17 | Kedatangan yang Mengejutkan

1232 Kata
Cinta turun dari atas motor begitu Rendra menurunkannya di depan g**g. Gadis itu melepas helm yang sejak tadi merekat di kepalanya dan memberikannya kepada Rendra yang masih bertengger di motornya. Tangan Cinta bergerak membentuk sebuah gerakan yang berarti, "Terima kasih." "Apa maksudnya? Gue nggak ngerti," jawab Rendra jujur dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Cinta tersenyum kecil lantas membuka ponselnya. Setelah mengetik maksud yang sama, Cinta menunjukkan layar ponselnya pada Rendra. "Ooh, ya, sama-sama." Rendra tersenyum simpul. Tangannya hendak terulur menyentuh puncak kepala Cinta sebelum akhirnya gadis itu memilih mundur selangkah dan tersenyum kikuk. Rendra tertawa. "Gue cuma mau bantu rapihin rambut lo doang." Bibir Cinta membentuk huru O besar sambil terkekeh kecil karena sudah memikirkan yang tidak-tidak. "Betewe lo serius mau gue turunin di sini aja? Kenapa nggak sampai rumah aja?" Cinta menggelengkan kepalanya, sungkan. "Oke deh, lo hati-hati ya sampai rumah. Dan sekali lagi sorry buat yang tadi." Anggukan kepala serta senyum tipis diberikan oleh Cinta. "Itu adalah pertama kalinya gue hampir bikin orang mati. Gue bener-bener speechless sama ketololan gue sendiri. Kalau aja sahabat gue nggak nolongin lo, mungkin lo ...." Rendra memilih untuk tidak melanjutkan pikiran negatifnya itu. "Dan karena gue juga, sahabat gue juga mungkin terluka lagi. Gue emang bodoh banget." Seakan menangkap satu kalimat yang disampaikan Rendra barusan, Cinta mengetikkan sesuatu di ponselnya untuk bertanya pada Rendra. "Sahabat kamu kenapa?" "Emm ... ini sebenernya rahasia. Karena orang luar yang tahu tentang ini pun cuma gue sama Tama. Dia pasti akan marah besar kalau ada orang lain yang sampai tahu kelemahannya." "Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih sama dia." "Dia nggak akan mengharapkan itu, karena gue tau apa yang dia lakuin ke lo tadi itu tulus. Tapi kalau lo emang mau ngucapin terima kasih sama dia, lo bisa datang ke atap sekolah." Air muka Cinta sontak berubah mendengar Rendra mengatakan; atap sekolah. Tempat itu mengingatkannya akan sesuatu yang mengerikan. Rendra terkekeh geli seakan memahami apa yang saat ini sedang Cinta rasakan. "Apa yang lo liat hari itu cuma sebagian kecilnya aja." Cinta lagi-lagi bergidik hingga Rendra kembali melanjutkan, "Tapi perlu lo tau kalau sahabat gue nggak akan pernah sampai begitu sama orang lain kalau nggak ada hal yang begitu sensitif menyerang dia. Lo nggak tau apa-apa, jadi wajar lo takut. Yang jelas, selama lo nggak cari masalah yang paling inti di diri Dewa, sahabat gue, lo akan tetap baik-baik aja." Cinta mengerucutkan bibirnya, membuat Rendra menjitak keningnya pelan. "Jangan mikir yang serem-serem. Gue bisa jamin kalau Dewa nggak akan lagi gangguin lo, yang sebelumnya itu karena dia masih kesel sama lo yang ikut campur masalah dia di atap sekolah. Karena gara-gara lo, dia kesel nggak bisa berhasil bunuh lawannya." Mata Cinta sontak membulat lebar. "Buahahahaha!" Rendra sontak terbahak dengan puasnya. "Gue Cuma bercanda, Ta. Intinya, kalau lo mau ketemu Dewa, lo bisa pergi ke atap sekolah saat jam istirahat siang." Melihat Cinta yang seolah masih memikirkan sesuatu, tangan Rendra kembali menjitak pelan kening gadis itu. "Lo mikirin apa?" tanyanya. Cinta mendengus pelan seraya menggelengkan kepalanya. "Ya udah, kalau gitu gue balik, ya. Lo hati-hati di jalan." Cinta mengangguk seraya membalas dengan gerakan tangannya. "'Lo juga?" tebak Rendra asal. Tetapi begitu Cinta menganggukkan kepala seraya terkekeh kecil, Rendra langsung memekik girang. Ia tak menyangka jika bisa memahami maksud gerakan isyarat gadis itu. "Keren lo, Ndra. Lo emang hebat!" Cinta hanya bisa mendengus geli sambil menggelengkan kepalanya menatap Rendra yang begitu membanggakan diri sendiri. ☘️☘️☘️ Putih, yang Dewa lihat begitu matanya terbuka dari mimpi buruk. Napasnya memburu. Keringat membasahi pelipisnya. Tangannya yang masih berada di bawah selimut mencengkeram selimutnya erat. Rahangnya mengeras. Dan detik itu juga air mata mengalir dari sudut-sudut matanya. Matanya terpejam merasakan bagaimana kenangan menyakitkan dulu kembali menghantuinya. "Mohon maaf, pasien sudah tidak bisa terselamatkan lagi. Air terlalu banyak masuk ke dalam paru-parunya." "Nggak! Mama nggak boleh mati! Dokter harus selamatkan Mama saya! Selamatkan Mama!!" Dewa semakin memejamkan matanya. Ia menangis tanpa suara. Tangannya naik, merambat menyentuh lehernya. Mulutnya terbuka seraya tangannya yang mencekik lehernya sendiri. Dewa bukannya ingin membunuh dirinya sendiri. Ia memang sering kali berusaha mencekik lehernya sendiri ketika bayangan masa lalu kembali terulang kembali di kepalanya. Karena ketika ia mengingat semua kenangan menyakitkan itu, tak ada seorang pun yang mau berbagi beban dengannya. Tak ada tempat bagi Dewa menyalurkan perasaan takutnya. Tak ada tempat bagi Dewa berbagi kesedihan sejak hari itu. Hari yang membuat semua dalam dirinya berubah. Hari-hari yang membuat Dewa tak lagi sama dengan yang dulu. "Arrgghh!!" Tangan Dewa melempar gelas kaca yang ada di atas nakasnya dan berteriak dengan kencang. Ia terduduk dengan kedua lutut tertekuk dan tangan yang menjambak rambutnya dengan kencang. Dewa benci rasa sesak dan sesal yang saat ini sedang ia rasakan secara bersamaan. Karena itu, membuat semua kenangan indah yang pernah ia rasakan memudar satu-persatu, hingga yang tersisa di dalam kenangannya hanyalah semua yang menyakitkan. ☘️☘️☘️ "Cinta!!" "Cinta!!" teriak Vino sambil menggedor jendela yang ada di depannya. Masalahnya, Vino saat ini bukan berada di rumah, melainkan di depan kelas. Lebih tepatnya di depan kelas Cinta, padahal pintu sudah terbuka lebar. "Chyintia!!" ulang Vino dengan memanggil nama asli gadis yang masih terduduk di kursinya tanpa merasa terganggu dengan kehadiran makhluk astral yang mana adalah sahabatnya sendiri. Apa yang ia lakukan benar-benar sangat mengganggu siswa lainnya yang masih berada di kelas. Bahkan Cinta sampai ditegur oleh beberapa teman sekelasnya karena kelakuan Vino. Vino mulai memasuki ruang kelas Cinta dengan cengirannya. Lelaki itu pasti sama sekali tak merasa bersalah. "Biasa aja ngeliatinnya, woy! Gue emang ganteng dari lahir," ujar Vino sambil melangkah mendekati sahabatnya. Lelaki itu masuk ke dalam ruang kelas Cinta dan membalas sinisan teman kelas Cinta dengan santai. Cinta yang mendengar kalimat pede sahabatnya itu hanya bisa menggeleng kecil sambil terus besikap tak acuh. "Chyintia Sekar Rembulan!" Teriakan itu sontak membuat Cinta berjengkit kaget. Gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap sinis Vino yang sudah duduk di hadapannya. "Hehe, kaget ya?" tanya Vino dengan raut wajah tak bersalah. Cinta hanya menggerutu tak terdengar sambil terus mencatat sisa pelajaran ke dalam buku tulisnya. "Ta, makan yuk? Aku laper." Cinta kembali menaikkan pandangannya. Dari raut wajahnya seharusnya Vino sudah bisa menyadari maksud Cinta. "Ya, aku tau kalau laper itu harus makan. Tapi aku 'kan mau makannya sama kamu." Cinta menggeleng kecil. "Kenapa? Kamu udah nggak mau lagi makan sama aku? Emang aku sebegitu menyebalkannya sampai kamu nggak mau lagi makan sama aku?" Cinta memilih bangkit dari duduknya daripada mengurusi Vino yang selalu membuat ulah. Vino yang melihat gerakan terburu-buru Cinta langsung menahan lengan gadis itu. "Kamu mau ke mana? Aku baru aja sampe sini, loh, Ta." Cinta memberikan seutas senyum tipis lantas menepis tangan Vino dengan perlahan. Ia keluar dari area mejanya setelah memberikan lambaian singkat pada Vino dan Ajeng yang masih menatapnya bingung. "Cinta mau ke mana, Jeng?" tanya Vino yang segera mengalihkan tatapannya pada Ajeng. Tetapi saat melihat gadis itu yang sepertinya memang sudah memperhatikannya sejak tadi, Vino akhirnya melempar tatapan bingung. "Eh?" Ajeng tersadar dari lamunannya. Sejak ia melihat kehadiran Vino di luar kelas, Ajeng memang tidak bisa mengalihkan tatapannya dari sosok Vino. Dan tentu saja Vino tidak menyadari hal itu, karena yang selalu berada dalam jarak pandang Vino hanyalah Cinta. "Gue nggak tau. Udah beberapa hari ini dia selalu pergi sendiri saat jam istirahat." "Oh, ya? Ke mana?" tanya Vino lagi. Ia berusaha mengabaikan pikirannya tentang Ajeng yang tadi ketauan menatapnya lekat. Karena Ajeng jugalah, ia jadi mencuri lirikan pada gadis yang dikuncir kuda itu. ☘️☘️☘️
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN