12 | Penasaran

2861 Kata
Gimana kondisi Cinta, Bunda?" tanya Vino khawatir setelah bundanya Cinta keluar dari kamar gadis itu. "Dia demam, Vin. Akhir-akhir ini memang kondisi Cinta sedang kurang baik. Dia banyak melamun dan terlihat seperti memikirkan banyak hal yang membuat Bunda sendiri jadi khawatir." Vino menghela napas berat jadinya. "Maafin Vino ya, Bun. Harusnya Vino lebih baik lagi jaga Cinta." Rina menggeleng lirih. Ia mengusap puncak kepala Vino yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. "Nggak, Vin, kamu sudah banyak bantu Bunda jaga Cinta. Kamu pasti tahu, kan, seberapa pengen Cinta belajar mandiri atas dirinya? Dia nggak pengen menyusahkan orang-orang yang ada di sekitarnya. Makanya, terkadang Cinta akan memendam semua masalah yang ada di dirinya." Lidah Vino rasanya gatal ingin menceritakan bagaimana hari-hari Cinta yang terus tersiksa oleh manusia-manusia Angkasa yang seolah tak bisa menerima keberadaan Cinta. Rasanya lidah Vino gatal ingin meminta Rina untuk memindahkan saja Cinta dari Angkasa dari pada harus melihat gadis itu kian terluka setiap harinya. "Kamu masih mau nunggu di sini atau mau pulang? Bunda mau buatkan bubur dulu buat Cinta soalnya." "Boleh Vino temenin Cinta sebentar, Bun?" "Tapi baju kamu basah, loh. Baiknya kamu ganti baju dulu, nanti yang ada kamu malah ikutan sakit lagi." "Vino mah kuat, Bun!" seru Vino dengan mengepalkan tangannya ke atas. Mengabaikan tubuhnya yang bergidik kedinginan karena bajunya yang basah. "Jangan, ah. Pakai baju kamu yang sudah Bunda siapkan di atas meja belajar Cinta, ya. Nanti setelah itu baru kamu boleh temenin Cinta." "Kok Bunda bisa punya baju aku?" "Kamu yang sering main ke sini dan seenaknya ninggalin baju di jemuran," sindir Rina yang membuat Vino terkekeh malu. Setelah mengganti pakaiannya dengan yang lebih hangat, Vino masuk kembali ke dalam kamar Cinta. Ia menatap sahabatnya yang kini sedang terlelap di dalam balutan selimut tebal. Wajah sahabatnya itu pucat pasi dengan warna bibir yang hampir berwarna ungu. Tangan Vino terulur menyentuh kening Cinta yang ditempeli handuk basah. Merasakan keningnya Cinta yang masih panas, Vino lantas kembali mencelupkan handuk tersebut ke dalam baskom yang berisi air dingin. Ia juga memijit lengan Cinta dengan gerakan perlahan. Ia hanya ingin sahabatnya segera sembuh. "Ta ...," panggil Vino. "Jangan sakit lagi, ya? Aku sedih liat kamu tidur kayak gini." Vino beranjak berdiri dari duduknya. Diusapnya puncak kepala Cinta dengan gerakan yang lembut. Ia mengecup puncak kepala Cinta untuk beberapa detik seraya berbisik di telinga Cinta, "Cepet sembuh, Kesayangan." ☘️☘️☘️ Dewa sudah duduk lebih dari 30 menit di ruang guru, tepatnya duduk di depan meja wali kelasnya. Sejak tadi ia mencoba bersabar dengan segala ocehan dan omelan dari wali kelasnya itu. "Dewa, apa kamu mendengarkan Bapak bicara?" Pak Hartono bertanya dengan mata yang menatap tegas ke arah Dewa. Dewa hanya diam tanpa menjawab. Berkat perkaranya dengan Cinta lusa lalu di ruang kelas, akhirnya ia dipanggil ke ruang guru. Ia yakin "Denger, Pak," jawab Dewa singkat. "Kalau dengar, memangnya apa saja yang Bapak sampaikan ke kamu?" "Bapak yang nyampein, kenapa Bapak yang tanya saya?" "Karena katanya kamu dengar." "Iya saya dengar, tapi saya udah nggak ingat." "Apa? Kamu ini ya, bisanya membantah terus!" Pak hartono melototi Dewa sebelum akhirnya memilih mengambil napas panjang berkali-kali. Bisa-bisa darah tingginya kumat. Berhadapan dengan Dewa memang selalu menguji kesabaran. "Terus Bapak maunya gimana dah? Jawab salah, nggak jawab juga salah," ujar Dewa dengan berani. Ia sama sekali tak merasa takut dengan tatapan Pak Hartono yang menatapnya tajam "Sekali lagi kamu buat masalah, Bapak benar-benar akan beri kamu sanksi tegas, Dewa." "Ya kasih aja, Pak. Dari dulu Bapak selalu ngomong gitu, tapi nggak pernah direalisasikan." Pak Hartono membuka setengah mulutnya tak percaya. Ini namanya Dewa bukan hanya menyindirnya tapi menamparnya dengan kata-kata. Padahal sejak masuk sekolah juga Dewa selalu berbuat masalah, tapi Pak Hartono dan guru-guru yang lain tidak pernah memberikan Dewa hukuman berarti selain lari keliling lapangan atau membersihkan toilet. "Kalau mau hukum ya hukum saja," tantang Dewa. "Perlakukan saya seperti siswa yang lain kalau Bapak memang berniat mengajarkan saya akan sesuatu." Tanpa mendengar kalimat pembelaan dari Pak Hartono, Dewa memutuskan untuk keluar dari ruang guru setelah meninggalkan bungkukan badannya sebagai bentuk pamit pada Pak Hartono. Begitu Dewa keluar dari ruang guru, ia langsung disambut kehadiran dua sahabatnya yang sejak tadi menunggu di luar. "Tuh, Kak Dewa, makanya jangan suka ngumpetin adek kelas seenak jidatnya." Rendra merangkul bahu Dewa ke sisinya. "Adek bilang juga apa, jangan bawa tuh perempuan masuk kelas, eh ngeyel. Adek bilang juga apa, jangan belagu sok punya tenaga yang akhirnya malah bikin papan tulis di kelas retak." "Bawel, lo!" kesal Dewa yang langsung menjitak kepala Rendra. Membuat Rendra tertawa puas melihat ekspresi kesal milik Dewa. "Jadi di apain aja lo, Nyet, di dalem?" tanya Rendra yang langsung merangkul bahu Dewa ke sisinya. Dewa langsung menepis tangan Rendra seraya berkata, " Lo yang monyet, gue bukan." "Lah, muka gue ganteng gini masa lo samain ama monyet?" protes Rendra. Dewa menghentikan langkahnya. Kepalanya menoleh menatap Rendra dengan sebelah alisnya yang terangkat. "Terus lo pikir muka gue yang lebih mirip sama monyet?" Begitu menyampaikan pertanyaan baliknya, Dewa mendadak menyesal. Untuk apa juga ia meladeni kata-kata Rendra yang tidak berfaedah. "Ya nggak mirip amat juga, sih. Tapi kalau lo lagi pasang ekspresi kayak gitu, muka lo mirip kingkong yang lagi laper." Kaki Dewa terangkat, bersiap menendang Rendra yang berani bicara sembarangan padanya. Tapi Rendra yang seolah mengetahui hal tersebut langsung berlari kencang ke depan sana sambil tertawa terbahak-bahak. Tama yang sejak tadi berjalan tenang di samping Dewa ikut terkekeh kecil melihat kelakuan Rendra yang makin hari makin menjadi. Di antara mereka bertiga, yang paling senang bercanda memang Rendra, sedangkan Tama berada di tengah-tengah Dewa yang lebih sering serius. "Jadi gimana, Wa? Lo di apain aja sama Pak Hartono?" "Ya gitu-gitu aja. Mereka mah cuma bisa gertak daong" jawab Dewa santai. "Lo kayak nggak tau ni sekolah aja." "Nggak ada sanksi lagi?" tebak Tama yang hanya dijawab anggukan kecil dari Dewa. ☘️☘️☘️ "Habis dari mana lo, kita tungguin dari tadi?" desak Tama begitu Rendra mendaratkan bokongnya di salah satu kursi yang berserakan di atap sekolah. Dewa yang sedang fokus dengan sebatang rokoknya hanya menatap langit tanpa terusik dengan pembicaraan Tama dan Rendra. Rendra hanya nyengir tanpa merasa bersalah. Ia ikut mengambil sebatang rokok milik Dewa dan menjepitnya ke ujung bibirnya. Ia sudah berniat untuk menyundut ujung rokoknya dengan korek api, namun Tama malah melakukan sesuatu yang membuatnya kesal setengah mati. "Idih najis, lo!" Tama langsung menendang bagian paha Rendra begitu ia melihat ada bekas kemerahan di sudut bibir Rendra. "Habis mojok lo, ya?" Tama bergidik, jijik sendiri membayangkannya. "Eih, si k*****t. Bergaya lo, Tam, kayak nggak pernah mojok aja!" "Ih, najis amat! Nggak pernah, lah. Gue mah cukup satu cewek buat selamanya ya. Lo kira cewek barang yang bisa lo pake seenaknya dan lo buang sesuka hati lo gitu?" Mendengar pembelaan Tama, Rendra sontak terbahak. "Ya elah, Tam, lo berharap gue percaya gitu? Gila kali, nggak akan, lah." Tama langsung melepas sepatunya dan melemparkannya ke arah Rendra karena mulut sahabatnya itu yang menjijikan. "Eh, cuy, tuh cewek katanya nggak masuk 2 hari, loh. Dia sakit katanya." "Siapa?" tanya Tama yang pada akhirnya meladeni kata-kata Rendra. "Itu, si cewek bisu." "Tau dari mana lo dia nggak masuk 2 hari?" "Dari informan berharga gue, lah." "Lo hargain berapa emangnya?" "Wah, lo ngeremehin gue, Tam?" tanya Rendra tak percaya. "Gorengan 10 ribu, lah," lanjutnya yang juga ia tertawai sendiri. "Gue serius, Vhamvank!" "Lah, gue juga serius Tamtam. Gue dapet berita itu dari anak kelas sepuluh, lah. Lo kan tau, gue orangnya kepoan. Karena dia cewek yang unik, jadi secara nggak langsung mata gue suka perhatiin dia." "Dih, lo naksir sama dia?" "Ya, nggak lah. Kalau gue naksir sama dia, mau gue ke manain si Vivi?" "Lo buang ke laut, lah." "Enak aja lo, susah tuh gue dapetin dia. Perlu perjuangan selama 3 hari buat dia nerima gue jadi pacarnya." "Anjrit, cuma 3 hari aja gaya lo kayak berjuang setahun!" tangan Tama langsung maju mengusap wajah Rendra hingga membuat sahabatnya itu memekik kesal. Tanpa Rendra dan Tama sadari, Dewa sejak tadi memasang kedua telinganya dengan seksama. Terutama saat mengetahui bahwa kemungkinan gadis itu sakit, Dewa jadi merasa tidak tenang. ☘️☘️☘️ Cinta baru saja keluar dari rumahnya dan melihat Vino yang baru saja selesai bersepeda memasuki halaman rumahnya dan turun dari sepeda dengan tergesa. Raut wajah Vino tampak begitu khawatir. Lelaki itu langsung menghampiri Cinta dan tak banyak bicara memperhatiak kondisi gadis itu lekat-lekat. "Kamu ngapain di sini?" tanya Vino. "Ini kan rumaku," kata Cinta dengan bahasa isyarat. "Ya memangnya aku nggak tau kalau ini rumahmu?" delik Vino. "Maksud aku, kamu ngapain di luar rumah begini? Kamu kan masih sakit. Masuk sana, masuk." "Cerewet dasar!" kesal Cinta. Mata Vino menyipit mendengar jawaban dari bibir Cinta. "Dasar Ngeyel!" Tanpa mengindahkan perintah Vino, Cinta memilih duduk di kursi kayu yang ada di depan rumahnya. Ia duduk dengan santai, tanpa melirikkan matanya pada Vino yang sudah menatapnya tajam. "Emang panas kamu udah turun?" tanya Vino dengan menahan kesalnya. Ia menempelkan punggung tangannya di kening Cinta. Begitu mendapat lirikan mata dari Cinta yang menandakan ia baik-baik saja, Vino baru menghela napas lega dan ikut duduk di samping gadis itu. "Aku masih belum percaya kalau kamu beneran sehat," kata Vino yang masih meragukan kesehatan Cinta, walau ia sendiri baru saja mengecek jika demam sahabatnya itu sudah menghilang. "Yang penting aku udah sehat," balas Cinta dengan memeletkan lidahnya. Vino melirik sambil mendengkus sebal, sebelum akhirnya keduanya sama-sama terdiam. Duduk berdampingan dengan menikmati embusan angin sore yang membelai kulit mereka. "Bete banget sih nggak berangkat dan pulang sekolah bareng kamu 2 hari," keluh Vino yang memutus keheningan di antara mereka berdua. "Lebay banget, sih. Hari senin juga aku udah masuk sekolah." Vino mencebikkan bibirnya maju mendengar jawaban asal Cinta. "Itu senin, sedangkan besok masih hari sabtu." "Ya sabar, dong," kata Cinta dengan menarik hidung Vino gemas. Sahabatnya itu selalu saja mengeluhkan hal-hal kecil. "Oh ya, Ta, aku haus habis sepedaan. Kamu nggak ada niat ngasih aku minum." "Nggak usah manja, biasanya juga apa-apa ambil sendiri." Vino terkekeh melihat ekspresi wajah Cinta. "Ada makanan sekalian nggak?" tanyanya yang kembali mendapat lirikan super tajam dari Cinta. Vino terkekeh sekali lagi. "Nggak ada, ya? Kalau gitu gimana kalau kita jalan ke depan? Kita jajan telor gulung sama cilok yang ada di depan SD?" Tanpa merespon apalagi menjawab tawaran menggiurkan dari Vino, Cinta langsung bergegas masuk ke dalam. Tak sampai lima menit Cinta sudah keluar lagi dengan memakai sweater rajutnya yang berwarna kuning. Vino berdecak sambil menggelengkan kepalanya tak percaya. "Diajak main aja langsung masuk, giliran sahabatnya minta minum nggak diambilin." Cinta tersenyum lebar. Hanya mendengar tawaran Vino yang ingin mengajaknya jalan-jalan, Cinta langsung merasa semangat dan antusias. Senyum Cinta semakin melebar diam-diam saat melihat tangannya digenggam erat oleh Vino. Lelaki itu memerintahkannya agar berpegangan padanya saat memboncengi sepedanya. Dengan terpaan angin sore yang terus membelai wajahnya, Cinta menikmati kayuhan sepeda Vino. Tangannya berpegangan erat pada baju Vino. Sesekali ia memajukan wajahnya untuk melihat ekspresi Vino saat mengayuh sepeda. Keduanya saling bertukar tawa saat mata mereka saling bertabrakan saling tatap. Sesampainya di depan SD, Vino memakirkan sepedanya di bawah pohon besar. Ia langsung menarik tangan Cinta agar mengikutinya menyusuri setiap jajanan yang masih tersedia di depan SD. "Bang, telur gulungnya 10 ribu, ya?" "Siap, Mas!" vino tersenyum kecil lalu menolehkan kepalanya. Melihat Cinta yang menautkan kedua tangan seperti tak sabar menunggu telur gulungnya, membuat Vino terkekeh geli. Ia mengacak rambut Cinta dengan gemas. "Ta, duduk di bawah pohon itu aja, yuk?" Cinta langsung mengangguk tanpa ragu. Dengan senangnya ia membawa jajanan yang dibelikan Vino untuk mereka berdua. Lumayan, jarang-jarang Vino mentraktirnya. "Pelan-pelan atuh, Ta." tangan Vino langsung terulur menarik ujung rambut Cinta yang terlihat mengganggu gadis itu makan. Vino mengambil alih karet gelang yang ada di pergelangan tangan Cinta. "Kamu diem," perintah Vino saat Cinta mengelak dikuncir rambutnya. Gadis itu ingin rambutnya tetap tergerai, tapi Vino yang melihatnya gerah dan ikut gatal saat melihat rambut panjang Cinta yang sering berterbangan. Vino merapihkan semua rambut hitam Cinta ke dalam genggamannya. Berikutnya ia mulai menguncir rambut Cinta sebisanya. "Dah, selesai!" seru Vino yang menghadirkan kerucutan di bibir sang pemilik rambut. "Jangan dilepas! Itu karya berhargaku," ujar Vino sambil tertawa puas melihat ekspresi Cinta yang sama sekali tidak terlihat senang dengan hasil tatanan Vino di rambutnya. Jelas tidak suka, karena Vino menguncir rambutnya secara asal dengan membentuk konde tepat di atas kepalanya. "Dasar menyebalkan!" ☘️☘️☘️ Setelah memakirkan mobil putihnya ke garasi, Dewa langsung masuk ke dalam rumah dan membanting tubuhnya ke atas sofa panjang. Rasanya hari ini melelahkan juga membosankan. Dewa memejamkan matanya erat sebelum akhirnya merogoh ponselnya dari dalam saku jaketnya. Ia membuka akun sosial medianya yang dipenuhi tag dari para kaum hawa yang sering memotretnya diam-diam atau mengirimkannya DM. Dewa langsung kembali mematikan ponselnya karena ia sama sekali tak merasa tertarik. "Hei, Bro! Baru balik?" Mendengar suara menggelikan itu, Dewa hanya menghela napas kasar tanpa berniat melihat siapa pemilik suara tersebut karena Dewa sudah tahu siapa orangnya. "Jalan yuk, temenin gue muterin komplek sini." Dewa sontak membuka matanya dan menepis tangan Bastian yang menyentuh permukaan perutnya. Lelaki itu langsung berdiri bangkit dari duduknya dan menatap sinis Bastian yang mengusiknya. "Gue udah lepas tangan kalau Papa emang mau lo tinggal di sini. Tapi tolong jangan usik dan ganggu gue. Urusin hidup lo sendiri, dan nggak usah berlagak deket sama gue." Bastian tertawa sebagai gantinya ucapan Dewa yang masih tak suka padanya. "Nggak usah sensi gitu, lah. Gue juga cuma mau ngajak lo jalan aja." "Lo," kata Dewa dengan mendorong bahu Bastian dengan telunjuknya. "Gue tau kelakuan yang selama ini lo tunjukin ke Papa cuma luarnya doang. Kita liat aja nanti, sampai kapan lo bisa sembunyiin sifat asli lo itu." Bastian memandangi punggung Dewa yang menjauh dari jarak pandangnya dengan tersenyum sinis. "Dan kita liat nanti, sampai kapan Papa akan sanggup ngadepin anak berandalan kayak lo?" Menghindari Bastian, Dewa memilih untuk pergi lagi dari rumah. Ia membawa motor ninjanya tanpa tahu hendak pergi ke mana. ingin ke rumah Rendra, tapi manusia itu sedang sibuk dengan kepulangan kakak perempuannya dari Belanda. Ingin ke rumah Tama, tapi manusia itu sedang menemani mamanya belanja kebutuhan bulanan. Sehingga yang Dewa lakukan saat ini hanyalah terus melajukan motornya tanpa tujuan. Melihat ada sebuah minimarket di depan sekolah dasar, Dewa memutuskan untuk berhenti membeli minum. Matanya memandang beberapa anak kecil yang masih berada di area sekolah untuk sekedar menikmati jajanan murah meriah. Dentingan pintu minimarket berbunyi kala Dewa mendorong pintunya. Ia langsung bergegas menuju rak air mineral dan mengambilnya untuk dibeli. Dewa langsung menuju kasir untuk membayar tanpa menunggu lebih lama. "Harganya lima ribu, Kak." Dewa segera merogoh saku celananya. "Oh, s**t!" umpat Dewa dengan suara teramat pelan. Ia sedikit memberikan ekspresi panik secara tersembunyi saat menyadari jika ia lupa membawa sepersen pun uang. Semua uangnya tertinggal di dompet, dan dompetnya ada di dalam ransel hitamnya. "Bagaimana, Kak? Apa air mineralnya jadi dibayar?" "Apa? Ya ... ya ...." Belum sempat Dewa menyelesaikan apa yang hendak ia katakan, sebuah tangan yang dibalut dengan sweater kuning terulur dari seseorang yang sejak tadi berdiri di belakangnya. Kasir tersebut tanpa bertanya, hanya menerima uang yang diulurkan padanya, sementara Dewa masih mati kutu di tempat. Tak tahu harus bereaksi seperti apa, karena ia sesungguhnya teramat malu karena baru tersadar tidak memiliki uang saat sudah sampai di meja kasir. Dengan menghela napas panjang, Dewa memutuskan untuk berjalan keluar dari minimarket tanpa berniat menoleh ke belakang. Ia sudah mengucapkan terima kasih pada siapapun itu yang telah menolongnya, tapi di dalam hati. Begitu Dewa keluar dari minimarket, seseorang yang tadi mengulurkan uang akhrinya maju ke meja kasir. Gadis yang memakai sweater kuning dengan rambut dicepol ke atas itu hanya tersenyum tipis menatap kasir perempuan di hadapannya. Selesai membayar, gadis itu langsung keluar dari minimarket sambil membaca struk belanjaannya. Langkahnya sontak berhenti begitu ia merasakan tangannya ditarik oleh seseorang secara tiba-tiba. "Lo?" mulut Dewa terbuka setengah, masih tak percaya dengan kedua matanya yang melihat Cinta ada di hadapannya. Tadi saat ia sudah ingin pergi dari motornya, Dewa yang masih penasaran akhirnya mengamati gadis itu dari luar. Sekilas ia merasa ragu jika gadis itu Cinta, namun ternyata apa yang dilihat matanya benar adanya. "Lo ngapain bisa di sini?" Dalam hati, Cinta merasa yang harusnya bertanya hal itu adalah dirinya karena Dewa yang berada di wilayah rumahnya. "Gue tanya kenapa lo bisa ada di sini?" tanya Dewa sekali lagi. "Rumah lo deket dari sini?" Cinta melepaskan tangan Dewa yang sejak tadi belum melepas genggamannya. "Oh ...," gumam Dewa sembari merutuki tangannya sendiri. Tanpa menjawab apa-apa, Cinta langsung berlari menjauh. "Eh, tunggu! Gue belum selesai ngomong!" Dewa ikut berjalan cepat mengikuti langkah kaki gadis itu yang rupanya berhenti di sebuah pohon besar yang ada di depan sekolah. Detik di mana matanya menangkap kehadiran seseorang yang duduk di samping gadis itu, Dewa langsung menghentikan langkahnya. Sama seperti hari pulang sekolah di saat hujan lebat, Dewa juga hanya bisa menyaksikan dari jauh. Satu hal yang baru Dewa ketahui dari gadis itu. Gadis bisu itu bisa tersenyum bahkan tertawa dengan lebarnya saat ini. Itu adalah ekspresi yang baru pertama kali Dewa lihat dari seorang Chyintia Sekar Rembulan. Senyum dan tawa yang entah mengapa ingin juga ia dapatkan jika gadis itu bersama dengannya. Dewa mendadak penasaran, bisakah orang seperti dirinya menjadi alasan gadis itu untuk tersenyum dengan tulus sama seperti yang ia lihat saat ini? ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN