Ada satu tempat yang selama ini selalu membuat Rey jatuh hati dan tak bisa melupakannya. Tempat itu adalah desa tempat tinggal almarhum ibu sewaktu kecil. Desa yang selalu mengesankan serta menenangkan untuk dikunjungi. Perjalanan ke desa kelahiran almarhumah ibu tidak akan pernah membuat Rey bosan. Suguhan pemandangan dan bentang alamnya yang begitu mempesona membuat mata ini enggan berkedip walau sedetik. Sederhana namun penuh keindahan. Siapapun yang melihatnya sudah pasti akan jatuh hati. Sawah dan ladang yang terhampar begitu luasnya.
Semua berawal dari sebuah petunjuk yang ia dapat melalui mimpi beberapa hari yang lalu. Di tambah juga bang Dion yang terus mendesak dirinya untuk segera berkunjung ke makam beliau. Sudah dua tahun Rey tak menyekar ke kubur ibunya. Karena kelabilannya kemarin yang sempat membuat ia tidak lagi focus untuk mengingat orang yang telah melahirkannya. Jika saja dalam mimpi beliau tak hadir mungkin Rey akan terjerumus ke jalan yang sangat salah.
“Assalammualaikum.” Beberapa kali teriakan salam yang di lontarkan Rey tidak mendapat jawaban dari tuan rumah. Saat ini Rey sudah tiba di desa ibunya. Di rumah khas desa yang tampak sangat sederhana dengan konstruksi rumah desa pada umumnya. Tidak banyak yang berubah dibandingkan dengan 15 tahun yang lalu saat Rey masih kecil. Kala itu ia di ajak ibu untuk pulang ke kampung kelahirannya karena sudah memasuki musim liburan sekolah Bang Dion. Hanya kamar mandi dan toilet yang di sesuaikan dengan kondisi sekarang daripada zaman ia kecil dulu.
Masa kecil Rey di rumah itu penuh dengan kenangan manis. Bisa bercanda riang dengan saudara, sepupu dan teman teman di desa. Bermain ke sawah, mandi di sungai sudah menjadi kewajiban mainan mereka saat liburan itu. Camilan khasnya adalah jenang atau dodol yang pengolahannya di lakukan bareng bareng bergantian. Seni mengaduknya yang memerlukan waktu cukup lama agar menghasilkan tekstur dan taste yang benar benar nikmat.
Beberapa tahun yang lalu saat ibu meminta agar di kebumikan di desa ia di lahirkan. Rey dan Dion pun berusaha memenuhi amanat beliau. Sekarang ia sudah berada di desa tersebut. Rumah masa kecilnya dulu masih ada sepupu dari ibu yang tinggal di rumah itu. Rey biasa memanggil bukde karena strata beliau yang lebih tua dari almarhumah ibunya.
Di desa ini banyak rumah penduduk yang menghadap langsung ke sawah dan ladang. Saat membuka pintu dan jendela rumah siapapun segera bisa menatap pemandangan indah yang telanjang tanpa halangan. Sebuah jalan desa yang tak terlalu lebar membelah sawah dan ladang. Saat cuaca cerah langit di atasnya terlihat sangat biru. Melihat komposisi sawah, ladang, jalan dan langit yang memayunginya, kita segera akan teringat pemandangan yang sering kita tiru saat pelajaran menggambar di waktu TK atau SD dulu.
Sawah di desa sangat luas. Menatap ke arah kejauhan terlihat deretan bukit yang seolah-olah memagari sawah. Untuk melihat ujung sawah kita perlu berjalan menyusurinya. Sawah-sawahnya dipenuhi padi yang meninggi yang warna hijaunya menyejukan mata. Ujung-ujung daunnya yang meruncing bergoyang tertiup semilir angin musim kemarau. Sebagian sawah itu digarap oleh pemiliknya sendiri. Namun, ada juga sawah yang ditanami dan dirawat oleh penduduk setempat yang bekerja kepada penduduk lainnya sebagai pemilik sawah.
Makam Ibu terletak di tengah hamparan sawah. Ditambah lagi aliran air sungai yang terdengar riuh mengalir, membuat suasananya begitu alami, syahdu, dan indah. Sayang, meski di gapura masuk makam tersebut terpampang jelas bahwa itu makam khusus muslim, tetapi ada penghuni kubur dari agama lain.
“Ibu ajeng kula pindahkankah kuburanipun?” tanya Rey berdialog imajiner saat itu.
Ora usah, Le, Ibu wes senang bisa berkumpul dengan keluarga Ibu di sini. Kalau Ibu pindah, nanti mbah-mbahmu siapa yang temani? Terdengar suara Ibu dengan senyumnya yang sangat Rey rindukan, meski bibirnya tidak bergerak sedikit pun ketika mengatakan itu. Rey pun paham apa yang dimaksud oleh almarhumah.
“Assalammualaikum!” teriakku dari luar rumah yang terlihat sepi, dengan semua pintu terbuka.
Terdengar sahutan dari dalam, “Waalaikumsalam.”
Lalu, tampak sosok wanita yang rambutnya telah dipenuhi dengan warna putih. Lamat-lamat ia coba mengenali Rey yang sengaja tak memberitahukan kedatangan sebelumnya. Tiba-tiba wanita itu langsung memeluknya, mungkin ia baru mengenali—keponakan yang paling mbelingan. Ya, wanita tua itu adalah bukde Rey, kakak sepupu dari almarhumah Ibu. Alhamdulillah, hingga hari ini beliau diberi umur yang panjang. Bukde juga yang selalu merawat dan menjaga makam keluarganya, termasuk makam Ibu. Kini ia hidup dengan kedua anaknya yang masih setia menjadi bujang lapuk. Suaminya juga sudah lebih dulu pergi meniggalkan dirinya karena sakit. Sementara anaknya yang lain sedang berada di luar kota, merantau disana.
Bukde setelah mengenal sosok di depannya langsung ia membawa Rey masuk ke dalam rumah. Sambil menyibukkan diri dengan mencoba memasak, Bukde terus saja berucap karena saking senangnya dengan kehadiran ponakan yang selalu membuat masalah. Rey hanya tersenyum mendengar ocehan sang Bukde.
Bukde setelah mengenal sosok di depannya langsung ia membawa Rey masuk ke dalam rumah. Sambil menyibukkan diri dengan mencoba memasak, Bukde terus saja berucap karena saking senangnya dengan kehadiran ponakan yang selalu membuat masalah. Rey hanya tersenyum mendengar ocehan sang Bukde.
“Koe kenapa ra ngomong to le sakderenge mrene, bukde ra siap opo opo lho, ora masak juga.” (Kamu kenapa tidak ngomong sebelumnya jika mau ke sini, bukde ga ada persiapan, ga masak juga.)
“Boten nopo nopo bukde, sengaja kula kangge kejutan bukde noh.” (Tidak apa apa bukde, sengaja saya buat kejutan bukde.)
********
Keesokan harinya, Rey dan bukde sudah mempersiapkan perlengkapan untuk ziarah. Sebelumnya saat subuh sehabis solat, bukde langsung pergi ke pasar untuk membeli bunga guna ke makam tadi. Sejumlah uang yang di beri Rey tadi ia belikan kembang dan juga sarapan untuk orang orang di rumah. Setelah semuanya benar benar siap pergilah mereka, Rey, bukde dan salah satu anak bukde.
Pagi itu masih cerah, seperti biasa cahaya mentari terangnya ga ada akhlak, terang banget. Cahayanya mampu menembus rimbunnya pohon bamboo yang menjulang tinggi. Sepanjang jalan setelah dari rumah bukde tadi mereka memasuki area yang sangat rimbun. Sisi kiri dan kanannya penuh dengan pohon bamboo yang besar besar. Awalnya hawa yang Rey rasakan sangatlah sejuk meski cahaya mentari menerpa kulitnya tidaklah panas yang ia rasakan. Namun ketika memasuki area tersebut, ia seperti sedang berada di alam lain.
Rey mencoba bershalawat dalam hatinya. Ia pasrahkan semuanya pada sang Illahi. Perasaannya mulai tidak nyaman saat itu. Tapi ia berusaha tetap tersenyum sambil mengajak ngobrol bukde dan anaknya. Hanya Rey yang merasakan keanehan di lokasi itu.
“Bukde bisa duluan ya, nanti kula nyusul ke makam, kula ada yang tertinggal tadi.” Rey beralasan agar bukde dan anaknya pergi duluan ke makam. Jarak rumah ke makam sebenarnya tidak lah jauh, sekitar 1 km dari rumah bukde tadi hanya jalannya yang berkelok kelok. Di tambah lagi medan jalan yang belum tersentuh pengecoran dari pemerintah.
Setelah merasa bukde dan anaknya cukup jauh dari pandangan Rey, baru lah ia beraksi.
“Keluarlah kalian, untuk apa mengawasiku?”
Dari rerimbunan pohon bamboo itu keluar sosok makhluk astral dengan aneka bentuk dan rupa. Tidak ada satupun yang menunjukkan wajah yang bersahabat. Mulai dari yang kecil hingga yang besar semuanya ada. Rey hanya tersenyum melihat mereka.
“Maafkan atas kelancangan kami tuan. Kami tidak bermaksud jahat pada tuan.”
Tiba tiba semua yang hadir menunduk hormat pada Rey. Ia jadi bingung mengapa jadi berubah menyembah dirinya.
“Lha saya kira kalian ingin mengusik saya.”
“Maaf tuan, kami tidak bermaksud demikian. Kami di utus oleh raja untuk mengundang tuan muda ke istana kami.”
“Maaf, sampaikan saja pada rajamu, saya masih ada ada urusan yang lebih penting.”
“Mohon tuan pertimbangkan, tuan.”
“Maaf om, sekali lagi saya mohon maaf belum bisa untuk saat ini.”
“Baiklah kami semua pamit undur diri, silahkan tuan melanjutkan perjalanan.”
Setelah mereka hilang dari pandangan, Rey kembali melanjutkan jalannya menuju pemakaman. Ia agak percepat langkahnya agar bukde tidak terlalu lama menunggunya.
Begitu tiba di permakaman, terlihat sosok-sosok buruk berhamburan meninggalkan permakaman. Yang berada di pepohonan besar juga hanya terdiam seakan-akan tak berdaya. Ia hanya tertunduk tanpa berani sedikit pun mendongakkan kepalanya. Padahal Rey sedikitpun tak menghiraukan mereka. Ia malah langsung duduk di sisi makam ibunya. Mengambil buku Yasin yang telah ia siapkan dan sejurus kemudian membacanya perlahan lahan. Tanpa terasa air mata Rey menetes. Ia coba hentikan sejenak. Ia merasa kangen berat dengan ibu. Perasaan akan banyaknya dosa yang telah ia perbuat semasa ibunya ada membuat ia merasa sangat bersalah dengan ibu. Apalagi Rey belum sempat membahagiakan ibu.
Beberapa saat kemudian ia melanjutkan kembali bacaan yasin yang terputus tadi. Hingga selesai dan matanya sudah mengering dari air mata tadi. Lalu Rey menutup dengan doa fatiha 4 untuk sang ibu. Selesai dengan doa, ia menyiram air dan kembang yang telah ia bawa dari rumah dengan bukde tadi.
Tanpa terasa sudah sejam Rey berada di makam itu. Sudah saatnya untuk ia kembali ke rumah dan melanjutkan kuliahnya. Sebelum balik ia hampiri semua makam saudara saudara dari ibu yang juga berada di lokasi makam yang sama. Rey juga merasa tidak tahan harus berada lama lama di makam tersebut karena aura kesedihan yang begitu kental terasa. Ia hanya bisa mendoakan semuanya yang berada di makam tersebut, agar bisa mendapatkan tempat yang lapang di alam kubur.