Cinta sedikit berjengkit kaget saat mendengar jam pelajaran terakhirnya telah usai. Jam berikutnya adalah pelajaran olahraga susulannya. Cinta mengembuskan napas pelan. Hari ini Cinta harus membayar nilai olahraganya yang kosong karena sakit minggu lalu. Dan sedihnya, ia hanya seorang diri. Dan lebih parahnya lagi, nilai olahraganya adalah test renang. Olahraga adalah kelemahan Cinta. Jangkan renang, berlari saja Cinta tidak bisa cepat. Sudah pasti nilainya kali ini juga akan rendah seperti nilai-nilainya yang sebelumnya.
"Ta, ayo pulang!"
Suara ajakan dari Ajeng langsung membuyarkan lamunan Cinta yang sejak tadi menatap buku-buku tangannya. Membayangkan bagaimana nanti ia harus berenang di kolam, sedangkan ia sama sekali tidak bisa berenang. Olahraga kali ini pasti akan jauh lebih sulit dan menyusahkan dari yang sebelumnya.
"Aku hari ini harus renang. Buat ganti nilai minggu lalu." Cinta mengetikkan jawaban atas tawaran Ajeng di ponselnya.
"Oh iya, aku sampai lupa. Kamu ada temannya hari ini?" tanya Ajeng.
Cinta menjawabnya dengan gelengan sambil tersenyum masam.
"Yahh... pasti nggak enak banget, deh, kalau olahraga susulan, apalagi kalau bareng kelas lain. Aku pernah ngerasain itu pas SMP soalnya."
Cinta hanya mengangguk mendengar cerita Ajeng. Jangankan untuk merespon banyak, saat ini debaran jantungnya terlalu keras karena ia sendiri sangat mengkhawatirkan nasibnya nanti.
"Kalau gitu aku temenin kamu, ya?"
Mendengar pertanyaan Ajeng yang terlihat antusias, Cinta sontak menggeleng. Ia tidak mungkin mau merepotkan Ajeng jika harus menemaninya mengambil nilai. Lagi pula, ia memang tidak suka merepotkan orang lain.
"Nggak usah. Kamu pulang aja."
"Serius kamu, Ta? Kebetulan aku juga udah ngerjain PR buat besok, kok. Jadi untuk hari ini aku bebas pulang sampai malam sekali pun."
"Iya, nggak usah." Cinta tersenyum tipis. Mencoba menjelaskan dengan senyum dan sorot matanya agar Ajeng tak perlu terlalu mengkhawatirkan dirinya.
"Ya udah kalau gitu. Yuk, kita keluar sekarang."
Setelah mengangguk kecil, Cinta lantas berdiri dari duduknya dan menggendong tas ranselnya. Ia melangkah keluar dari kelas dengan perasaan gugup. Padahal hanya berenang. Tapi berenang itu sama saja dengan mempertaruhkan nyawa jika tidak bisa. Bagaimana nanti jika ia malah tenggelam? Atau bagaimana jika nanti dirinya malah ditertawain karena tidak bisa berenang? Atau bagiamana jika-
"Cinta!"
Seruan itu membuat semua hal yang lagi-lagi sedang Cinta lamunkan menjadi terhenti. Cinta menatap sahabatnya yang saat ini berlari ke arahnya. Tangannya itu langsung menepuk puncak kepala Cinta seperti anak kecil. Mendengar Ajeng yang tertawa karena tingkah usil Vino, Cinta langsung menyingkirkan tangan Cinta dari atas kepalanya.
"Aku bukan anak kecil!" Cinta langsung menunjukkan ekspresi tak sukanya atas perlakuan Vino padanya di depan Ajeng.
"Kamu bukan anak kecil, Ta. Lagian yang bisa digituin bukan cuma anak kecil kok. Guguk juga begitu."
"Jadi maksud kamu aku guguk?" tanya Cinta yang menunjukkan raut tidak percayanya pada pernyataan Vino tadi.
"Loh, siapa yang bilang kamu mirip guguk?" elak Vino sambil menahan senyum gelinya. Wajah Cinta kalau sudah masam teramat lucu untuk Vino lewatkan.
"Omongan kamu barusan."
Vino menggigit bagian dalam bibirnya. Ekspresi Cinta saat ini benar-benar lucu. Vino sampai menahan diri untuk tak memeluk gadis itu dengan gemas karena mengingat mereka sedang berada di depan Ajeng.
"Memangnya kalau begini, selalu berarti aku lagi ngusap kepala guguk?" tanya Vino dengan mengulang perlakuannya untuk Cinta tadi. "Kalau guguk mah harusnya diginiin juga." tangan Vino terulur maju dan mulai mengusap bagian bawah dagu Cinta.
"Ih, sadar nyebelin!!"
Vino sontak terbahak melihat bagaimana kasarnya tangan Cinta mendorong tubuhnya. Tenaga Cinta itu lumayan juga kalau sedang emosi. Walau begitu Vino tetap gemar menggoda sahabatnya satu itu. Karena dengan digoda begitu, Cinta baru akan mengeluarkan banyak ekspresi. Jika Vino hanya diam saja, mengobrol dengan biasa, maka sudah pasti yang ia lihat hanya ekspresi wajah datar Cinta. Hanya dengan sikap konyolnya lah Vino bisa mendapatkan Cinta yang tersenyum, tertawa, kesal, atau bahkan marah padanya.
Ajeng yang melihat bagaimana sikap Vino pada Cinta ikut tertawa karena gemas. Terkadang ia iri menjadi Cinta, karena walaupun berada dalam keterbatasan, Cinta memiliki sahabat seperti Vino yang selalu ada untuknya.
"Oh, ya, Ta, tas kamu kayaknya gede amat deh. Kamu bawa apaan?" tanya Vino yang mulai jail dengan menoel-noel ransel Cinta. Sahabatnya itu sampai menghela napas panjang karena Vino yang terus saja mengajukan pertanyaan padanya, dari bertemu di pinggir lapangan sampai mereka bertiga tiba di gerbang sekolah.
"Bukan urusan kamu!"
"Ih, dasar pelit. Kamu tau, kan, Ta, kalau orang pelit kuburannya bakalan sempit?"
"Ih, kok doanya jadi jelek banget gitu?"
"Loh, kan aku cuma kasih tau kamu. Makanya jadi orang jangan pelit berbagi informasi penting."
"Makanya jangan jadi orang menyebalkan!"
Lagi-lagi, Vino langsung terbahak dengan puasnya, sedangkan Ajeng yang tak terlalu mengerti dengan segala bahasa isyarat yang diberikan Cinta pada Vino, hanya bisa ikut tertawa kecil. Vino memang seperti manusia ajaib. Hanya Vino yang bisa membuat Cinta mengeluarkan ekspresi seperti itu, bahkan Ajeng yang teman sebangkunya saja hanya melihat Cinta yang tenang dan hanya memasang senyum simpul setiap saat. Ajeng jadi membayangkan, akan seperti apa hidupnya jika memiliki seseorang seperti Vino yang mengisi hari-harinya? Seperti hari-hari Cinta yang selalu diisi dengan kehadiran Vino.
"Cinta harus ikut nilai olahraga susulan, Vin," terang Ajeng pada akhirnya, karena Cinta yang tak kunjung mau memberitahu Vino. Salah Vino sendiri, bertanya sambil menggoda Cinta.
"Oh, ya?" Vino menaikkan kedua alisnya. Karena masih bingung, akhirnya ia bertanya lagi, "Olahraga susulan apa?"
"Berenang."
"Kapan?"
"Ini si Cinta baru mau berangkat. Kan jadwalnya jadi pulang sekolah kalau renang, Vin."
Alis Vino langsung bertaut sempurna. Ia menarik lengan Cinta dengan cepat, hingga gadis itu menoleh padanya. "Kok, kamu nggak bilang? Aku ikut kamu pokoknya. Aku nggak akan ninggalin kamu berenang sendirian. Yang ada kamu bisa bikin aku mati cepet karena mengkhawatirkan kamu."
Cinta mendesis panjang sambil mendelik tajam ke arah Vino. Tepatnya ke mulut sahabatnya itu yang memang menyebalkan. "Memangnya kamu mau cepat mati?"
"Ya, nggak dong! Idih, amit-amit! Aku, kan, mau liat dulu siapa yang nantinya bakal nikah sama kamu."
Mendengar kalimat terakhir Vino, raut wajah Cinta sontak berubah untuk beberapa detik. Gadis itu mengerjap cepat dan akhirnya berdeham. Ia mendorong tubuh Vino sedikit menjauh darinya. "Aku harus pergi sekarang. Kalian berdua hati-hati di jalan."
"Eh, memangnya siapa yang bolehin kamu pergi sendirian?" tanya Vino dengan menahan lengan Cinta yang terlihat ingin kabur secepatnya.
"Aku harus ambil nilai, Vin. Kalau nggak gitu, nanti nilai renang aku kosong."
"Tapi kamu nggak bisa renang. Nanti gimana kalau kamu tenggelam?"
"Kamu nyumpahin?"
Vino sudah ingin tertawa, namun ia tahan karena sadar ia harus bicara dengan serius saat ini. "Aku temani kamu. Aku serius nggak mau mati cepet karena khawatir sama kamu."
"Aku bisa sendiri. Lagian kan ada guru, nanti pasti akan ada yang ngajarin."
"Chyintia, di mana-mana yang namanya ambil nilai, ya ambil nilai aja. Nggak akan mungkin gurumu itu sempat ngajarin, sedangkan muridnya banyak."
"Aku ada teman yang bisa ajarin aku nanti. Lagi pula kamu sungguh tidak perlu khawatir, Vin."
"Siapa yang akan ajarin kamu nanti?" tanya Vino tak sabar.
Sebelum menjawab, Cinta sempat berpikir sejenak. Jangankan ada teman yang mengajari, ia saja bahkan tidak tahu dengan kelas mana nanti ia akan bergabung. "Pokoknya ada. Kamu nggak kenal." Pada akhirnya hanya itu yang bisa Cinta katakan sebagai jawaban.
"Aku nggak mau kamu bohong, Ta."
Gadis itu langsung memalingkan wajah saat Vino menatap matanya dalam. Dasar, lelaki itu selalu saja tahu jika dirinya berbohong.
"Chyintia Sekar Rembulan!"
Cinta menolehkan lagi kepalanya, namun pandangannya malah mendelik tajam pada Vino. "Pokoknya aku harus pergi sekarang dan kamu nggak usah ikut." Cinta mengambil ponselnya cepat dan mengetik sesuatu dengan cepat lalu menyodorkannya pada Ajeng. "Tolong ajak Vino pulang. Aku benar-benar bisa sendiri. Aku akan menjaga diriku, jadi kalian berdua tidak perlu khawatir."
Gadis itu langsung melangkah mundur dan berbalik. Berjalan dengan cepat menjauhi Vino dan Ajeng. Membuat Vino refleks meneriaki namanya. Vino hendak menyusul kepergian Cinta, sebelum ia mendapati genggaman tangan Ajeng di lengannya. Sahabatnya itu langsung tak terlihat lagi dari jarak pandangnya. Untuk kesekian kalinya, Cinta kembali membuat Vino mengkhawatirkan dirinya.
☘️☘️☘️
"Bro! Cepet woy!" seru Rendra tak sabar saat Dewa dan Tama masih saja asyik duduk di atas motor ninja mereka masing-masing sambil memainkan ponsel.
"Lo kalau mau cepet, pergi sendiri sana," ujar Tama santai.
"Nggak gitu dong Tamtam sayang, motor aku kan lagi di bengkel," jawab Rendra dengan nada yang dibuat sok imut. Membuat Tama yang mendengarnya lantas ingin muntah detik itu juga.
"Jijik gue. Pergi sana lo!" usir Tama.
"Sahabat gue yang nggak pernah waras, tolong dengarkan adik sekali ini. Kalau kita nggak berangkat sekarang, nanti Pak Toni nyariin."
"Lo yang nggak waras!"
"Eh, nggak bisa gitu, dong. Gue ini adalah manusia yang paling normal di antara kalian. Cuma gue, laki-laki tulen yang ngerti caranya pacaran. Nggak kayak lo berdua, yang hidupnya monoton tanpa cewek."
Mendengar itu Dewa mendengus geli. Rendra memang paling bersemangat kalau sudah membicarakan soal perempuan. Bahkan hanya Rendra yang pernah merasakan bagaimana rasanya pacaran. Dewa terlalu malas berhubungan dengan perempuan, sedangkan Tama masih terjebak friendzone dengan teman lamanya yang pergi ke Jepang untuk melanjutkan sekolah.
"Terus lo bangga gitu?" tanya Tama yang sebenarnya sudah bisa menebak jawaban yang akan diberikan oleh sahabatnya nantinya. Dewa hanya tersenyum geli melihat bagaimana kesalnya Tama yang terus meladeni ucapan Rendra.
"Bangga, dong! Lo berdua nggak pernah tau rasanya pegangan tangan sama cewek, kan? Gimana rasanya pelukan, ciuman, dan-" Rendra sontak menghentikan kelanjutannya begitu Tama membekap mulutnya erat.
"Lo lanjutin, gue tendang," ancam Tama. Rendra yang dibekap mulutnya pun langsung terbahak setelah Tama melepaskan cengkeraman di mulutnya. Dewa menggeleng pelan melihatnya. Kedua sahabatnya itu memang benar-benar manusia aneh.
"Ayo, Ren. Gue anter lo ke sana."
Rendra sontak menoleh pada Dewa yang tampak bersiap di atar motor ninja merah dan memakai helmnya.
"Lo ... serius?" tanya Rendra tak percaya.
"Nggak mau?" tanya balik Dewa. "Kalau gitu gue cabut sekarang."
"Eh. Eh. Tunggu dulu, dong! Ya, mau lah gue kalau dianter. Kuy ah, good bye aja sama Tamtam. Dasar partner tidak berperasaan!" ejek Rendra dengan memeletkan lidahnya pada Tama yang sudah sudah melototkan matanya.
"Dasar temen s***p!"
Begitu sampai di kolam renang, Rendra turun dari motor Dewa. Ia menepuk pundak sahabatnya itu seraya mengucapkan terima kasih. Padahal jarak kolam renang milik Angkasa hanya berjarak kurang dari 500 meter dari sekolah, tapi Rendra yang lebay tidak ingin berjalan kaki dan ingin diantar sampai ke tujuan. Memang dasar manja.
"Lo mau ikut?"
Dewa menimang sejenak tawaran Rendra. "Nggak deh, lain kali aja. Lagian, kan, kelas lo yang mau pengambilan nilai, bukan gue."
"Ya, terus? Emangnya dilarang buat anak Angkasa renang kalau ada yang lagi pengambilan nilai? Bebas aja kali. Lagian lo selalu nolak kalau gue dan Tama ajak renang. Lo terlalu banyak alasan, tau?"
Dewa melempar senyum tipis. Matanya menerobos ke dalam pagar kolam renang yang berjarak-jarak, sehingga dari tempatnya berdiri, Dewa sudah bisa melihat kolam renang yang membentang luas. Beberapa siswa kelasnya Rendra dan Tama juga sudah ramai di dalam. Dewa mendadak menyentuh lehernya karena merasakan sedikit sulit bernapas.
"Ayolah, Wa."
Suara Rendra sontak membuat Dewa tersadar kembali dan mengatur pernapasannya. "Lain kali aja," ulang Dewa.
"Ah, nggak seru lo. Udah cepet ayo." Sebelum Dewa sempat membantah lagi, Rendra langsung menarik lengan Dewa dan memaksa sahabatnya itu masuk ke dalam. "Kapan lagi kan, lo bisa liat cewek-cewek pake baju renang?" tanya Rendra yang jadi tertawa sendiri dengan pertanyaan konyolnya. Ia yang mengucapkan, ia juga yang membayangkannya sendiri. Memang dasar m***m.
Dewa mendengus pelan. "Lo pikir mereka bakalan pakai bikini, gitu?"
Rendra terbahak kencang. "Pihak sekolah aja yang nggak asik. Padahal kalau yang gue lihat di internet, cewek kalau renang itu ya pakai bikini."
"Ini sekolah, Nyet."
"Emang dasar peraturan sekolahnya aja yang nggak asik."
"Lo yang m***m!"
Sekali lagi Rendra tertawa dengan kencangnya sebelum ia mendapati ada sebuah tangan yang memukul kepala belakangnya dengan kencang. Begitu seseorang melewati tubuhnya dan Dewa, Rendra langsung tak segan mendorong lelaki itu hingga tubuhnya terjun masuk ke dalam kolam renang. Pekikan kaget dari para siswa perempuan langsung membuat Rendra terbahak dengan puasnya, sedangkan sang korban langsung berdiri dengan tegap di dalam kolam renang dan menatap tajam Rendra yang menertawainya.
"Rendra! Awas lo, ya!"
"Tamtam nakal sih, jadi aku bales!" ujar Rendra tak mau kalah dengan seringai jailnya.
☘️☘️☘️
Chyintia masih menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Padahal ia sudah bersikeras ingin memakai celana dan kaos biasa saja, tapi Ajeng melarangnya karena ingat Pak Toni yang melarang siswanya berenang tidak menggunakan pakaian renang. Ajeng hanya tidak ingin Cinta datang sia-sia, dan membuat gadis itu tidak bisa mendapatkan penggantian nilainya.
Dengan ragu dan sedikit memaksakan diri, Cinta keluar dari ruang ganti. Kedua tangannya berada di depan dadanya. Melindungi miliknya yang lebih menonjol karena pakaian renang yang ia kenakan. Ia malu menggunakan pakaian renang di depan banyak orang. Ya walaupun itu adalah hal lumrah jika berada di tempatnya berdiri saat ini. Siapa pun yang pergi ke kolam renang, maka berenang menggunakan pakaian renang. Tapi walau begitu, tetap saja Cinta merasa malu dan tak terbiasa.
Gadis itu melangkah perlahan, mendekati sekumpulan siswa perempuan yang baru Cinta tahu beberapa saat lalu jika ia bersama seniornya yang kelas XI. Saat mengetahui hal itu, rasanya Cinta ingin kabur saja. Tapi keinginannya itu ia tahan, hanya karena ingin mendapatkan nilainya yang kosong minggu lalu.
Tepat saat Cinta hampir mendekat, salah seorang siswi menoleh dan menatapnya dengan kening mengerut bingung. "Lo siapa?" tanyanya. Membuat Cinta yang sedang menunduk sontak mengangkat pandangan.
Pertanyaan dari siswi tersebut sontak membuat yang lain ikut menatap ke arah Cinta. Mendadak Cinta sulit menelan ludahnya sendiri karena gugup. Apa yang harus ia katakan? Berbicara? Dengan apa? Ia bahkan tidak membawa kertas dan pulpen. Haruskah ia membuka mulutnya dan mencoba menjelaskan dengan bahasa isyarat? Tidak akan, karena yang ada nanti Cinta hanya mempermalukan dirinya sendiri.
"Loh, itu bukannya anak yang katanya bisu, ya?"
Pupil mata Cinta langsung melebar seketika. Padahal kalimat tadi hanyalah bisikan pelan, namun rupanya Cinta bisa mendengarnya dengan jelas. Bahkan siswa yang lain juga ikut mendengar bisikan pelan suara tersebut.
"Ih, lo bener! Dia anak kelas sepuluh yang bisu."
"Hah, serius lo?"
"Kok bisa dia di sini?"
"Demi apa?!"
Sempurna sudah. Pengambilan nilai bahkan belum dimulai, tapi Cinta sudah sukses menjadi pusat perhatian siswa perempuan. Jika begini caranya, bisakah Cinta bertahan sendiri hingga jam pengambilan nilai usai?
☘️☘️☘️