Entah sudah berapa lama Cinta duduk di sudut kamarnya dengan memeluk kedua lututnya. Ucapan Vino padanya di perpustakaan tadi masih terngiang di dalam kepalanya. Bagaimana Ajeng bisa tahu hal itu? Dan mengapa Ajeng memberitahukan perasaannya pada lelaki itu tanpa seizinnya? Perasaannya adalah hak miliknya. Ia berhak untuk memberitahu tentang perasaannya atau memilih memendamnya seumur hidup. Ia merasa Ajeng tidak memiliki hak akan hal itu. Sebuah bunyi dari luar yang berasal dari jendelanya membuat kepalanya menoleh. Ia bisa menebak siapa orang di luar sana. Itu adalah ulah Vino. Lelaki itu sejak dulu sering sekali mengganggunya dengan mengetuk jendelanya atau melempari jendelanya menggunakan batu kecil. Namun, semua itu sudah menjadi tidak lebih menarik sekarang. Apa yang sudah terjadi

