Melawan Penunggu Kantor

1763 Kata
Hari hari berikutnya Aksa bisa menjalankan tugas sesuai dengan desk jobnya. Tak banyak hambatan yang ia temukan di lapangan. Hal yang paling berat mungkin adalah godaan iblis yang berhubungan dengan materi. Setiap petugas penagihan pasti sangat dekat hubungannya dengan yang namanya uang. Hampir setiap hari duit selalu saja masuk ke kantong mereka untuk di setorkan ke kantor. Aksa adalah pemuda yang sangat jujur dan berdedikasi tinggi pada setiap pekerjaan. Ia selalu berusaha memegang amanah yang ia dapat dari kantor ia bekerja. Meski tagihan yang ia bawa cukup banyak tidak membuat hatinya tergoda untuk menggunakannya. Kadang ada beberapa temannya yang menyuruh untuk menggunakan jika sedang dalam kondisi terdesak. Tetap Aksa enggan melakukannya. Tanpa terasa hari ini ini adalah hari terakhir dalam penutupan bulan untuk mengejar target bulanan yang sudah di tentukan oleh perusahaan yang mempekerjakan dirinya. Semua jadi pada sibuk dengan kegiatannya masing masing. Sementara waktu juga sudah menunjukkan pukul 7 malam lewat. Setengah jam lagi akan tiba masanya untuk shalat isya. Aksa yang masih baru hanya bisa melihat dan sesekali menanyakan hal yang memang tidak ia mengerti khususnya mengenai target pencapaian setiap bulannya. Karena merasa khawatir jika mengganggu kesibukan mereka, jadi ia sebisa mungkin untuk mengurangi banyaknya pertanyaan kepada senior yang ada di kantor. Karyawan yang lain dari divisi collection yang sama dengannya masih ada yang belum kembali ke kantor padahal waktu sudah beranjak malam. Memang biasanya setiap karyawan yang bagian lapangan pasti mengejar target hingga malam. Karena ini adalah hari terakhir mereka mengejar target untuk mendapatkan insentif bulanan. Namun ada juga karyawan yang sudah capai targetnya jadi masih aman posisinya. “Pak saya izin ke mushola sebentar.” Aksa memohon permisi sebentar dengan pimpinan untuk melaksanakan kewajibannya sebagai muslim. Alhamdulillah beliau langsung mengizinkannya. Sampai di musholla sudah ada petugas cleaning servis kantor yang sedang merapikan isi dalam mushola. “Assalammualaikum bang.” Ucapnya pelan agar ia tidak terkejut dengan kehadirannya. “Waalaikumsalam, eh ada Pak Aksa. Silahkan Pak kalau mau sholat.” “Jangan panggil saya Bapak dong, saya lebih muda dari abang nih.” “Iya mohon maaf Pak, karena sudah terbiasa dalam kerjaan.” Jawabnya dengan lemah lembut. Selanjutnya mereka berdua terlibat obrolan ringan sambil menanti datangnya adzan sholat isya. Bang Ipul mereka biasa memanggilnya. Dia petugas cleaning servis dari perusahaan rekanan kantor kami dalam artian staff outsourching. Dalam bekerja ia sangat telaten dan bertanggung jawab. Ia juga ramah dengan semua orang yang pernah ia temui. Dan hal yang paling buat Aksa angkat topi adalah ketekunannya dalam beribadah meski dalam situasi sesibuk apapun pasti tak pernah ia lewatkan. Selalu di awal waktu. “Pak Aksa merasa nyaman kerja disini?” “Iya nyaman bang, semua orangnya baik baik, apalagi dengan Bang Ipul.” “Ah Pak Aksa bisa aja. Beberapa hari kerja disini ada yang ganggu tidak?” Sepertinya Aksa mulai tau arah obrolan ini kemana arahnya. Meskipun ia tau yang di maksud, Aksa enggan untuk berterus terang dengan situasi di kantor itu. Ia malah mencoba mengorek lagi informasi yang lebih jauh mengenai apa yang Bang Ipul ketahui mengenai kantor ini. “Ganggu seperti apa itu bang?” tanyanya dengan polosnya. “Biasanya kalau ada yang baru, ada yang iseng mengganggu orang tersebut. Nah saya ga tau apa Pak Aksa termasuk orang yang di ganggu tersebut atau tidak.” “Ga ada sih pak aman aja beberapa hari ini. Karyawan lain juga kemarin ada yang beritahu saya untuk jaga ucapan dan semua tingkah laku saya.” Tak berapa lama adzan isya telah berkumandang dari kejauhan. Mereka pun mengakhiri obrolan saat itu dan bergegas mengambil air wudlu untuk melanjutkan sholat isya. Terlihat hanya mereka berdua saja yang melakukan sholat isya malam itu. Sempat hati Aksa bertanya kala melihat teman teman di kantornya yang selalu sibuk dengan kerjaannya tapi melalaikan akan kewajibannya sebagai seorang muslim. Pantas saja jika selama ini mereka selalu di ganggu dan dibuat nyaman oleh makhluk sesat yang ada di kantor. Selesai menjalankan kewajibannya, Aksa langsung kembali ke ruangan kerjanya yang terletak di lantai 2. Sementara mushola posisinya berada di lantai 1 berdekatan dengan gudang. Kondisi gudang yang begitu semrawut membuat ‘penunggu’ gedung ini jadi betah untuk tinggal. Aksa yang terakhir berada di mushola akhirnya di pertemukan dengan sesosok makhluk astral. Wajahnya yang jelek, gigi taring yang cukup panjang dan badannya tinggi besar serta berwarna merah. Expresi wajah yang sangat tidak bersahabat membuat Aksa hanya bisa tersenyum melihatnya. Jika ada makhluk astral yang berani menunjukkan wujudnya pada Aksa biasanya mereka dari golongan rendahan. Assalammualaikum! Tidak ada jawaban dari sosok itu. Dari diamnya sudah jelas jika ia bukan golongan dari muslim. Aksa kembali tersenyum. “Aku tidak mau ada kamu disini!” “Kenapa? Bukankah aku tidak pernah ganggu kehidupan kalian?” “Cahaya dari tubuhmu mengganggu pandangan kami.” “Cahaya apa, aku hanya manusia biasa.” “Siapa kamu sebenarnya?” tanya sang jin menghardik Aksa. “Kan aku dah bilang tadi, aku hanya manusia biasa om jin.” Aksa hanya tersenyum setiap menanggapi pertanyaan makhluk itu. Tiba tiba dari arah belakang muncul teman teman makhluk itu. Semuanya hampir mirip wajahnya dengan sosok yang pertama. Hanya yang membedakan dari ukuran tubuh saja agak kecil dari yang pertama. Dan mereka tidak ada yang menunjukkan keramahan. Jumlah mereka tak main main yang datang, sekitar puluhan. Makhluk astral tadi yang tahu ada teman temannya pada datang, jadi semakin percaya diri untuk menekan Aksa agar pergi meninggalkan gedung tersebut. “Terakhir kali kami minta kamu pergi tinggalkan gedung ini.” “Jika aku tak ingin, gimana? Aku kerja disini om jin, cari rezeki.” Sontak beberapa makhluk di belakang om jin bergerak maju seperti angin. Sangat cepat tanpa sempat mata manusia berkedip, mereka sudah sangat dekat dengan raga Aksa. Sisa sedepa lagi akan tersentuh tubuh itu tapi tiba tiba… Ada sesuatu yang membuat mereka terpental jauh dan langsung hancur lebur. Sontak membuat mereka terkejut. Sebuah cahaya putih yang sangat menyilaukan. “Aku sudah bilang jangan pernah usik aku, selagi aku tak pernah mengganggu kalian. Tapi kalau kalian memang menginginkannya jangan salahkan aku nantinya. Kita lihat siapa yang harus pergi dari sini.” Bismillahhirromhmannirrohim… tong hadir lu! Wussssstt Dalam sekejap di sisi Aksa sudah hadir jin sok ganteng si o***g. Meski tubuhnya hanya sebesar tubuh manusia biasa ia bukanlah jin kelas rendahan. Tingkat ilmunya sudah di atas rata rata jin biasa. Ia juga memiliki bala tentara yang jumlah tak main main. Jika di kumpulkan bisa mengguncang sebuah Negara. Saat Jin o***g hadir, di belakangnya juga di ikuti oleh anak buahnya yang berjumlah sekitar ratusan. “Siap tuan! Kenapa baru sekarang panggil tuan?” Aksa lalu menoleh ke belakang, sedikit kaget dengan apa yang ia lihat. “Lha ngapain bawa pasukan lu Tong?” “Kira tadi mau perang tuan?” Aksa tak ingin berlama lama berada di ruangan bawah yang pengap ini. Khawatir ia sudah di tunggu orang kantor di ruang kerjanya. “Lu habisin Tong semua anak buahnya, jangan ada yang sisa. Kecuali itu si botak bosnya, iket dia.” Dalam hitungan detik anak buah jin o***g langsung melesat menangkap dan menghabisi para jin penunggu yang tadi ingin mencelakai Aksa. Semuanya bergerak cepat bagai kilat yang menyambar nyambar tanpa bisa dilihat dengan mata manusia biasa. Dan kini hanya menyisakan si botak yang tadi menggertak Aksa., aku hanya manusia biasa om jin.” Aksa hanya tersenyum setiap menanggapi pertanyaan makhluk itu. Tiba tiba dari arah belakang muncul teman teman makhluk itu. Semuanya hampir mirip wajahnya dengan sosok yang pertama. Hanya yang membedakan dari ukuran tubuh saja agak kecil dari yang pertama. Dan mereka tidak ada yang menunjukkan keramahan. Jumlah mereka tak main main yang datang, sekitar puluhan. Makhluk astral tadi yang tahu ada teman temannya pada datang, jadi semakin percaya diri untuk menekan Aksa agar pergi meninggalkan gedung tersebut. “Terakhir kali kami minta kamu pergi tinggalkan gedung ini.” “Jika aku tak ingin, gimana? Aku kerja disini om jin, cari rezeki.” Sontak beberapa makhluk di belakang om jin bergerak maju seperti angin. Sangat cepat tanpa sempat mata manusia berkedip, mereka sudah sangat dekat dengan raga Aksa. Sisa sedepa lagi akan tersentuh tubuh itu tapi tiba tiba… Ada sesuatu yang membuat mereka terpental jauh dan langsung hancur lebur. Sontak membuat mereka terkejut. “Aku sudah bilang jangan pernah usik aku, selagi aku tak pernah mengganggu kalian. Tapi kalau kalian memang menginginkannya jangan salahkan aku nantinya. Kita lihat siapa yang harus pergi dari sini.” Bismillahhirromhmannirrohim… tong hadir lu! Wussssstt Dalam sekejap di sisi Aksa sudah hadir jin sok ganteng si o***g. Meski tubuhnya hanya sebesar tubuh manusia biasa ia bukanlah jin kelas rendahan. Tingkat ilmunya sudah di atas rata rata jin biasa. Ia juga memiliki bala tentara yang jumlah tak main main. Jika di kumpulkan bisa mengguncang sebuah Negara. Saat Jin o***g hadir, di belakangnya juga di ikuti oleh anak buahnya yang berjumlah sekitar ratusan. “Siap tuan! Kenapa baru sekarang panggil tuan?” Aksa lalu menoleh ke belakang, sedikit kaget dengan apa yang ia lihat. “Lha ngapain bawa pasukan lu Tong?” “Kira tadi mau perang tuan?” Aksa tak ingin berlama lama berada di ruangan bawah yang pengap ini. Khawatir ia sudah di tunggu orang kantor di ruang kerjanya. “Lu habisin Tong semua anak buahnya, jangan ada yang sisa. Kecuali itu si botak bosnya, iket dia.” Dalam hitungan detik anak buah jin o***g langsung melesat menangkap dan menghabisi para jin penunggu yang tadi ingin mencelakai Aksa. Semuanya bergerak cepat bagai kilat yang menyambar nyambar tanpa bisa dilihat dengan mata manusia biasa. Dan kini hanya menyisakan si botak yang tadi menggertak Aksa. Jin o***g hanya dengan sekali menjentikkan jarinya, si jin botak sudah terikat dengan rantai api yang sangat panas. “Ah, ampunnn… panassss… panassss… ampunnn…” “Udeh Tong, lu boleh tinggalin gue.” “Siap tuan, Assalammualaikum.” “Waalaikumsalam.” Aksa lalu mengalihkan bicaranya ke jin botak yang mengusirnya tadi. “Om jin pilih dah, gue lepasin dan Om pergi tinggalkan gedung ini dengan semua anak buahnya. Atau Om jin pasrah gue hancurin dengan se-izin Allah.” “Ampun bang, ane pergi aja bang, ampun bang, bener ampun ane, panas bang, panas banget ini.” Allahumma shalli 'ala Syaidina Muhammad wa'ala ali Syaidina Muhammad Dengan sekali kibasan tangan, ikatan pada jin itu langsung hancur berkeping keeping. Setelah itu om jin botak langsung menghilang begitu saja dan Aksa segera kembali ke ruangan kerja. Ia bergegas menapaki anak tangga ke lantai 2. Khawatir sudah di tunggu pimpinan karena izin yang terlalu lama. Sampai di atas Aksa ternyata tak menyadari jika sedari tadi ada yang sedang mengawasinya. Seseorang yang menyaksikan kemampuan Aksa melawan makhluk astral tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN