13 | Memperhatikan

1694 Kata
Jam istirahat akhirnya berbunyi saat mata pelajaran matematika berakhir pukul 12.00. vino dengan mudahnya membalas sapaan siswi perempuan yang menyapanya di jalan, begitu ia melangkahkan kaki keluar dari ruang kelas. Maklum, Vino dengan wajahnya yang cukup tampan juga sifatnya yang ramah dan mudah bergaul menjadikan dirinya digandrungi siswi perempuan. Dua anak perempuan mendekat ke arahnya dan memberikan Vino sebatang cokelat. Keduanya tampak malu-malu saat Vino menerimanya tanpa menolak. Vino kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang kelas sahabatnya, Cinta. Saat mereka berpisah koridor tadi, Cinta sudah mengiyakan ajakan Vino yang memintanya makan siang bersama di kantin. "Cinta!" Sang empunya nama mengangkat pandangannya dari buku dan menatap Vino yang sudah duduk di kursi kosong di depan mejanya. Vino mengembangkan senyumnya dengan cerah. Bisa Cinta lihat jelas, jika mood Vino saat ini sedang sangat baik. "Jangan senyum sendirian terus, nanti dibilang orang gila," kata Cinta dengan bahasa isyarat yang dengan mudahnya dimengerti oleh Vino. Vino mendesis sambil tersenyum geli. "Aku senyum sama kamu, kamunya yang nggak balas senyum aku." Cinta memeletkan lidahnya sebagai balasan. "Aku bawain kamu cokelat," ujar Vino dengan mengeluarkan 2 cokelat batang yang ia berikan langsung pada Cinta. "Kenapa 2?" tanya Cinta. "Karena kamu suka. Aku kasih itu buat kamu." "Aku kan nggak lagi ulang tahun. Buat apa kamu kasih cokelat?" "Bukannya katanya cokelat itu tanda sayang, ya? Jadi anggap aja cokelat itu sebagai bukti kalau aku sayang kamu. Lagian kamu mirip cokelat, kok." "Kenapa mirip aku?" "Sama-sama manis." Cinta sontak mendelik geli mendengar bagaimana nada bicara Vino yang dibuat berubah. Gadis itu juga tertawa geli, begitu pula dengan Vino yang senang melihat sahabatnya tertawa dengan lebar. "Hai, Vin!" Vino giliran memutar kepalanya saat mendengar sapaan itu. Ajeng ternyata baru saja kembali dari toilet dan menarik kursi lalu duduk di antara Vino dan Cinta. "Oh, Hai, Ajeng." Vino balas tersenyum. Matanya tak sengaja melihat sebuah benda berwarna hitam yang menjepit poni pendek milik Ajeng. Gadis itu terlihat lebih manis saat ini. "Lo mau ajak makan siang Cinta?" Vino segera mengerjapkan matanya dan kembali menatap Cinta. "Iya, sahabat gue ini udah selalu buat gue khawatir saat ke kantin nggak bareng gue. Jadi kalau ada gue, biar langsung gue hajar satu-satu orang yang berani macam-macam sama Cinta." Vino mengulurkan tangannya dan mengacak puncak kepala Cinta. Membuat Cinta mendengus sebal tapi tersenyum saat melihat ekspresi Vino yang lucu. "Ya udah kalau gitu, gih sana ke kantin. Ntar keburu makin rame, lo nggak dapet meja kosong." "Eh, lo ikut kita berdua aja," kata Vino yang seolah khawatir jika Ajeng memilih makan di kelas. "Nggak papa, kan, Ta, kalau ajak Ajeng makan bareng kita?" Cinta langsung mengangguk mengiyakan. Ia justru senang jika Ajeng makan bersamanya. Ketiganya langsung berdiri dan berjalan bersama menuju kantin. Vino sesekali memainkan rambut kuncir kuda milik Cinta yang membuat gadis itu kesal karena diganggu. ☘️☘️☘️ Dewa melepaskan iPhone baru di tangannya secara malas ke atas meja. Jam istirahat sudah berbunyi sejak tadi, tapi ia seolah malas keluar dari kelas. Dewa menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan mengembuskan napas kasar. Ia malas dan merasa tidak mood untuk melakukan apa pun. Padahal sejak tadi Rendra dan Tama sudah menghubunginya berkali-kali, tapi Dewa mengabaikannya. Entahlah, ia hanya masih merasa kesal karena keributan semalam yang kembali terjadi di rumahnya sejak Bastian tinggal di rumahnya. Rasanya Dewa ingin angkat kaki. Ia bisa saja tinggal di rumah milik mamanya yang ditinggalkan untuknya. Tapi jika menempati rumah itu, itu hanya akan menambah kesedihan pada diri Dewa yang selalu merindukan sosok mamanya. "Woi, Dewa Argantara!" Dewa mengangkat pandangannya dan langsung berdecak malas melihat kedua sahabatnya masuk ke dalam ruang kelasnya. Yang barusan berteriak di ambang pintu adalah Rendra. Manusia itu bahkan kembali berteriak tanpa melangkah maju mendekat, "Lagi PMS apa gimana sih, lo? Di telponin dari tadi nggak asik banget!" "Berisik lo!" Tama langsung membekap mulut Rendra dan menendang b****g lelaki itu agar melangkah maju saja dari pada harus berteriak seperti Tarzan. Tama yang sudah duduk di samping Dewa malah mengernyit heran melihat Dewa yang kini malah melamun. "Kita mau naik ke atap, lo mau ikut nggak?" Tanpa perlu pikir panjang, Dewa menggeleng. "Nggak. Lo berdua aja, gue mau stay di sini." Tama dan Rendra kompak menatap Dewa dengan tatapan aneh. Tidak biasanya Dewa menolak ajakan Tama dan Rendra. Lelaki itu bahkan yang paling suka bersemangat, jika berhubungan dengan atap sekolah. Karena di sanalah, tempat favorit mereka bertiga. "Lo ngapa dah? Bete banget gitu mukanya," ujar Rendra yang melihat aura gelap dari diri Dewa. "Jangan banyak bacot. Udah sana lo berdua pergi." "Etdah tuh mulut, nggak pernah di sekolahin apa?" sengit Rendra yang tak terima disebut 'banyak bacot'. "Lo emang bacot," timpal Tama yang hanya menambah kesal Rendra menjadi. "Bangke emang lo berdua." "Gue lagi nggak mood aja, Ren," ujar Dewa dengan suara yang lebih bersahabat dari sebelumnya. Membuat kerutan di kening Rendra sontak menguar pergi. "Jadi jangan ganggu gue untuk saat ini, please." Rendra dan Tama akhirnya mengerti. Keduanya pun keluar dari kelas Dewa tanpa banyak bicara. Mengikuti saja apa yang sahabatnya itu sedang inginkan. Sepeninggalnya Rendra dan Tama, Dewa memilih keluar dari kelas saat beberapa anak masuk ke dalam kelas dan mulai ribut. Dewa sedang butuh bersantai, tapi temannya itu mengganggu dirinya. Dewa berdiri di batas dinding sekolah. Matanya menatap ke bawah. Mengingat bagaimana iPhone miliknya yang sebelumnya terjatuh dengan nahas karena kecorobohan si gadis bisu. Ngomong-ngomong soal gadis bisu, Dewa belum melihat gadis itu untuk hari ini. Terakhir kali ia melihatnya adalah saat hari Jumat kemarin. Itupun pertemuan yang dibilang cukup memalukan karena ia yang lupa membawa uang ketika ingin membeli air mineral di minimarket. "Bukannya gue harus temuin dia? Setidaknya buat ganti uang dia yang udah beliin gue air waktu itu. Iya, kan?" tanya Dewa yang kemudian ia jawab sendiri di dalam hati. Dengan sebelah bibir menyinggingkan senyum, Dewa melangkah santai menuruni tangga. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celananya. Ia juga bersiul dengan santai. Menghadirkan detak cinta yang kembali hadir dari beberapa siswi perempuan yang menatapnya dengan tatapan memuja. Karena tidak tahu di mana letak kelas si gadis bisu, Dewa memilih untuk pergi ke kantin. Barangkali gadis itu ada di kantin, sehingga ia tidak perlu repot mencarinya lagi. ☘️☘️☘️ Bibir Cinta sontak tersenyum lebar saat Vino membawakannya semangkuk mie ayam kesukaannya. "Dimakan, aku yang traktir kamu," kata Vino yang membuat senyum Cinta kian melebar sempurna. "Cinta aja yang ditraktir, gue nggak?" tanya Ajeng dengan nada bercanda. "Lain kali," balas Vino. "Gue cuma bawa duit pas buat gue dan Cinta makan." Ajeng tersenyum sambil menggeleng kecil karena Vino yang rupanya menanggapi dengan serius. "Harusnya kalau orang habis sakit itu masih makan yang sehat, bukan kayak kamu ini malah minta mie ayam." Cinta hanya terkekeh malu mendengar sindiran halus dari Vino. "Mie ayam juga sehat tau, Vin," balas Cinta tak mau kalah. "Apanya yang sehat? Itu kan mie." "Kan ada sawinya," kata Cinta dengan menunjuk sayuran hijau di atas mie miliknya. "Hadeuuhhh..." Vino langsung menghadiahi cubitan di ujung hidung Cinta karena gemas. "Dihabisin loh, Ta. Pokoknya kamu harus banyak makan, biar nggak sakit lagi," pesan Vino. Cinta mengangguk tanpa bantahan. Kalau sudah sakit, Vino terkadang sering terlalu over protektif padanya. Selama Cinta mengunyah makanannya, selama itu pula ia menatap Vino. Senyumnya terus tercipta karena suasana hatinya yang sangat sedang dalam kondisi baik hari ini. Bahkan jika sejam harus menatap wajah Vino, Cinta akan menyanggupi. Wajah sahabatnya itu memang yang paling enak dipandang daripada memandangi suasana riuh siswa yang berisik di sekitarnya. Pupil mata Cinta menyadari adanya sesuatu yang sedikit berbeda dari Vino. Biasanya Vino akan juga balas menatapnya sambil tersenyum, tapi kali ini ia sesekali mendapati Vino yang menggerakkan ekor matanya ke samping, tepatnya ke arah Ajeng. Ingin bertanya langsung, tapi rupanya Cinta memilih mengurungkan diri. ☘️☘️☘️ Sesampainya di kantin, mata elang tajam milik Dewa langsung mendapati gadis yang ia cari sejak tadi. Melihat di sekitar gadis itu ada lelaki yang ia kenali juga seorang gadis yang tak begitu Dewa pedulikan, Dewa menoleh ke sekitarnya. Mencari-cari bangku kosong untuk ia duduki. "Cabut lo, gue mau duduk sini." Dewa mendekati satu meja yang sudah dihuni oleh keempat siswa laki-laki. "Tapi kita belum selesai makan, Kak," kata salah seorang siswa tersebut. "Terus urusannya sama gue apa? Lo mau ngabisin makanan lo di samping kuburan juga gue mana peduli?" "Cepet, cabut sana! Atau lo mau gue banting semua piring kalian sekarang?" ancam Dewa yang langsung membuat keempat siswa tersebut ciut dan akhirnya memilih mengalah. Mereka masih menyukai makanan yang mereka pesan dengan uang jajan mereka sendiri. Lagi pula murid mana yang mengenal Dewa dan berani macam-macam dengan lelaki itu? Dewa duduk. Memperhatikan dengan seksama apa saja yang dilakukan oleh gadis bisu tersebut. Posisinya saat ini membuat Dewa dengan bebas menatap wajah gadis itu yang duduk menghadap ke arahnya. Gadis itu terlihat sedang berkomunikasi dengan lelaki di depannya dengan menggerakkan kedua tangan. Hanya dengan melihat bagaimana gadis itu tersenyum lebar, Dewa sampai melupakan sebuah fakta bahwa gadis itu adalah gadis yang tidak bisa berbicara. Mata elang Dewa masih terus mengawasi gerak-gerik gadis itu. Apa pun yang gadis itu lakukan, Dewa menangkap semua pergerakannya. Gadis itu pasti akan memainkan poninya setiap 10 detik sekali. Gadis itu juga sering memainkan poninya dengan meniupnya ke atas. Dan gadis itu tak segan tersenyum atau bahkan tertawa bersama dengan dua orang yang saat ini bersamanya. Ini benar-benar bukan seorang Dewa Argantara. Hanya karena rasa penasarannya pada gadis itu, Dewa bahkan sampai memesan makanan yang sama seperti apa yang gadis itu makan. Ia hanya penasaran dengan rasanya, karena melihat gadis itu yang terlihat begitu senang hanya karena semangkuk mie ayam dan segelas es teh manis. Saat Dewa rasakan, rasanya bahkan biasa saja. Dewa bahkan langsung tak berselera makan saat melihat warna saos botol yang ada di atas meja kantin. Dewa menyingkirkan mangkuk mie ayamnya yang masih tersisa setengah porsi dan lebih memilih menghabiskan es teh manisnya saja. 10 menit, 15 menit, hingga 20 menit, gadis itu masih belum menyadari jika saat ini dirinya sedang sibuk diperhatikan oleh Dewa. Bel tanda istirahat selesai berbunyi, semua siswa kompak mengaduh tak suka. Tapi walau begitu, mereka semua mulai bangkit satu-persatu dari kantin menuju ruang kelas. Dewa masih bertahan di posisinya dan tatapan yang tetap lurus ke depan sana, sebelum akhirnya ia melihat kedua mata yang sejak tadi ia perhatikan balik memperhatikan dirinya. ☘️☘️☘️
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN