Saat mentari akan mulai tenggelam, saat itu juga Rey harus bertemu dengan seorang putri yang cantik jelita. Wajahnya yang rupawan membuat siapapun yang melihatnya pasti akan jatuh hati. Tapi tidak dengan Rey meski awalnya ia sempat ikut terpesona. Ia bisa mengendalikan dirinya untuk tidak hanyut akan kecantikan wanita itu.
“Namaku Putri Mayang. Cukup panggil saja Mayang.” Sang putri tersenyum membuat hati Rey semakin kencang degupannya.
“Aku di utus untuk menjemputmu wahai tuan muda.” Wanita itu melanjutkan.
“Maaf untuk apa tuan putri, eh … Mayang menjemput saya?”
“Titah Nyai Ratu.”
“Nyai Ratu siapa? Aku tidak mengenalnya, mungkin Mayang salah orang, bukan saya.”
“Tuan muda namanya Rey Arsyad kan?”
Singkat kata Rey mengikuti wanita tersebut menuju ke dasar pantai yang tadi ia ingin nikmati pemandangannya. Rey hanya mengikuti kata hatinya untuk mengikuti wanita tersebut. Ia merasa yakin jika semua akan baik baik saja. Selain itu rasa penasaran juga untuk melihat dunia di air itu seperti apa. Selama ini ia hanya mendengar desas desus tentang itu semua. Beritanya banyak yang negative.
Begitu mulai memasuki pantai itu, Rey di suguhkan pemandangan yang tak kalah indahnya dengan waktu ia berada di desa ibu saat mengunjungi kerajaan Eyang IV. Hanya ini lebih ajaib lagi karena dunia mereka berada di dalam air. Istananya sangat luas sejauh mata memandang. Nyaris sama penghuninya dengan kehidupan manusia di alam nyata. Hanya yang sedikit membedakan dari sisi dunianya.
Saat masuk istana, Rey bertambah lagi kekagumannya dengan pemandangan dalam istana. Orang orang yang hadir kebanyakan wanita cantik dengan pakaiannya yang begitu anggun. Hanya segelintir yang berjenis kelamin pria, itupun wajah mereka sangat tampan di bandingkan dengan dirinya.
Ketika berada di tengah hall, Mayang lalu memperkenalkan pada semua orang yang hadir di istana tersebut. Semuanya memiliki posisi yang strategis dalam dunia air tersebut. Rey hanya manggut manggut meski sebenarnya ia tak begitu paham apa yang di maksud Mayang. Hanya satu yang belum terlihat sosok yang waktu di darat tadi Mayang menyebut namanya. Sosok itu yang membuat Rey penasaran seperti apa sosoknya. Ia coba mengedarkan netranya ke sekeliling ruangan, tapi tidak ada yang istimewa menurutnya.
“Aku di sini, Rey.” Terdengar suara lembut yang begitu menghanyutkan.
Rey sedikit terkejut mendengar suara itu dan arahnya baru ia temukan. Seketika ia sedikit terkejut. Sosok yang ia cari ternyata sudah lama berada di depan nya tapi ia tak menyadarinya. Yang membuat ia lebih terkejut lagi adalah sosoknya yang melebihi wanita manapun yang pernah ia temui. Termasuk si putri Mayang tadi yang ia kira sudah paling cantik. Tapi begitu melihat sosok di depan ini, semuanya jadi lewat, bener bener cantik yang ga ada akhlaknya.
“Assalammualaikum Eyang Nyai Ratu.” Sambil merapatkan kedua telapak tangan di d**a.
“Waalaikumsalam nak. Maaf telah lancang menculikmu ke istana Eyang Putri.”
“Saya malah merasa terhormat Eyang di undang ke tempat Eyang yang begini megahnya.”
“Oya kamu tadi sudah ketemu Putri Mayang? Dia yang menjemput kamu.”
“Iya sudah Eyang. Apa dia salah satu dayang Eyang?”
“Hahaha …” Eyang Putri malah tertawa mendengar pertanyaan pemuda di hadapannya.
“Hei, kamu ini sudah di jemput, ngejek saya lagi. Apa saya punya tampang seperti pembantu gitu?” di sisi Eyang ternyata si Putri Mayang menyahut omongan Rey.
“Dia putri saya Rey, bukan dayang saya.”
“Oh maaf Eyang putri, maafkan saya tuan putri.” sambil kembali merapatkan kedua telapak tangan di dadanya. Tampak tuan putri langsung menunjukkan wajah juteknya. Tapi tidak menghilangkan pesona cantiknya.
“Cantik kan Rey putriku?”
“Iya Eyang Putri.” Ia manggut manggut dan tersenyum sambil melihati tuan putri yang masih bête dengan perkataan Rey tadi.
Setelah menerima suguhan dari Eyang Putri, Rey kembali ke tempat ia menginap. Beruntung waktu untuk menikmati tenggelamnya mentari masih sempat ia rasakan. Padahal waktu berada di kerajaan Eyang Putri tadi waktunya cukup lama tapi sepertinya mentari masih sabar ingin menanti kehadiran Rey. Waktu seperti sengaja di hentikan hanya untuknya.
Puas melihat sunset ia kembali ke hotel karena sudah memasuki waktu magrib. Saatnya ia harus menghadap. Kembali ia harus melewati kamar khusus tersebut, tapi kali ini ia sudah tahu misteri tentang kamar tersebut. Semuanya ia dapat dari Eyang Putri tadi yang mengungkapkan semuanya.
Sampai di kamarnya ia langsung bergegas mandi dan bersiap siap untuk menyambut waktu maghrib. Setelah tiba masanya ia langsung melakukan shalat sendiri di kamar. Selesai langsung melanjutkan dengan dzikir dan di tutup dengan doa.
Baru saja ia ingin membereskan perlengkapan shalat, di belakangnya sudah duduk seorang wanita yang sedang tertunduk. Di lihat dari pakaian yang ia gunakan sangat mirip dengan pakaian dayang dayang Eyang Putri yang ia temui tadi sore. Ia berpikir jika itu adalah dayangnya tapi aura yang ia rasakan sangat beda dengan para dayang di istana tadi.
“Assalammualaikum.” Rey langsung mulai membuka percakapan dengan wanita itu. Tapi tidak ada respon masih tetap dengan diamnya. Ia coba mengajak obrol lagi.
“Kamu siapa? Kenapa datang kemari? Ada perlu dengan saya?”
Hik … hik … mulai terdengar tangisan dari sosok itu tapi tetap masih enggan menunjukkan wajah atau menengadahkan kepalanya.
“Lha kenapa menangis, saya belum apa apakan lho.”
“Maaf tuan muda, saya baru tau siapa tuan muda sebenarnya. Saya minta maaf atas kelancangan saya. Tolong ampuni saya tuan muda.”
“Lho minta maaf kenapa, kamu ga ada salah dengan saya, kenapa harus minta maaf?”
“Saya penghuni kamar misterius itu tuan muda.”
“Oh kamu orangnya. Kamu ga ada ganggu saya kok, kenapa minta maaf?”
“Saya sempat menantang tuan muda tadi sore.”
“Oalah gitu doang, biasa itu mah. Udah ga apa apa.”
Setelah mendapat ampunan dari Rey, barulah ia mau menengadahkan kepalanya.
“Terima kasih tuan muda atas kemurahan hatinya.”
“Iya udah ga masalah.”
“Jika tadi tuan muda tidak memaafkan, mungkin saya akan langsung di hukum Nyai Ratu.”
“Lagian kamu sih pakai acara nyamar segala, menyesatkan manusia, untuk apa coba?”
Sosok di hadapan Rey sebenarnya adalah sejenis kuntilanak yang memang sengaja menyerupai sang Ratu penguasa laut. Ia ingin menguasai nafsu manusia, terutama pemilik hotel tersebut yang begitu haus kekayaan. Dengan begitu mudah ia mengarahkan jalan sang pemilik menuju kesesatan.
Ceritanya dulu ia tak sengaja mendengar desas desus di alam sebelah ada yang lagi mencari pesugihan. Wanita ini yang mendengarnya langsung menyambut info tersebut. Segera ia mendatangi manusia yang sedang mencari jalan instan meraih kekayaan.
Wanita ini menjelma menjadi sosok yang manusia tersebut di agung agungkan yaitu Ratu Nyai. Beliau memang sosok yang begitu me-legend di tengah masyarakat terutama di kalangan praktisi yang notabene selalu berhubungan dengan dunia mistis.
Dengan cara menyerupai sosok itu ia tidak sulit untuk mengendalikan manusia. Semua keinginannya jadi mudah terpenuhi. Tidak perlu lagi ia bergelantungan dari satu pohon ke pohon yang lain, atau menjadi penunggu di tempat tempat yang kotor.
Di hotel ini ia diperlakukan sangatlah istimewa. Mendapatkan tempat yang khusus dengan sesajen kesukaannya. Tanpa perlu susah payah memungut makanan di luar. Semua ada imbal baliknya, ia diberi makan maka sang penganut pesugihan mendapatkan keinginannya juga. Tentu saja
“Ya udah kamu balik sono, saya ga mau ikut campur urusan kalian. Sekarang saya mau tidur, waktunya istirahat.”
Segera wanita jelmaan tersebut kabur setelah pamitan dengan Rey.
“Makasih ya tuan muda. Oya dapat salam dari Tuanku Putri Mayang.”
Rey langsung tertawa lepas. Ada ada saja kelakuan kunti ini, gumamnya dalam hati.