Bab 09

1195 Kata
[Ayu : Assalamu'alaikum Afgan.] [Afgan : Wa'alaikumussalam Ayu, ada apa?] [Ayu : Sebelumnya aku ingin mengucapkan terimakasih padamu.] [Afgan : Sama-sama Ayu, apakah kau senang dengan penampilan barumu sekarang?] [Ayu : Ya, aku sangat senang dan menyukai penampilan baruku. Aku juga sudah siap untuk masuk ke kampus besok.] [Afgan : Alhamdulillah, aku tunggu kau besok di kantin bersama Rama.] [Ayu : Okay, see you tomorrow Afgan.] [Afgan : Okay, see you tomorrow too....] ** Tok.... Tok.. Tok.. Suara pintu kamar Afgan di ketuk. "Masuk.." pinta Afgan yang masih terhubung telepon oleh Ayu. "Hei uncle.." panggil Rama. "Yes my nephew, what's wrong?" tanya Afgan. "Grandma is waiting at the dining table, so let's have dinner together. I'll wait outside your room, fifteen minutes from now. Okay." jawab Rama. "Okay, wait a minute, I'll hang up first." kata Afgan. "Okay.." sambung Rama. ** [Afgan : Oh ya Ayu sampai mana tadi? Oh ya okay, see you tomorrow too....] [Ayu : Assalamu'alaikum..] [Afgan : Wa'alaikumussalam..] ** "Come on uncle, don't be long, you're taking too long." keluh Rama. "Okay, let's go to the dining table now Rama." kata Afgan. ----- "Bu.." panggil Tiara. "Ya menantuku." jawab bu Nurmala. "Rama dan Eza mana kok belum datang ya?" tanya bu Nurmala. "Itu dia mereka bu.." jawab Arsya. "Maaf membuat semuanya menunggu lama." kata Afgan. "Yeah, no problem Afgan." sambung Arsya. "Ya sudah ayo kita makan malam." kata Tiara. "Oh ya bu, Papa. Hari ini aku ingin berkumpul bersama temanku di tempat biasa jadi kalian kunci saja pintunya." kata Rama. "Kau ingin keluar lagi Ram?" tanya Arsya. "Yes, Dad, just a moment. It's been a long time since I've seen my friends." jawab Rama. "Okay, fine but.." kata Arsya. "But what Dad?" tanya Rama. "With one condition." jawab Arsya. "What!!! There are conditions. Grandma...." Rama terkejut dan mengadu pada bu Nurmala. "What? Tell Arsya what are the conditions?" tanya bu Nurmala. "The first condition is that you have to invite Eza and then the second is that you have to come home on time, don't come home early, how about that?" tanya Arsya memberikan syarat pada putranya. "Aaaaa.... Should I invite Afgan, dad?" tanya Rama tak percaya ketika di berikan syarat pada ayahnya. "Yes, of course it's not wrong. If you want to go out tonight, the requirements are those, besides there are only two requirements, right? You should be able and capable of fulfilling those requirements to go out and hang out with your friends, right?" tantang Arsya. "Grandma, please.." pinta Rama. "Yes, why is my grandson handsome?" tanya bu Nurmala. "Help me, please." jawab Rama. "No, your father gave you two choices. Yes, you make your own choice." tolak bu Nurmala. Perdebatan pun selesai setelah makan malam, Afgan kembali ke kamarnya. Sedangkan Rama masih memikirkan syarat dari ayahnya. Kring.... Kring.. Kring.. Kring.... Handphone Afgan berbunyi. "Handphone berbunyi, pak Roy." kata Afgan ketika melihat layar handphone miliknya. ** [Afgan : Assalamu'alaikum pak Roy.] [Pak Roy : Wa'alaikumussalam Afgan, bagaimana kabarmu sudah lama aku tidak meneleponmu? Oh ya satu lagi bagaimana keadaan putri kesayanganku, Ayu. Aku sangat merindukannya?] [Afgan : Alhamdulillah baik Pak Roy, kabar Ayu di sini juga baik. Kalau kau merindukannya kenapa kau tidak meneleponnya saja Pak Roy? Ah atau kau datang saja ke sini.] [Pak Roy : Aku ingin sekali Afgan kesana, tapi aku tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk mengunjunginya ke sana.] [Afgan : Oh jadi seperti itu ya pak Roy, ah bagaimana saat liburan semester saja pak Roy atau nanti aku aturkan waktu yang pas untukmu bisa bertemu dengan putrimu pak Roy?] [Pak Roy : Ah ya aku setuju dengan idemu, baik Afgan, aku ingin mendengar kabar baik darimu kapan aku bisa menemui putriku di sana.] [Afgan : Siap laksanakan pak..] [Pak Roy : Baik, kalau begitu kita akhiri saja telepon ini.] [Afgan : Siap. Laksanakan pak..] [Pak Roy : Assalamu'alaikum..] [Afgan : Wa'alaikumussalam..] ** Akhirnya Rama memutuskan untuk tidak keluar rumah hari dan memilih untuk tidur di kamarnya. Sementara Afgan sedang sibuk mengerjakan tugas dari dosennya. Tok.... Tok.. Tok.. Tok.. Pintu kamar Afgan di ketuk. "Siapa ya?" tanya Afgan dalam hati ketika mendengar suara pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang. "Eza apakah didalam kamar nak?" tanya bu Nurmala. "Oh ternyata itu ibuku." kata Afgan di dalam hati. "Iya bu, saya di kamar." Afgan pun bangkit dari kursinya menuju ke pintu kamarnya, kemudian membukanya. "Iya bu ada apa? Silahkan masuk." Afgan mempersilahkan ibunya untuk masuk ke kamarnya. "Kau sedang apa sekarang, apakah kau sedang sibuk?" tanya bu Nurmala. "Tidak bu, saya baru saja selesai mengerjakan tugas kuliah." jawab Afgan. "Oh baik, kalau begitu.." kata bu Nurmala. "Maaf bu sebelumnya, itu?" tanya Afgan ketika melihat bu Nurmala membawa album foto. "Ini akan ibu ceritakan nanti padamu. Sekarang mari kita duduk dulu." jawab bu Nurmala. "Oh iya bu, tunggu sebentar." Afgan mengambilkan bu Nurmala minuman. "Baik nak.." bu Nurmala duduk dan menunggu Afgan kembali ke kamarnya. ---- "Aku ingat ibu sangat menyukai ice lemon tea." kata Afgan. "Hai Eza.." sapa Tiara. "Iya, kak Tiara." sapa Afgan juga. "Kamu sedang apa di sini?" tanya Tiara. "Saya sedang mencari teh dan lemon kak." jawab Afgan. "Oh ya tunggu sebentar biar saya ambilkan yang kau butuhkan." pinta Tiara. "Baik kak." kata Afgan patuh. Beberapa detik kemudian.. "Ini dia Eza, teh dan lemon yang kau butuhkan." kata Tiara. Tanpa Afgan ketahui bu Nurmala memeriksa laci yang tidak di tutup oleh Afgan. Bu Nurmala pun menangis karena melihat foto Afgan bersama dengan mendiang ayahnya dan bu Nurmala menemukan sebuah surat yang di tulis oleh mendiang ayahnya sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir. "Apa ternyata dia adalah anakku yang selama ini aku rindukan, Afgan Syah Reza." bu Nurmala meneteskan air mata. Sementara itu di dapur Afgan di bantu oleh Tiara menyiapkan minuman dan cemilan kesukaan ibunya. "Nah Eza ini sudah semuanya, cemilan dan minuman kesukaan ibu.." kata Tiara. "Terimakasih kak Tiara." sambung Afgan. "Sama-sama Eza." "Kalau begitu saya ke kamar dulu ya kak, kasihan ibu sudah lama menunggu." "Ya.." Kemudian bu Nurmala meletakan kembali surat dan foto ke dalam laci Afgan. "Arsya harus tahu kalau ternyata Eza adalah Afgan adiknya, tapi ku rasa tidak sekarang dan aku juga membutuhkan waktu untuk mengungkapkan siapa kau sebenarnya putraku pada kakak iparku, kakakmu dan juga Rama keponakanmu." kata bu Nurmala di dalam hati. "Bu.." panggil Afgan. "Afgan tidak boleh melihatku seperti ini." kata bu Nurmala di dalam hati sembari mengusap air matanya yang menetes ke pipinya. "Iya nak Eza." jawab bu Nurmala. "Ini aku bawakan cemilan dan minuman ke sukaan ibu." kata Afgan. "Terimakasih nak, kemarilah akan ibu tunjukkan sesuatu." pinta bu Nurmala. "Iya bu.." kata Afgan patuh. "Oh ya bu ini apa? Apakah ini sebuah Album foto?" tanya Afgan. "Iya nak Eza." jawab bu Nurmala. "Foto anak kecil ini yang berada di depan kan bu?" tanya Afgan lagi. "Ya di ruang tamu." jawab bu Nurmala lagi. "Siapa dia bu?" tanya Afgan memastikan. "Dia adalah paman Rama, adik Rasya dan anak keduaku." jawab bu Nurmala. "Itu adalah kau Afgan." kata bu Nurmala menahan sedihnya dan menahan keinginannya untuk memeluknya. "Dimana dia sekarang?" "Dia berada di Indonesia, tapi sekarang berada di sini Afgan." kata bu Nurmala setelah menjawab pertanyaan dari Afgan. "Oh.." seru Afgan. "Ya.." sambung bu Nurmala.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN