Pindah ke Kampung

1392 Kata
Perjalanan untuk Rey sekarang sedikit terkurangi bebannya sebab bertepatan sebelum abangnya menutup warungnya secara permanen. Meski sempat diragukan oleh Rey, keputusan yang diambil oleh abang Dion sudah mutlak dan tidak mau melanjutkan jalan rejekinya di warung. Karena tadi masalah keuangan yang tidak bisa untuk menambal semua tagihan yang ada. Seperti gaji karyawan, kebutuhan sehari-hari, jatah bulanan Rey, dan uang untuk modal itu sendiri. Semuanya terlalu pas dan tidak ada lebihnya, hal tersebut yang membuat Dion memutuskan untuk memberhentikan warung peninggalan ibunya itu. Setelah dua minggu kelulusan Rey, abang Dion pun langsung mengabari bahwasannya warung akan ditutup bulan depan dan menanyakan pada Rey apakah Rey ingin tinggal di kampung setelah lulus atau langsung mencari kerja di Jogja? Dan menurut Rey akan dipertimbangkan dulu sampai upacara pelepasan mahasiswa yang lulus. Rey malah mengajak abang Dion untuk bisa ke Jogja menghadiri acara wisudaannya. Tetapi Dion masih ada beberapa urusan dan menjawab dengan jawaban aman yang mana bisa saja kalau ada waktu Dion mendatangi Rey, dan kalau tidak ya dia tetap di kampung untuk mengatur semua kehidupannya dan mempersiapkan kehidupan Rey jika Rey berkeputusan untuk pulang kemari dan mencari peruntungan di kampung. Oleh karenanya Rey dan abang Dion pun selalu intensif berkomunikasi melalui pesawat telepon. Jika ada kabar mengenai lowongan maka akan saling berkabar. Baik Rey jika ada lowongan di Jogja dan bekerja disini atau sebaliknya jika abang Dion memiliki lowongan di kampung yang prospektif maka Rey tidak menutup kemungkinan untuk bekerja di kampung dan malah menemani abang Dion disana. Singkatnya abang Dion diterima di perusahaan logistik milik Koh Ming Ay tepat setelah beberapa waktu yang lalu telah menutup warung peninggalan Ibunya. Meskipun banyak yang menyayangkan keputusannya, Dion tetap teguh dan yakin dengan keputusan yang diambil. Imbasnya banyak pelanggan yang mengeluh karena tidak ada warung yang seenak warungnya itu. Dan mantan-mantan karyawannya pun sedikit bersedih karena tidak ada bos yang seluwes dan seroyal Dion yang memiliki hubungan begitu dekat dengan karyawannya sendiri. Banyak yang kecewa, tetapi ia tidak peduli. Dan ini sudah jadi jalannya untuk dilalui. Tiga tahun berlalu… Kini Dion telah memegang bagian penting di perusahaan logistik itu, dan ia dimandati sebagai tangan kanan Koh Ming Ay, sehingga segala apa-apa yang berkaitan dengan Koh Ming Ay bisa melalui Dion terlebih dahulu. Hal tersebut Dion dapatkan karena pengalamannya selama di warung yang banyak berkecimpung dalam dunia keuangan, kedisiplinan, dan kejujuran. Dimana hal tersebut sangat jarang dimiliki oleh banyak orang. Dion pun mendapat pangkatnya yang sekarang bukan tanpa kendala, ada banyak tidak suka dan iri atasnya. Bahkan melalui jalan-jalan ghaib dan klenik ia sering diganggu. Tetapi lagi-lagi, karena Dion diberkati kelebihan yang dititisi oleh Eyang Demak ia tidak mudah menyerah begitu saja jika dihadapkan oleh situasi yang membuatnya gentar. Dan karena tahun pertama kerja dan kedua Dion masih menjadi karyawan biasa, ia tidak dapat memasukkan Rey ke perusahaan ini. Sekarang karena Rey sudah lama lontang-lantung di Jogja dan di Malang. Akhirnya Dion mengajak Rey ke kampung untuk bekerja bersamanya. Meskipun setelah lulus Rey sempat bekerja sebagai kurir buah online, dan SPB di pusat perbelanjaan di Jogja. Bahkan di Malang ia sempat jadi calo tiket sepakbola. Apapun ia lakukan, asal untuk menyambung hidup. Kehidupannya di Malang sebenarnya saat itu ditemani oleh Aksa dan Robin. Karena Rey dan Robin saat itu adalah lulusan baru yang segar. Dan Aksa berencana awalnya hanya berniat mengajak mereka liburan di Malang. Tidak disangka malah Rey mendapatkan sampingan menjadi calo tiket, dan hasilnya pun lumayan. Mereka sementara tinggal di Kost-kostan Aksa. Hanya beberapa bulan sebagai calo tiket, akhirnya saat Rey mendapatkan tawaran dari Dion yang sekarang sudah jadi tangan kanan bos, Rey langsung mengiyakan. Hal tersebut ia terima karena satu, ia sangat kangen dengan kampung dan abangnya. Dua, ia sangat ingin hidup di kampung saja ketimbang di Kota. Tiga, karena menurutnya kekayaan Koh Ming Ay yang tidak habis-habis sehingga prospek kerjaannya akan berjangka panjang walau gajinya harian. Dan menurutnya gaji harian di tempat Koh Ming Ay lebih besar daripada gaji harian buruh di kota-kota besar di Indonesia bila dirata-rata melalui penghitungan harian. Dalam perjalanannya, karena Rey sudah merasa dekat sekali dengan Robin lagi. Akhirnya ia memaksa Robin untuk bergabung bersamanya. Awalnya ia hanya menawarkan untuk sekedar main dan liburan di kampung saja. Tetapi akhirnya Rey dan Robin justru kini sama-sama jadi bawahan abang Dion. Kinerja Rey dan Robin sebenarnya sangat baik, abang Dion pun menempatkan mereka di posisi yang menurut bang Dion cukup cocok bagi keduanya yang pertama adalah untuk Rey, yang ditempatkan di bagian angkat-angkat barang atau kuli angkut, supir mobil, dan kadang jadi mandor bila ada muatan logistik. Sedangkan, untuk Robin berkaitan dengan keuangan karena otak Robin sangat encer. Meskipun tidak banyak berubah deskripsi pekerjaannya si Robin. Robin hanya ditugaskan untuk bidang keuangan dan administrasi yang mana langsung bertanggungjawab dengan Dion dan Koh Ming Ay. Sedangkan Rey, ia tak malu meski lulusan sarjana dan pangkat kerjanya hanya sebatas kuli angkut dan semacamnya. Yang ia malu adalah jika sebagai laki-laki ia hanya berdiam diri tak melakukan sesuatu tanpa usaha sedikitpun dan kerjaannya hanya mengeluh saja. Berbedari dari Rey, Robin justru sedikit malu bekerja karena ambisinya untuk bekerja dengan prestise yang tinggi seperti macam di kantor tidak berhasil ia dapatkan. Jaman sekarang banyak orang menganggur dan banyak lowongan pekerjaan yang mangkrak karena skill dan kompetensi serta sumber daya manusianya yang kurang, yang menjadi keniscayaan juga adalah persaingan yang begitu ketat sehingga banyak membuat lulusan sarjana seperti Rey dan Robin menjadi kalah saing bila tak memiliki satu nilai yang bisa ditawarkan pada sebuah tempat atau perusahaan yang akan dilamar. Walau begitu, Rey dan Robin akhirnya sejalan dan menerima takdirnya untuk bekerja di kampung Rey. Setidaknya untuk mendapatkan uang dan menyambung hidup serta membantu keluarga. Karena biasanya jika Robin mendapatkan bonus maka akan ia kirim kepada ayahnya di rumah. Dan gaji bulanannya pun beberapa persen ia sisihkan untuk ayahnya. Untuk selanjutnya, mereka tinggal bersama sementara di rumah Dion peninggalan ibu dan ayah mereka. Dan menurut Rey serta Dion, biarkan Robin tinggal disitu untuk menemani mereka dan agar Robin bisa menghemat agar tak perlu membayar uang sewa bangunan jika seandainya menginap di kost atau kontrakan lagi. Hubungan mereka berjalan begitu harmonis, selama beberapa bulan awal hingga tahun pertama berakhir. Apalagi Rey, ia begitu senang saat Dion bisa membolehkan Robin datang kesini. Jika mereka sedang ada rapat bulanan dengan Koh Ming Ay, pasti mereka dan banyak karyawan akan diajak bertamasya dengan kampung untuk sekedar makan besar bersama ataupun pergi ke tempat wisata. Disetiap rapat bulanan itu, evaluasi-evaluasi seringkali timbul dari kinerja Robin yang menurut Koh Ming Ay tidak lebih baik dari Dion sendiri. Bahkan Koh Ming Ay sempat berpendapat secara pribadi kepada Dion langsung bahwa Robin itu tidak lebih berguna dari adiknya, Rey. Yang mana kerjaan Rey dinilai sangat baik ketimbang dengan kerjaan Robin yang terkadang tidak stabil membuat laporan pembukuan yang sering keliru dan salah. Tetapi karena itu sudah menjadi tanggungjawab Dion akhirnya jika Robin sudah menyelesaikan tugas, langsung Dion cek ulang sebelum dicek lagi oleh bos besar, dan ternyata benar saja penilaian Koh Ming Ay, bahwa kinerja Robin tidak stabil. Bisa minggu ini baik, bisa saja melorot minggu depannya. Begitu juga jika bulan ini melorot, bulan depan bisa baik. Makanya, setiap Dion mengecek ulang hasil kinerja Robin, terpaksa ia harus bekerja dua kali karena kerjaan Robin yang kurang becus. Dion mengakui rela melakukan itu karena sudah menganggap Robin seperti Rey adik kandungnya sendiri. Sebagaimana seorang kakak yang baik, seharusnya Dion melindungi, menjaga, dan mengayomi Robin seperti yang ia lakukan untuk Rey. Meski begitu Dion tidak pernah membicarakan ini pada Robin langsung, jangankan pada Robin pada adiknya sendiri, Rey saja ia tidak mau memberitahukannya. Menurutnya kesalahan yang dilakukan Robin masih dalam proses belajar dan masih bisa dimaklumi. Namun kesalahan Dion dan Rey adalah karena terlalu percaya pada sosok Robin. Dimana mereka tidak pernah menegur dan membetulkan kerjaan Robin yang sering salah. Mereka selalu memaklumi. Tetapi hal inilah yang suatu saat akan membuat mereka merugi. Hal tersebut karena Robin sedang memakai perangai baiknya sehingga memanipulasi semua orang, termasuk Rey sendiri. Saking percayanya mereka pada Robin. Robin pun tidak pernah mendapat evaluasi langsung dari Koh Ming Ay, karena Robin selalu dibela oleh Dion. Dion Arsyad yang mempunyai sifat pengayom dan suka membela yang lebih junior atau muda darinya membuat ia banyak digandrungi dan dijadikan bos favorit oleh para bawahannya. Sementara itu, Koh Ming Ay berujar pada Dion, “kita beri waktu satu tahun lagi. Jika kerugiannya masih aman menurut Dion dan saya, maka kita kasih dia kesempatan ho…”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN