Pesanan Misterius

1380 Kata
 “Mas mau menginap dimana nanti sampai di Jogja?” tanya sang supir membuyarkan lamunannya. “Hmmm ... kita jalan saja dulu, Mas,” sahutnya. Padahal, ia sendiri tidak tahu akan menginap di mana. Entah kenapa seperti ada yang menggerakkan semua keinginannya tanpa ia sadari. Sepanjang perjalanan, hawa dingin sangat terasa walau pakaian yang ia gunakan agak tebal. Padahal ia sedang berada di dalam mobil dan AC yang hiduppun sudah di setting paling minim untuk temperaturnya. Setibanya di kota Bakpia. “Mas, kita ke hotel A, ya.” Sambil menyetir sang sopir menjawab, “Baik, Mas.” Ketika tiba di sebuah hotel, ia sudah mendapat sambutan dari karyawan hotel. Dari penyambutan mereka ia merasa ada yang aneh. Jika biasanya yang menyambut adalah bagian front office, tapi yang ini malah managernya. Itu terlihat dari name card yang terpampang di baju yang ia kenakan. “Selamat datang mas Rey. Terima kasih sudah memilih hotel kami. Silahkan.” Seroang bapak seumur 40-an dan di dampingi dua wanita yang cukup manis sudah berdiri menyambut dirinya yang baru saja turun dari mobil carteran. “Lho kok bapak sudah tahu nama saya?” “Iya mas, sudah sebulan yang lalu seluruh hotel ini di boking atas nama mas Rey.” “Hah, siapa yang boking? Saya ga pernah merasa ada pesan kamar pak, mungkin bapak salah orang.” “Nama mas Rey Arsyad kan? Semua administrasi sudah di selesaikan jauh hari mas dengan nama mas nya. Kami hanya menjalankan tugas mas. Silahkan mas, barang barang kami bawakan.” Rey lalu sumringah setelah menyadari siapa yang telah melakukan ini. Ia tak mungkin menolak lagi. Pantas saja dari desa tadi hatinya ada yang mengarahkan ke sesuatu. Rupanya tempat ini yang di maksud. Tapi ia masih penasaran dengan orang yang telah memesan dari jauh hari, bahkan sebulan sebelumnya. “Oya mas Rey ingin memilih kamar yang type apa?” “Yang paling murah saja pak.” “Tapi semua type sudah di boking atas nama Mas Rey, jadi terserah mau type apapun bisa mas. Begitu juga dengan posisi kamar kami, mau di view yang biasa hingga menghadap pantaipun sudah siap mas.” Pikiran nakal Rey langsung hinggap di kepalanya. Ia pikir moment begini tidak akan terulang lagi di lain waktu. Rezeki ga pernah tau datangnya kapan. “Baiklah jika memang memaksa, saya yang type royal suite pak. View yang hadap pantai ya.” Kebetulan hotel ini berada di pinggir pantai jadi menginap sekaligus menikmati sunset nantinya. Rey lalu mengikuti sang manajer yang mengantarnya hingga ke kamarnya. “Aduh pak minta maaf sudah merepotkan bapak manager sampai mengantar saya ke kamar, seharusnya cukup bawahan bapak saja, pak.” “Tidak apa apa mas, ini sudah menjadi tugas saya juga.” “Oya pak, di penghujung kamar saya apa kamar khusus ya? Kita lewati tadi kamarnya bentuknya lain daripada yang lain?” “Oh itu, iya mas itu kamar khusus dari pemiliki hotel yang memang mengkhususkan jika kamar itu tidak di komersilkan. Entah apa alasannya. Saat baru gabung saya juga baru tau ada kamar khusus itu mas.” Rey merasakan ada sesuatu yang ganjil dengan kamar itu. Sewaktu ia melewati tadi aroma bunga melati bercampur asap dupa sangat kental terasa mistisnya. Sekujur tubuhnya juga meremang bulu kuduknya. Tapi ia enggan menegur sang manager saat di depan kamar itu. “Ya sudah pak, mungkin besok saya sudah check out dari hotel ini.” “Lho kok cepat mas? Pesanan mas ini sudah di boking selama sebulan, malahan jika ingin di tambah juga sudah ada depositnya pada kami.” Sontak Rey terkejut mendengarnya. Siapa gerangan orang yang berbaik hati hingga berani membokingkan hotel untuk dirinya. Tidak tanggung tanggung semua kamar yang ia pesan hingga sebulan bahkan lebih sudah di persiapkan dengan matang. Rey masih penasaran. “Iya pak, saya masih ada kuliah. Cukup sampai besok saja pak.” “Baiklah mas, nanti kami siapkan semuanya. Untuk keperluan travelling selama berada di kota ini juga telah di siapkan mas. Jika mas ingin berkeliling kota sudah ada kendaraan yang siap 24 jam untuk mengantar mas.  Mau roda dua atau empat semuanya siap mas. Tinggal konfirmasi saja ke receptionist.” “Siap pak, terima kasih banyak.” “Begitu juga untuk menu makan dan keperluan lainnya kami siap 24 jam mas. Semuanya sudah di selesaikan administrasinya. Mas tinggal pesan dan menikmati saja.” “Ok, terima kasih pak.” Rey lalu melanjutkan dengan mengambil wudlu. Sekarang sudah waktunya untuk ia melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim. Selesai shalat ia kepikiran dengan kamar itu. Ia merasa ada yang ganjil dengan kamar itu. Rasa penasarannya semakin besar. Apalagi saat melewati kamar itu tadi, ada hawa kemarahan disana. Seakan tidak suka dengan kehadiran Rey disana. Tok tok … “Permisi, room service.” Segera ia membukakan pintu dan di depan sudah berdiri seorang office boy dari hotel yang sedang membawa handuk dan perlengkapan mandi lainnya serta semeja makanan. “Maaf pak, ini handuk khusus buat kamar ini. Semua perlengkapan mandi juga sudah lengkap semuanya dan menu makanan khusus pesanan bapak.” “Bawa masuk saja mas.” “Baik pak, semuanya sudah selesai, mungkin bapak ada yang mau dipesan lagi?” “Oh cukup mas. Saya Cuma mau ngobrol sedikit dengan sampean, boleh?” “Boleh pak.” “Ga usah panggil bapak, saya bujang dan masih muda juga dari sampean kok, cukup panggi Rey atau mas saja.” “Baik mas. Apa yang mau di tanyakan?” “Tahu dengan kamar yang di ujung itu mas?” “Iya tahu mas, tapi hanya sedikit. Setahu saya kamar itu angker sih mas, makanya saya kaget kok sampean berani berada satu lorong dengan kamar itu.” “Siapa penghuni kamar itu mas?” “Saya ga tahu mas, tapi dengar gosipnya katanya seorang ratu penguasa laut Jawa.” Rey hanya tersenyum mendengarnya. “Kok mas malah tersenyum, apa ga takut mas?” “Takut sih mas, tapi saya lebih takut lagi dengan Allah.” Setelah obrolan singkat itu, Rey memutuskan untuk keluar hotel sore itu. Ia ingin menikmati suasana pantai yang sudah lama tak ia rasakan. Segala perlengkapan sudah ia siapkan, tas kecil, kacamata hitam dan beberapa makanan ringan yang mudah ia bawa. Berjalan melalui koridor hotel menuju lantai bawah, ia kemudian melewati kamar khusus tadi. Perasaannya semakin tidak nyaman. Dan berapa saat kemudian ada sebuah suara yang menegur dirinya. “Jangan ikut campur yang bukan urusanmu!” Sontak Rey terdiam sesaat dan menghentikan langkahnya. Ia ingin memastikan suara itu apakah benar untuknya. Ia lalu tersenyum sambil melanjutkan langkahnya. Rasanya ogah mengurusi hal demikian, tapi jika mereka memang ingin ‘menjual’, pasti Rey akan meladeninya. Dalam sekejap ia sudah berada di bibir pantai. Berjalan sambil membasahi kakinya, ia tanpa segan bermain sendiri melepaskan semua penat untuk sesaat. Rey mencoba tak menghiraukan keadaan di sekitarnya meski di lokasi sudah ada beberapa orang yang sedang menikmati sore yang sama dengan dirinya. Semua tampak asik dengan dunianya. Begitu juga dengan Rey yang terus saja melangkah di pinggir pantai. Sementara mentari sudah mulai menenggelamkan dirinya di ufuk barat. Tersisa beberapa saat lagi bagi dirinya untuk menikmati keindahan ciptaan Sang Penguasa Alam. Rey enggan meninggalkan moment tersebut. Ia memilih tempat yang agak teduh di bawah rimbunan pohon kelapa gading yang pokoknya rendah. Sambil menanti moment tersebut ia mempersiapkan camilan dan minuman ringan. Ketika sudah focus tiba tiba dari arah pantai Rey melihat ada yang aneh. Meski dari jauh ia masih bisa sedikit melihat ada sesuatu yang sedang meluncur ke arah darat. Ia coba diam dan terus mengawasi sesuatu tersebut. Semakin lama sesuatu itu semakin jelas dan arahnya pun ia bisa menebaknya. d**a Rey lalu berdegup dengan kencangnya, tidak biasanya ia bisa se-nervous begitu. Ia sudah kepedean jika yang akan datang itu memang untuk menemuinya. Saat sudah dekat barulah jelas siapa yang datang. Dia seorang wanita yang menggunakan pakaian kerajaan. Tampilannya sederhana dengan baju seperti kemben yang biasa di gunakan wanita Jawa. Wajahnya yang sangat cantik membuat Rey terdiam sesaat karena ia terpesona. Kulitnya yang begitu putih mulus semakin menambah nilai kecantikannya. Dengan kereta kencana yang berlapiskan emas semakin menambah keanggunan wanita tersebut. “Assalammualaikum tuan muda.” Wanita itu sambil merapatkan kedua telapak tangan di d**a. “Waalaikumsalam, tuan Putri.” Begitu juga dengan Rey membalasnya. “Namaku Putri Mayang. Cukup panggil saja Mayang.” Sang putri tersenyum membuat hati Rey semakin kencang degupannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN