Rendra dan Tama sudah berbaris mengikuti instruktur untuk melakukan pemanasan bersama dengan siswa yang lain. Keduanya berdiri berdampingan. Tama yang masih kesal setengah mati dengan apa yang tadi Rendra lakukan padanya, hanya bisa memandang penuh kesinisan. Menatap Rendra tajam dan seolah mengatakan jika sebentar lagi akan datang waktu pembalasannya.
Kedua bibir Rendra sontak tertarik, tersenyum geli. Ia benar-benar puas telah mengerjai Tama. Pasalnya karena ia mendorong tubuh Tama ke kolam renang tadi, Tama jadi tidak memiliki baju ganti. Dan karena Rendra juga, ponselnya ikut basah, bahkan mungkin saja rusak.
"Rendra!" seru Pak Toni. "Kenapa kamu senyum-senyum? Apa ada yang lucu di sini?"
Kedua bibir Rendra sontak merapat. Ia memejamkan matanya untuk menahan tawa yang ingin meledak-ledak detik itu. "Nggak ada, Pak," katanya, yang membuat Pak Toni kembali melanjutkan arahannya.
Pengambilan nilai pun akhirnya dimulai. Kelompok siswa laki-laki mulai terlebih dahulu, baru setelah itu siswa perempuan. Di kolam renang khusus SMA Angkasa, memiliki jenis 4 kolam renang yang berbeda dari segi bentuk juga kedalamannya. Yang dipakai untuk pengambilan nilai adalah kolam renang berbentuk persegi yang tingginya hanya sekitar 1,5 meter.
Dari kejauhan, Dewa menatap kedua sahabatnya yang tengah bersiap memakai kacamata renang. Melihat keduanya yang berada di barisan depan, pastilah mereka yang lebih awal mengambil nilai.
Empat siswa laki-laki maju bersiap dalam posisinya, termasuk Rendra dan Tama. Pengambilan nilai renang dengan gaya bebas akhirnya dimulai.
"Ready? Go!"
Buncahan air yang mencuat tak lagi dapat dihindari begitu 4 tubuh laki-laki itu masuk ke dalam kolam. Seketika suasana menjadi heboh dan banyak siswa yang ikut merasa antusias. Mereka menyoraki jagoan masing-masing yang mereka pikir akan menjadi juaranya.
Malas mendukung dengan berteriak-teriak tak jelas, Dewa memilih bangkit berdiri lalu menjauh dari kerumunan. Karena Dewa pun tak akan bisa memilih salah satu dari sahabatnya.
Meninggalkan Rendra dan Tama yang sedang pengambilan nilai, Dewa duduk di pinggir kolam pertama. Kolam dengan kedalaman nyaris 2,5 meter. Kolam yang paling sepi peminatnya, kecuali yang benar-benar percaya diri bisa berenang dan berani.
Beberapa kali Dewa mendengar cekikikan para siswi perempuan yang tampak mencoba mengalihkan perhatiannya hanya Dewa abaikan begitu saja. Tak ada yang ia tanggapi. Lagi pula, tidaklah penting. Dewa mendadak hanya ingin sendiri. Matanya menatap kosong ke arah kolam renang. Ada rasa gelenyar yang aneh yang ia rasakan saat ini. Melihat bagaimana warna kolam yang biru pekat membuat Dewa pusing. Ia seperti melihat masa lalunya di sana.
"Mama!!"
"Mama, tolong aku ...."
Dewa sontak menggeleng keras begitu kilasan masa lalu kembali hadir mengelilingi kepalanya.
"Dewa, Sayang, tunggu di sana! Mama akan ke sana!"
"Mamaaa!!!"
Dewa memejamkan matanya erat. Tangannya mencengkeram bagian kaos di depan dadanya. Ia mendadak merasa sesak, kesulitan bernapas. Dewa benci rasa ini. Berulang kali ia mencoba melupakan traumanya akan masa lalu, namun tetap saja, masa lalu menakutkannya itu tak pernah mau pergi dari hidupnya.
"Bukannya lo harusnya pergi ya, dari sini?"
"Iya. Lo nggak sadar masuk kelas? Ini kelas sebelah, lo kan kelas sepuluh."
Mendengar beberapa suara perempuan, Dewa tersadar kembali. Ia lantas menoleh dan menemukan beberapa teman sekelas Rendra dan Tama seperti sedang terlibat percekcokan dengan seorang gadis. Dewa kembali beralih ke arah lain karena tak tertarik.
"Lagian gue mah heran, kenapa ini sekolah bisa terima siswa bisu kayak lo."
Kening Dewa mengerut samar mendengar kalimat yang seolah menyindir seseorang yang ia kenal.
"Sadar diri aja orang harusnya. Kalau beda itu nggak usah berusaha sama!"
Dewa sontak menoleh detik itu juga. Matanya menyipit, mencoba mencari gadis yang mungkin saja berada di antara kerumunan itu. Begitu matanya menemukan gadis yang dikuncir kuda itu, Dewa lantas berdiri. Gadis itu berdiri di tengah-tengah kelompok siswi perempuan yang membentuk lingkaran. Ketika kaki Dewa sudah dekat, ia akhirnya mengetahui dengan pasti jika gadis itu memang gadis paling spesial di Angkasa, yakni Chyintia Sekar Rembulan.
"Pergi aja deh, lo! Atau kalau nggak, kumpul aja sama temen-temen lo itu, jangan sama kita!" Seorang gadis lainnya mendorong bahu Cinta hingga gadis itu mundur beberapa langkah dan menabrak gadis di belakangnya. Yang tak sengaja Cinta tabrak itu langsung mendorong tubuh Cinta ke depan kembali hingga ditertawai sekitar 10 orang gadis yang membentuk lingkaran itu. Dewa mengenali beberapa dari mereka. Salah satunya adalah Ratu Gianina, gadis paling menyebalkan yang rupanya pernah sangat naksir berat pada Dewa.
"Lagian emang orang bisu bisa berenang, ya? Buat ngomong aja susah gimana mau berenang?"
Tubuh Cinta semakin disudutkan ke pinggir kolam renang. Cinta terus mundur perlahan tanpa sadar karena para senior di hadapannya terus mendekat ke arahnya. Gadis itu terperangah begitu satu kakinya hampir saja tergelincir ke tepi kolam renang. Dan saat kaki lainnya hampir saja tergelincir, sebuah tangan lantas menarik dirinya menjauh dengan kuat. Gerakan yang cepat dan kuat itu sampai membuat Cinta harus membentur tubuh seseorang yang menariknya.
Cinta membuang napas antara lega juga takut. Ia mengangkat pandangannya dan bertemu dengan sepasang mata yang menatapnya dengan tajam. Cinta lantas menjauhkan diri dari pelukan Dewa.
"Lo rese banget, sih?" keluh Ratu karena tak terima dengan sikap Dewa yang ikut campur dengan mainannya.
Dewa kembali menarik tangan Cinta agar mendekat padanya. Tangannya itu menggenggam erat lengan Cinta di sisi tubuhnya.
"Lo yang nggak tahu tempat," ujar Dewa dengan menatap tajam Ratu.
Ratu tertawa miring. "Lo ngomong begitu sama gue? Lo nggak ngaca atas apa yang udah lo lakuin ke cewek itu jauh sebelum gue?" tanyanya dengan kembali tertawa miris.
"Apa pun yang gue lakuin bukan berarti lo bisa lakuin hal yang sama seenaknya."
"Kenapa lo boleh dan gue nggak?" tantang Ratu dengan pertanyaannya.
Cinta meringis dalam hati sambil meratapi lengannya yang dicengkeram oleh lelaki di sampingnya.
"Dia berutang sesuatu sama gue, jadi nggak ada yang boleh nyentuh dia selain gue," ujarnya yang membuat Cinta lantas kembali mengangkat pandangan dan menoleh.
"Gue rasa bukan berarti lo bis-"
"Dia milik gue," sergah Dewa cepat yang membuat Ratu langsung terdiam tak suka. "Dia milik gue, jadi jangan pernah sentuh dia sedikitpun. Peringatan buat lo dan juga semua temen-temen lo." Dewa lantas memutar tubuhnya dan menarik lengan Cinta pergi dari hadapan Ratu dan teman-temannya.
Langkah lebar Dewa membuat Cinta merasa sedikit kewalahan. Lelaki itu rupanya berniat membawa Cinta ke pinggir kolam yang paling dalam. Mungkin karena Dewa tahu, tempat itu adalah yang paling sepi.
"Dewa!"
Sang empunya nama sontak menoleh. Rendra dan Tama mendekati dirinya. Seketika Dewa merasa tak suka namanya dipanggil. Ia lantas melepaskan tangan Cinta dan sedikit bergeser begitu menyadari tatapan kedua sahabatnya sejak tadi fokus menatap tangannya yang menggenggam tangan Cinta.
"Lo ngapain di sini?" tanya Rendra sambil menatap Cinta. Tentu saja ia bingung karena melihat gadis itu ada di kolam renang dan memakai pakaian renang. "Ini kan jadwal pelajaran kelas sebelas," lanjutnya.
Gerakan Rendra yang mendekati Cinta itu membuat dirinya hendak memundurkan langkahnya ke belakang, sebelum ia kembali merasakan lengannya ditarik. Kali ini Tama yang menarik lengannya mendekat.
"Lo hampir aja nyebur ke kolam yang dalamnya 2 meter lebih," ujar Tama sambil berdecak pelan.
Cinta menarik lengannya dengan cepat. Ia memutar tubuhnya dan berniat untuk pergi dari hadapan ketiga lelaki itu. Sudah cukup dengan dirinya saat itu yang dipermalukan di depan banyak orang. Ia tidak ingin hal yang sama kembali terulang.
Tangan Rendra dengan sigap gantian menarik tangan Cinta. "Lo belum jawab pertanyaan gue. Lo ngapain di sini?" tanya lelaki itu penasaran.
Tama meringis kesal kemudian menendang tulang kering Rendra hingga lelaki itu berteriak dan mengaduh kesakitan. "Tama! Sakit, ih!"
"Lo kalau b**o jangan diperlihara. Ngapain lo maksa tuh cewek jawab kalau dia ngomong aja nggak bisa?"
Rendra sontak melepaskan tangan Cinta. "Sorry, gue lupa," ringisnya.
"Kan gue juga lupa, Tamtam," bela Rendra. "Terus gimana sekarang kita tanya kenapa ada di sini?"
Mendengar itu Cinta mengangkat kedua tangannya dan mencoba menjelaskan.
"Nah, mampus dah lo, ngerti nggak tuh?" sindir Tama yang menahan tawa gelinya pada Rendra yang kini sedang kebingungan dengan bahasa isyarat Cinta.
"Sorry, tapi gue nggak ngerti lo ngomong apa."
Tak kehabisan cara, Cinta langsung menunjuk ke arah kolam yang saat ini sedang digunakan untuk pengambilan nilai.
"Lo ikut pengambilan nilai?" tebak Rendra yang dijawab anggukan oleh Cinta.
"Terus kenapa di sini dan sendirian? Temen-temen lo mana? Lo ke sini naik apa? Sama siapa?" tanya Rendra bertubi-tubi. Ini adalah pertama kalinya ia mengenal seseorang yang tidak bisa berbicara, sehingga tanpa sadar Rendra mendadak begitu ingin tahu.
"Lo nanya satu-satu, jangan borongan."
Rendra berdecak pelan karena keluhan Tama barusan. "Lo bisa berenang?"
Cinta menggelengkan kepalanya pelan karena malu.
"Mau pengambilan nilai tapi nggak bisa berenang?" pertanyaan dari Rendra itu hanya bisa membuat Cinta menarik kedua sudut bibirnya tersenyum malu.
Otak jernih Rendra mendadak memikirkan sebuah cara. "Lo harus tau kalau sebenarnya gue itu orang baik, beda sama 2 sahabat gue, apalagi yang ono," tangan Rendra menunjuk ke arah Dewa, membuat Dewa membalasnya dengan tatapan tajam. "Gue pernah berbuat sesuatu yang buruk sama lo, jadi sebagai gantinya lo akan gue ajarin berenang. Lo mau, 'kan?"
"Lo lagi modus cari kesempatan dalam kesempitan?" celetuk Tama yang membuat Rendra sontak mendelik ke arahnya.
"Nggak, lo jangan dengerin omongan dia," ujar Rendra pada Cinta. "Lo tenang aja, gue itu jago berenang. Seperti yang udah lo tahu, di antara gue dan 2 sahabat gue itu, yang paling normal dan memiliki jiwa baik itu cuma gue. Tama nggak bisa deket sama cewek, sedangkan Dewa, dia nggak akan pernah mau nyemplung ke kolam renang. Jadi, lo akan aman sama gue."
"Sembarangan lo kalau ngomong." Kaki Tama sudah terangkat hendak menendang b****g Rendra, tapi lelaki itu sudah terlanjur ngacir dengan menarik tangan Cinta bersamanya.
Tama menghela napas panjang menatap kepergian Rendra dengan gadis bisu itu. Ia menolehkan kepalanya dan menemukan Dewa juga sedang menatap kepergian Rendra dan Cinta.
"Wa?"
Dewa memutus pandangan pada punggung gadis itu dan melirik Tama yang baru saja memanggil namanya. "Hm?" gumamnya.
"Lo oke, 'kan?"
"Maksudnya?"
"Gue sama Rendra sempet takut karena tadi nggak liat lo di pinggir kolam."
Dewa tersenyum samar seraya menggeleng. "Gue nggak papa," jawabnya.
"Trauma lo nggak kambuh, 'kan?" Dewa kembali hanya membalas dengan senyum dan gelengan kepala.
☘️☘️☘️
"Jadi kita mau mulai dari mana?"
Cinta hanya bisa mengangkat sebelah alisnya sambil sesekali melirikkan matanya pada Rendra. Ia tak tahu jika lelaki itu sungguhan ingin mengajarinya berenang. Ia bahkan sudah membawakan kacamata renang dan papan pelampung.
"Nggak usah curi-curi pandang begitu, gue halal buat diliatin cewek-cewek, termasuk lo."
Cinta sontak menarik kedua sudut bibirnya karena menganggap kata nyeleneh Rendra barusan terdengar lucu untuknya.
"Waw, ini pertama kalinya gue liat lo senyum. Dan emm, nama lo Cinta 'kan? Lo terlihat lebih cantik dan manis kalau senyum begitu." Senyum yang tadi masih bertengger di wajahnya langsung menghilang karena kalimat Rendra selanjutnya.
"Sebelumnya apa lo tau nama gue?"
Cinta menggeleng polos.
Mata Rendra membulat tak percaya. "Serius lo nggak tau nama gue?" tanyanya lagi yang dijawab gelengan oleh Cinta.
"Ya ampun, lo kudet banget ternyata. Gue kasih tau sama lo nih ya, nama gue Rendra. Cowok paling ganteng dan paling normal di antara kedua sahabat gue yang tadi. Sahabat gue yang putih dan agak sipit kayak cina itu namanya Tama, kalau yang satunya Dewa, dia yang paling jahat dan paling ngeselin. Lo harus hati-hati kalau deket sama dia."
Aura wajah Cinta sontak berubah mendengar penuturan dari Rendra terutama bagian terakhirnya.
"Eh, gue cuma bercanda. Dua sahabat gue itu orangnya baik-baik," ujar Rendra dengan mengibaskan tangannya. "Lo nggak usah takut lagi. Kalau sampai sahabat gue yang namanya Dewa itu masih isengin lo, biar gue yang hajar balik dia. Tapi gue mikir lagi juga sih, soalnya tonjokan dia emang mantep banget. Nggak mungkin dong gue merelakan wajah ganteng gue buat ditonjok itu anak. Ya 'kan?"
Lagi-lagi Cinta tersenyum mendengar setiap kata yang diucapkan Rendra. Melihat Rendra seperti melihat Vino kedua.
"Jadi ayo kita belajar sekarang?"
Dalam banyak keraguan, Cinta mengangguk pada akhirnya. Walau tidak akan bisa langsung dengan sempurna, setidaknya Cinta mau berusaha. Bagaimanapun juga ia harus bisa mendapatkan nilai untuk pelajarannya kali ini.
☘️☘️☘️
"Gue nggak sengaja ngeliat dia," jawab Dewa yang sejak tadi tak berhenti bertanya mengapa ia bisa bersama gadis bisu itu.
"Ngeliat di mana?"
"Tadi dia lagi dipojokin sama temen-temen lo yang cewek. Kebetulan gue nggak jauh dari sana, jadi gue bawa tuh cewek pergi."
Tama mendengus geli. "Lo yang dulunya selalu ngerjain tuh cewek sekarang berubah jadi penyelematnya? Nggak salah denger gue?" tanya Tama dengan tertawa tak percaya.
"Udah, deh. Lo jangan ngeledek gue mulu. Lagian seperti yang lo berdua bilang, dia bukan tandingan buat gue gangguin. Gue akan anggap ikut campur dia di atap sekolah nggak pernah terjadi."
"Ya lupain, lah. Lagian si Singgih udah nggak menampakkan mukanya lagi."
"Itu b*****t emang udah nggak ada, tapi kepalanya masih ada. Belom aja gue bales perbuatan dia. Kalau dia sampe berani cari masalah baru ke gue, akan habis dia. Gue nggak akan segan-segan lagi."
Tama menyentuh bahu Dewa. "Lo nggak mau coba akrab sama dia?"
"Dia?" ulang Dewa.
"Bastian."
Dewa tertawa sambil memperlihatkan wajahnya yang sendu di waktu bersamaan. "Gue nggak pernah masalah kalau ada orang yang cari masalah sama gue, gue bisa bales. Tapi kalau udah menyangkut Nyokap gue, sorry to say, gue nggak akan pernah maafin orang itu. Lo tau 'kan, Tam, orang yang paling berharga di dunia ini itu cuma Nyokap. Tapi sayang, dia udah nggak ada."
"Gue yakin Almarhumah nyokap lo juga pasti bahagia punya anak yang selalu menjaganya. Lo itu cuma kurang kasih sayang, Wa. Lo nggak dapetin itu dari Bokap lo, makanya lo jadi pribadi yang kasar kayak gini."
"Nggak usah dilanjut, gue nggak akan terharu."
Tama mendengus pelan, melihat Dewa tersenyum kecil, ia juga ikut tersenyum.
"Hai, guys!"
Keduanya sontak menoleh dan menemukan Rendra yang menghampiri mereka di kantin kolam renang.
"Bocah ajaib maniak pacaran akhirnya datang juga," celetuk Tama.
"Gue denger!" seru Rendra. "Lo kalau mau bisik-bisik, pelanin suara, jangan dikencengin."
"Ups, kedengeran, ya? Sorry deh, sengaja."
"k*****t!"
Tama dan Dewa langsung tertawa, sedangkan Rendra malah menggerutu tak jelas.
"Mana dia?" tanya Dewa yang baru menyadari jika Rendra hanya datang seorang diri.
"Gue suruh dia latihan lagi," jawab Rendra yang seolah tahu siapa yang dimaksud oleh sahabatnya itu.
"Latihan di mana?" tanya Tama kemudian.
"Di kolam, lah. Masa lapangan."
"Kolam yang mana?"
"Karena tadi gue udah ajarin dia di kolam yang sepinggang, gue bawa dia ke kolam yang dalam. Biar cepet bisa.
"Terus lo tinggalin dia sendirian?" desak Tama yang sudah melihat perubahan raut ekspresi Dewa.
"Ya, nggaklah. Gue 'kan kasih dia papan pelampung biar dia bisa ngambang."
Dewa sontak berdiri detik itu juga dari duduknya dan pergi ke kolam yang paling dalam. Sedangkan Tama masih melotot pada Rendra yang hanya diam memandang kepergian Dewa.
"Kenapa Dewa?" tanya Rendra dengan memasang wajah polosnya. "Lo juga kenapa liatin muka gue kayak gitu?"
"Kalau g****k jangan dipelihara." Tama ikut berdiri dan menyusul kepergian Dewa. Meninggalkan Rendra yang wajahnya memerah karena sindiran kasar Tama.
"Apaan sih tuh berdua? Emang gue salah apaan?" Rendra menyeruput es teh yang ditinggalkan oleh Tama. Rasa manis dan dingin yang masuk ke dalam tenggorokannya membuatnya berpikir akan sesuatu. Begitu ia sadar maksud kedua sahabatnya yang barusan meninggalkannya, es teh yang ada di dalam mulutnya menyembur keluar. Rendra langsung ikut berdiri dari duduknya.
"b**o, b**o. Itu cewek kan belom jago amat berenang. Kenapa dengan pinternya gue malah tinggalin dia di kolam yang dalem?" dengan meringis, Rendra mempercepat langkahnya.
☘️☘️☘️
Dewa mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kolam. Beberapa siswa masih terlibat pengambilan nilai, sedangkan yang lainnya terlihat berebutan menuju toilet untuk mandi. Dewa sudah melihat kolam yang dalam tadi, dan tidak ada seorang pun di sana. Dengan panik, Dewa langsung menghampiri kolam tempat pengambilan nilai. Tidak ada, gadis itu tidak ada di sana.
"Nggak ada di toilet perempuan juga, Wa."
Dewa menoleh dan lantas menaikkan kedua alisnya menatap Tama. "Gue minta temen gue yang cewek buat ngecek ke dalam tadi," ujar Tama yang seolah memahami maksud pertanyaan Dewa dari ekspresinya.
"Atau mungkin dia udah pulang duluan?" tanya Tama.
"Nggak mungkin. Orang kayak dia pasti akan milih pengambilan nilai paling terakhir. Dia nggak akan pulang duluan."
"Tapi, Wa, lo serius udah cek kolam yang paling pojok?"
"Udah, tapi nggak ada siapa pun di sana."
"Aneh, ya? Padahal tadi Rendra bilang ninggalin itu cewek di kolam yang paling pojok."
"Tam ...." Dewa membulatkan matanya menatap Tama."
"Itu cewek ... tenggel-" Belum selesai Tama melanjutkan kalimatnya, Dewa sudah berlari menuju kolam yang paling dalam tersebut. Entah apakah yang dipikirkan Dewa dan Tama benar atau salah, setidaknya mereka harus benar-benar memeriksa ke dasar kolam. Memastikan gadis itu tenggelam atau tidak.
☘️☘️☘️