bc

Seven Elements

book_age16+
102
IKUTI
1.3K
BACA
adventure
no-couple
serious
genius
witty
mage
swordsman/swordswoman
magical world
supernature earth
special ability
like
intro-logo
Uraian

Dunia sudah sepenuhnya didiami oleh orang - orang yang tidak memahami sejarah. Manusia sudah terlalu tidak peduli dengan asalnya, itulah yang membuat mereka akan kehilangan masa depan.

Gerbang yang menghubungkan dunia bawah dan dunia atas semakin banyak yang terbuka, kekuatan para penjaga gerbang sudah hampir mencapai batasnya, generasi yang ada saat ini telah mengalami penurunan kekuatan yang sangat drastis.

Sementara jumlah penghuni dunia bawah semakin bertambah jumlahnya, bahkan beberapa dari mereka berhasil melakukan kawin campur dan menghasilkan makhluk yang jauh lebih kuat.

Peperangan besar yang tertulis pada dua buat batu misteri itu menandakan bahwa waktunya sudah sangat dekat.

Tapi pada salah satu batu misteri itu tertulis akan lahirnya dua orang anak manusia yang akan menentukan kehidupan atau kematian yang akan terjadi.

Keduanya akan lahir sebagai lawan memilih antara persahabatan atau kemenangan kaumnya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog : Simbol Pada Dinding
Beberapa menit sebelum jam istirahat usai Marvin memotong pembicaraan seputar kegiatan tambahan. Sebenarnya Jeremy memang sengaja untuk  mengalihkan perhatian Marvin dari pembicaraan kemarin terkait keanehan di rumah tersebut, terlebih setelah Jeremy mengetahui kalau sifat Marvin memang agak usil. “Jer, ada masalah? Muka lu kenapa suram amat deh.“  Perkataan Marvin mulai terdengar mencurigakan. Jeremy tersentak kaget dengan perkataan Marvin itu, Jeremy berpikir apakah dari tadi Marvin memang sudah mengikutinya secara diam – diam.  “Kok kamu ngomong gitu? Aku baik - baik aja kok.“ Jeremy untuk memancing agar temannya itu mengaku. Marvin terkejut terdiam sesaat menyadari kalau dia sudah mengatakan sesuatu yang salah. Tapi bukan Marvin namanya karena tidak pandai mencari alasan. “Masak sih Jer? Kayaknya lu lagi menyembunyikan sesuatu.” “Enak aja, kenapa kamu bisa ngomong gitu coba. Kan kamu baru aja datang.” “Sebenarnya gue memang sudah duduk disitu daritadi sih,” sambil menunjuk ke suatu kursi panjang berjarak tidak jauh di depan mereka. “Oh disitu, ngapain kamu disitu? Kayaknya kelas kamu yang searah deh dengan tempat itu.” Jeremy melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Marvin dan bertambah besar kecurigaannya. Bagaimana mungkin dia tidak menyadarinya, tapi Jeremy tidak mempersoalkan hal sepele seperti itu, dia memang terlahir dengan kemurahan hati dan selalu menghindari perdebatan sedapat mungkin, walau apa yang dilakukan oleh Marvin sangatlah aneh. “Emang gak searah sama kelas gue, tapi masak iya gue gak boleh main - main kesana. Lagian di dekat situ kan ada kantin yang menjual minuman ringan favorit gue.” “Vin, kamu emang paling jago mencari alasan ya. Tapi kali ini cukup masuk akal sih.” “Wah kesannya gue gak da kerjaan banget ya. Tapi sebenarnya tuh gue gak mau menghampiri lu karena ada urusan lain, tapi gak tahu kenapa jadi pengen kesini aja.” “Urusan apa sih Vin? Di sekolah ini kan kamu salah satu orang yang paling berpengaruh. Kalaupun ada kerjaan kan tinggal suruh anggota kamu aja. Emangnya aku gak paham cara kerja organisasi di sekolah ini.” “Ya tapi kan gue peduli sama elu Jer.” Dalam hati Jeremy berkata : “ Dasar pembohong! Bukankah sudah jelas dia memang sudah merencanakannya.” Walau begitu Jeremy masih bisa menahan diri agar tidak menambah ketertarikan Marvin akan dirinya. “Apa lu masih memikirkan omongan gue kemarin tentang misteri yang terjadi di rumah itu dan penghuni sebelumnya ya? Menurut gue, lu gak perlu terlalu memikirkan hal itu, toh itu hanya rumor yang beredar yang terkadang dilebih – lebihkan oleh masyarakat doang, sebenarnya gue juga gak percaya - percaya amat kok.” “Waduh, kalau gitu kenapa kamu kemarin ngomong seolah semua itu nyata?” “Namanya juga misteri Jer, gak mungkin dong gue cerita sambil bercanda, gak dapet dong rasa seramnya.” “Jadi tujuan kamu sebenarnya cuma mau buat aku takut aja ya?” “Loh emangnya lu takut cuma karena cerita receh gitu? Ayolah Jer, ini sudah zaman semuanya ditimbang dengan akal sehat kali. Kalau kita masih percaya dengan hal - hal mistis gitu mana bisa tercipta alat - alat canggih ini?” Marvin menunjukkan telepon genggam yang ada di tangannya. “Tapi kan bukan berarti hal - hal mistis gak ada di dunia ini Vin.” “Terserah elu sih mau percaya atau gak Jer. Dunia ini gak akan bisa menerima orang - orang yang berbeda pemikiran dengan mereka. Kalau lu memiliki masa depan yang luar biasa di dunia ini, lu harus menjadi orang biasa dulu.” “Tumben omongan kamu jadi agak bijak gitu.” “Iya ya, gue ngomong apa sih.” Padahal Jeremy pun hampir percaya semua yang dikatakannya karena dia berbicara dengan wajah yang begitu serius seolah sangat peduli dengan keadaan Jeremy saat ini yang rumah yang memang cukup menyeramkan sejak pertama ditempati. “Vin, sebenarnya kemarin aku sangat penasaran dengan perkataanmu tentang bunyi - bunyi aneh dari dalam rumahku itu, kemudian aku menyelidiki darimana datangnya suara yang kamu maksud itu karena aku pun pernah mendengarnya sesekali. Aku mencoba semua pintu di rumah itu, tapi tidak menemukan satupun pintu dengan bunyi yang sama seperti perjalananmu kemarin.“ Saat mereka tengah berbicara tiba – tiba terdengar peringatan bahwa jam istirahat sudah usai. Kami sepakat melanjutkan pembicaraan setelah pulang sekolah karena sepertinya Marvin pun penasaran dengan hal itu. Pulang sekolah mereka berencana untuk mau mampir terlebih dahulu di suatu tempat untuk membicarakannya setelah meminta izin kepada orang tua sebelumnya. Mereka mampir di suatu taman yang biasa dipakai para siswa untuk bersantai sejenak sebelum pulang kerumah. Mereka memesan minuman dingin kepada pedagang untuk menghilangkan penat dan dahaga setelah belajar di sekolah. “Kamu sering mampir disini Vin?” Marvin cukup akrab dengan pedagang minuman tadi. “Iya sih, hanya saja kalau gue ada keperluan urusan sekolah yang gak sempat diomongin di sekolah, gue biasa nongkrong disini bersama yang lain. Lalu bagaimana kelanjutan cerita lutadi Jer? Gue gak ngira kalau lu beneran penasaran ya?“ “Begini ceritanya, pada suatu hari…” Jeremy berbicara dengan begitu serius sehingga Marvin pun fokus pada setiap kata - katanya. “Napa jadi seperti dongeng anak - anak sih? Serius dong Jer!” “Hahaha, aku tidak tahan dengan rasa penasaranmu.” “Sebelumnya aku mau mengatakan bahwa apa yang mau katakan ini adalah rahasia diantara kita saja dan jangan ada orang yang tahu.” Marvin mengangguk tanpa kata – katanya menyiratkan dia setuju dengan permintaanku. “Bercanda kok, kamu boleh beritahu siapapun.” Setelah puas menggodanya, maka Jeremy pun serius berbicara kepadanya. “Setelah aku mencoba semua pintu di rumah itu dan tidak menemukan satupun pintu memiliki suara seperti yang kau katakan, dan tiba - tiba saat aku bersandar pada suatu dinding kayu yang berada di dekat dapur terdengarlah bunyi aneh itu.“ “Jangan bilang kalau bunyinya seperti suara gesekan pintu yang sudah tua gak sih Jer?” “Sebenarnya aku sudah merasa aneh dengan dinding kayu tersebut dari awal kami memasuki rumah itu, bisa dibilang aku merasakan aura yang aneh keluar dari dalamnya. Maksudku seperti ada yang berdiam di dibaliknya.” “Apa maksud kamu dengan aura aneh? Masak iya ada orang yang tinggal di dalam rumah itu selama ini tanpa diketahui orang warga. Perasaan lu aja gak sih Jer?“ Marvin menjadi semakin penasaran karena perkataan itu. “Aku kan gak bilang kalau tinggal di dalam sana adalah manusia Vin.” “Nah kalau bukan manusia jadi apa dong? Kok omongan lu jadi seram sih Jer. Jangan - jangan lu ini dukun ya? “Ya gak lah, aku manusia biasa kok. Tapi dari kecil aku sudah terbiasa merasakan dan bisa membedakan aura disekitarku, itu seperti udara dengan kepadatan yang berbeda, terkadang ketika pada tengah hari ada beberapa tempat yang harusnya terpapar sinar matahari malah terasa dingin, setelah itu ada juga pada tempat yang harusnya sangat teduh malah terasa panas yang mencekam. Makanya aku bisa tahu kalau ada sesuatu yang berdiam di dalam dinding itu.” Mendengar penjelasan tentang masa kecil dari Jeremy, Marvin pun terkejut dan hampir tidak percaya akan hal itu. Seketika Marvin menghela nafas panjang kemudian tersenyum kecil, perlahan tertawa sambil menatap Jeremy dengan serius.  “Tau gak Jer? Gue kira cuma gue yang bisa merasakan semua itu, ternyata lu juga bisa ngerasain yang sama dengan apa yang gue rasain, tapi berbeda gue beda sih, kalau gue melalui penciuman doang, bahkan dari jarak yang jauh banget.” Sekarang malah Jeremy yang terkejut dengan perkataan Marvin. “Gue berpikir apakah semua yang aneh ini adalah khayalan saja sampai – sampai gue gak berani menceritakan hal ini kepada siapapun karena takut diejek oleh orang lain.” Marvin melihat ke langit dengan mata yang tampak berkaca - kaca. “Menurutku bukanlah sesuatu yang salah apabila merasakan hal yang sedikit berbeda dengan orang pada umumnya, malah itu dapat membuat kita dan orang yang kita sayangi untuk terhindar dari hal – hal buruk yang mungkin akan menimpa kita.” “Lu bener juga Jer. Oya terus gimana lagi ceritanya?” “Saat berbalik aku melihat ada suatu gambar aneh di dinding kayu itu. Aku menceritakan ini kepadamu dengan tujuan mungkin kamu mengerti dengan itu, mungkin saja itu adalah simbol dari budaya dikota ini “, sambil Jeremy menunjukkan gambar yang difoto kemarin kepada Marvin. Ketika Marvin melihat gambar dan simbol tersebut, sepertinya dia mendapat suatu petunjuk. “Gue memang pernah melihat simbol ini sebelumnya dimana gt, kalau tidak salah tertulis di pohon tua yang ada didekat rumah kita.” “Apakah kau tidak salah lihat Vin? Soalnya aku aja kemarin ingin mendekati pohon itu tapi dilarang oleh seorang bapak yang memiliki kebun di sekitar situ.” “Oh soal itu, tentu saja gue mendekati pohon itu sewaktu lagi gak da dong, karena kemarin sesekali gue lewat situ mencium aroma aneh.” “Kamu sudah kayak apa aja ya.” “Apaan Jer, awas lu ngejek gue!” “Bercanda kok, gitu ada marah.” Jeremy penasaran apakah simbol tersebut menunjukkan hubungan antara rumahnya dengan pohon tua itu,karena apa yang dirasakan Jeremy pada pohon tua itu memang agak mirip dengan dinding kayu di rumahnya, hanya saja pohon itu terasa lebih pekat dan menyesakkan. Akhirnya Jeremy pun menemukan titik terang dari rasa penasaran yang mengganggunya setelah tiba di daerah ini. Ditambah lagi dia mendapatkan teman baru dengan kelebihan yang sama sehingga dia tidak perlu merahasiakan apapun lagi.  Pada sore hari Jeremy berencana bersama - sama melihat lebih dekat pohon tersebut. “Yakin lu mau kesana ntar sore Jer?” “Ya lah, aku penasaran banget soalnya, kamu mau kan menemani aku kesana.” “Tu kan, sudah gue duga pasti ujung - ujungnya gini.” “Tolonglah Vin, sekali ini aja.” “Mana ada lah sekali - sekali. Ntar juga pasti lu minta tolong gue lagi.” “Tapi mau kan Vin? Ya dong.” “Tapi gue gak tanggung jawab ya.” Dengan berat hati akhirnya Marvin terpaksa mengikuti keinginan Jeremy untuk melihat apakah  gambar pada dinding kayu sama dengan yang dilihat Marvin di pohon tersebut.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

FATE ; Rebirth of the princess

read
36.0K
bc

Rebirth of The Queen

read
3.7K
bc

Marriage Aggreement

read
87.0K
bc

Rise from the Darkness

read
8.6K
bc

Pulau Bertatahkan Hasrat

read
640.0K
bc

Life of An (Completed)

read
1.1M
bc

Scandal Para Ipar

read
707.9K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook