16 | Sebuah Senyuman

2217 Kata
Cinta menggeleng ragu saat Rendra mengajaknya menuju kolam yang berada di pojokan. Kolam paling dalam dibandingkan 3 kolam renang lainnya. Yang ia lakukan bersama Rendra sebelumnya tidak bisa dikatakan jika ia sudah bisa berenang seorang diri. Gadis itu hanya tetap merasa aman karena masih bisa menapakkan kakinya di lantai dasar kolam. Tapi kali ini, jika Rendra mengajaknya pergi ke kolam yang paling dalam tentu saja Cinta merasa takut. "Nggak papa. Gue akan ada di samping lo. Gue nggak akan tinggalin lo sampai lo bener-bener bisa." Akhirnya dengan sedikit ragu, ia ikut menceburkan dirinya secara hati-hati ke dalam kolam. Tangannya mencengkeram pinggiran kolam karena takut. Ia bahkan tidak tahu bagaimana caranya ia bisa mengambang di kolam yang begitu dalam untuknya. Rendra benar-benar terlalu nekat. Cinta menggelengkan kepalanya sambil menatap Rendra dengan tatapan takut. "Ayo, pegang tangan gue," ujar Rendra berusaha meyakinkan Cinta. Cinta menggeleng sekali lagi, membuat Rendra gemas dan akhirnya menarik kedua tangan Cinta ke tengah kolam. Kedua bibir Cinta sontak terbuka, berusaha mengeluhkan sesuatu tapi tak ada yang terdengar dari bibirnya. "Jangan panik!" seru Rendra yang merasakan kedua kaki Cinta tak bisa diam hingga membuat gadis itu sendiri dalam posisi tidak stabil. "Lo gerakin kedua kaki lo pelan-pelan, jangan rusuh, tapi beraturan, kayak yang tadi udah gue ajarin." Rendra meraih papan pelampung yang tadi digunakan oleh Cinta. "Nih, lo pake ini lagi. Pegang yang erat, jangan dilepasin." Hampir 10 menit Rendra habiskan untuk mencoba mengajari Cinta berenang. Ia benar-benar menepati ucapannya jika ia akan mengajari gadis itu berenang sampai benar-benar bisa. "Nah, bener begitu. Kakinya digerakin terus, jangan berhenti. Intinya lo nggak boleh panik dan takut kalau di air." Berkat ucapan Rendra itu, lantas tak membuat Cinta bisa tersenyum lega. Sejak tadi ia hanya memaksakan diri karena Rendra yang terus membujuknya untuk mencoba. Padahal Cinta sudah merasa di puncak batasnya. Tapi ia tak dapat bicara atau menginterupsi ucapan Rendra. Yang Rendra pahami hanyalah Cinta yang merasa takut dan lelaki itu menanggapinya dengan kalimat penyemangat yang sebenarnya tidak terlalu Cinta butuhkan saat ini. Jika saja ia bisa meraih pinggiran kolam sendirian, sudah sejak tadi ia naik ke permukaan dan beristirahat. Tapi apa daya, ia hanya berharap Rendra segera menghentikan sesi les gratis yang tanpa sadar menyesakkan untuk dirinya. "Woy, Rendra!" Rendra segera menoleh dan menemukan dua teman sekelasnya berdiri di pinggir kolam dengan bibir tersenyum geli. "Weh, nggak tau tempat lo modusin cewek? Masih jam pelajaran, woy! Lo kalau mau berduaan nggak di sini juga tempatnya," ujar lelaki yang berambut keriting. "Eh, si k*****t! Ini gue lagi berbaik hati jadi tutor malah dikatain modusin anak orang." "Naik woy, istirahat dulu lah, nggak cape apa lo?" tanya satu temannya lagi yang hanya memakai celana pendek tanpa atasan. Rendra menatap Cinta saat mendapatkan tawaran barusan dari temannya. Kebetulan ia juga haus. "Gue mau naik dulu kayaknya. Lo mau tetep di sini atau gimana?" Cinta meringis saat Rendra masih saja bertanya dalam situasinya yang sudah mendesak. Tangan Cinta menunjuk kea rah pinggiran kolam, tanda ia juga ingin naik ke atas. "Tapi tanggung sih kalau lo ikutan naik. Mendingan lo tetep di sini. Terus coba berenang dengan pegangan papan ini. Nanti 5 menit lagi gue bantu lo keluar dari kolam. Oke?" Cinta sontak menggeleng. Bisa-bisa ia pingsan jika terus berada di dalam kolam dalam tersebut. "Woy, Ndra, ayo cepet!" Dengan mudahnya Rendra melepas pegangan tangannya pada papan yang juga dipegang oleh Cinta dan segera menuju tepian. Melihat Rendra yang pergi, Cinta sontak membulatkan matanya. Ia berusaha menggerakkan kakinya tapi rasanya ia hanya bergerak di tempat. Cinta yang panic secara tak sadar melepaskan pegangan pada papan pelampungnya. Gadis itu panic dan takut. Ia mencoba berteriak untuk meminta tolong, walau pada nyatanya hanya ada kesunyian dalam dirinya. Bertepatan dengan saat itu, Cinta merasakan jari-jari kakinya keram. Tangannya yang sudah panik di permukaan air mendadak turun untuk menyentuh jari kakinya. Dan itu malah menyebabkan tubuh Cinta semakin tidak seimbang dan pada akhirnya ia hanya bisa pasrah dengan berharap akan ada orang yang melihatnya. ☘️☘️☘️ "Tapi, Wa, lo serius udah cek kolam yang paling pojok?" "Udah, tapi nggak ada siapa pun di sana." "Aneh, ya? Padahal tadi Rendra bilang ninggalin itu cewek di kolam yang paling pojok." "Tam ...." Dewa membulatkan matanya menatap Tama." "Itu cewek ... tenggel-" Belum selesai Tama melanjutkan kalimatnya, Dewa sudah berlari menuju kolam yang paling dalam tersebut. Entah apakah yang dipikirkan Dewa dan Tama benar atau salah, setidaknya mereka harus benar-benar memeriksa ke dasar kolam. Memastikan gadis itu tenggelam atau tidak. Dewa mondar-mandir di pinggiran kolam yang paling dalam. Matanya memicing, berusaha menatap ke dasar lantai yang terlihat gelap. Dewa menepis pikiran buruknya. Ia tidak akan pernah tahu apakah gadis itu ada di dalam atau tidak jika ia sendiri tidak masuk untuk memastikannya. Dengan d**a bergemuruh, Dewa menelan salivanya susah payah. Tangannya terkepal, berusaha menahan rasa gugup yang seketika menyelimuti. Tanpa berpikir panjang, Dewa langsung menyeburkan dirinya ke dalam kolam. Tama yang baru saja berteriak memanggil namanya bahkan tak ia hiraukan karena sudah terlalu panik dengan keadaan gadis itu. Berada di dalam air, Dewa membuka kedua matanya. Matanya membulat saat ia benar-benar menemukan Cinta berada di dalam dasar kolam. Ia segera berenang ke bawah dan menarik tubuh gadis itu. Dewa menggoyangkan tubuh Cinta beberapa kali. Begitu melihat ada sedikit pergerakan dari kelopak mata Cinta, Dewa langsung membawa tubuhnya serta naik ke permukaan. Tama yang sudah ikut menyemplungkan dirinya pun langsung membantu Cinta naik ke atas. Guru olahraga yang mengetahui kejadian itu langsung menghampiri Cinta dan menekan d**a gadis itu agar air yang sempat masuk bisa keluar. Gadis itu sontak terbatuk dan mengeluarkan cukup banyak air dalam mulutnya. Matanya yang terbuka, sayup-sayup mendengar riuh bisikan dari orang-orang yang ada di sekitarnya. "Kamu baik-baik saja?" tanya Pak Toni sambil berusaha membuat gadis itu terduduk. Cinta hanya mengangguk kecil sambil berusaha mengatur pernapasannya yang sudah benar-benar di ujung batas. Begitu air mineral yang disodorkan oleh Pak Toni masuk ke dalam tenggorokannya, Cinta merasa sedikit lebih baik. "Lo yakin nggak papa?" tanya Tama yang juga ikut khawatir dengan keadaan gadis itu. Tentu saja ia juga merasa bersalah, rasanya gadis itu seolah tak pernah kehabisan masalah dalam hidup. Dan itu membuat Tama jadi merasa kasihan. Cinta kembali mengangguk kecil. Saat sudut matanya bergerak ke samping, ia melihat bagian belakang tubuh lelaki yang memakai kaos hitam itu melangkah menjauh. Lelaki itu terlihat menghampiri ... Rendra. Cinta menyipitkan matanya. Seketika matanya membulat saat melihat jika lelaki itu baru saja melayangkan tinjunya pada wajah Rendra. Tama yang juga baru mengetahui hal itu langsung meringis, dan berteriak, "Dewa!!" "b******k! Kalau lo tau dia nggak bisa berenang buat apa lo bawa dia ke kolam yang dalam?" cecar Dewa dengan tangan mencengkeram erat kaos Rendra yang tanpa lengan. "Gue minta maaf, Wa. Gue lupa! Sumpah, gue lupa!" Dewa tersenyum sinis. "Lupa lo bilang? Lo hampir aja bunuh dia di kolam yang dalemnya 2 meter lebih! Lo tau itu?!" Rendra menepis kasar tangan Dewa dan berusaha bangkit duduk karena tinju dewa yang tadi sempat membuatnya tersungkur. "Lo juga pernah melakukan hal yang sama, b*****t!" balas Rendra dengan mendorong tubuh Dewa menjauh darinya. "Lo jangan sok suci! Kejadian barusan itu murni karena kecorobohan gue, dan itu nggak pernah gue sengaja! Beda sama lo yang emang pernah sengaja buat itu cewek menderita!" Dewa menggertakan rahangnya keras. Ucapan Rendra benar-benar memancing amarahnya. Tangannya terkepal erat bersiap meninju wajah Rendra lagi, jika saja Tama tak datang dan memisahkan mereka berdua. "Stop! Lo berdua apaan sih? Nggak malu diliatin orang-orang, hah?" Dewa dan Rendra sama-sama membuang muka ke sembarang arah, untuk menghindari tatapan marah Tama. "Lo, Ndra, harusnya cepetan minta maaf ke tuh cewek. Gimanapun juga lo adalah orang yang terakhir sama dia di kolam. Dan lo, Wa, lo nggak bisa main pukul sepihak kayak gini. Semuanya udah terjadi. Antara lo dan Rendra sama-sama pernah punya salah ke itu cewek. Kalau emang lo berdua udah mulai peduli sama tuh cewek, lupain yang pernah terjadi dan minta maaf dengan tulus ke dia. Dengan lo berdua bersikap kayak gini, kalian cuma akan buat dia banyak makan tatapan dari orang-orang yang nggak suka sama dia. Lo berdua paham?" Antara Dewa dan Rendra tak ada yang menjawab. "Gue tanya lo berdua paham nggak?!" tanyanya dengan nada tinggi. Dewa dan Rendra kompak berdecak pelan dan akhirnya saling menjauh untuk menenangkan diri. ☘️☘️☘️ Cinta menatap pantulan wajahnya di dalam cermin. Ia menyentuh kedua pipinya yang terlihat pucat. Matanya merah dan sayu. Hidungnya terasa perih, dan dadanya juga masih terasa sesak. Setelah ini mungkin rasa takutnya akan air menjadi lebih besar lagi. Setelah ini mungkin ia akan selalu melewatkan jam pelajaran satu itu. Cinta mengangkat sebelah tangannya dan menyentuh bagian pergelangan tangannya. Ia masih bisa merasakan bagaimana saat di dasar kolam tadi ia merasakan ada sebuah tangan yang menggenggamnya dengan erat dan kuat. Membawanya naik ke permukaan hingga akhirnya ia bisa membuka kedua matanya kembali. Dewa Anggara, lelaki itu ... Cinta masih sulit percaya jika lelaki itu tak lagi menyebalkan seperti dulu. Hari ini, lelaki itu sudah menolongnya 2 kali, dan Cinta belum sempat mengucapkan terima kasih padanya. Apa yang sudah Dewa lakukan padanya dulu, tak pernah Cinta jadikan sebuah dendam. Karena sejak awal niatnya bersekolah adalah untuk mencari banyak teman. Gadis itu melangkah pelan keluar dari toilet wanita. Toilet sudah kosong karena yang lain sudah pulang semua dan Cinta sengaja memilih pergi paling terakhir. Ia bosan jika harus terus ditatap oleh banyak orang. "Gue minta maaf!" Cinta sontak menghentikan langkahnya, menoleh, dan menemukan Rendra yang rupanya berdiri di depan toilet wanita sejak tadi untuk menunggunya. "Gue minta maaf soal tadi. Gue bener-bener lupa, maaf." Rendra menundukkan kepalanya. Menyesal atas kecorobahan yang ia lakukan tadi pada gadis itu. Cinta masih diam, menatap Rendra yang sejak tadi menundukkan kepala di depannya. "Gue hampir aja buat lo celaka, sorry, ya? Rupanya gue nggak sebaik yang gue piker. Otak gue emang kadang suka nggak peka dengan sekitar. Gue bahkan sampai lupa kalau lo belum terlalu bisa berenang dan gue malah biarin lo sendirian di kolam paling dalam itu. Sekali lagi gue minta maaf yang sebesar-besarnya sama lo." "Gue harap lo nggak akan trauma setelah kejadian tadi. Gue akan dengan senang hati ngajarin lo lagim itupun kalau lo masih mau. Yang pastinya kesempatan kedua itu nggak akan gue buang sia-sia." Tak kunjung mendapatkan respon dari gadis di hadapannya, Rendra sontak mengangkat kepala. Ia sedikit terkejut melihat kedua bibir Cinta yang menyunggingkan sebuah senyum tipis. "Lo ... maafin gue?" Rendra semakin tak menyangka jika gadis itu akan mengangguk dengan mudahnya. Tak bisa menahan rasa senangnya, Rendra sontak maju dan memeluk tubuh Cinta ke dalam dekapannya. Membuat Cinta yang menerima perlakuan itu hanya bisa menerima tanpa membalas. "Makasih. Makasih karena udah maafin kesalahan besar gue ke lo." Rendra menarik lagi tubuhnya dan menepuk puncak kepala Cinta. "Ayo pulang, gue anter lo sampai rumah." ☘️☘️☘️ Dewa masih memejamkan matanya sejak tadi. ia sudah akan beranjak pulang, tapi merasakan kepalanya kembali berdenyut mengurungkan niatnya untuk pergi. Alhasil Dewa kembali duduk di belakang pintu toilet pria. Ini semua pasti karena ia yang tadi terlalu memaksakan diri masuk ke dalam kolam untuk menyelamatkan gadis itu. "Dewa! Dewa!" Dewa meringis pelan mendengar suara teriakan Tama yang pasti sedang mencarinya ke mana-mana. Dasar bawel, tidak bisa tenang sedikit saja. Padahal yang Dewa butuhkan hanya beberapa waktu sendiri lebih lama, tanpa ada yang mengganggu. "Dewa!! Lo di mana?!" Dengan decakan pelan, Dewa berusaha bangkit berdiri dan keluar dari toilet. Tama yang menghampirinya langsung menghadiahkan pukulan di bahunya. "Lo, tuh, ya, bisa nggak usah bikin gue khawatir?" "Ck, bawel. Gue lagi nenangin pikiran gue, lo udah bawel banget dari tadi." "Gue cariin lo ke mana-mana, Wa. Gue takut lo kenapa-napa." "Gue nggak papa." Dewa mengambil alih tas hitamnya yang dibawa Tama di atas bahunya. "Biar gue bawain aja," ujar Tama yang kembali menarik tas Dewa agar ia saja yang membawanya. Dewa bahkan belum bisa berjalan dengan lurus dan fokus. Lelaki itu sesekali berhenti, meringis sambil memegangi kepalanya. Tangan Tama langsung terulur merangkul bahu Dewa untuk menuntun sahabatnya itu keluar dari area kolam renang. "Lo lagi nggak baik-baik aja. Gue yang antar lo pulang sampai rumah." Sampai di depan, Dewa dan Tama masih melihat jika Rendra dan Cinta masih berdiri di pinggir jalan. "Ngapain lo masih di situ?" tanya Tama pada Rendra. "Nunggu taksi. Gue mau antar Cinta pulang." Rendra yang menjawab, namun pandangan Cinta malah fokus pada lelaki yang saat ini sedang dirangkul oleh Tama. Lelaki yang juga menatap dirinya di balik matanya yang tajam. "Bawa motor gue aja, gue pulang sama Dewa." Rendra langsung menangkap kunci motor yang dilemparkan Tama padanya. "Terus lo pulang naik apa?" tanya balik Rendra. "Gue balik sama Dewa, dia juga lagi nggak enak badan. Daripada nanti kenapa-napa, jadi biar gue bawa motornya." Rendra mengangguk mengerti. Sesekali ia juga melirikkan matanya untuk memeriksa kondisi Dewa. Sahabatnya itu masih tak mau bicara padanya setelah kejadian tadi. padahal Rendra benar-benar merasa bersalah pada Cinta dan Dewa. Karenanya juga, Dewa akhirnya harus menceburkan diri secara langsung ke dalam kolam yang dalam di tengah trauma yang masih menghantui. "Ayo, Ta, gue antar lo pulang." Rendra naik ke atas motor Tama dan memakai helmnya. Sebelum Cinta naik ke atas motor, ia sempat menoleh lagi untuk menatap ke belakang. Pupil matanya sedikit membesar saat menemukan mata tajam itu menatapnya sambil tersenyum tipis. Cinta langsung mengalihkan pandangannya dengan cepat. Jantungnya mulai berdegup cepat. Mungkinkah itu terjadi hanya karena melihat senyum tipis yang diberikan oleh pemilik sepasang mata tajam itu?  ☘️☘️☘️
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN