Bastian menghela napas kecil begitu bel pulang berbunyi. Ia masih duduk di kursinya, sementara siswa lain mulai berhamburan keluar kelas. Ia sibuk memutar bendah pipih di tangannya. Tidak ada pesan masuk ataupun panggilan masuk untuknya. Ia hampir lupa jika ia memang tidak memiliki siapa pun yang bertahan dengan setia di sisinya. Ia tersenyum miris menyadari sepi hidupnya di umurnya yang sudah menginjak tujuh belas tahun. Di antara siswa yang keluar dari kelas, Dewa melewati kursinya dan keluar dari kelas. Masih terlihat kepala hingga sebatas leher Dewa saat lelaki itu berjalan di sisi kelas. Lelaki itu berjalan dengan tatapan lurus penuh percaya diri. Bastian melepas ponsel di tangannya. Ia berdecak pelan. Entah mengapa rasanya membosankan. Mengganggu Dewa memang menyenangkan, tetapi

