Pertemuan Rey dan Aksa

1789 Kata
“Nah begitu cerita bro, kenapa aku dan Aco ngotot minta lu datang kemari. Kan setau gue lu indigo.” “Hahaha, indomar*t kali ah, lu ngadi ngadi wae bro.” “Gue ngarep lu bisa bantu jelasin lah bro, tu anak sableng ada apanye, kok bisa sakti gitu?” “Lha sekarang yang lu pada bahas orangnye dimane?” “Orangnya lagi minggat bentar ke kampung sebelah, ngejar jande mane ga jelas tu anak.” “Hahahaha, beneran orangnye pecinta jande gitu, ngaco lu pade.” “Udeh ga usah urus bagian itunya, ga ada habisnya tu bocah klo soal wanita.” Karena tersangka utama lagi tidak di tempat, obrolan mereka jadi ngalor ngidul. Mereka semua tertawa bersama saat membahas hal yang lucu. Hingga tanpa terasa sudah satu jam sang tamu berada di rumah itu. Begitu juga nasib si gorengan yang mengenaskan tak bersisa di piring. Si kopi apalagi, sebelas dua belas nasibnya dengan pisang goreng yang lebih dulu habis. “Dudu, d**a, didi, dudadi …” dari luar rumah terdengar seseorang yang sangat tak asing sedang bernyanyi tak jelas. “Assalammualaikum.” Dengan wajah innocent ia masuk ke rumah. Terlihat suasana hatinya seperti sedang bergembira. “Waalaikumsalam.” Balas mereka bertiga. “Rey, kemari dulu bentaran, ada yang mau gue omongin dengan lun.” “Eh ada tamu, sori rada ga sopan.” Rey lalu menyodorkan tangan kanannya untuk berkenalan dengan tamu Aco dan Alex. “Nama gue Rey Arsyad, panggil saja Rey ganteng.” “Yoi bro, gue Aksa. Senang kenal denganmu Rey.” “Lex buatin kopi dong, masa tamu lu anggurin.” “Kampret lu, klo ga ada tamu tadi dah gue gibeng lu Rey.” Alex memaki sambil berlalu ke dapur. “Rey ini temen gue yang tadi gue ceritakan ke elu sore tadi.” Sahut si Aco. “Wah anak dukun lu ye, eh indigo maksudnye, sory bro.” “Serius nih Rey. Dia bantu jelasin ke gue dengan Alex tadi, tapi kurang afdol tanpa lu.” Aksa lalu menjelaskan panjang lebar mengenai sosok yang di lihat pak dalang sore tadi dan kenapa yang kesurupan pada nyembah Rey. “Pertama, sosok yang bersamamu itu wali yang hebat dan sangat terkenal. Beliau berasal dari Demak. Sebelumnya gue nanya dah, lu ada darah dari sono ga, maksud gue punya keturunan dari Demak?” “Ojo guyon, Rek, turunan opo, tho, Bro?” Rey menanggapi dengan canda, ia tak percaya dengan apa yang dikatakan Aksa. Melihat Rey yang tak yakin Aksa hanya membalasnya dengan senyuman. “Lu itu orang pilihan Rey, lu ga bisa nolak, meski selama ini ga mau percaya bahwa mereka ada …” “Eh, kok tau lu gue orangnya ga percayaan?” “Nyokap lu orang Jawa kan Rey?” “Nah pinter banget lu, tebakan lu tepat lagi bro.” “Ini bukan tebakan bro, gue tau karena itu di belakangmu dari tadi ada Eyang.” Rey terdiam sejenak, dadanya tiba tiba berdegup dengan kencang. Memang selama ini ia tidak pernah percaya apa yang di katakan oleh Bang Dion. Semenjak ibu pergi, Eyang itu selalu berada di dekat dirinya. “Lu itu titisan bro, percaya dah apa yang gue omongin.” “Stop deh bro, mulai ngaco nih obrolan kita. Gue benernya dah males bahas ginian. Abang gue juga sama dengan lu, bisa lihat gituan juga. Dah lama dia minta gue meyakini apa yang dia lihat, tapi gue nya selalu nolak. Gue orangnya yang begini bro, cukup percaya tapi tidak untuk gue yakin sungguh sungguh.” “Gue paham maksud lu bro, tapi ini sudah takdirmu. Meski sekeras apapun lu nolak ga bakal bisa bro. Semua sudah jadi ketentuan-Nya bro. Ga semua orang bisa beruntung seperti elu lho bro. Orang kebanyakan pada nyari ilmu yang ginian, lha elu malah nurun langsung lho bray, kurang apa lagi coba?” “Entahlah bro, sudah lama memang ini jadi perdebatan dalam hati gue untuk nerima keadaan ini. Tapi masih ada keraguan, gue ga yakin bisa.” “Maksud lu?” “Gue ngerasa ga pantes bro. seharusnya bukan gue yang menerima ini. Kenapa bukan abang gue yang sayang dengan gue atau orang lain yang memang bener bener pantes. Gue slengean begini, lima waktu juga jarang, kadang solat ied doang baru bisa ke masjid itupun dah nyaris salam. Puasa juga banyak bolongnya. Makanya gue heran kenapa mesti gue sih?” “Semua itu rahasia Allah, Rey. Dia Maha Mengetahui siapa yang pantas atau tidaknya.” “Paham gue bro.” Kedua sahabat Rey, Aco dan Alex hanya termangu mendengar percakapan Rey dan Aksa. Mereka bingung ingin menanyakan apa pada mereka. Rasanya semua mustahil bisa terjadi begitu saja. “Nah bro, sekarang dah jelas kan kenapa pak dalang tadi sore agak terganggu acaranya. Terus ada yang kesurupan tapi malah nyembah kawan kita ini bukan ke dalangnya.” “Lu Rey, kalau ke acara begituan pasti ga bakal jadi itu acara yang pakai kesurupan, makan beling lah atau yang aneh aneh diluar batas kemampuan manusia. Itu semua karena Eyang mu. Aura beliau sangat istimewa itu bro, beruntung banget lu bisa jadi titisan beliau.” Rey lalu bercerita pengalamannya selama ini yang menurut dia aneh. Sebenarnya ada rasa percaya dan tidak mengenai hal begini. Ia kadang merasa seperti orang aneh jika ada firasat yang kurang enak dalam hatinya. “Pernah waktu sekolah saat ada kerasukan massal. Yang kerasukan pada takut semua begitu ngelihat gue, mereka pada kabur menjauh. Malah ustadz yang mau ngobati mereka jadi babak belur di kerjai mereka.” “Kadang gue juga merasa bukan jadi diri sendiri. Saat berada di tempat yang asing, gue ketemu dengan orang yang belum pernah kenal sebelumnya, eh tau tau main cium tangan gue. Di kira gue mantan nyokapnya kali ye.” “Somplak lu Rey, masih sempet aja lu bercanda.” Maki si Aco. “Ok dah bro, dah malem juga nih, gue pamit dulu ye. Ga enak ntar di cari bu kos, di kuncinya bisa berabe gue tidur di luar.” “Ok thanks lho bro dah repot repot mau kemari.” “Ah ga lah, malah seneng gue, nambah sodara lagi dong gue.” Alex dan Aco lalu melirik Rey dengan wajah lugunya. “Aduh jangan dah, jangan mau lu jadi sodara orang somplak begitu.” Hahahaha… mereka tertawa bertiga. Semenjak saat itu hubungan Rey dan Aksa semakin akrab. Ia jadi tahu sedikit mengenai leluhurnya meski sebenarnya dalam hati ia tidak begitu yakin. Tapi Rey justru harus berpisah dengan Aco dan Alex karena masa kuliah sudah di mulai. Sebenarnya ia tak perlu berpisah jika saja lokasi kampus dan rumah kontrakan mereka tidak jauh. Hanya kampus Rey yang cukup jauh yang harus gunakan dua kali angkutan umum. Kali ini ia pindah ke kos yang tidak jauh dengan kampusnya. Seiring waktu Rey mendapat banyak teman, baik cowok maupun cewek, baik yang alim maupun yang melenceng kelakuannya. Sejak kenal dengan teman yang kurang baik, ia sedikit banyak mulai terpengaruh. Rey dulunya sangat rajin ibadah, lima waktu tidak pernah sedikit pun terlewatkan, yang sedikitpun tak pernah menyentuh rokok apalagi narkoba. Semenjak kenal dengan teman-teman yang suka akan hal-hal negatif, Rey pun jadi terpengaruh. Apalagi pasca di tinggal ibunya. Ia mulai belajar merokok dan lima waktu perlahan mulai ia tinggalkan. Puasa full sebulan tidak dijalankan, banyak bolongnya. Malah ia berbuat maksiat dengan hubungan seks bebas dan judi Semakin lama persahabatan mereka semakin akrab. Rey dikenalkan oleh teman-temannya tentang dunia mereka, padahal awalnya Rey hanyalah orang biasa. Rey melihat mereka dengan mudahnya mendapatkan apa yang mereka inginkan. Semua modal mereka miliki. Sementara Rey? Jelas ia tidak akan bisa menyaingi mereka. Mulai dari duit, pakaian, kendaraan, narkoba, wanita, semuanya ... dengan mudah mereka dapatkan. Padahal, tampang mereka biasa-biasa saja, malah kalau dibanding dengan dirinya, masih menang Rey. Hanya ada satu seorang teman di antara mereka, yang kelihatan lebih menonjol dari segi fisik maupun materi. Namanya Ahmad, blasteran Arab dan Banjar, Kalimantan. Bisa dibayangkan bagaimana model Ahmad. Bodi seperti model, orangnya cool abis, kulit putih, hidung model arab, pokoknya hampir perfectlah. Hampir semua modal ia miliki, physicly OK, boilnya Esteelo, Bro. Jadi jangan heran kalau cewek melihatnya, pasti klepek-klepek. Rey semakin akrab dengan mereka, termasuk si Ahmad. Namun, dari sekian teman, hanya si Ahmad yang Rey rasa semakin lama semakin ganjil tingkahnya. Hanya Ahmad yang paling setia dengan pasangannya, setiap diuji dengan kenalan cewek baru, ia pasti menolak dan menjauh. Bahkan, kesannya ia seperti ketakutan, seperti melihat demit Valak. Padahal, cewek itu rata-rata parasnya di atas kecantikan pacarnya saat itu. Jika saja Rey yang berada di posisi Ahmad, sudah pasti ia tak akan menolak, malah akan pasrah dengan senang hati. Pernah suatu hari, ketika Ahmad lagi ribut dengan pacarnya, habis-habisan Ahmad dimaki-maki oleh pacarnya dan itu terjadi di indekos Rey, di depan anak-anak indekos yang sedang kumpul. Si Ahmad hanya tertunduk tanpa bisa mengeluarkan kata-kata sedikit pun, seperti kerbau yang dicoloki hidungnya. Padahal, kalau dilihat-lihat, cewek Ahmad tidak cakep-cakep amat. Standar saja kalau menurut Rey. Kadang kala Ahmad pernah ditampar oleh Diana, cewek Ahmad tersebut. Rey dan teman-teman sekumpulan sudah sering menasihati Ahmad agar menjauh atau memutuskan Diana, tapi Ahmad hanya terdiam, entah apa yang ada dalam pikirannya saat itu. Sampai berbuih mulut Rey dan teman-teman menasihati, tetap saja Ahmad diam seribu bahasa. Mereka memancing Ahmad dengan yang lebih baik dari Diana pun, tetap ia menolak, tidak b*******h. Suatu hari, ketika Rey dan teman-teman sedang kumpul-kumpul di indekos, ada yang berinisiatif untuk membantu Ahmad, atas dasar rasa iba, juga ada kecurigaan teman-teman pada hubungan Ahmad dan pacarnya. Hasil rembukan hari itu mereka memutuskan untuk mencari “orang pintar” guna mendeteksi ada apa dengan Ahmad. Namun, hasil rembukan tersebut sengaja disembunyikan dari Ahmad, agar ia tidak tersinggung. Rey dan teman semua bergerak menyebar info untuk mencari orang yang benar-benar memiliki “kemampuan” yang dianggap mumpuni. Selang beberapa hari, barulah mereka mendapatkan info yang benar-benar valid. Pergilah keempat orang itu termasuk Rey yang mewakili teman-teman satu kos. Letak rumah orang pintar itu cukup jauh jarak tempuhnya dari indekos mereka. Kurang lebih dua jam waktu yang mereka tempuh untuk mencapai rumah orang tersebut. Ditambah lagi medan yang harus mereka lalui cukup berat karena rumahnya berada di daerah terpencil dan berdiri sendirian. Setiba di sana, mereka disuguhi pemandangan yang tak lazim. Rumah orang pintar itu seperti rumah dukun yang ada di film-film horor. Di sekelilingnya tak ada tetangga seorang pun. Kalaupun ada, jaraknya cukup jauh. Belum lagi pepohonan besar di sekitar rumah tersebut, menambah kesan seram. Namun, karena sudah kepalang basah, mau tidak mau harus mereka menuntaskan misi mereka. Mereka disambut oleh seorang wanita tua. Meskipun saat itu siang hari, seorang nenek yang seharusnya terlihat biasa, nyatanya jadi terlihat menyeramkan. Kedua teman Rey ketakutan dan ragu-ragu mau melanjutkan. Hanya Rey dan satu temannya yang berani, Edo, yang berani maju.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN