Aku Bukanlah Seorang Medallion

2025 Kata
Di titik itu terbersit penyesalan dipikiran Jeremy karena telah menolak panggilan untuk menjadi seorang Medallion seperti yang dikatakan oleh Mura tempo hari. “Mungkin dengan menjadi Medallion aku dapat mengusir makhluk - makhluk ini dengan mudah. Tapi saat ini tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Apalagi pak tua itu sudah mengambil tongkatnya kemarin.” “Jer, daripada lo ngomong gak sendiri sendiri. Mending cari cara agar kita bisa lolos dari masalah ini.” Marvin sudah kehabisan akal karena sudah terkepung oleh makhluk - makhluk tersebut. Namun Jeremy tidak sempat memperdulikan perkataan temannya itu karena dia sedang memikirkannya. “Vin, lo dari tadi nanya Jeremy terus. Emang lo gak ada bisa mikir apa kek gitu?”  “Ya ampun June, kalau gue tahu mau sih gak perlu nanya sama Jere lagi kan?” “Masuk akal sih. Jadi Jereee…!” Marvin  dan June berteriak bersama - sama. “Gini aja gaes, cuma ada satu cara.” Ucapan Jeremy membuat kedua orang itu mendapatkan harapan. “Cepat bilang sama kami!”  “Yang buat mereka datang kesini kan karena ditarik sama gantungan kunci itu. Kalau gitu biar gue aja yang bawa benda itu menjauh dari sini. Sementara itu lo berdua mending pergi dari tempat. Gimana mudah kan?” “Terus nasib lo gimana Jer?” “Udah, Lo tenang aja Vin. Kalau soal itu ntar gue pikirin lagi. Lagian ada yang mau gue cari tadi kok mereka cuma June waktu di sekolah doang. Soalnya selama dia di rumah kok gak datang kan?” “Itu bahaya Jer! Kalau terjadi apa - apa sama lo gimana dong?” “Gue gak sebodoh itu June. Lo berdua percaya deh. Ntar gue nyusul kalau sudah datang jawaban dari rasa penasaran tadi.” “Kita gak mungkin ninggalin lo sendirian sama makhluk - makhluk ini Jer.”  “Gak ada waktu lagi Vin, kemungkinan yang terburuk setidaknya lo berdua bisa selamat aja sudah bagus kan? June ayo kita tukeran tas selagi masih sempat.” Tanpa berkata apa - apa June melakukan apa yang diperintahkan oleh Jeremy.  “Bentar! Setelah gue kasih tanpa lo semua lari secepat mungkin oke!” Jeremy perlahan bergerak menjauhi teman - temannya bersama dengan tas yang sudah ditukar tadi.  Dan ternyata benar saja. Para Dokoon itu hanya mengikuti pergerakan dari Jeremy yang sedang membawa tas tersebut. Tanpa berpikir panjang Jeremy langsung berlari berlawanan arah dari pintu keluar sekolah. Setelah sudah cukup jauh dan masih terlihat olehnya Jeremy melambaikan tangan kepada kedua temannya tersebut. “June,gimana nih? Kita pergi dari sini gak?” Marvin bimbang karena mencemaskan keadaan Jeremy. “Lo kenapa tanya gue? Tapi aku tidak tahu mengapa kita harus menuruti perkataannya saat ini.” June menarik tangan Marvin yang masih melihat Jeremy dari kejauhan dikejar - kejar. Saat melihat kedua temannya pergi maka legalah Jeremy karena tidak perlu melibatkan mereka lagi dalam masalah dunia lain. “Sekarang aku hanya perlu mencari tahu apa yang membuat sekolah ini menjadi tempat aman untuk mereka. Lalu mengapa pak tua itu tidak mengetahui kedatangan mereka?” Jeremy mempercepat larinya kemudian bersembunyi di balik meja ruang guru. “Tampaknya mereka tidak memiliki kepekaan yang kuat. Kalau Tapi aku tidak boleh membuka celah sebelum mendapatkan informasi yang cukup.” “Ternyata yang diinginkan mereka bukanlah manusia biasa. Tapi manusia yang memiliki benda mistis ini di tangannya. Entah apa yang tersimpan di dalamnya. Aku bisa merasakan ada suatu rahasia disegel di dalamnya.” “Apa yang kalian lakukan dapat pemula! Dimana wanita dan benda itu? Mengapa kalian belum mendapatkannya?” Terdengar suara seorang wanita yang terdengar cukup dikenal oleh Jeremy. “Meta, apa yang dia lakukan di tempat ini? Dengan siapa dia berbicara? Jangan - jangan?” Dengan perlahan Jeremy memberanikan diri mengintip apa yang sebenarnya terjadi. Betapa dia terkejut saat menyadari ternyata wanita itu sedang berbicara dengan para Dokoon selayaknya bawahan. “Aku tidak menyangka kalau Meta berhubungan dengan para Dokoon itu. Pantas saja para Dokoon itu dapat mengetahui waktu yang tepat untuk menculik June. “Tidak disangka dengan kacamata tebal layaknya kutu buku seperti itu ternyata memiliki hubungan dengan para Dokoon.” “Siapa disana?!” Meta menyadari kehadiran seseorang di ruangan guru tersebut. Tapi belum mengetahui kalau orang itu adalah Jeremy yang berusaha mengalihkan perhatian. Namun Jeremy belum mau keluar untuk menguji apakah tadi Meta hanya menggertak saja. “Hey, aku tahu kau ada dibalik meja guru olahraga bukan? Tadinya aku kira hanya manusia biasa sehingga tidak perlu dipedulikan. Ternyata aku salah meremehkanmu, tapi kau juga telah meremehkan aku.” Jeremy yang tidak bisa bersembunyi pun terpaksa keluar dari tempat persembunyiannya. “Mengapa kau memiliki hubungan dengan makhluk rendahan seperti mereka Meta?” “Makhluk rendahan? Kalian para manusia memang terlalu naif sehingga memandang kekuatan besar sebagai bahaya.” Meta mengibaskan rambutnya. “Baiklah kalau begitu, mengapa kau mencari benda ini?” “Jeremy, kau terlalu ceroboh sampai menunjukkan benda penting seperti itu di hadapanku. Apakah kau tidak takut mati?” Meta mengacungkan jarinya kepada Jeremy. “Kematian adalah hal yang pasti untuk setiap makhluk tak peduli sebesar apa kekuatannya.” “Simpan saja nasehatmu untuk anak kecil. Aku tidak memerlukan hal itu. Yang aku inginkan adalah benda yang ada ditanganmu dan wanita yang sering bersamamu itu.” “Kau kira aku akan menyerahkan semudah. Jawab dulu pertanyaanku! Apa yang sebenarnya kalian rencanakan dengan benda ini?” “Sepertinya kau tidak menyadari posisimu yang tidak memiliki kesempatan untuk bertanya ya? Sekali lagi aku katakan kepadamu cepat berikan benda itu dan aku akan menghabisimu dengan sedikit rasa sakit seperti tertusuk sepuluh jatuh pada semua ujung jari.” “Dasar wanita aneh. Kau kira itu tidak sakit? Kaulah yang tidak menyadari posisimu bodoh. Aku bisa saja memanggil para Medallion terdekat untuk menghancurkanmu dan para Dokoon ini.” “Hahaha, apakah kau sedang bercanda Jer? Kalau kau bisa melakukan hal itu pastilah sudah kau lakukan dari tadi bukan? Tempat ini telah ditutupi oleh zona penghalang sihir tingkat 5 sehingga koneksi dengan dunia luar telah sepenuhnya tertutup.” Sadar akan posisinya yang terpojok akhirnya Jeremy mencoba mencari benda - benda kerang di tempat itu untuk mengancam Meta. Maka dia pun menemukan sebuah batu yang bisa dipakai untuk mengganjal pintu. “Jawab pertanyaanku atau aku akan menghancurkan benda mistis ini?”  “Coba Jer kalau kau bisa menghancurkan benda purba itu. Bahkan dengan kekuatan sihir tinggal 7 tidak akan bisa menghancurkannya. Tapi karena kau begitu memaksa, baiklah aku akan memberitahukan kepadamu sedikit rencana kehancuran dunia kalian.” Meta mengambil posisi duduk pada salah satu kursi guru yang ada di hadapan Jeremy. “Kehancuran dunia? Apa maksudmu?” Jeremy berteriak. “Benda yang kau pegang itu adalah salah - satu dari 7 elemen yang diperlukan untuk mengubah sejarah umat manusia kembali dikuasai oleh kegelapan. Nah aku sudah menjawab pertanyaanmu bukan? Sekarang berikan benda itu kepadaku barulah terimalah akhir dari hidupmu yang sia - sia itu.” “Kau kira aku akan melakukan hal itu setelah mendengar rencana konyol kalian. Bahkan sampai mati pun aku tidak akan menyerahkan benda mistis ini kepadamu.” Jeremy kembali menyimpan gantungan kunci tersebut. “Dasar tidak tahu diri! Kalian semua, beritahu pada orang itu rasa sakit yang paling mengerikan yang tidak bisa dia bayangkan selama hidupnya.” Kedua Dokoon yang ada di tempat itu mengacungkan tangannya dan mengumpulkan kekuatan gelap pada telapak tangannya. Semua benda yang ada didalam ruangan itu pun terangkat ke udara sampai pada yang paling kecil. Dengan satu kali ayunan tangan oleh kedua Dokoon tersebut maka terlemparlah semua benda itu kepada Jeremy yang hanya bisa pasrah melindungi dirinya dengan dua tangan. “Drakk…!” Semua benda yang terlempar itu pun tertumpul di hadapan Jeremy tanpa menyentuhnya sama sekali. “Apa? Bagaimana mungkin?” Meta terkejut karena serangan tersebut digagalkan. “Dasar tongkat tua! Ternyata kau masih mengikuti sampai saat ini.” Jeremy melihat tongkat kayu yang diberikan oleh Hur muncul dihadapan menahan semua serangan tersebut. “Kekuatan ini hanya dimiliki oleh Medallion. Tapi aku tidak merasakan kekuatan cahaya dari dirimu. Siapa sebenarnya dirimu Jeremy?”  “Aku bukan siapa - siapa. Tepat seperti yang kau katakan kalau aku bukanlah seorang Medallion.” Dengan santai Jeremy menjadi Meta. “Kau pasti berbohong! Lalu darimana datangnya kekuatan ini. Lalu benda itu adalah senjata tongkat yang hanya dimiliki seorang Medallion King.” Meta semakin ketakutan melihat tongkat Hur yang berdiri di hadapannya. “Jujur saja aku tidak mengerti apa yang kau katakan Meta. Aku kira benda ini hanya tongkat yang diberikan sebagai hadiah saja.” Jeremy berjalan mendekati Meta yang sedang berjalan mundur. Sementara para Dokoon lainnya tidak bisa berbuat apa - apa dihadapan tongkat tersebut karena tingkat kekuatannya yang berada jauh dibawah. “Kau tidak akan bisa lolos dari semua ini Jer, kami akan berusaha mencari cara untuk mendapatkan benda itu dari tanganmu. Sekalipun harus menggunakan cara yang paling keji yang tidak bisa kau bayangkan sebagai manusia.” “Mengapa sih dari tadi kau terus mengancamku dengan omong kosong seperti itu. Apakah tidak ada cara lain untuk membuktikan kemampuanmu.” “Teruslah menyombongkan dirimu Jeremy. Asal kau tahu aku hanyalah seorang bawahan di sekolah ini. Masih orang - orang yang tingkat kekuatan setara bahkan di atas dirimu. Semoga saja kau bersiap menghadapi mereka saat waktunya tiba. Mulai sekarang kami tidak akan melakukannya dengan sembunyi - sembunyi lagi, tapi terang - terangan menantang kalian.” “Aku berani menghadapi kalian bukan karena kekuatan yang kumiliki, tapi karena aku tahu sedang berpihak pada kebenaran.” Jeremy berada tepat di hadapan Meta berhadapan muka dengan muka. “Kebenaran itu relatif Jer. Mari kita lihat kebenaran siapa yang akan menang pada akhirnya. Kebenaran kami atau kebenaran kalian yang sudah terlalu usang itu.” “Dari perkataanmu menunjukkan kalian akan mundur untuk saat ini.” Jeremy menatap tajam mata Meta. “Apakah seorang Medallion tidak akan memberi pengampunan kepada musuh yang tidak berdaya lagi?” “Jangan lupa kalau aku bukanlah seorang medallion. Jadi aku tidak berkewajiban untuk mengampuni kalian saat ini.” “Apa maksudmu Jer?” Meta gemetar ketakutan melihat tatapan Jeremy yang penuh dengan amarah tidak seperti para Medallion yang diketahuinya. “Kau tahu mengapa aku tidak mau bergabung dengan Medallion. Inilah yang menjadi alasan paling mendasar bagiku. Aku tidak suka mengampuni orang jahat sepertimu.” “Tapi aku hanyalah manusia biasa Jer. Tidak seperti seperti para Dokoon yang ada disitu, aku tidak memiliki kekuatan sihir sama sekali.” “Meta meta meta, kau kira aku akan percaya semudah itu pada perkataan seorang sepertimu. Tapi aku akan berurusan dengan mereka berdua dulu.” Saat Jeremy menatap tongkat tersebut langsung membuka celah di lantai dan menelannya sebelum bisa melarikan diri. Kemudian lantai itu tertutup kembali seperti sedia kala. “Meta, kau hampir membuat temanku kehilangan nyawa akibat keserakahanmu. Sekarang waktunya kau menerima ganjaran atas apa yang telah terjadi.” “Jangan Jer, aku berjanji untuk melayanimu sampai kapanpun asal kau tidak menghabisiku.” Lutut Meta bertelut melihat kedua Dokoon itu mati dalam sekejap tanpa Jeremy berbuat apa - apa.  “Aku tidak sudi dilayani oleh seorang penghianat sepertimu bodoh. Lebih baik kau mati dan melayani para iblis di dunia bawah saja. Bukankah itu yang kau lakukan selama ini?” Jeremy memegang kepala Meta dan menjambak rambutnya sehingga membuat kacamatanya terjatuh ke lantai. “Tahan anak muda! Kau tidak perlu melakukan hal itu. Kekuatan yang kuberikan bukan untuk membunuh manusia biasa.” Sebuah tangan memegang memegang pundak Jeremy yang hendak menghabisi Meta di ruangan tersebut. “Darimana saja kau pak tua? Kau harusnya tahu kalau aku tidak bisa menahan amarah apabila berurusan dengan orang - orang terdekatku.” Jeremy melepaskan rambut Meta dengan perlahan. “Kemampuanku terhalang oleh sihir para Dokoon. Tapi setelah pengguna sihir tersebut mati barulah aku menyadari ada bahaya di tempat ini. Maafkan aku karena terlambat datang.” “Lakukan apa yang kau mau pak tua. Tapi sepertinya aku sudah terlibat semakin dalam oleh kepentingan kalian yang sangat merepotkan ini.” Jeremy pergi meninggalkan Hur bersama dengan Meta di tempat itu. Di depan pintu ruangan guru Jeremy terhenti sejenak. “Pak tua, apakah kau bisa melakukan sesuatu untukku?”  “Katakanlah! Kalau mampu pasti aku lakukan?” “Kalau bisa jangan tinggalkan tempat ini dalam keadaan berantakan seperti ini?” Jeremy tersenyum dan pulang membawa tas June.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN