11 | Keluar Batas (2)

2082 Kata
Begitu sebatang rokok telah habis terbakar asap, Dewa membuang putung rokoknya sembarang. Ia kembali membuang kepulan asap dari mulutnya membumbung ke atas wajahnya. Rasanya sedikit terpuaskan, walau ia belum juga bisa berhenti memikirkan kejadian semalam. Rupanya Adrian memang sedang tidak bercanda. Bastian benar-benar akan tinggal di rumahnya. Dan itu tandanya, semua ketenangan yang selalu Dewa ciptakan pada akhirnya juga akan retak. Apa pun yang coba diperbaiki tak akan lagi sama seperti dulu. "Wa, udah lah, nggak usah dipikirin lagi tuh si Kampret." Rendra menepuk bahu Dewa. Memberikan sedikit hiburan yang ia yakin tak akan mungkin bisa menghibur Dewa. "Iya, Wa, bener," timpal Tama. "Kemungkinan besar dia sebentar lagi bakalan out dari rumah lo. Dia juga pasti nggak akan tahan tinggal serumah dengan orang yang selalu ribut sama dia. Jadi mending sekarang, lo lupain dulu dah tuh masalah. Otak lo terlalu berharga mikirin tuh si Bangsat." "a***y, panggilan terakhir lo buat si k*****t itu gue suka, Tam. Very good," kata Rendra dengan tertawa. "Dih!" Dewa berdecak pelan. "Ngeliat mukanya aja rasanya ni tangan gue pengen melayang ke pipinya. gila apa tuh orang? Gue juga yakin kalau dia adalah orang pertama yang menghasut Papa. Papa nggak akan mungkin mengiyakan kalau nggak dipancing di awal. Karena walaupun Papa juga mungkin benci gue, dia pasti masih mikirin perasaan gue yang nggak suka sama Bastian. Tapi semalem, gue bener-bener nggak ngerti apa yang ada di pikiran Papa." Tepukan tangan Tama di bahunya kembali membuat Dewa menghela napas kasar. "Kantin aja deh, yuk? Laper gue." "Nah, gitu kek dari tadi! Gue juga laper nih belom sarapan," keluh Rendra dengan mengusap perutnya. "Lo cuma belum sarapan, gue belum makan dari semalem!" balas Dewa kejam. Tama hanya bisa menertawakan Rendra yang mendapat balasan super dari Dewa. Mereka bertiga pun turun dari atap sekolah untuk menuju ke kantin. Dewa berdecak pelan saat melihat semua siswa berlarian dari sisi ke sisi. Entah apa yang membuat mereka begitu bahagia. Inilah yang terkadang membuat Dewa malas ke kantin, karena ia harus melewati kelas X yang sering ia anggap sebagai anak norak, berisik, dan rusuh. "Aelah, hati-hati dong lo!" kesal Rendra saat merasakan bahunya ditabrak oleh seorang siswa kelas X. "Ma ... Maaf, Kak. Nggak sengaja," kata siswa tersebut yang langsung lari terbirit-b***t. "Jalan tuh pake mata juga, nggak cuman kaki!" "Sabar, Ren. Ya elah lo, gitu aja menggebu-gebu," ujar Tama dengan tertawa kecil melihat ekspresi Rendra yang sepertinya memang benar-benar kesal. "Lagian apaan sih pada tuh bocah? Mereka pikir ini taman kanak-kanak apa?!" Masih kesal dengan beberapa siswa yang tadi, sekumpulan siswa lainnya juga terlihat naik ke atas bersamaan. Dewa menggeleng sambil menunduk memainkan ponselnya. Ia berdiri di posisi paling pojok, dekat dinding pembatas se-d**a. Sempat mengalihkan tatapannya dari ponsel, Dewa merasakan ada beberapa orang yang terdengar berlarian ke arahnya. Begitu Dewa menaikkan pandangan, ia melihat seorang gadis yang ia kenali berada di depan kumpulan itu dan terpaksa terus maju karena terbawa arus. Hanya hitungan detik sejak saat itu, Cinta berhasil menabrak tubuh Dewa, hingga menyebabkan sebuah benda terbang ke atas. Waktu seolah berjalan melambat. Dewa menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, Iphone miliknya terlepas dari genggamannya dan terbang jatuh ke lantai bawah. Semua orang di sana kompak mematung dan membuka mulut lebar-lebar. Dewa langsung menoleh tajam menatap gadis yang saat ini juga masih membeku di tempatnya. "iPhone lo, cuy!" Rendra ikut histeris. Ia menempel ke sisi dinding pembatas. Melihat bagaimana keadaan iPhone Dewa di bawah sana membuatnya bergidik ngeri. Untung yang jatuh bukan manusia. Dengan bergetar, Cinta menoleh pada Dewa. Mulutnya yang terbuka mencoba bersuara, namun tak ada yang terdengar dari mulutnya. "Ma ... maaf ... maaf." Dipenuhi takut juga rasa bersalah, Cinta hendak turun ke bawah untuk mengecek dan mengambil sendiri barang yang terjatuh di bawah sana karena ulahnya. gerombolan siswa yang ada di belakang Cinta sontak mundur menjauh, tak merasa bersalah, dan memilih pergi. "Mau ke mana lo?" tanya Dewa dengan mencengkeram erat lengan Cinta. Membuat Cinta ketakutan seperti anak ayam yang ditinggalkan induknya. "Selalu aja lo muncul dengan kelakuan lo yang menyebalkan. Ikut gue!" Tama langsung bergerak maju saat Dewa menyeret lengan Cinta agar mengikutinya. "Wa, banyak anak-anak. Lo mau ngapain?" "Lo nggak usah ikut campur, Tam." Begitu Tama melepaskan tangannya, Dewa langsung berjalan dan membawa Cinta masuk ke dalam kelas. Entah kelas berapa dan kelas siapa, Dewa tak peduli. "Lo semua, keluar!" gertak Dewa saat penghuni kelas masih belum juga mengerti maksud kedatangannya. "Keluar gue bilang!!" Beberapa siswa yang sedang mengobrol, memakan bekal makan siang, bahkan tertidur pun langsung segera bangun dan keluar dari dalam kelas. Dewa mengunci pintu dan menghempaskan lengan Cinta dengan kasar. Kini di dalam ruang kelas hanya ada dirinya dan gadis bisu tersebut. "Gue udah pernah bilang, jangan pernah lagi muncul di hadapan gue, kan?" Dewa terus melangkah maju dengan tatapannya yang begitu tajam menerobos netra hitam milik Cinta yang bergetar karena ulahnya. "Kenapa sih orang-orang selalu suka ganggu ketenangan gue? Dan lo, lo selalu masuk di dalamnya!" Cinta yang tak sadar di belakangnya adalah papan tulis, langsung meringis tanpa suara begitu punggungnya sakit karena mengenai bagian depan papan. "Woy, Dewa! Buka pintunya!" seru Rendra yang ikut panik, jika nanti Dewa kembali melakukan hal yang pernah ia lakukan pada Cinta di atap sekolah. "Dewa! Please, bicarain ini baik-baik! Buka pintunya, Wa!" Tama yang berada di luar juga ikut menggedor pintu. Depan ruang kelas yang seketika rame dengan banyaknya siswa, membuat Tama dan Rendra menjadi lebih panik. Ia tidak bisa menghentikan semua siswa yang diam-diam mengabadikan apa yang sedang terjadi di dalam kelas. Satu tangan Dewa terangkat menyentuh permukaan papan tulis. Membuat Cinta sontak memejamkan mata dan menoleh ke samping karena wajah Dewa yang begitu dekat dengannya. "Lo nggak usah caper sama gue. Lo nggak usah minta perhatian gue. Lo itu cuma cewek bisu yang gue tau dari sahabat gue. Dan gue, gue sama sekali nggak peduli sama keberadaan lo!" Mendengar rentetan kalimat Dewa, Cinta menolehkan kepalanya kembali. Kali ini ia beranikan menatap wajah Dewa secara langsung dari dekat. Matanya yang begetar itu sukses mengumpulkan genangan air mata di dalamnya. Tanpa berusaha membela dirinya, Cinta hanya ingin menatap mata seniornya secara langsung. Berharap orang seperti Dewa bisa lebih mengerti bagaimana perasaannya. "Jangan tatap gue seperti itu!" bentak Dewa dengan melayangkan tinjunya tepat ke sisi wajah Cinta yang akhirnya menghantam permukaan papan tulis. Air mata sontak meleleh turun dari kelopak mata gadis itu yang terkejut setengah mati. Takut jika hantaman tadi akan benar-benar mengenai wajahnya. "Berhenti berulah di hidup gue, kalau lo nggak mau hancur seperti orang yang pernah lo saksikan hancur di atap sekolah." Dewa mundur selangkah ke belakang. Ia menarik tangannya, melihat ada retakan di permukaan papan dan bercak darah yang membekas dari tangannya. Dewa langsung keluar dari ruang kelas. Meninggalkan Cinta yang langsung jatuh terduduk di lantai begitu saja seorang diri. ☘️☘️☘️ Ketika Cinta berniat bangkit dari duduknya, hujan semakin mengguyur deras. Kelasnya sudah sepi, hanya menyisakan dirinya seorang. Ini karena Ajeng yang sudah pulang lebih dulu dan Vino yang tak masuk sekolah karena demam. Cinta kembali meringis pelan saat merasakan sakit di punggungnya. Hari ini sama beratnya dengan hari-hari sebelumnya. Ia bahkan menyakiti punggungnya sampai dua kali hari ini. Yang pertama dengan Mira saat jam istirahat pertama, dan yang kedua adalah dengan Dewa saat jam istirahat kedua. Lengkap sudah semua orang jadi semakin mengenal siapa Cinta sebenarnya. Berkat semua video yang tersebar, ia kini malah dianggap sebagai gadis penggoda senior. Ia bahkan tidak pernah memiliki niat sedikit pun mendekati Dewa, karena yang ia cintai bukanlah Dewa melainkan seseorang yang selama ini terus ada di dekatnya. Cinta masih terus menunggu terkabulnya harapan; suatu saat ia pasti bisa merasakan ketenangan bersekolah seperti yang lainnya. Tidak perlu merasa takut dengan apa pun dan bisa berteman dengan siapa pun. Cinta menatap halaman sekolahnya begitu ia sampai di lantai dasar. Langit yang gelap terus menjatuhi ribuan air hujan yang membasahi bumi. Dinginnya cuaca membuat tubuh Cinta yang tak mengenakan jaket sontak menggigil dingin. Ia lantas memeluk tubuhnya sendiri. Sempat memperhatikan beberapa siswa yang masih berteduh di sekolah, Cinta memutuskan untuk pulang ke rumah tanpa menunggu lebih lama lagi. Ia tidak punya payung, dan ia memiliki firasat jika hujan akan bertahan lebih lama. Ia harus segera pulang dan membantu sang bunda berjualan di kedai sederhana, tempat mereka berdua menggantungkan harapan untuk hidup. Tanpa memakai pelindung kepala, Cinta terus melangkah maju. Menerobos derasnya hujan dengan memeluk tubuh ringkihnya yang langsung kedinginan. Beberapa pasang mata siswa yang melihat cara Cinta menerobos hujan membuat mereka kompak merasa iba. Gadis bisu di sekolah yang sudah dikenal hampir seluruh siswa di Angkasa, hanya bisa menatap Cinta tanpa berniat menolong atau sekadar basa-basi memberikan tumpangan. Bahkan tak jarang mereka menertawai bagaimana nasib gadis bisu tersebut. Apalagi saat video terbaru milik Cinta dan Dewa siang tadi yang ramai diperbincangkan. Melewati gerbang sekolah, Cinta terus melangkah tanpa berhenti sekalipun ia melewati halte sekolah. Tempat di mana ia seharusnya bisa berteduh, namun ia malah terus memutuskan melangkah maju. Dengan derap pelan, Cinta menatap sepasang sepatunya yang basah. Langkahnya jadi semakin terasa berat. Genangan air yang menciptakan cipratan kecil juga membuat kaos kakinya kotor. Merasakan embusan angin yang kian dingin, Cinta berhenti melangkah sejenak. Ia diam dan memejamkan matanya. Merasakan dinginnya angin menembus kulitnya yang t*******g. Dari seberang jalan, sebuah warung kopi yang tak jauh letaknya dari sekolah, 3 orang lelaki terus memperhatikan Cinta sejak gadis itu keluar dari sekolah hingga saat gadis itu berhenti berjalan dan memejamkan mata merasakan air hujan membasahi seluruh pakaiannya. "Lo gila sih, Wa, tadi siang," ujar Rendra yang sejak tadi siang mulutnya sudah gatal ingin menceramahi sahabatnya itu. "Cewek yang punya keterbatasan kayak gitu lo perlakukan semena-mena di depan banyak orang? Ke mana sisi laki-laki lo? Jangan jadi banci yang beraninya sama cewek, Wa." Tama hanya bisa menghela napas panjang mendengar Rendra yang menasehati Dewa, sedangkan Dewa juga hanya diam diceramahi. "Gue terlalu speechless, jadi nggak tau mau ngomelin lo kayak gini," ujar Tama pada akhirnya. "Cuma gara-gara iPhone lo?" tebak Rendra dengan tersenyum geli. "Nggak mungkin! Lo kaya, bokap lo banyak duit. Lo nggak akan mungkin mempermasalahkan iPhone yang bahkan bisa lo beli sekarung. Lo pasti ngelampiasin kekesalan lo karena Bastian ke cewek itu, kan?" Dewa sontak menoleh tajam, menatap Rendra yang ternyata bisa mengerti pikirannya siang tadi. "Jadi bener yang gue bilang?" tanya Rendra lagi memastikan. Dewa berdecak pelan sebagai jawaban. Membuat Rendra dan Tama sontak membulatkan mata bersamaan. "b*****t bener emang sahabat gue ternyata," hina Rendra saking kesalnya. "Lo kesel sama Bastian kenapa bawa-bawa tuh cewek? Sumpah ya, Wa, tuh cewek bahkan nggak salah sama sekali. Siang tadi itu bocah-bocah alay pada rusuh yang akhirnya ngedorong dia dan nggak sengaja nabrak lo sampai akhirnya hape lo kelempar ke lantai 1." "Gue tau, anjing!" Dewa ikut marah dan kesal karena Rendra yang terus saja menambah beban rasa bersalahnya. "Udah, stop!" lerai Tama yang berdiri di tengah Dewa dan Rendra. "Buat lo, Wa, kalau lo emang ngerasa bersalah sama tuh cewek, lo anter pulang dia sekarang. Kasian dia kalau sampai sakit, lo jangan makin siksa dia yang udah kesiksa sama satu Angkasa." Dengan tanpa berkata apa-apa lagi, Dewa langsung melangkah maju. Menerobos hujan ke luar dari warung dan hendak mendekati gadis di sebrang jalan sana. Tetapi beberapa langkah lagi Dewa mendekat, seorang lelaki dari depan jalan sana berlari sambil berteriak memanggil nama gadis itu. Dewa sontak berhenti, tak bergerak maju. "Kamu nggak papa?" tanya Vino yang kini berdiri di hadapan Cinta. Lelaki itu menatap sahabat kecilnya dengan raut khawatir setengah mati. "Kenapa kamu di sini?" tanya Cinta dengan bahasa isyaratnya. Ia membenarkan pegangan gagang payung yang dipegang Vino, agar lelaki itu bisa melindungi tubuhnya sendiri. "Kamu sakit, jangan hujan-hujanan." "Aku tunggu kamu di rumah, tapi kamu nggak pulang juga. Aku khawatir kamu kenapa-napa, makanya aku jemput kamu. Kita pulang sama-sama, ya?" Bibir Cinta mengulas senyum tipis sambil mengangguk pelan. "Tangan kamu dingin, Ta. Kamu pegang payung ini dulu." Vino langsung melepas jaketnya begitu Cinta yang memegang gagang payung. Ia menyampirkan jaket itu agar bisa sedikit mengurangi dingin yang gadis itu rasakan. Vino juga merangkul bahu Cinta ke dalam pelukannya. Dewa yang masih terdiam di posisinya hanya bisa memandangi interaksi dua orang itu. Matanya terus mengikuti kedua punggung yang semakin menjauh dari jarak pandangnya. Apa pun yang terjadi, entah mengapa Dewa merasakan ada sedikit kelegaan melihat ada seseorang yang masih melindungi gadis itu di saat gadis itu menerima banyak penolakan di Angkasa. Walau begitu, hati kecil Dewa masih menginginkan ia yang mengantar gadis itu pulang ke rumahnya. Setidaknya untuk menebus semua kesalahannya. Karena nyatanya Dewa baru menyadari, ia tak pantas memperlakukan seorang gadis seperti itu, apalagi jika gadis yang memiliki karakter spesialnya tersendiri. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN