22 | Penawar Luka

2092 Kata
Cinta menggeser tubuh tinggi Vino dengan sling bag miliknya, lalu berjalan melewati Vino begitu saja. Terpaksa ia menuruti kemauan Vino, tujuannya hanyalah untuk segera terhindar dari manusia menyebalkan itu. Sungguh, sebenarnya Cinta hanya ingin beristirahat hari ini. Kedua sudut bibir Vino tertarik membentuk senyum manis. Ia langsung bergerak cepat menyusul langkah kaki Cinta. "Yuhuuuu..." Vino bersiul girang. "Jadi kamu udah siap pergi sekarang?" tanya Vino dengan alis terangkat sebelah. Berharap Cinta akan segera mengangguk untuk mempercepat waktu singkat mereka. Cinta memutar bola matanya lalu menghela napas panjang. Ia berniat memutar tubuhnya kembali, tapi dihalang oleh tangan Vino yang menyentuh ujung baju di lengannya. Sungguh, jika Cinta bisa berteriak bahwa Vino sangat menyebalkan hari ini, maka dengan senang hati akan Cinta lakukan. Tapi sayangnya, ia tak bisa berteriak pada Vino. "Oke, aku tau kamu marah. Tapi aku juga sadar bahwa aku terlalu ganteng untuk kamu tolak ajakannya. Ya, kan?" tanya Vino, lagi, dengan alis terangkat sebelah. "Kamu juga pasti nggak ada kegiatan di rumah hari ini, kan? Makanya, kan udah aku bilang, hari ini kamu emang udah harus nganterin aku pergi." Cinta menepis 2 jari Vino yang memegang bajunya. Cinta menghentakkan kaki sebal, lalu kembali menyempurnakan langkahnya untuk menuju kamar. Tapi secepat itu pulalah Vino langsung berlari dan menghadang tubuh Cinta hingga menyebabkan tubuh mereka tinggal berjarak 2 jengkal lagi. Vino masih saja bisa tertawa. "Oke oke, aku kalah. Aku ngaku banyak dosa sama kamu hari ini. Aku juga yang iseng sama kamu. Aku juga yang nggak ada kegiatan di rumah, yaaaa walaupun kamu juga sih hehe. Ah, aku juga yang udah kegeeran kalau aku ganteng. Eh, tapi emang aku beneran ganteng kan, Cin?" Cinta menggeleng pasrah. "Dan yang paling penting adalah, aku butuh kamu hari ini." Vino menatap manik mata Cinta dalam. Berusaha meyakinkan Cinta jika dirinya memang membutuhkan bantuan perempuan itu untuk melaksanakan sesuatu yang menjadi penentu hidup dan matinya. ☘️☘️☘️ Dewa menuruni anak tangga dengan santainya. Ia bahkan berjalan sambil bersiul dengan tangan yang iseng memutar kunci mobilnya. Dewa sengaja ingin memakai mobilnya hari ini, karena ingin mengajak Cinta jalan-jalan di akhir pekan. Pagi ini, Dewa sengaja berniat untuk datang berkunjung ke rumah gadis itu tanpa mengabari terlebih dahulu. Makanya, hari ini ia bangun lebih awal agar bisa segera sampai di rumah Cinta. Karena selain untuk bertemu gadis itu, ada hal lain yang ingin ia lakukan. "Dewa!" Panggilan itu sontak menghentikan langkah kaki Dewa di anak tangga terakhir. Ia menolehkan kepalanya dan menemukan papanya yang sedang sarapan dengan anak kesayangannya. "Kamu mau ke mana? Jam segini?" tanya Adrian yang menatap tak percaya Dewa dari ujung kepala hingga ujung kaki. Benarkah itu anaknya yang selalu telat bangun pagi? "Kenapa? Ada masalah?" tanya Dewa dengan nada suara yang tak enak didengar. Adrian langsung kembali menggeratakan rahangnya. Sulit untuk Adrian mengubah tatapan benci yang selalu saja ditujukan oleh Dewa untuknya. "Sarapan dulu!" "Nggak perlu. Aku nggak lapar. Lagian Papa lanjutin aja sarapan berdua sama anak kesayangan Papa itu." Bastian sontak mengerutkan kedua alisnya hingga menyatu. Padahal sejak tadi ia hanya diam, tapi rupanya Dewa memang mencari perkara padanya. "Papa sayang kalian berdua. Kalian berdua sama-sama anak Papa." Dewa mengeluarkan senyum miringnya. Ia menatap papanya dengan tatapan setengah jijik. Dan begitu matanya bergeser menatap Bastian, rahangnya mengeras kencang. "Basi, Pa. Aku nggak akan percaya," ujarnya sarkasme dan berniat melanjutkan langkah kakinya. Adrian membulatkan mata tak percaya kala mendengar kalimat itu meluncur dari bibir putrinya. "Dewa! Berani kamu maju selangkah, Papa pastikan semua fasilitas yang kamu nikmati akan Papa cabut!" Dewa tersenyum miring. Ia menggaruk alisnya yang tak gatal. "Papa pikir aku peduli? Semua Papa ambil pun, aku nggak peduli. Karena memang ini yang sejak dulu selalu Papa lakukan sama aku dan Mama. Dan Papa ... nggak perlu pura-pura bilang sayang sama aku. Bahkan saat Mama meninggal dulu, Papa ada di mana? Sibuk sama selingkuhan, kan?" Dewa mengakhiri kalimatnya sambil melirik sinis ke arah Bastian. "Cukup, Dewa!" seru Adrian dengan menggebrak meja makan hingga membuat suasana menjadi lebih serius. "Wa, lo apaan sih? Yang sopan dikit lo kalau ngomong sama Papa," ujar Bastian sok menasehati. Dewa tertawa sumbang. "b*****t," umpat Dewa dengan suara teramat pelan. Ingin sekali ia melangkah maju untuk menghajar wajah menjijikkan milik Bastian. "Lanjutkanlah, karena kalian terlihat cocok sebagai keluarga jika bersama," ujar Dewa tanpa lagi menoleh ke arah papanya atau Bastian. Ia segera mengambil langkah lebar dan keluar dari rumahnya. Ia mengabaikan semua teriakan Adrian yang berkali-kali memanggil namanya. Ia langsung masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan rumah dengan asap tipis di belakangnya. Tangannya mencengkeram erat stit kemudinya. Wajahnya memerah menahan emosi. Kakinya menginjak pedal gas semakin dalam hingga membuat ia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang semakin meningkat. Dengan kecepatan tinggi, Dewa sampai di g**g rumah Cinta dalam waktu 15 menit. Ia memilih memakirkan mobilnya di depan g**g karena mobilnya tak akan muat melewati jalan sempit itu. Langkahnya seketika berhenti saat melihat di depannya, Cinta sedang digandeng keluar rumah oleh Vino. Vino memberikan sebuah helm oleh Cinta dan mengajak gadis itu pergi pagi ini. Dewa mengerutkan keningnya tak suka. Tangannya mengepal erat. Cinta dan Vino bahkan pergi begitu saja tanpa menyadari kehadirannya. ☘️☘️☘️ Tanah lapang yang ditumbuhi oleh hijaunya rumput, membentang luas di hadapan Cinta. Pepohonan yang besar dan tinggi meneduhkan sepanjang jalan di lereng bukit. Cinta memejamkan matanya. Merasakan sejuknya angin menyapa wajah dan juga tubuhnya. Embusan angin yang cukup kencang membuat tingginya tanaman ilalang seperti melambaikan tangannya senada, ke kanan, dan ke kiri. Menyejukkan mata yang memandangnya. Cinta bergidik tiba-tiba saat merasakan udara yang kian dingin menyapa permukaan kulitnya. Setelah pagi tadi Vino mengajaknya main di mall sampai sore, kini lelaki itu masih terus menyeret Cinta untuk mengikuti agenda Vino yang katanya sangat penting itu. "Cinta!" Cinta mengerjap mendengar panggilan untuknya. Kepalanya berniat menoleh untuk melihat Vino yang baru saja memanggil namanya, dan.... tuk! Vino menusuk pipi Cinta dengan sebuah ranting kecil. "Kena!" seru Vino kekanakkan. Siapa yang tadi berjanji tak akan mengusili Cinta lagi? Cinta langsung mendengus sebal, dan berniat mengusap pipi kanannya dengan punggung tangannya. Tapi sebelum Cinta melakukannya, Vino sudah terlebih dahulu mengusap pipi Cinta dengan ujung lengan jaketnya. Padahal ini hari libur, tapi Vino terlihat begitu rapih di matanya. Padahal Cinta sendiri hanya menggunakan celana jeans dan juga kaos berlengan pendek berwarna putih dengan gambar Baymax di bagian perutnya. Cinta melihat Vino yang tersenyum menatapnya. Puncak rambut Vino berkibar karena angin. Membuat wajah kuning langsat di hadapannya itu ikut memucat seketika. "Kamu kedinginan, ya?" Cinta menggeleng. "Beneran?" tanya Vino memastikan. Cinta mengangguk sebagai jawaban selanjutnya. "Maaf ya, harusnya aku suruh kamu bawa jaket. Aku juga nggak tahu kalau cuaca di sini akan sedingin ini. Kamu pasti kedinginan." Cinta tersenyum tipis dan kembali menggeleng. "Kamu tau kan, kalau perempuan bilang nggak berarti jawabannya iya?" Mata Vino menyipit, "Aku tau kamu bohong, dan kamu pasti kedinginan." Tanpa babibu lagi, dan sebelum Cinta sempat berucap, Vino sudah melepas jaket hitamnya hingga menyisakan kemeja yang masih melekat di tubuhnya. Vino memasangkan jaket itu ke punggung Cinta. Menyebarkan kehangatan bagi tubuh Cinta dalam sekejap. Cinta menatap wajah Vino dengan membalas senyum tipis untuk lelaki itu. Ucapan terima kasih yang ia berikan melalui sorot matanya, bukankah itu sudah cukup dimengerti oleh Vino? Vino memang seperti itu. Walaupun terkadang menyebalkan, Cinta tahu bahwa Vino selalu memberikan banyak perhatian padanya. Vino selalu ada untuknya. Dan Vino juga selalu memberikan keceriaan di hidupnya yang penuh dengan keterbatasan dan rasa kehilangan. "Jangan ngeliatin aku begitu," kata Vino dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain saat merasakan kedua mata Cinta mulai menatapnya dalam. "Vino!!" Vino langsung mengangkat kepalanya, dan berdiri. Ia menyipitkan matanya untuk mencari seseorang yang barusan berteriak memanggil namanya. "Vino!!" Vino sontak kembali berjongkok. Ia langsung cekikikan di hadapan Cinta. "Dia udah dateng Ta," kata Vino dengan wajah berbinar bahagia. Kedua alis Cinta terangkat sebelah karena bingung. Siapa dia yang dimaksud oleh Vino? "Kamu nggak tau?" tanya Vino karena melihat ekspresi Cinta yang jauh dari ekspektasinya. Detik selanjutnya Vino menepuk jidatnya sendiri sambil terkekeh seperti orang bodoh. "Oh iya, kamu belum aku kasih tau!" "Jadi, dia yang aku maksud itu adalah Ajeng." Cinta sontak terdiam membeku. "Kamu tau, diem-diem aku lagi PDKT sama dia. Nah, ceritanya kemarin itu aku ajak dia ketemuan di sini. Ternyata dia setuju, dan sekarang dia beneran dateng ke sini deh." Vino menjelaskannya dengan raut wajah yang tak kehilangan binarnya sedikitpun. Setiap nama Ajeng meluncur dari bibirnya, maka saat itu pula bibir Vino akan tersenyum dengan lebarnya. Begitu lebar hingga kedua mata Vino semakin menyipit dan hampir tak terlihat. Cinta masih diam mendengarkan dengan raut wajah yang ia usahakan setenang mungkin. Jadi kini benar jika Vino memang menyukai Ajeng? Jadi selama ini benar praduganya tentang hubungan Vino dan Ajeng yang semakin dekat setiap harinya? "Awalnya aku mau cerita sama kamu, tapi karena takut nggak diterima sama Ajeng, jadi aku pikir buat keep sendiri dulu dari kamu. Maaf ya friend..." Entah mengapa, kedua sudut bibir Cinta tertarik untuk memberikan senyum tipis. Senyum yang sebenarnya tak bisa diberikan oleh hatinya. Senyum yang ia gunakan sebagai kamuflase perasaan yang tanpa diduga hancur begitu cepat. "Tapi kamu harus janji, doain aku ya, semoga PDKT aku dan Ajeng bisa berjalan dengan baik. Dan kamu juga bantu ngawasin dari sini ya, kasih penilaian kamu tentang Ajeng. Kira-kira aku cocok atau nggak kalau disandingkan dengan Ajeng. Oke?" Jadi ini yang dimaksud Vino dengan bersenang-senang? Jadi ini yang dimakasud Vino dengan membutuhkannya? Agar Cinta bisa membantu Vino untuk mendoakan PDKTnya dan menilai dirinya bersama dengan Ajeng? Cup! Cinta membulatkan matanya saat bibir Vino mengecup singkat keningnya. Itu memang sering Vino lakukan padanya. Kata Vino, kecupan itu sebagai bentuk rasa sayangnya pada Cinta. Tapi entah mengapa, untuk kali ini Cinta membenci kecupan itu. Ia tak ingin Vino melakukan hal itu lagi padanya. "Sahabat terbaik aku harus bantuin aku kali ini ya?" Baru Cinta ingin mengatakan sesuatu, Vino sudah lebih dulu melangkah pergi menjauhinya. Ah, lagi pula apa yang bisa Cinta katakan? Apa yang bisa Cinta ucapkan pada Vino? Lagi pula, Cinta dan Vino bukanlah siapa-siapa. Hanya sahabat, yang tak memiliki hak dan wewenang untuk saling mengikat diri satu sama lain. Vino berhak mendapatkan perempuan yang disukainya, dan Cinta, Cinta tak berhak untuk melarangnya. Cinta tak berhak membatasi perasaan Vino. Bagaimanapun, statusnya dengan Vino hanyalah sebatas sahabat. Tak lebih dan tak kurang. Dan Cinta, harus bisa belajar memahami hal itu. ☘️☘️☘️ Dewa menatap padang ilalang yang terhampar di hadapannya dengan takjub. Begitu ia keluar dari mobilnya, angin segar seolah langsung menyapa dingin tubuhnya yang dibalut jaket kulit berwarna hitam. Sadar akan tujuannya ke sana, Dewa langsung melangkah maju sat melihat motor yang dinaiki oleh Vino dan Cinta terparkir tak jauh darinya. Ia mendongakkan kepala ke atas bukit. Berbekal insting sok tahunya, Dewa memilih naik ke atas bukit. Sayup-sayup ia mulai mendengar sebuah pembicaraan yang terdengar serius. "Kamu mau kan jadi pacar aku?" "Iya, aku mau jadi pacar kamu, Vin." Dewa sontak membeku di tempatnya. Ia mencerna suara itu barusan. 'Vin?' bukankah itu singkatan nama Vino? Siapa yang baru saja ditembak oleh Vino? Cinta? Tapi kan gadis itu tidak bisa bicara. Lalu siapa yang baru saja menjawabnya? Dewa segera berlari naik ke atas bukit. Mulutnya terbuka saat melihat Vino sedang menggandeng tangan Ajeng sambil tersenyum cerah. Saat Dewa mengalihkan pandangannya, ia melihat ada Cinta yang sedang berdiri bersembunyi di belakang pohon. Ia bisa melihat bahu gadis itu bergetar dengan kepala menunduk. Dewa tahu pasti Cinta saat ini sedang menangis. Dengan tangan terkepal erat, Dewa melangkah maju untuk menghampri Vino dan juga Ajeng. Ia sudah menyiapkan kepalan tangannya untuk menghajar Vino jika perlu. Bertepatan saat beberapa langkah lagi Dewa sampai di dekat Vino, Cinta malah berdiri dengan menghadangnya. Dewa menatap gadis itu bingung, sedangkan Cinta balas menatapnya dengan kedua mata yang basah. “Apa lo selalu sebodoh ini? Buat apa lo ada di sini untuk liat orang yang lo suka menyatakan perasaannya sama orang lain?” "Harusnya lo kasih tau cowok bodoh itu tentang perasaan lo. Harusnya lo―” Dewa menggantungkan ucapannya di udara begitu ada jemari yang terasa menggenggam satu jemari miliknya. Genggaman itu perlahan mengerat, seirama dengan getaran di bahu gadis itu yang terlihat lebih kuat. Gadis itu seolah memohon padanya untuk tidak melanjutkan kalimatnya tadi. Dewa menghela napas panjang. Diusapnya perlahan airmata yang kini membasahi kedua pipi gadis itu. Dengan penuh kesadaran, Dewa menarik punggung Cinta agar mendekat padanya. Wajah gadis itu berada tepat di depan dadanya, sehingga yang bisa melihat gadis itu menangis hanyalah Dewa seorang. Dengan eratnya Dewa memeluk tubuh Cinta yang diam-diam menangis di pelukannya. "Udah pernah gue bilang kalau lo harus percaya akan ada orang lain yang bisa buat lo bahagia selain dia." “Be mine, please,” bisiknya lembut di telinga Cinta.   ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN