Suasana istana yang begitu indah membuat netranya enggan untuk berkedip barang sedetikpun. Rasanya ini adalah pengalaman yang akan sulit untuk terulang kembali. Berada di dunia lain dengan keindahan yang takkan pernah kita dapatkan di dunia nyata.
Memasuki istana yang begitu megah membuat Rey terus berdecak kagum. Saat pintu itu terbuka kilauan warna emas dan putih langsung bersemburat menyilaukan netranya. Dalam hati ia terus mengucap Subhanallah. Dunia yang selama ini ia lihat sangatlah jauh di bandingkan dengan keadaan yang ia hadapi sekarang.
Tampak di dalam istana sudah ada beberapa orang yang duduk pada kursi megah yang berlapiskan emas. Di tengah ada singgasana sanga raja yang menggiring dirinya masuk tadi. Hampir semua interior dalam istana itu adalah emas. Begitu juga dengan perabotan makan dan minum yang tersaji di masing masing meja tamu.
Semua para tamu yang ada di dalam istana tersenyum pada Rey. Seolah mereka menyambut seorang tamu kehormatan yang telah lama di nanti nantikan. Rey jadi merasa canggung mendapat perlakuan demikian.
“Rey, perkenalkan… ini semua adalah leluhurmu.”
“Siapa mereka Eyang? Saya merasa tidak pernah bertemu dengan mereka sebelumnya.”
“Mereka adalah leluhurmu Rey. Mereka adalah leluhur dari keturunanmu yang hidup di zamannya.”
“Lantas apa hubungannya dengan saya, Eyang?”
“Kamu adalah keturunan terakhir dari generasi di akhir zaman ini, Rey.”
“Saya tidak mengerti Eyang.”
“Nanti seiring waktu kamu akan mengerti nak. Aku hanya ingin memperkenalkan kamu dengan leluhurmu.”
Hati Rey tiba tiba berubah. Entah kenapa ia dengan mudah berubah suasana hatinya. Sewaktu datang tadi ia begitu bahagia bisa masuk ke dalam istana ini. Raut wajahnya juga perlahan berubah. Tatapan matanya sangat tajam menyoroti satu persatu orang orang yang hadir. Tidak ada sedikitpun senyuman ramah yang biasa ia tunjukkan pada setiap yang ia temui.
“Baiklah Rey, mungkin saat ini kamu lagi lapar, jika kamu ingin semua hidangan sudah tersaji di meja. Silahkan jika engkan ingin mengisi perutmu. Namun maaf jika menu yang kami hidangkan tidak sesuai dengan seleramu.”
Mata Rey langsung berpindah mengarah pada hidangan yang tersaji di meja makan. Seolah yang ada di meja tersebut mengerti dengan menu kesukaan seorang Rey. Ada pisang rebus, jagung rebus, kacang rebus, pokoknya segala makanan yang berbau rebusan.
“Bagaimana bisa Eyang tahu makanan favoritku?” sambil melangkah mendekati meja makan tersebut untuk memastikan apa yang dia lihat. Wajah Rey seketika berubah lagi, kali ini ia tampak senang dengan hidangan dari sang raja. Setelah selesai mengambil semua menu favorit tadi, segera ia memilih tempat duduk di sisi meja agar tidak terlalu jauh jika ingin menambah makannya. Rey tak lagi mengindahkan orang di sekitarnya yang hanya senyum senyum sendiri melihat kelakukan sableng si Rey. Ia hanya berpikir bisa melahap semuanya, paling tidak bisa menyicipi satu persatu berbagai menu yang tersaji.
Tapi anehnya, baru sebuah singkong rebus dan pisang rebus yang ia makan, perutnya sudah terasa kenyang sekali. Nafsunya yang menggebu tadi juga tiba tiba sirna. Melihat makanan yang begitu banyak ia sudah tidak seantusias seperti tadi.
Melihat Rey yang masih bingung dengan dirinya, Eyang raja langsung mengajaknya mengobrol lagi. Eyang raja memperkenalkan dari zuriatnya dahulu yaitu Eyang Sultan 1 hingga Sultan yang ke 7. Semua menunjukkan wajah yang begitu ramah dan lembut. Hanya satu di antara ke 7 Sultan tersebut yang menampilkan wajah yang bertolak belakang dengan saudara saudaranya. Dia adalah Sultan V. Wataknya yang temperamen dan paling doyan tawuran membuat ia yang selalu maju terdepan jika ada perang waktu di zaman mereka hidup.
“Berikutnya adalah golongan dari ulama yang termashur di zamannya. Mereka juga terkenal dengan sebutan Wali Allah.”
Semuanya hanya tersenyum saat di perkenalkan dengan Rey. Wajah teduh mereka membuat ia merasa nyaman melihatnya.
“Terakhir adalah raja raja di Indonesia yang pernah atau sering kamu dengar dalam hidupmu. Mereka dengan para panglimanya beserta bala tentaranya.”
Setelah memperkenalkan semuanya dan menjelaskan tentang kehidupan, Rey di izinkan untuk kembali ke dunianya. Hanya dengan sekedip mata kini ia sudah berada tepat di depan rumah bukdenya. Melihat keberadaannya sudah di rumah ia berusaha untuk bertingkah sewajarnya.
Sementara waktu sudah mulai memasuk tengah hari. Selepas makan siang Rey langsung berpamitan dengan bukdenya untuk kembali ke kota asalnya. Meski bukan anak sendiri, hubungan bukde dengan Rey sudah seperti hubungan seorang ibu dan anak. Beliau yang mengeroki badannya dengan koin saat Rey merasa kurang nyaman pada tubuhnya. Selalu ada moment indah saat mereka pernah dekat. Karakter seorang bukde yang selalu ceplas ceplos dan Rey yang sableng menjadi pelengkap dalam hubungan itu.
“Mangke kapan kapan kula ta mriki maleh bukde.” (Suatu hari nanti saya kesini lagi bukde.)
“Iyo hati hati le, ojo lali’ke si mbok yo.” (iya hati hati nak, jangan pernah lupakan si ibu ya.) tampak matanya mulai berkaca kaca melepas kepergian ponakannya yang sableng.
“Nggih, assalammualaikum bukde.” Segera Rey menaiki kendaraan yang sudah ia carter sebelumnya. Di dalam mobil ia coba mengingat kejadian saat berada di istana tadi. Mengingat tutur kata dan prilaku para Eyang yang begitu santun membuat ia merasa respect dan perlu belajar lagi akan sebuah adab dalam berhadapan dengan orang, meski mereka tau usia Rey sangat jauh lebih muda dari mereka.
Tanpa terasa selama perjalanan waktu yang ia lalui sudah sejam-an. Rey baru menyadari jika ini sudah memasuki waktu dzuhur. Ia meminta sang supir untuk mencari masjid saat di jalan. Sekalian ia memberikan kesempatan istirahat untuk sang supir. Beruntung tak berapa lama mereka mendapatkan sebuah surau di tengah perjalanan mereka.
Saat berada di lokasi semua tampak lengang. Tidak ada satupun yang terlihat sedang melakukan aktivitas untuk beribadah. Di jalan pun nyaris tak ada kendaraan yang berlalu lalang. Padahal ini adalah jalur antar provinsi yang biasanya di lalui kendaraan kendaraan besar.
Meski sederhana, surau tersebut terlihat bersih dan terasa sangat nyaman. Di sekitarnya di kelilingi pepohonan yang rimbun membuat yang berada di situ pasti akan merasa adem dan tenang. Tak ada seorang pun yang terlihat di surau tersebut. Sepintas ia coba amati kembali waktu di jam tangannya. Memang sudah waktunya sholat Dzuhur, tapi surau masih tetap saja terlihat sepi.
Ah sudahlah memang ini sudah waktunya, batinnya.
Rey lalu mengambil wudlu di tempat yang telah di sediakan. Air yang mengenai wajahnya terasa begitu sejuk dan menyegarkan. Sangat berbeda dengan air yang sebelumnya pernah ia rasakan. Ia lanjutkan hingga selesai. Masuk ke dalam masjid, saat membuka pintunya yang tidak terkunci, ia sedikit terkejut. Meski surau itu sepi tapi kondisinya sangat menakjubkan. Bagaimana bisa surau yang kecil dan dari luar tampak sederhana tapi di dalamnya begitu indah dan bersih. Membuat mata ini sangat betah memandanginya.
“Saya makmuman dengan mas ya,” kata sang supir yang sudah berada di belakangnya.
“Allahu akbar.” Rey yang bertindak sebagai imam. Baru saja ia mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan takbir tiba tiba di belakangnya terdengar suara desingan angin dan dentuman sesuatu yang berat berjatuhan ke lantai. Tapi ia tetap saja focus untuk menyelesaikan rakaat demi rakaat dalam shalatnya.
Baru selesai menjalankan shalat dzuhur, kembali ia mendapat kejutan kecil yang entah dari mana datangnya. Mendadak di sajadah tempat ia duduk bersila sudah ada sebuah tasbih kecil yang berwarna putih mutiara. Padahal sewaktu mulai shalat tadi ia tidak melihat benda itu ada di situ. Namun hati Rey berkata ini adalah perbuatan seseorang yang cukup dekat dengannya. Ia hanya tersenyum saat menyentuh benda tersebut dan mulai menggunakannya.
Ia lalu melanjutkan focus untuk berdzikir dan berdoa pada Rabb-nya. Baru beberapa saat memulai, tangannya tanpa ia sadari bergerak dengan cepat menghitung tasbih. Tidak hanya satu tangan tapi keduanya yang bergerak menghitung tasbih. Jika satu tangan masih ada tasbih yang tadi, tapi yang satu lagi malah tak ada tasbihnya. Ia hanya memainkan jari jemarinya seolah olah tangan kiri tersebut ada benda yang tak Nampak secara kasat mata. Rey tersenyum melihatnya dan membiarkan hal itu terjadi.
Di tengah dzikirnya, saat ia mulai terhanyut, terdengar sebuah suara yang mengucapkan salam.
“Assalammualaikum, Rey.”
“Waalaikumsalam.” Ia membuka matanya.
Alangkah terkejutnya ia mendapati pemandangan yang ada di depannya. Mereka para leluhur yang ia temui di istana tadi pagi saat berada di desa ibu. Semua tampak duduk bersila dan berdzikir bersama dirinya.
“Terima kasih sudah menjadi imam shalat tadi.”
“Benar perasaan saya ini pasti perbuatan para Eyang. Saya merasa malu Eyang, jika tahu tadi ada Eyang mungkin saya takkan berani berbuat lancang menjadi imam buat para leluhur yang lebih tua dan mumpuni dari saya.”
“Tidak salah memang takdir memilihmu nak. Semua ini bukan kehendak kami tapi memang sudah garis hidupmu yang menghendaki. Terima dan jalani dengan tawadhu (rendah hati).
“Insya Allah Eyang, tegur saya jika ada kekhilafan Eyang, kalau perlu jewer saya Eyang.”
Sang raja hanya tersenyum mendengar permintaan Rey. Setelah percakapan singkat itu mereka berpamitan. Rey pun segera kembali ke mobil carteran yang telah menunggunya. Saat berada di dalam mobil khayalannya kembali pada kejadian di surau tadi. Bayangan jamaah surau itu yang menjadi makmumnya semua orang orang hebat dan tanpa ia sadari menjadi imam mereka.