Terpisah Dari Keluarga

1146 Kata
“Apabila yang menemukannya seorang Dokoon maka mereka akan sangat mudah mendeteksi keberadaan elemen lainnya seperti yang kau miliki sekarang.” Jeremy yang mendengar perkataan dari Otora menjadi terkejut karena khawatir akan keselamatan dirinya dan keluarganya akibat telah menyimpan benda berbahaya tersebut. “Duarrr…!” Terdengar suara ledakan dari tempat yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. “Anak muda, apakah di rumah ini terdapat kekuatan mistis ada semacamnya?” Maka Jeremy teringat akan dinding rumahnya yang sering mengeluarkan kekuatan yang aneh saat malam tiba. “Memang ada sesuatu yang aneh dirumah ini. Tapi aku tidak tahu hal itu kekuatan gelap atau tidak.” “Kita sudah terlambat anak muda. Ternyata kita sudah masuk ke dalam perangkap para Dokoon itu. Kita sudah membawa elemen kegelapan ke tempat dimana terdapat penghubung dimensi kegelapan dengan dunia nyata.” “Dek...dek...dek!” Lantai tempat Jeremy berpijak bergetar.  “Jer, keluar dari kamarmu sekarang! Gempa! Gempa!” Terdengar suara ibunya yang berteriak sangat kuat. Untuk sesaat Jeremy belum sempat merespon panggilan tersebut karena merasa bersalah akan apa yang dilakukannya telah membawa keluarganya dan orang - orang disitu mengalami bahaya. “Jere mana Jere?!” Kedua orang tua Jeremy pun panik karena menyadari kalau anaknya belum juga keluar dari rumah tersebut. “Gubrakk…!” Tiba - tiba rumah itu pun masuk ke dalam tanah tertelan oleh bumi dalam sekejap. “Jeremy…!” Sayu terdengar suara teriakan ibunya di telinga Jere namun dia sudah tidak bisa berbuat apa - apa lagi.  Saat bencana itu berhenti Jeremy tersadar di dalam kamarnya yang sudah dalam keadaan porak poranda. “Akhirnya kau bangun juga anak muda. Aku sudah coba menanggal kekuatan gelap tersebut tapi terjadi masih menyisakan kerusakan sebesar ini. Tapi syukurlah kau selamat.” Dengan keadaan badan yang sakit Jeremy mencoba bangkit namun belum mampu akibat luka dalam yang dideritanya. Untuk kesekian kalinya Jeremy berusaha untuk bangkit dan akhirnya dia berhasil mendapatkan tumpuan yang kuat pada tempat tidurnya. “Otora, apakah kau ada disitu?” “Kau jangan terlalu memaksakan diri anak muda karena saat ini kita sedang berada jauh dibawah tanah akibat bencana besar itu.” “Ibu, ayah, adikku! Bagaimana keadaan mereka?” Jeremy kembali panik mengingat keluarganya. “Kau tenang saja karena mereka sudah terlebih dahulu menyelamatkan diri.” “Apa yang sebenarnya telah terjadi Otora? Mengapa bisa terjadi bencana besar begini?” “Aku juga tidak begitu paham keadaannya. Tapi mungkin saja semua ini terjadi karena elemen kegelapan yang kau bawa itu merespon kekuatan gelap yang tersimpan dirumah ini.” “Jadi benar semua ini terjadi karena kebodohanku ya.” Jeremy meneteskan air matanya menyesali apa yang sudah terjadi. “Kau tidak boleh berlama - lama menyesali apa yang sudah terjadi. Yang terpenting saat ini adalah mencari jalan keluar secepatnya.” “Oya dimana benda itu?” Jeremy menjadi gantungan kunci yang tergantung pada tas milik June tapi tidak menemukannya. “Kalau dia tidak ada disini berarti dia pasti berada di suatu tempat di atas sana. Elemen kegelapan tersebut kemungkinan sudah menempati posisinya sesuai pola kuno.” Otora menggambarkan suatu pola bintang segi lima pada sebuah tembok kamar Jeremy. Pada setiap sudutnya mengeluarkan asap hitam yang sebagai pertanda aktifnya kekuatan kegelapan di dunia. “Kepalaku pusing!” Jeremy memegang kuat kepalanya. “Manusia biasa memang seharusnya tidak boleh mengetahui rahasia dunia lain. Kalau dipaksakan maka akan terjadi goncangan pada pikiran seperti yang kau alami saat ini. Sebaiknya kau istirahat dan tenangkan dirimu. Berhenti bertanya tentang sesuatu yang berbau dunia lain untuk saat ini. Kau cukup ikuti saat perkataanku.” “Baiklah Otora aku akan mengikuti perkataanmu saja. Apakah kau tahu cara naik ke permukaan?” “Tidak teman, kekuatanku sudah terkuras habis untuk melindungimu dari guncangan tadi. Lagipula mengapa kau melamun saat semua orang sedang menyelamatkan diri.” “Iya itu memang kesalahanku. Tapi kalau kau tidak bisa mengeluarkan kita dari tempat ini lalu mengapa kau suruh aku mengikuti perkataanmu?” “Tidak usah banyak tanya! Sekarang ganti pakaianmu dengan pakaian yang lebih tebal karena perjalanan kita berikutnya akan panjang di bawah tanah ini.” Otora menunjuk kepada lemari di depan Jeremy. Dengan cepat Jeremy mengganti pakaiannya dan membawa perbekalan untuk perjalanan seperti yang diberitahu oleh Otora. Jeremy pun melangkah keluar dari kamarnya melewati ruangan di rumah itu yang sudah berantakan akibat barang - barang yang bertebaran di lantai. Saat dibukanya pintu dia terkejut karena saat ini di depannya terdapat banyak gua dengan ukuran setinggi orang dewasa. “Astaga, aku tidak menyangka dibawah rumahku terdapat tempat seperti ini.” “Kau mungkin terkejut, tapi nantinya kau akan terbiasa dengan hal - hal yang seperti ini. Gua bawah tanah hanyalah sebagian kecil dari keajaiban di dunia ini. Aku tidak menyangka akan menjadi tongkat penuntun seorang manusia seperti ini.”  “Kau cerewet sekali Otora! Lalu mau kemana kita sekarang?” “Pertama kau tancapkan aku dulu di tanah.”  “Mana tanahnya keras banget nih.” Dengan sekuat tenaga Jeremy menghujamkan tongkat kayu itu ke tanah berbatu - batu di depan rumahnya.  “Gimana? Apakah kau sudah mengetahui arah tujuan kita sekarang?”  “Sabar sih! Kok kamu malah maksa. Padahal tadi sudah kayak orang bingung.” “Serba salah aku mengikutimu Otora.”  “Makanya sabar! Apa kau melihat gua kecil yang paling ujung sana? Ayo kita melalui jalur itu saja untuk mencari jalan keluar.” “Semoga kau tidak salah memilih jalan Otora.”  Maka Jeremy pun memulai perjalanannya dengan dituntun oleh tongkat kayu yang bisa bicara. Sebelum masuk ke dalam gua kecil itu Jeremy berpaling dan melihat rumahnya untuk terakhir kali. Kemudian barulah dia masuk ke dalam gua gelap tersebut dengan berbekal senter kecil yang dibawanya dari rumah sebagai penerangan. “Aku tidak menyangka di dalam sini agak menjadi begitu gelap. Bahkan dengan senter ini saja tidak bisa mencapai ujungnya.” “Tentu saja, karena kegelapan yang ada dibawah sih dilapisi juga oleh debu yang tebal. Jadi wajar saja kalau cara biasa tidak bisa menembusnya.” Setelah sekian lama berjalan melewati lika - liku gua itu barulah dia menemukan sebuah mata air yang berada di antara akar pohon yang menjalar dibawah tanah. “Kau bisa meminum air ini sebelum kita melanjutkan perjalanan lagi.”  “Baiklah Otora. Aku tidak menyangka ada akar pohon pada kedalaman ini.” “Tunggu, sepertinya kita kedatangan tamu.” “Wah wah wah aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di tempat ini anak muda.”  Jeremy gembira mendengar suara seseorang yang dikenalnya itu.  “Pak tua, apakah itu kau?” Hur keluar dari kegelapan mengenakan jubah berwarna ungu tua dengan tangan memegang sebuah tongkat kayu lainnya. “Sepertinya hari ini kau sudah dua kali mengejutkanku anak muda. Sudah kuduga kau pasti membawa Otora bersamamu.” “Hur, kau memang tidak bisa memilih tempat untuk mengejutkan orang. Bahkan di bawah tanah seperti ini.” “Perjalanan kita membuatmu mengenalku ternyata.” “Aku anggap itu sebagai suatu kehormatan.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN