21 | Percaya Gue

1711 Kata
Cinta menatap sarapannya dengan tak berselera. Padahal sang bunda sudah memasakkannya sayur sop dengan telur dadar kesukaannya. Biasanya Cinta akan makan dengan lahap, tapi kali ini gadis itu terlihat lesu tak bersemangat. "Sayang?" Cinta mengangkat kepalanya begitu mendengar suara lembut Rina memanggil. "Ada apa? Kenapa keliatan nggak nafsu makan begitu?" Cinta tersenyum samar seraya menggeleng. Tak ingin membuat sang bunda merasa khawatir, Cinta menyendokkan nasi ke dalam mulutnya. Gerakannya kembali melambat. Giginya bahkan tak lagi bergerak untuk menghancurkan makanan di mulutnya. Ia malah terbengong sambil menatap kosong meja makannya. Akhir-akhir ini Cinta merasa hatinya memiliki masalah. Apa itu semua karena Vino? Karena lelaki itu semakin dekat dengan Ajeng? Tapi bukankah itu yang Cinta inginkan? Ia pernah sangat menginginkan saat di mana Vino memiliki banyak teman baru selain dirinya. Ia pernah sangat menginginkan saat di mana Vino bisa banyak tertawa dengan teman sebayanya. Tidak hanya berada di sekitarnya yang bahkan tidak pernah bisa menanggapi ucapannya. "Sayang?" Cinta kembali mengangkat kepalanya. Melihat tatapan bundanya yang memicing, Cinta segera mengunyah makanannya di mulut dan menelannya. s**u putih yang ada di gelas segera ia minum. ia tenggak hingga menyisakan setengah isinya. "Cinta!! Susu yang ada di mulut Cinta sontak menyembur keluar begitu suara nyaring Vino yang sudah masuk ke dalam rumahnya. Dasar itu anak, benar-benar menganggap rumah Cinta sebagai rumahnya sendiri. "Ups, sorry, kaget ya?" tanya Vino sambil tertawa geli. "Sayang, pelan-pelan dong minumnya," ujar Rina. "Hehe, maaf ya, Bunda, aku suka kelewat girang kalau ketemu Cinta." Vino langsung nyengir, memperlihatkan jajaran giginya yang putih. Ia segera mengambil duduk di kursi kosong yang ada di samping Cinta. Cinta yang merasa kesal dengan Vino langsung bersiap untuk mengambil centong sayurnya. Ia hendak memukul kepala Vino sebelum merasakan jemari Vino yang terlebih dahulu mengusap pipinya. "Kamu gimana sih, ini masih ada bekas susunya di pipi." Cinta langsung buru-buru menjauhkan wajahnya dari Vino. Ia terdiam beberapa detik sebelum akhirnya melayangkan centong sayur di tangannya tepat ke atas kepala Vino. "Aww!! Sakit, Ta!" Ekspresi Cinta masih sama datarnya seperti tadi. Ia masih terpaku saat kembali merasakan bagaimana tangan Vino mengusap pipinya. "Ta!!" Cinta tersentak dari lamunannya dan segera mengerjapkan matanya cepat. Ia menatap Vino yang masih meringis karena pukulannya yang tak seberapa. Dasar lebay! "Sakit tau! Kamu nggak mau tanggung jawab atas apa yang udah kamu lakuin ke aku?" Cinta mendelik mendengar ucapan Vino, sedangkan Rina menggelengkan kepalanya heran. Ia bangkit berdiri dan membiarkan keduanya Bersama di meja makan. Lagi pula Rina berharap jika Vino mampu menghibur suasana hati Cinta yang terlihat sedang kurang baik. "Tanggung jawab apa?" "Elus-elus kek ni kepala aku atau cium atau apa kek biar cepet sem-" belum sempat Vino menyelesaikan kalimatnya, Cinta sudah Kembali melayangkan centong sayur ke atas kepalanya. Pletak! "Cinta!! Sakit, ya ampun!" Cinta Kembali mengangkat centong sayurnya tinggi-tinggi. Memberikan peringatan pada Vino melalui ekspresinya yang tajam. "Bercanda doang, Ta, bercanda. Ya ampun, kamu tega banget sih. Ini kepala aku kalau benjol lagi gimana?" Cinta hanya berdeham pelan, kemudian kembali duduk dengan lurus. Ia harus melanjutkan sarapannya biar tidak telat datang ke sekolah. "Harusnya kan aku yang ngambek, ya?" tanya Vino pada dirinya sendiri. Tetapi Cinta yang mendengarnya berpura-pura tak mendengar. Ia tahu jika Vino pasti berniat menyindirnya. "Cinta, ih, ya ampun, jangan diemin aku kayak gitu dong. Sahabat aku yang paling cantik itu harus selalu tersenyum dan Bahagia." Vino menolehkan wajah Cinta. Menangkup wajah kecil gadis itu di dalam kedua telapaknya. Perlahan jemari Vino menarik kedua sudut bibir Cinta agar tersenyum dengan manis. "Nah, kalau gini kan cantik. Aku jadi makin sayang sama kamu deh." Cinta sontak ingin membuka mulutnya, sebelum akhirnya mendengar Vino kembali melanjutkan kalimatnya yang ternyata belum selesai, "Sahabat." ☘️☘️☘️ Begitu jam istirahat berbunyi, Dewa langsung keluar dari kelasnya. Ia melangkah ringan menuju suatu tempat yang sejak awal sudah menjadi tujuannya. Rangkulan dua manusia di kanan dan kirinya langsung membuatnya mendengus pelan. "Gercep banget lo berdua," katanya sambal menyingkirkan tangan kedua sahabatnya dari bahu. "Weh, iya dong! Jelas itu!" seru Rendra bangga. "Guru fisika nggak masuk. Lo nggak tau, kan, kalau sahabat lo itu habis main futsal siang-siang?" "Pantesan si Rendra bau sangit!" "Anjir, lo pikir gue apaan bau sangit? Udah ganti baju nih gue," protes Rendra yang mengundang kekehan kecil dari Dewa dan Tama. "Eh, kok malah turun ke bawah?" bingung Tama saat menyadari Dewa menuntunnya ke lantai bawah. "Gue nggak naik siang ini, jadi lo berdua nggak usah ikutin gue." "Dih, jangan bilang lo mau ketemu cewek itu lagi? Tebak Rendra yang hanya dibalas gidikan bahu oleh Dewa. "Wah, parah! Gila!" Rendra seketika menahan bahu Dewa hingga membuat mereka bertiga berhenti melangkah. "Please kasih tau ke gue kalau lo beneran nggak lagi jatuh cinta." Dewa sontak menepis tangan Rendra sambil mendengus geli. Telunjuknya mendorong pelan kepala Rendra seraya berkata, "Otak lo yang diisi jangan cuma cinta-cintaan aja! Lagian udah sana lo berdua, jangan ganggu!" Dewa mengusir Rendra dan Tama dengan mengibaskan tangannya asal, sementara dirinya kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. "Tuh, kan, gue bilang juga apa." Rendra masih terus bergumam walaupun Dewa sudah semakin menjauh dari jarak pandangnya. "Sahabat gue itu pasti udah nggak waras. Ya, kan, Tam? Serius dia jatuh cinta sama cewek bisu itu?" "Aww!!" Rendra langsung memekik sakit begitu kepala belakangnya dipukul dengan kencang oleh Tama. "Lo hati-hati kalau ngomong! Emang salah kalau sahabat lo suka sama tuh cewek? Lagian sejak kapan lo mulai lagi ngurusin kekurangan orang lain? Kita yang normal aja belum tentu bener kayak tuh cewek." Rendra mengerucutkan bibirnya. Ia menggerutu dengan sangat pelan. "Gue cuma bercanda, Tam. Ya elah, segitunya amat lo sama gue." "Lo jangan kayak orang-orang di sini, deh, Ren. Gue jijik denger orang yang selalu ngomongin kekurangan orang lain. Lo harusnya mikir kalau jadi dia, apa lo masih sanggup sekolah setelah di bully? Masih sanggup senyum walau diomongin banyak orang? Sanggup nggak lo?" "Ya ampun Tamtam, iya dah nih gue tabok mulut gue. Jangan baper gitu elah. Lagian Cinta udah jadi temen gue juga. Bukan berarti gue nggak setuju kalau Dewa sama dia. Tadi gue cuma keceplosan ngomong aja, nggak ada maksud nyinggung atau apa." "Sekali lagi kayak gitu gue coret dari daftar kartu keluarga lo!" "Lah, itu kan hak Bokap gue. Kecuali kalau lo mau jadi bokap gue." "Dih, najis gue punya anak kayak lo." "Mampus. Pasti didenger tuh omongan lo barusan sama malaikat. Jadi nanti siap-siap aja kalau lo kawin terus punya anak yang gantengnya mirip sama gue." Tama menggelengkan kepalanya pasrah. Yang awalnya ia ingin naik ke atap, ia malah berniat untuk menuju ke kantin. "Haus tenggorokan gue berhadapan sama manusia kayak dia." "Tama, gue denger!" ☘️☘️☘️ Dewa menuruni setiap anak tangga dengan ringan. Ia juga bersenandung asal dengan tangan memutar iPhone di tangannya. Gerakan santainya yang ditangkap oleh beberapa siswa yang dilewatinya hanya bisa meringis diam-diam dalam hati. Jika saja mereka yang memiliki iPhone itu, mungkin mereka genggam erat-erat karena takut terjatuh. Maklum, anak orang kaya, pikir mereka. Tiba di depan kelas Cinta, Dewa melongokkan kepalanya. "What? Kak Dewa?" salah satu siswi yang sedang membentuk kelompok di kursi belakang itu sontak menahan histeris saat melihat Dewa ada di pintu kelas mereka. Ada angin apa sampai senior terkenal nakal tapi banyak disukai itu jadi suka keliling kelas? "Gila, ada angin apa tuh cowok ganteng mampir ke sini?" "Fix, mata gue pasti udah ngeliat jelmaan malaikat yang teramat tampan." Tanpa berniat bertanya, Dewa langsung melanjutkan langkahnya. Tak menemukan Cinta di kelasnya, ia segera menuju ke kantin. Mungkin saja gadis itu sedang makan siang Bersama dengan sahabatnya. Mata tajamnya langsung mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kantin. Ia juga menyipitkan matanya agar bisa melihat dengan jelas hingga ke sudut sekali pun. Gadis dengan rambut yang dikuncir satu ke belakang dan rok abunya yang di bawah lutut itu langsung membuat senyum Dewa mengembang kala melihatnya. Kakinya tak lagi menunggu persetujuan otaknya untuk segera mendekati gadis itu. Beberapa Langkah hampir sampai, Dewa justru berhenti saat melihat gadis itu sedang memandang kosong ke sebuah tempat. Dewa ikut menolehkan kepalanya. Rahangnya mengeras saat matanya menangkap pemandangan yang membuat gadis itu terlihat kosong. Vino dan Ajeng sudah duduk berhadapan sambil bercanda ria, sedangkan Cinta masih berdiri di posisinya. Ia sudah memegang sepiring ketopraknya yang ia pesan, tetapi niatnya untuk duduk di meja itu seketika menghilang. Awalnya Cinta duduk di sana bersama Vino, lalu Ajeng muncul. Biasanya, Vino tidak pernah absen memesankan makan siang untuk Cinta, namun itu tak lagi sama saat Ajeng mulai duduk di dekat mereka. Vino jadi keasyikan ngobrol dan bercanda sampai lupa jika Cinta menunggunya sejak tadi. Cinta menundukkan kepalanya, menatap sepiring ketoprak yang ada di tangannya. Mendadak ia tak berselera makan. Bertepatan saat Cinta hendak mengembalikan sepiring ketopraknya pada penjualnya, sebuah tangan menarik lengannya dengan gerakan cepat. "Makan sama gue," ujar Dewa yang membuat mata Cinta membulat kaget. Apa yang Dewa lakukan barusan sontak mendapat riuh dari para siswa yang melihat interaksi keduanya. Mereka bahkan sudah menyiapkan bidikan kamera untuk mengabadikan momen langka tersebut. Tanpa menunggu persetujuan dari Cinta, Dewa segera menarik lengan gadis itu dan membawanya duduk di meja paling pojok. Dewa duduk tepat di hadapan Cinta yang masih membulatkan mata menatapnya. "Emang gue mirip setan ya sampai lo tatap gue kayak gitu?" tanya Dewa dengan tersenyum kecil. Cinta tersadar dan menggelengkan kepalanya. "Sekarang makan, gue temenin lo." Bukannya makan, gadis itu malah menatapnya dengan tatapan kaget sekaligus bingung. "Mau gue pesenin minum?" tawar Dewa yang segera berdiri dari duduknya. Tapi gerakannya itu menjadi gagal saat tangan Cinta menarik tangannya sambil menggeleng. Dewa melirik tangan Cinta yang menggenggam tangannya saat ini. Diam-diam ia tersenyum senang dalam hati. Dewa akhirnya duduk kembali. "Sekarang lanjutin makan siang lo." Tanpa banyak berpikir, Cinta hanya menurut. "Ih, Vino! Rese banget sih, lo!" Mendengar lantangnya seruan itu membuat Cinta kembali mengangkat pandangannya. Lucu sekali, Vino bahkan tak menyadari jika dirinya tak kunjung kembali ke meja itu. Vino bahkan tak menyadari kepergiannya. Lucu sekali Cinta memikirkannya. Dewa menggeser kursinya sehingga yang Cinta tatap saat ini adalah wajah Dewa. "Mulai sekarang, jangan pandang sesuatu yang bikin lo sakit hati. Percaya sama gue kalau ada orang yang bisa buat lo bahagia selain dia." Cinta mengerutkan keningnya tipis karena tak mengerti apa yang baru saja Dewa sampaikan padanya. Dewa tersenyum samar melihat ekspresi Cinta. "Udah sekarang makan, jangan tatap gue dengan ekspresi lo yang menggemaskan itu." Mendengar kata terakhir Dewa, membuat Cinta mendengus geli yang akhirnya malah melahirkan senyum kecil di bibirnya.  ☘️☘️☘️
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN