Kekesalan Rey

1725 Kata
Rasa kecewanya pada Dion benar-benar Rey rawat untuk beberapa waktu yang cukup lama, sebab tidak sepatutnya abang Dion lebih membela orang lain daripada dirinya yang notabenenya sebagai saudara kandungnya sendiri. Menurut Rey itu adalah hal yang sangat aneh, bukan tentang masalah uang, lebih dari itu menurutnya ini sedikit banyak menyangkut hal yang berkaitan dengan kehormatan. Kehormatan yang berkaitan dengan harga dirinya. Harga diri yang dapat memengaruhi perasaan. Setiap perasaan yang tercipta dan terpantik karena sebuah harga diri itu bisa positif dan negatif, jika positif maka yang akan tercipta adalah perasaan baik seperti kasih, sayang, dan cinta. Sebaliknya, jika yang perasaan yang tercipta negatif maka harga diri bisa memunculkan benci, amarah, dengki, hasut, dan berbagainya yang hanya akan bermuara pada sebuah kemudharatan. Tetapi bagaimanapun Eyang Demak tidak berdiam diri begitu saja melihat yang dialami kedua cucu kesayangannya tengah bertikai. Karena jika hal tersebut dibiarkan begitu saja, dikhawatirkan akan muncul beberapa hal yang tidak diinginkan. Karena bukan tidak mungkin jika hal ini dibiarkan berlarut-larut bukan tidak mungkin akan kian menggunung dan menjadi keduanya meledak yang disebabkan oleh akumulasi kekecewaan yang terpendam dan tidak terlampiaskan. Maka dari itu Eyang Demak menyuruh Dion untuk sedikit mengecilkan keakuannya pada Rey, apalagi Rey yang memang masih dalam tahap pematangan untuk jati dirinya. Eyang Demak juga menyuruh Dion untuk terus menurunkan sedikit nada bicaranya dan cukup berlaku mengalah terus menerus pada Rey sehingga akan ada waktunya nanti Rey akan meluluhkan batu keras dalam jiwanya, sehingga antara Rey dan Dion bisa kembali menjadi satu kesatuan sebagai saudara yang serasi. Sementara itu dari sisi Rey, masih saja memendam kesal yang serupa walau jika melihat abangnya yang pulang ke rumah dengan raut muka yang sangat mengenaskan dan kasihan. Sedikit banyak membuat diri Rey sebenarnya merasa iba meski disembunyikan betul-betul, karena gengsi Rey yang begitu tinggi. “Rey, sampai kapan mau marahan sama gue?” sapa Dion kepada Rey di hari yang keberapa Rey ngambek dengan Dion. “Kayak cewek banget lu ah!” “Abang beneran, minta maaf sama lu Rey. Yo mosok sih aku tenanan mbelani awak e Robin timbang awakmu? Gak mungkin tho. Mangkane Rey, seng wes yo wes.” (Masa sih aku beneran membela Robin daripada lu? Gak mungkin kan. Makanya Rey, yang sudah ya sudah). Dion terus saja mendekati Rey dan merendahkan diri di hadapan adiknya yang tersayangnya itu. Dalam hati Dion tidak pernah sekalipun terbersit menyakiti hati Rey sama sekali. Tetapi, Dion juga memahami gejolak muda yang ada dalam diri Rey karena Dion juga saat seusia Rey sama eksplosifnya dengan Rey. “Abang cuma ngasih apa yang sesuai sama kinerjanya, lu juga dulu begitu kan, diantara karyawan biasa karena lu kerjanya paling banter ya dibonusin Kokoh? Robin juga dulu kalau ada salah dan keliru dibegis Kokoh juga kan? Rey… Dengerin abang juga sebenarnya ga mau jadi bos besar begini. Bukan soal duit, gue juga tahu lu marah-marah dan murka sama gue bukan karena duitnya, tapi lu ngerasa kalau gue pilih kasih ke Robin. Gue tahu, paham banget gue. Abang semenjak jadi bos begini, pusing Rey harus mikirin banyak hal yang dulu ga abang pikiran pas jadi tangan kanannya Kokoh. Berat jujur. Masa iya sih lu tega mau nambahin tambah berat lagi. Ini masalah bukan apa-apa kok Rey, gue kepikiran bener karena gue ga mau nyakitin lu. Lu satu-satunya yang gue punya Rey…” (*begis = dimarahi) jelas abang Dion penuh dengan siasat dan sentimen keseriusan dan ketulusan. Dan seperti kata pepatah yang bilang – apa yang keluar dari hati akan masuk juga ke hati lagi. Mungkin karena ini berasal dari hati abang Dion, dan bukan tidak mungkin beberapa saat lagi akan masuk ke hatinya Rey. Supaya ia bisa sadar dan mengetahui bahwa ribut-ributnya ini harus segera disudahi, karena dapat menimbulkan syubhat yang menyambar-nyambar dan benih-benih kemudharatan sehingga akan merugikan baik Rey maupun abang sendiri. Setelahnya, Rey hanya kikuk dan diam saja. Dan seperti biasa berlalu pergi lagi ke kamar mandi karena kelelahan bekerja seharian. Di kamar mandi pun ia tetap kepikiran. Dalam pikirannya mengatakan, apa yang ia lakukan pada abang Dion sebenarnya salah dan tidak pantas seorang adik sampai memperlakukan kakaknya seperti itu. Bagaimanapun juga jeleknya abang Dion, tetap saja jika Rey sedang terpuruk dan tertatih orang yang pertama akan menolong ya siapa lagi kalau bukan abang Dion. Sebab orang lain itu takkan mungkin menolong Rey bila tidak ada maunya. Pasti selalu ada maunya. Dan biasanya maunya itu akan memeras orang yang ditolong. Ada-ada saja manusia-manusia zaman sekarang lebih berharap pada apa yang terlihat di luar daripada di dalam. Setelahnya lagi, Rey baru sadar dan ia langsung merasa menyesal disaat ia selesai ngeden saat mencret dan membuang air besar dengan feses yang kaku besar-besar. Ia menyesal karena seharusnya tadi ia langsung menjawabi ungkapan maaf abang Dion biar nanti keadaan tidak lagi canggung, bagaimana nanti kalau ia gengsi-gengsi terus dan malah jadinya abang Dion marah beneran pada diri Rey. Bisa berabe kan? Pikirnya melayang tinggi secara berlebihan. Kini ia jadi bingung dalam mandinya, bagaimana agar supaya keadaan tidak canggung lagi diantara mereka. Sebab benar sekali, gengsi Rey sangat tinggi sehingga tidak mau harus mendahului obrolan. Ia harus didahului baru ia mau bercengkerama seperti biasa lagi. Seperti itulah Rey, kalau tidak begitu maka itu bukanlah Rey Arsyad yang kadang konyol. Baru pulang juga Robin di Kostannya, sudah ditunggu Iblis didalam Kost dan tanpa aba-aba dan tanpa apa-apa, tiba-tiba Iblis menawarkan satu obrolan yang sedikit menguras batin Robin. “Kesempatan emas nih bin…” ujar Iblis pada Robin secara mendadak. “Lu kalau mau ngomong, yang jelas.” Dengan raut muka yang keletihan Robin mengernyitkan dahi seperti bilang ke si Iblis kalau ia sangat capai dan letih. Tawar Iblis “Kesempatan emas, kalau Rey sama Dion lagi cekcok. Kita bisa masuk nih. Gas ga?” kepada Robin dengan antusias. Iblis menambahi sebelum Robin bertanya, karena pasti Robin akan bertanya “Cekcok mereka disebabkan lu bin. Si Rey iri karena merasa abangnya pilih kasih sama lu. Lu harus manfaatin ini biar bikin mereka makin jauh dan tidak saling dekat lagi. Kesempatan nih, biar mereka bisa hancur-hancur secara bertahap.” “Seriusan lu?” “Lu tinggal pakai perangai yang lu mau aja, terus panas-panasin aja salah satunya. Meledak pasti udah. GGGRAAAHAHAHA!” sambil terbahak keras-keras Iblis berbicara pada Robin. “Jangan tawa b*****t, bau jigong lu!” Iblis merasa malu sekali karena sudah diledek Robin, ia lalu mengecek apa yang dikatakan Robin dan mengecap bau mulutnya sendiri. Ternyata benar, memang mulutnya bau jigong dan rasanya busuk sekali. “Habis makan apa sih lu?” tanya Robin pada si Iblis. “Biasa, gue main ke bangunan-bangunan kosong. Ada beberapa sejoli lagi pada bercocok tanam. Energi buruk mereka yang gue makan. Ya gimana lagi, gue laper banget. Daripada ga ada makanan bin…” sesal Iblis karena ia memakan sesuatu yang tidak biasa ia makan. Jika ada makhluk ghaib yang tingkatan sudah Iblis makanan yang paling “sehat” untuk mereka ada rasa dendam, amarah, benci, dan kecewa yang menggelembung sehingga ketika suatu saat dipecahkan oleh manusia dan meledak maka itu akan jadi kumpulan energi buruk yang terbang di atas udara. Sehingga membuat Iblis menikmati makanannya. Sedangkan para kroco-kroco yang levelnya jauh di bawah Iblis hanya bisa melihati saja. Ibarat seperti di dunia manusia. Makanan yang murahannya adalah mie instan yang dapat menimbulkan sakit pada tubuh manusia meskipun rasanya sakit. Nah makanan murahan daripada makhluk ghaib setingkat Iblis adalah makanan yang berasal daripada energi-energi buruk murahan manusia seperti tadi. Sehingga bagi Iblis pun meskipun rasanya enak, tetapi itu jika dikonsumsi terus menerus oleh Iblis akan membuat Iblis menjadi sakit sehingga kinerjanya untuk dapat mempengaruhi dan menjahati manusia yang baik-baik akan susah. Dengan begitu secara tak langsung tugas Robin juga akan terhambat karena hal ini. Ia tidak dapat dengan mudah menyuruh Iblis sebab Iblis kekurangan energi.            Akhirnya Rey mengalah kali ini dan bilang ke abangnya yang kebetulan saat itu menawari dirinya rokok. Ya memang keduanya hobi merokok, apalagi menjelang tengah malam. Bukannya waktu mereka dibuat untuk istirahat keduanya malah menikmati waktunya untuk menyelam dalam-dalam ke media sosial yang sejatinya berisi dengan kepalsuan. Disitu, Rey bilang ke abang Dion permintaan maaf walaupun cara dan gaya bicaranya sangat menggelikan dan membuat bulu kuduk abang Dion berdiri saking menggelitiknya. CRESS… Suara korek gas dibunyikan dan didekatkan pada puntung rokok milik Rey, dan disitu Rey bilang awalnya tentang kenapa ia bisa marah dan kecewa ke abang Dion dan setelahnya adalah penyampain permintaan maaf yang terkesan lucu, karena Rey menyampaikannya dengan rasa gengsi yang Dion Yakini masih tertahan. Dan seterusnya Dion hanya meledek Rey ternyata berani juga untuk meminta maaf duluan. Bukan Dion Namanya kalua tidak dengan besar hati menerima Rey Kembali, akhirnya Dion merangkul Rey dan ia juga meminta maaf pada adiknya itu. Mereka akhirnya mengobrol banyak hal. Dan saat bosen mereka terkadang menelepon beberapa tetangga yang usianya tidak jadih seperti Rey dan Dion untuk sekedar berkumpul dan menikmati secangkir kopi di tengah malam. Memanglah begitu kebiasaan dan keseharian mereka berdua. Jika ada teman yang datang maka akan dijamu dengan bersahaja. Jika tidak ada, mereka akan mengakhiri malam lebih cepat agar bisa mengeces ulang energi yang sudah terkuras habis itu. Sejak pengakuan maaf Rey itu akhirnya abang Dion merasa lega dan bersyuku bahwa jika ia berusaha tidak akan pernah mengkhianati hasil, meskipun sebenarnya ia menyesal telah beberapa kali merendahkan diri di depan Rey, bukan menyesal tetapi lebih kepada perasaan malu, karena Rey setelahnya pasti akan membuat abang Dion merasa tersipu lagi dan meledek-ledek abang Dion jika suasana diantara mereka tidak lagi canggung begitu. Itulah kedekatan diantara Rey dan Dion. Memang sejatinya mereka serasi dan saling melengkapi. Sebagaimana sepatutnya saudara berlaku pada saudaranya sendiri. Saling peluk, dan berbagi apa saja seperti keluarga demi meraih hakikat kebahagiaan yang sebenarnya. Belum sadar keesokan harinya Robin mengecek apa yang sudah diberitakan oleh Iblis malam lalu. Apakah benar si Rey dan Dion berselisih. Hari itu, kerjaannya bukan hanya mengurusi pembukuan dan pelaporan saja. Tetapi menguntit Rey diam-diam saat Rey sedang bekerja. Sampai ia beberapa kali mengganti perangainya dan membuat Dion serta Rey masih menganggap Robin biasa saja. Walau maksud yang ada dalam hati Robin tidak biasa, alias kejam. Semakin getol Robin menggali-gali informasi yang diberitakan Iblis itu. Tetapi, malah yang ia dapatkan adalah hubungan Rey dan Dion yang selalu serasi dan malah terlihat semakin klop dan tambah dekat. Dalam hatinya Rey membatin, “b******n si Iblis ngerjain gue ini mah…” Di sisi yang lain meski berbeda tempat dan dimensi, Iblis menjawab “Gue denger t***l…”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN