Pagi yang begitu cerah. Setelah subuh tadi sempat melakukan olahraga ringan di kamar. Tubuhnya merasa begitu enak. Meski semalam ada yang sedang memijitinya. Rey sebenarnya merasakan kehadiran itu tapi ia sudah ogah untuk ngurusin hal begitu karena sudah seharian berurusan dengan dunia mereka.
Setelah selesai dhuha ia langsung turun ke lobby menuju ke ruang restaurant untuk melakukan sarapan pagi. Masih terlihat sepi, mungkin karena masih terlalu pagi. Jadi banyak tamu hotel yang masih istirahat. Alhasil hanya beberapa orang tamu hotel yang tampak ikut sarapan. Awalnya tidak ada yang aneh. Begitu menuju makanan prasmanan, ada hal yang sangat menarik perhatiannya. Jika biasanya menu sarapan pagi pada setiap hotel adalah makanan khas Indonesia, seperti nasi goreng, roti, nasi kuning, atau bubur. Kali ini hidangan yang tersaji di depan matanya adalah makanan favoritnya, hampir semuanya. Ada pisang rebus, jagung rebus, kacang rebus, pokoknya segala makanan yang berbau rebusan.
Bagaimana bisa hotel ini tahu makanan favoritku? Ah, pasti ulah Eyang leluhur, nih, punya kerjaan, batinnya geli.
Setelah selesai mengambil semua menu favorit tadi, segera ia memilih tempat duduk di tengah. Namun sebelum memulai makan ia alihkan pandangan ke sekitarnya, karena seperti merasa ada yang mengamati dari tadi.
Benar saja, sepertinya ada salah satu Eyang, tapi menggunakan pakaian serba putih. Hanya tersenyum dari kejauhan.
“Pagi mas Rey. Bagaimana hari ini, baik semua? Atau pelayanan kami tidak memuaskan?”
“Oh pagi juga pak. Semua baik saja. Sangat memuaskan.”
“Mungkin semalam ada gangguan yang membuat tidur mas Rey jadi kurang nyenyak? Bisa kami pindah ke kamar lain mas. Yang VVIP juga ready mas.”
“Oh tidak pak, semua sudah cukup. Saya sampai hari ini saja kok. Sebentar habis makan saya mau ke Keraton sebentar. Mungkin saya perlu armada plus sopir untuk menuju ke lokasi.”
“Oh siap mas, segera kami siapkan semuanya. Apa hanya itu saja mas Rey?”
“Ya cukup sementara itu dulu.”
Selesai makan, lanjut ke destinasi akhir dari perjalanannya hari itu, yaitu Keraton Yogyakarta. Rey sendiri penasaran, kenapa ia harus mendatangi tempat ini. Sesuai dengan amanat Eyang waktu di desa waktu itu.
Begitu mendaratkan kaki di depan gerbang, lamat-lamat mulai terdengar alunan gending khas Jawa. Semakin bertambah langkahnya, semakin bertambah keras pula suara alunan itu.
Ya Allah, ya Rabb, sekujur tubuhnya sontak bereaksi, seakan-akan menikmati alunan tersebut. Pandangan di sekitar seketika langsung berubah. Suara itu ternyata berasal dari pelataran depan Keraton yang memang sengaja diperdengarkan untuk menyambut seseorang.
Rey hanya bisa takjub melihatnya. Sedari tadi tetap belum ngeuh jika sambutan ini adalah untuk menyambut dirinya. Tamu yang memang sengaja diundang adalah dari dunia astral, para leluhur Eyang beserta kerabatnya.
“Assalammualaikum.” Suara nan kalem dan berwibawa menyapa Rey saat sudah berada di dalam Keraton.
“Waalaikumsalam, Eyang,” jawabnya sambil merapatkan kedua telapak tangan di d**a.
Ternyata ia Eyang IV yang tempo hari menemuinya. Setelah itu, Eyang memperkenalkan para kerabatnya. Hampir semua leluhur Rey hadir, mulai dari Eyang I sampai dengan para raja yang moksa. Tak lupa ada juga Nyai Ratu Putri turut hadir. Begitu mereka menghargai tamu, meski tauh usia Rey jauh lebih muda, meski tau statusnya hanya orang biasa.
Kamu mau tinggal di sini? Tiba-tiba Eyang I yang paling tua di antara Sultan Keraton menanyakan hal tersebut.
Sambil cengengesan ia membalas pertanyaan Eyang, “Ah, Eyang bercanda, nih, emang siapa saya Eyang, kok, bisa diminta tinggal di sini. Saya hanya orang biasa Eyang. Tidaklah pantas rasanya saya mendapat kehormatan itu.”
Eyang I hanya tersenyum. Rey bisa memahami arti senyuman beliau.
“Kehidupan saya di entah dimana nantinya, Eyang, banyak hal yang membuat saya sulit untuk memutuskan jalan hidup saya, Eyang,” jawabnya hati-hati agar para Eyang tidak tersinggung.
Cukup lama kami mengobrol. Di penghujung obrolan itu, Eyang I memberi hadiah berubah sebuah tulisan di kedua telapak tangannya, namun tidak tampak secara kasat mata. Tak lupa, wejangan hidup diberikan para Eyang: tunaikan segala perintah Allah SWT., jangan pernah meninggalkan lima waktu.
Sak temene matimu, uripmu, sak duniomu sembarang kalir karena lillahi robbil alamin ....
Wejangannya singkat namun maknanya sangat mendalam. Sempat Rey tertunduk mencoba mencerna petuah bijak dari Eyang.
***
Setelah dari Keraton, Rey berencana kembali ke hotel tempat ia menginap untuk mempacking barang barangnya dan segera balik ke kota ia menempuh pendidikan. Begitu keluar dari Keraton ia langsung di cegat oleh seseorang. Tak di sangka orang tersebut adalah sahabatnya sendiri. Ia adalah Aksa.
“Buset dah, kok bisa di sini lu bro?”
“Gue dapat signal dari khodam gue, terus Eyang juga ngirim messenger men, minta kawal lu.”
“Asem lu cam, sss juga pake messenger. Emang mau kawal apaan lu, kayak gue anak kecil aje.”
“Tau tu Eyang lu yang minta, gue mah apa atuh.”
“Tapi gue mau balik hotel juga nih bro, mau check out terus balik kampus gue.”
“Kayaknya lu di minta tunda dulu deh bro baliknya. Tadi pesen Eyang begitu ke gue.”
“Ah beneran? Kenapa bro?”
“Mana ketehe lah, cuman disuruh pending dulu, besok aja baliknya, gitu kata beliau.”
Singkat cerita mereka berdua kembali ke hotel tempat Rey menginap. Rey lalu meminta izin dengan pihak hotel untuk membawa tamunya menginap dan menunda kepulangannya hari itu.
“Gue open kamar lagi ga buat lu bro?”
“Ga usah lah bro, berdua ajalah, boros amat lu, lagak sultan lu.”
“Eh beneran ini, bukan gue juga yang bayar kok. Hahaha …”
“Iye beneran lah, di kamar lu aja lah. Gue mau ngobrol banyak soalnya juga.”
“Tapi ntar gue jangan lu apa apain lho bro, eke normal lho.”
“a***y lu, kira gue cowok apaan.”
Akhirnya Rey bisa memenuhi janjinya pada Eyang leluhurnya untuk berkunjung ke Jogja, bertemu dengan para leluhur yang lain. Sambutan yang begitu hangat mulai dari tiba di kampung Ibu, tempat penginapan hingga di Keraton. Alhamdulillah, banyak hal yang bisa ia petik dari perjalanan kali ini. Pertama, bahwa orang yang meninggal itu tetap hidup hanya alam mereka yang berbeda, dan jangan pernah berhenti mengingat mereka, tentu saja caranya dengan selalu mengirimkan doa kepada mereka.
Kedua, Allah memberikan yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Ketiga, orang baik pasti akan menemukan orang baik, kalaupun tidak, maka kamu akan ditemukan orang baik, meskipun itu dari “alam sebelah”.
“Rey, lu tau ga kenape gue di suruh nyusul lu?”
“Pasti lu khawatir, semua cewek di kota ini gue embat habis kan?”
“Serius, setan!”
“Huahaha…”
“Sekarang tubuh lu udah beda dari sebelumnya Rey.”
“Ah mulai dah lu…”
“Ini beneran Rey, mata batin gue ga pernah bohong, lu aja yang somplak sih. Lu sendiri udah ngalamin kan? Mulai dari kampung almarhumah ibu lu, sampai ke kota ini.”
“Eh kok lu tau?”
“Udeh lah, lu jadi PK aja gue tau apalagi cuma gitu doang, kecil lah.”
“Sombong amat!”
“Ga kali ini gue serius. Di tubuh lu udah ada sesuatu yang membuat lu udah di tandai.”
“Tanda apaan bro, gue perjaka gitu kan maksud lu?”
“Ya elah nih bocah, ga pernah serius. Gue ngomong sesuai dengan yang gue lihat bro.”
Aksa lalu bercerita banyak tentang apa yang lihat sejak dari Keraton tadi. Berdasarkan penglihatannya, di telapak tangan kanan dan kirinya Rey adalah sebuah huruf arab bertuliskan ‘nun. Di telapak kakinya adalah huruf ‘lam. Dan terakhir yang paling sensasional adalah di jidatnya adalah hurub ‘mim.
“Untuk artinya aku tidak tahu, tapi nanti suatu hari kau akan tahu, begitu kata Eyang.”
“Ah ga asik lu, bikin kepo akut aja. Dah lah, ngantuk gue dengernye.”
“Tapi Rey satu yang ku tahu dari sekian hadiah yang di beri Eyang kepadamu.”
“Apa itu?”
“Di bahu belakangmu ada tulisan angka romawi 13.”
“Artinya apaan?”
“Lu calon penerus generasi mereka selanjutnya.”
“Huahahaha… lu makin malem makin ngaco bro omongannye. Dah lah kita keluar yuk, cari ladies, eh camilan ringan.”
“Dasar lu, mesti ga pernah percaya dengan gue.”