Penginapan Dan Makanan Yang Unik

1122 Kata
Perjalanan panjang pun dilalui oleh mereka berbekal seadanya melewati lorong bawah tanah yang berliku - liku. Tanpa disadari oleh June dan Marvin kalau sebenarnya mereka sedang dituntun oleh sebuah tongkat kayu yang dipegang oleh Jeremy. Mereka pun dipersilahkan masuk ke dalam benteng Galesia yang terletak di dasar danau Seven tersebut. Untuk pertama kalinya mereka melihat adanya kehidupan di bawah danau yang merupakan objek wisata yang terkenal di dunia itu. Manusia yang tinggal disini bernafas dengan menggunakan udara dengan mekanisme menggunakan bola udara yang berputar terus menerus melalui alat khusus seperti pompa. Sementara air ditahan dengan dinding seperti pada pintu masuk tadi. Di tempat itu memiliki penerangan yang sama dengan kehidupan di permukaan yaitu memanfaatkan cahaya matahari. Hanya saja di dalam danau itu terdapat beberapa cermin yang memperkuat dan menyebarkan cahaya tersebut pada bagian atasnya.  “Jer, siapa sangka dibawah danau Seven yang terkenal ada kehidupan yang begitu indah.” “Yoi banget, lihat saja teknologi yang mereka gunakan untuk menopang kehidupan di bawah sini. Siapa sangka orang bisa membuat cerobong udara dengan menggunakan pompa terus menerus gitu.” “Lo berdua ngomong apa sih gue gak ngerti. Walau gue seorang jurnalis tapi di titik ini entah kenapa dari hati yang paling dalam berkata untuk merahasiakan semua yang ada disini.” “Iya kali lo kasih tahu orang lain June. Yang ada juga lo dibilang gila dan tukang mimpi ntar.” “Lo benar Jer, kali ini kita cukup bisa mengagumi saja deh.” Hur tersenyum melihat kedewasaan anak - anak tersebut. Tapi wanita yang bernama Horma masih menaruh curiga terhadap mereka walau sudah diperingati oleh kakaknya. “Horsa, mungkin aku dapat mempercayai tuan Hur. Tapi aku merasakan suatu perasaan yang aneh dari ketiga anak tersebut walau aku sendiri tidak bisa mengungkapkannya untuk saat ini. Sebaiknya kita berhati - hati, terutama pada kedua pria tersebut.” “Baiklah Horma, aku menghormati kecurigaanmu dan menyerahkan pengawasan mereka kepadamu. Tapi ingat jangan membuat mereka tidak nyaman dengan tindakanmu untuk menghormati tuan Hur.” “Serahkan saja padaku.” Horma memberi hormat kepada kakaknya yang sekalipun adalah atasannya. “Tuan Horsa, apakah kalian memiliki penginapan untuk anak - anak muda ini untuk sementara karena aku mau menemui pemimpin tempat ini?” “Tentu saja tuan Hur, maafkan atas kelalaian kami karena melupakan hal itu dari awal. Oya kalau anda mau bertemu dengan tuan Henri akan segera saya sampaikan kepadanya.” “Anak - anak, kalian ikuti apa yang diberitahukan mereka dan istirahatlah sebelum mendapatkan pelatihan.” “Apa? Pelatihan?” June terkejut. “Hahaha, siapa suruh kau ikut bersama dengan kami. Kau kira kita mau liburan datang kesini.” Jeremy kegirangan melihat kesusahan June tersebut. Selain itu Marvin tidak berkata apa - apa dan hanya bisa mengikuti keinginan Hur walau dia tidak begitu mengerti. Demikianlah mereka bertiga diantarkan ke tempat dimana dapat menginap dan beristirahat sebelum memulai pelatihan untuk menjadi seorang Medallion. Seorang berjubah biru lainnya dengan sebuah lempengan batu di tangannya telah diperintahkan oleh Horsa untuk mengantarkan mereka bertiga.  “Silahkan masuk tuan - tuan, dan nona di ruangan sebelah. Sebentar lagi kami akan mengantarkan makan dan pakaian yang bisa kalian pakai selama berada di tempat ini. Apabila ada sesuatu yang kalian butuhkan dapat langsung bicara kepada saya. Kalian dapat menggunakan batu ini dengan menyerukan nama saya yaitu Jetro.” “Salam kenal Jetro.” Jeremy menjabat tangan pria muda yang tampak seumuran dengannya itu sambil menerima sebuah batu lain yang lebih kecil. “Berikat batu itu kepadaku Jer! Hebat banget dengan batu ini saja bisa berkomunikasi dengan sesama. Jetro!” June berteriak dalam lempengan yang ada di tangan Jetro langsung memancarkan sinar berwarna kuning. “Ih gila hebat banget orang - orang ini.” Marvin terkejut melihat batu yang digunakan oleh June tersebut. “Kalian ini memang tidak sopan mempermainkan seseorang yang sudah berjerih payah mau membantu kita.” Jeremy menegur kedua temannya sambil merebut kembali batu itu dari June. “Tuan Jetro, maafkan atas ketidaksopanan dari kedua temanku ini. Kenalkan namaku adalah Jeremy dan ini adalah June dan Marvin. Semoga kami tidak merepotkanmu.” Jetro yang diperlakukan dengan begitu hormat orang Jeremy menjadi salah tingkah dan tidak bisa menjawabnya. Dia hanya bisa tersenyum dan menundukkan kembali kepala sebagai penghormatan kemudian berpaling pergi meninggalkan penginapan tersebut. “Lo kok jadi lebay sih Jer!” Marvin menutup pintu kamarnya. “Bukan gitu, kasian lo berdua kok mainin alat itu sementara orangnya ada di depan kita. Oya June, ngapain lo ada dikamar kita berdua.” “Iya ya, lo kan cewek June. Pergi sana ke kamar lo sendiri saja.” “Iya iya, lagian siapa yang mau disana sama lo berdua.” Kamar itu sangat sederhana dengan satu tempat tidur dengan ukuran besar dan sebuah karpet tebal di tengah ruangan. Selain itu ada sebuah kamar mandi yang tidak memiliki pintu dan hanya dilapisi oleh tirai bernuansa biru laut. “Lo apa gue dulu yang mandi ini Jer? Soalnya lihat deh kamar mandinya kok horor gitu ya.”  “Mau gimana lagi Vin, syukur bisa numpang disini. Ya udah kalau gitu lo aja duluan deh yang mandi.”  Maka mereka pun mandi bergantian dan mengenakan pakaian sederhana yang diberikan oleh Jetro tadi. Suatu pakaian yang berbentuk jubah berwarna biru seperti penduduk lainnya di tempat itu. Yang membedakan hanyalah motif yang menghiasinya. Bagi wanita memiliki warna biru yang lebih muda dengan motif bunga, sementara para pria berwarna biru tua dengan motif bintang.  “Tok...tok...tok! Tuan saya mau mengantarkan makanan seadanya.” Terdengar suara seorang wanita muda seumuran dengan mereka dari balik pintu. “Biar gue yang buka pintunya Jer, lo beres - beres aja dulu.” Marvin buru - buru berlari ke pintu. “Memang ya giliran cewek aja yang datang pasti lo duluan deh.” Jeremy kesal melihat tingkah Marvin. “Helleh, kayak lo gak pernah muda aja Jer!” “Gue masih muda kali.” Saat membuka pintu ternyata benar yang datang adalah seorang wanita muda yang sangat elok parahnya. Marvin yang melihatnya langsung terpukau, tapi tiba - tiba langsung lemas karena melihat makanan yang dibawa oleh wanita itu. “Serius cuma ini?” Marvin melihat yang dibawa wanita itu hanya buah - buahan dan sayuran yang terlihat aneh baginya. “Maaf tuan, kami para penghuni dasar danau memang tidak memakan daging seperti kalian. Mohon diterima karena saya harus mengantarkan kepada nona yang ada di sebelah.” “Maafkan aku, terima kasih atas makanannya nona…?” “Anda dapat memanggil saya Milia. Kalau masih kurang silahkan minta saja melalui Jetro. Nanti akan langsung ditambahkan dengan cepat.” “Baiklah Milia.” Marvin menjawab dengan suara rendah dan menutup pintu. “Hahaha, rasain tuh makan rumput deh lo. Untung gue gak suka pilih - pilih makanan.” Jeremy merebut makanan itu dan memakannya dengan lahap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN