Aksa

1472 Kata
“Alhamdulillah akhirnya tiba juga, busyet dah … rasanya jantung gue mau copot, gila tu pesawat, moga ga nemu lagi berikutnya dah.” “Eh ngapain kamu ikut sampai kesini??” Lupa cerita sebelumnya kalau pemuda ini mempunyai teman dari alam sebelah yang selalu setia mengikutin dia sejak kecil. Teman itu dari golongan jin, meski tubuhnya kecil usianya sudah ratusan tahun lho, udah bukan imut lagi. Pertemuan mereka memang sudah jadi takdir dalam hidupnya. Jin tersebut memang di tugaskan untuk menjadi pengawal pemuda tersebut hingga saat ajal menjemputnya, begitulah pengakuannya. “Lho kok tuan muda tau saya disini.” “Bau lu tong keciuman sampai kesini.” Sambil ia pencet kedua lubang hidungnya sendiri. “Ada berapa yang kamu bawa kesini, Tong!” pemuda itu biasa memanggil dengan nama o***g, biar makin akrab. Karena kalau pakai nama aslinya panjang amat dan susah menyebutnya. Maklum dia jin made in impor. “Ratusan tuan, apa kurang tuan muda?” “Busyet dah!! Kamu mau perang atau cuma kawal gue hah? Suruh menghilang dulu sono, entar di lihat orang bisa berabe kita Tong.” “Siap tuan muda!” dalam sekejap semua pasukan yang ia bawa segera berhamburan menghilang seperti asap. Pemuda itu yang melihat tingkah laku mereka hanya senyum senyum sendiri. o***g memang jin yang funky dan sangat bisa di andalkan. Dia dari golongan jin muslim, hampir setiap hari tiada putus selalu mengingatkan tuannya saat nyaris lalai akan kewajibannya sebagai orang muslim. Jadi ia berfungsi sebagai alarm kehidupan baginya. Begitu juga ketika tau kalau Aksa sedang dalam bahaya. Ya pemuda itu bernama Aksa. Setelah berputar putar hunting tempat tinggal dapatlah ia sebuah kos yang tidak terlalu jauh dengan tempatnya kerja. Ia rapikan kembali barang barang bawaannya. Lalu sorenya ia coba jalan jalan ke tempat kerjaannya agar tidak tersesat saat pergi kerja besoknya. “Di kamar tuan ada penghuni juga, apa perlu saya usir tuan?” mulai dah jiwa alarmnya si jin bereaksi. “Iye dah tau, biar sajalah, asal ga isengin gue Tong. Kira tadi pacar lu Tong.” “Aduh tuan muda kan tau selera ane.” “Sombong amat lu jin, kan dia bisa berubah cakep juga Tong.” “Maaf tuan muda, ga level.” Aksa lalu keluar dari kosnya dan ke jalan karena di depan kos sudah ada tukang ojek yang menunggu untuk menemaninya ke tujuan yang sudah ia rencanakan. Sepanjang jalan melalui daerah yang terasa tak asing membuat memori dalam pikirannya mengulang kembali masa kecilnya. Bokap dan nyokapyang dulunya begitu getol berusaha membesarkan dirinya. Jelas semuanya pasti berubah, jalan, nama tempat dan bangunan bangunan yang sudah mengalami perubahan mengikuti perkembangan jaman yang ada sekarang. Setelah puas berkeliling kota, ia meminta untuk di antar ke alamat kerjaannya besok. Aksa hanya ingin memastikan jika kantor itu tidak salah alamat agar besok saat pergi kerja tidak terlambat. Setibanya di alamat yang di tuju ia hanya berdiri dari luar gedung. Meski gedung itu tampak megah tidak membuat ia senang. Rupanya aura yang ada di gedung itu menjadi salah satu alasannya ia enggan masuk ke area kantor itu. ***** Keesokan harinya Aksa sudah hadir duluan dari semua karyawan yang ada di kantor barunya. Untung saja ada seorang wakar yang juga lebih dulu hadir karena memang beliau dari semalam tugasnya menjaga kantor tersebut. Menarik juga ketika mendengar ocehan beliau yang sudah berumur. Pengalaman pengalaman dia ketika menjalani profesi selama menjadi wakar atau penjaga malam pada sebuah bangunan. Beliau sudah cukup lama mengabdi dengan perusahaan tempat Aksa bekerja. Sebuah perusahaan leasing yang sudah go public dan sangat di kenal masyarakat luas. Nama bapak itu adalah Pak Udin. Asal dari daerah terpencil yang terletak di pulau Sulawesi. Mengadu nasib di kota ini sudah puluhan tahun dan menetap di kota ini hingga memiliki keturunan dan seorang istri. Ia tak ingin lagi balik ke kampung karena kehidupannya sudah berpindah ke kota ini semua. Baginya dimanapun hidup adalah tempat yang bisa membuat dia jadi orang yang bermanfaat. Sayang meski telah berusia lanjut beliau masih sering bolong bolong dalam melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim. Itu sendiri ia yang mengakuinya dengan Aksa. Kegemarannya soal dunia klenik melebihi ketakutannya dari pada hukum Allah. Ia lebih meyakini hal hal yang berbau mistis ketimbang hal yang ada di Quran. Pantas saja di badannya banyak sosok keturunan dajjal yang mendompleng kemana pun beliau bepergian. Semuanya tak ada yang bagus, malah justru menyesatkan Pak Udin dan keyakinannya. Aksa mampu melihat mereka yang menempel di tubuh tua itu tapi ia enggan mengungkapkannya. “Hati hati kalau berada di gedung ini ya bang, jaga ucapan dan sikap. Apalagi ini bangunan lama bang, segala sesuatu yang tidak kita percaya bisa saja terjadi tiba tiba.” Kata beliau mencoba mengingatkan Aksa. Ia yang mendengarnya hanya senyum senyum dalam hati. Pantas saja mereka ada lha yang bawa kemari itu lho jenengan sendiri pak, dalam hatinya berkata. Apa perlu ane bereskan tuan? Perintah saja tuan, langsung ane selesaikan! si jin o***g sudah tak sabar menanti perintah tuannya. Jangan jin, gue masih baru disini dan ‘mereka’ juga sudah takut duluan tu lihat luu dan pasukan lu. Tak berapa lama satu persatu karyawan kantor pada berdatangan. Hingga semuanya hampir lengkap, ia pun menyusul mereka. Berkenalan dulu dengan pimpinan yang bernama Pak Sudar. Ternyata tidak hanya Aksa sendiri yang karyawan baru disitu, ada satu lagi yang baru seminggu bergabung juga dengan perusahaan ini. Asalnya juga dari daerah yang sama dengan dirinya. Aksa sangat beruntung bisa di terima di perusahaan skala internasional tersebut. Ia tidak menyangka hasil tes psikolog mendapatkan hasil yang terbaik. Meski ia harus bersedia di tempatkan di seluruh cabang perusahaan itu di Indonesia. Untuk pemuda yang baru pertama terjun di dunia kerja, hasil mencari kerja begitu adalah sesuatu yang special. Apalagi ia minus pengalaman apapun dan bener bener fresh graduate. Hari pertama kerja sudah banyak yang ia dapat ilmunya baik dari senior maupun pimpinan dari kantor. Tidak hanya itu ia juga jadi menambah ilmu filsafat hidup seperti yang di katakan pak Udin dan penghuni tak kasat mata di kantornya. Sedikit banyak ia jadi menambah teman juga baik dari dunia nyata maupun dunia astral. Yang paling menarik jelas teman dari dunia sebelah, karena mereka lebih jujur dalam berteman. Tidak banyak drama dan modus. Hanya fisik saja yang membedakan manusia dengan ‘mereka’. Meski ada yang tidak suka dengan kehadiran dirinya, Aksa tetap berusaha untuk focus bekerja. Kata mereka cahaya yang dipancarkan dari tubuhnya begitu menyilaukan mereka dan suasana di dekat mereka jadi tidak nyaman, terasa panas. Aksa bisa memahami keadaan itu tapi karena sudah menjadi tempat kerjaannya mau tidak mau mereka harus saling memahamin satu sama lainnya. Tapi sayang tidak semua bisa menerima kehadiran dirinya. Salah satunya adalah penunggu kantor yang telah lama mendiami tempat itu. Padahal sedikitpun Aksa tidak ada mengusik mereka. Namun aura yang ada di tubuhnya yang membuat kehidupan mereka terganggu. Aksa adalah pemuda yang terlahir dengan bakat istimewa. Mampu menembus batas ruang dan waktu antara kehidupan manusia dan dunia astral. Kemampuan tersebut ia dapat sejak ia lahir. Semuanya berjalan secara alami dan mampu ia kendalikan. Sewaktu baru memasuki gedung sudah ada beberapa yang coba iseng mengganggu Aksa, tapi ia tidak terpancing. Sebelumnya ia juga meminta pengawalnya untuk tidak ikut bersamanya sementara ia bekerja. Dia enggan mencampuri urusan kerja dengan makhluk astral, padahal jika saja ia mau, dengan mudah bisa ia dapatkan. “Aku ga suka dengan hadirnya kamu disini!” sebuah suara serak dan berat tiba tiba terdengar di telinga Aksa. Arahnya belum tapi jelas dan ia mencoba konsentrasi mencari tau siapa yang barusan bicara dengannya. Ia coba edarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tempat ia berada. Teman temannya sekantor tampak sedang sibuk dengan pekerjaannya masing masing. Sepertinya tidak ada yang mendengar suara itu selain dirinya. “Hei siapa kamu? Kenapa ga suka dengan aku? Apa salahku?” tanyaku balik pada suara tersebut. “Kehadiranmu mengganggu ketenangan kami disini!” “Apa perlu ku hancurkan istana mereka tuan?” tiba tiba si Jin o***g hadir di samping Aksa. Ia tidak sendiri melainkan dengan pasukannya yang sudah siap mengikuti perintahnya. “Jangan Tong! Lu main sikat aja, mereka hanya belum kenal kita kok.” “Pak Aksa baik baik saja? Dari tadi saya lihat asik ngobrol sendiri.” Suara seorang wanita tiba tiba mengganggu obrolan ku dengan si jin o***g. “Oh maaf, iya mba saya baik kok.” Aduh malu jadinya ketahuan teman kantor. Ia lalu mencoba cari kesibukan lain agar tidak terlihat aneh di mata teman kantornya. Aksa sebenarnya sudah berjanji pada dirinya sendiri enggan berurusan dengan makhluk astral, kecuali mereka yang memulai baru ia akan meladeni, itupun dalam kondisi yang benar benar terdesak. Untuk hari pertama ia sudah bisa mengetahui semua detail pekerjaannya di kantor tersebut. Desk job sebagai seorang collector atau penagihan menjadi tantangan sendiri buat seorang Aksa yang sangat minim akan pengalaman di bidang tersebut. Beruntung banyak teman teman yang tidak pelit untuk mengajarinya. Dan ia juga sangat cepat menyerap semua ilmu yang diberikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN