nicolas sangat menyesali perbuatannya pada anisa, namun nasi telah menjadi bubur dan tak dapat lagi bisa berubah semula maka yang harus di lakukan adalah menerima dan memakannya bulat-bulat serta memperbaiki keadaan agar supaya jauh lebih baik.
"Ton kau siapkan segera kebetangkatan ku ke turkey, aku akan pulang dan menetap disana kembali serta meninggalkan negara ini, agar aku bisa melupakan gadis itu"...
"Siap Tuan, semuanya telah di urus dan kau hanya perlu mengeceknya dan soal bisnis yang ada di sini juga sudah diatur sehingga kau tidak perlu kuatir dan repot-repot datang kesini lagi"
Dan setelah itu mereka melajukan kendaraanya langsung menuju bandra. Nicolas memang sudah enggan berurusan lagi dengan keluaraga mahendra dirinya juga tau jika kejadian setelahnya pasti Alan akan semakin membecinya dan mendendam padanya mengingat jika kesalah pahaman itu belum terselesaikan hingga saat ini, maka dari itulah Nicolas memilih untuk mengalah dan pergi, sedangkan untuk Anisa dirinya akan mencoba untuk melupakanya sebab dia sadar jika gadis itu akan semakin sulit untuk di gapainya.
***......***
KEDIAMAN ELIYANA
Malam Kamar Anisa ...
Tatapan Anisa lagi lagi tampak kembali kosong, pandangannya bertumpu pada arah luar jendela dimana hanya ada kegelapan tanpa penerangan cahaya sama sekali, lantas dirinya mengingat kejadian di mana Nicolas menyekapnya, memperlakulannya dengan sangat buruk namun di sisi lain Anisa meyakini bahwa dari sikap garang dan kurang bersahabatnya sikap Nicolas padanya masih ada rasa jika Nicolas adalah sosok pria yang lembut namun Anisa akui bahwa sikap Nicolas memang sangat cepet sekali berubah ubah karena buruknya dia tidak dapat mengendalikan emosinya.
"Nak makanlah dulu ... Setidaknya isi lah perutmu satu atau dua suap agar tidak kosong, ibu tidak mau melihat mu sakit sayang". Gumam Eliyana pada Anisa dan seketika itu langsung membuyarkan lamunan Anisa dan langsung menoleh pada ibunya itu, Anisa kemudian hanya menatap Eliyana dengan wajah sendunya lalu segera memeluk erat pinggang sang ibu "aku takut bu, aku takut" beo anisa yang terasa sangat menyayat hati Eliyana, dimana Eliyana tau betul jika gadis usia 17 tahun seperti Anisa ini harusnya memdapat kebahagiaan dari kedua orang tuanya untuk melihat anaknya memasuki universitas yang di ingini, tapi sungguh malang nasib Anisa, dimana dia harus kehilangan ibu yang seharusnya mencurahkan kasih di saat usianya kanak-kanak dan sekarang nasib malang lagi-lagi menimpa Anisa jika dirinya harus kehilangan Mahendra.
Tak lama Alkas datang dan memecah suasana kesedihan di dalam kamar adinya.
"Ish gadis ini..kerjaannya nagis mulu", kemudian Alkas langsung mencet hidung Anisa yang memang suadah mancung sejak kecil, melihat itu Eliyana langsung menepis tangan anak lelakinya itu "Kau ini !!!...suka.sekali mengoda adikmu". Eliyana memang tau betul jika sejak dulu Alkas dan Anisa tampak seperti Tom and jerry namun terlepas dari itu mereka salaing menyayangi satu sama lain, dan Anisa memang cendrung jauh lebih akrap dengan Alan.
"Sudah siap kan semuanya ? Keberangkatan kalian setengah jam lagi" kemudian semua menoleh pada sumber suara yaitu Alan.
"Bang Alan ..,apa maksud mu dengan kalian..apa kau tidak ikut pergi bersama kami ke Washington ?" Tanya Alkas pada kakak, kembarannya itu.
"Kalian dulu yang pergi, aku akan menyusul nati Karena masih ada beberapa hal yang harus aku selesaikan lebih dulu disini" jawab Alan
"Emmm ..., bang soal wasihat ayah a..aku tidak menginginkannya, kau ambil lah bagianku" kemudian Anisa, Eliyana tampak hanya menjadi pendengar serta Alan keningnya mengkerut mendengar keinginan sang adik.
"Apa kau yakin ?" Tanya Alan meminta kepastisn
"Yakin.. Kau saja bang yang mengambil alih semua, aku sudah tidak mau bersinggungan lagi dengan dunia kegelapan,mafia maupun gengster, sesampainya di Washington nanti aku ingin membuat lembaran baru dengan membukabkedai kopi sebagai usaha...juga dengan begitu aku bisa melindungi Ibu Dan Anisa sepenuhnya". Ucap Alkas pada Alan yang kemudian di iyakan oleh Alan
"Baiklah...dan teimakasih" ucap Alan kembali.