Mentari perlahan mulai merangkak naik tapi belum terasa panasnya yang menyengat seperti di kota. Bunyi kicauan burung masih jelas terdengar dan saling bersahutan. Suara gemericik air sungai yang jernih terus saja mengalir tanpa hambatan. Bunga pohon kamboja yang tumbuh di ark menambah indahnya suasana.
“Bukde pulang duluan ya, kula mangke nyusul bukde. Kula masih mau lama lama dulu disini, takut nanti bukde kelamaan nunggu saya.” (saya nanti menyusul).
Setelah mereka pergi, Rey masih duduk di sisi makam ibunya. Ia lalu bercerita banyak tentang kehidupannya sekarang. Seolah olah ia sedang mengobrol dengan ibunya. Tidak ada yang tahu apa yang sedang dilakukan pemuda tersebut. Jika ada pengunjung yang melihat pasti mengira jika ia sedang mengalami gangguan jiwa karena ngomong dengan batu nisan.
Hari itu situasi di makam lagi sepi pengunjung. Hanya Rey, bukde dan anaknya yang lagi berziarah. Maklum makam ini memang berada di lokasi pelosok di desa ibunya Rey. Jumlah makampun hanya puluhan tidak sampai seratus makam. Banyak warga di desa ini yang merantau di luar daerah dan luar negeri. Jadi jika sakit dan meninggal banyak yang tidak di kebumikan di daerah asalnya.
Sekitar satu jam Rey baru beranjak dari makam ibunya dan berpamitan pada semua penghuni makam. Saat berada di makam ia sempat melihat ada satu sosok wanita tua yang menggunakan pakaian putih yang kotor. Rey baru menyadari saat ia ingin beranjak pergi, padahal sebelumnya di makam itu nyaris tak ada satupun pengunjungnya. Ia tetap memutuskan untuk pergi tanpa menghiraukan sosok wanita itu. Namun saat ia sudah berada dekat pintu keluar makam, di gerbang Rey sudah ada sosok wanita tadi berdiri.
Rey berusaha tersenyum saat ia sudah dekat dan mencoba untuk mengobrol dengan sosok wanita itu.
“Assalammualaikum.”
Tidak ada jawaban dari wanita itu. Tatapannya kosong menatap wajah Rey. Wajah wanita itu sendu, seperti ada beban yang berat yang sedang ia hadapi. Seketika ia jadi paham jika lawan bicaranya bukan dari golongan yang sama agamanya dengan dirinya. Dan satu lagi ia juga jadi yakin wanita ini bukan sosok dari manusia biasa, melainkan roh yang sedang gentayangan.
“Nak, mau kah kamu membantuku?”
“Ibu kenapa? Apa yang bisa saya bantu? Sementara saya hanya orang biasa bu.”
“Bantu saya menuju kesempurnaan nak. Roh saya tak bisa pulang di tempat semestinya.”
“Kenapa bu? Ibu seorang muslimah atau tidak?”
“Saya non muslim nak.”
Rey lalu tersenyum mendengarnya.
“Apa yang harus saya lakukan buat menolong ibu, sementara kita sudah beda alam dan juga beda agama.”
“Doa kan saya nak, agar bisa tenang dan pulang ke tempat semestinya.”
“Saya hanya manusia biasa bu, bukan orang sakti atau ulama yang memiliki doa yang mustajab.”
“Tidak nak, aura yang terpancar dari tubuhmu sudah cukup menjelaskan kamu siapa. Semua yang berada di makam ini sangat bahagia dengan kehadiranmu disini, meski itu bukan dari keturunanmu. Orang tuamu sangat bangga mempunyai anak sepertimu.”
“Ibu mungkin salah orang, mungkin bukan saya yang ibu maksud.”
“Tolong nak, saya mohon doakan saya. Meski sampai di tempatnya nanti aku tetap di siksa paling tidak aku bisa di terima bumi.”
“Saya coba ya bu, semoga Allah mengizinkan.”
Rey lalu mendoakan wanita itu setelah mengetahui nama lengkapnya. Ia memejamkan matanya dengan membaca doa fatiha 4 yang selalu ia baca di setiap moment. Segenap hati dan pikirannya ia curahkan pada doa untuk wanita tersebut. Setelah selesai membacanya, ia membuka kedua matanya.
Sedikit terkejut, ia melihat perubahan pada sosok wanita di hadapannya. Rey tak menyangka jika doanya bisa langsung terkabul saat itu juga.
“Terima kasih nak, maaf telah menyusahkanmu.”
“Maaf, itu bukan karena saya bu, tapi Tuhan saya yang mengizinkannya untuk terjadi, saya hanya perantara ibu dan Yang Punya Ketentuan.”
“Sekarang aku bisa pergi dengan tenang. Pintu juga sudah terbuka nak. Ibu mohon pamit dan terima kasih. Semoga kelak kita bisa bertemu lagi. Salam” wanita itu pergi terbang ke atas langit sambil tersenyum pada Rey.
Ada rasa haru saat ia menghadapi moment tersebut. Tapi ia berusaha kuat. Sebelumnya ia pernah meminta pada ibunya untuk memindahkan makam beliau karena salah satunya bercampurnya makam orang muslim dengan yang non muslim. Namun beliau menolak karena alasan saudara dan orang tuanya terdahulu sudah berkumpul di pemakaman tersebut.
Rey lalu melanjutkan langkahnya untuk pergi meninggalkan pemakaman itu. Ia berjalan menyusuri ladang sawah dan pepohonan yang rimbun. Sudah di pertengahan jalan kembali ia harus melewati rimbunan bamboo yang sebelum ke makam tadi ia sempat di cegat makhluk dari alam lain. Kali ini perasaan kurang nyaman kembali menghantui dirinya. Beruntung saat ini ia sedang sendiri tidak dengan bukde dan anaknya.
Mendadak Rey mendapat sebuah serangan yang mengarah ke tubuhnya. Tapi bukan Rey namanya jika tak mampu mengatasinya. Hanya dengan sedikit gerakan reflek ia mampu menghindar serangan tersebut. Angin jahat berdesing kesana kemari. Berikutnya kembali ia di serang dari berbagai penjuru. Semuanya mampu ia hindari dengan sangat cepat. Sedari tadi ia hanya menghindar tanpa mau membalasnya. Hingga berhenti dengan sendirinya serangan demi serangan tersebut.
“Woi siape lu, ga permisi main terabas wae. a***y lu ye!”
Perlahan lahan di hadapannya sebuah asap hitam yang mengepul muncul dan lamat lamat menghilang dan menyisakan sesosok makhluk yang sangat menyeramkan. Badannya tinggi besar tiga kali dari tubuhnya Rey. Wajahnya mirip hewan dan memiliki badan berbulu lebat dan berwarna merah pekat. Tatapannya yang sedemikian tajam sudah cukup membuat Rey yakin jika kali ini sosok yang ia hadapi tidak sedang bercanda.
“Ternyata benar kamu bukan manusia biasa.”
“Kenapa om jin menyerang ku, ada masalah om?”
Belum mendapat jawaban dari lawannya malah ia kembali di serang dari berbagai arah. Kelebatan angin dan cahaya saling mendahului di sekeliling tubuh Rey. Tapi ia berusaha untuk tenang dan lebih memilih untuk focus dengan memejamkan matanya. Ia pasrahkan pada Sang Khaliq dan membaca fatiha 4 untuk meminta perlindungan dan petunjuk menghadapi musuhnya yang ia rasa kali ini tidaklah mudah.
Setelah membaca doa itu, Rey langsung berada di dimensi lain. Sekelilingnya bukan lagi desa yang penuh dengan rimbunan bamboo tadi, melainkan sebuah ruang hampa berwarna hitam tanpa batas apapun, hanya tampak sosok di depannya yang sedang merapal ilmu untuk menyerang dirinya. Semuanya terlihat jelas gerakan dan serangan yang di arahkan di tubuhnya. Meski dengan mata yang tertutup ia mampu menembus apa yang terlihat di depannya.
“Ok cukup om jin, hentikan seranganmu dan tunjukkan wujud aslimu serta antar aku ke tuanmu sekarang.”
Makhluk aneh tersebut sontak terkejut sekali. Ia tak menyangka jika penyamarannya bisa di ketahui oleh lawannya. Sebelumnya makhluk ini adalah tangan kanan dari seorang raja di alam gaib. Sengaja ia dikirim sang raja untuk memaksa Rey sekaligus menguji kehebatannya. Dengan menyamar dan melakukan penyerangan gaib ia tak bermaksud menciderai sang tamu kehormatan. Ia sendiri juga ketar ketik setelah merasakan aura yang sedemikian besar dari tubuh Rey. Tanpa harus susah payah melawan, hanya dengan bertemu saja ia sudah keder duluan sebenarnya.
“B-b-bagaimana tuan ku bisa tahu?” sosok ini langsung menunjukkan wujud aslinya. Seorang panglima perang yang lengkap dengan zirah kebesaran seorang petarung yang tangguh.
“Semua atas izin-Nya om, hamba hanya manut saja. Ayo kita ke rajamu.”
“B-b-baik tuan muda.”
“Ga perlu grogi begitu om, biasa ajalah. Saya juga manusia biasa kok.”
Dengan sekali mengibaskan tangan kanannya, terbukalah gerbang menuju ke dimensi lain. Panglima tersebut lalu mempersilahkan Rey untuk masuk dulu.
“Silahkan tuan muda.”
Dengan penuh keyakinan Rey melangkah masuk gerbang tersebut. Baru saja satu langkah yang menginjak tempat itu, seketika bunyi gamelan langsung terdengar lamat-lamat mengalun alun dengan irama yang begitu indah. Begitu seluruh tubuhnya benar benar memasuki dimensi baru tersebut, ia terhenti sejenak melihat pemandangan yang sedemikian indahnya yang tak pernah ia lihat sebelumnya di dunia nyata. Decak kagum akan karunia Illahi ia bisa di beri kesempatan melihat karya Illahi.
Rey lalu melanjutkan langkahnya bersama sang Panglima tadi. Tapi ia tidak berani terlalu dekat dengan tamunya, ia tidak tahan karena hawa yang ia rasakan saat berdekatan dengan Rey.
Begitu mendaratkan kaki di depan gerbang sebuah istana seperti Kerataon yang begitu megah, semakin bertambah keras pula suara alunan itu.
Ya Allah, ya Rabb, sekujur tubuh Rey sontak bereaksi, seakan-akan menikmati alunan tersebut. Pandangan di sekitar seketika langsung kembali berubah. Suara itu ternyata berasal dari pelataran depan Keraton, memang sengaja untuk menyambut seseorang.
Rey hanya bisa takjub melihatnya. Sedari tadi tetap belum ngeuh jika sambutan ini adalah untuk menyambut dirinya. Tamu yang memang sengaja diundang dari seorang raja yang belum ia ketahui siapa dan apa hubungan dengan dirinya.
“Assalammualaikum.” Suara nan kalem dan berwibawa menyapa dirinya saat ia masih terdiam memandangi kebesaran Illahi.
“Waalaikumsalam, Om” jawab sambil merapatkan kedua telapak tangan di d**a.
Sosok itu seorang bapak yang ia perkirakan seusia 60an dengan pakaian kebesaran seorang raja. Di kepalanya ada mahkota khas raja raja Jawa yang sering ia lihat di TV. Sedikit telanjang d**a yang menunjukkan bentuknya yang bidang. Wibawanya yang begitu besar sudah terpancar dari aura yang ia pancarkan.
“Maafkan kelancangan anak buah saya yang telah menyerangmu tadi.”
“Saya yang harusnya minta maaf om karena telah menolak undangan raja.”
“Cukup panggil saya Eyang Sultan IV.”
“Oh maaf Eyang, kula nyuwun ngapunten nggih.” (Saya banyak minta maaf).
“Terima kasih sudah mau mengunjungi gubuk Eyang yang sederhana ini.”
Rey hanya tersenyum mendengar tutur kata Eyang yang lemah lembut dan selalu merendah. Tidak ada kesan angkuh yang di tunjukkan dari seorang raja yang memiliki kemewahan unlimited. Rey sudah mendapat satu pelajaran tak langsung dari dunia lain.
Istana yang begini megah saja di sebut sederhana, lantas yang mewah itu seperti apa bentuknya?
“Mari ikut saya Rey.” Sang raja mengajak dirinya untuk memasuki Keraton tersebut.
Pemandangan dalam Keraton lebih menakjubkan lagi. Suara alunan gamelan tadi masih saja mengiringi langkahnya. Taman yang sedap di pandang mata dengan air mancur yang keluarnya beritme seperti irama lagu. Apa yang tersaji dalam istana tersebut membuat decak kagum dirinya.