Kematian yang Aneh

1158 Kata
Keesokan paginya, dalam tayangan televisi pagi muncul sebuah berita yang membuat penghuni Kos Rey jadi ramai dari hari biasanya. Pemirsa, telah ditemukan sesosok mayat yang di duga korban pembunuhan. Korban adalah seorang pemuda yang memiliki tato di lehernya. Dari ciri ciri yang di temukan pada korban di duga dia adalah seorang Bandar narkoba yang terkenal di kota ini. Tidak ada luka bekas penganiayaan yang di temukan pada tubuh korban. Diperkirakan korban meninggal dari semalam. Saat ini di TKP atau tempat kejadian perkara sudah ada petugas keamanan. Tidak ada satupun warga atau saksi yang melihat korban atau pelaku yang di duga membunuh korban. Ada keanehan pada kematian korban yaitu bola mata yang berwarna hitam semua dan mulutnya menganga dengan lebar, namun tidak ada sedikitpun darah yang keluar dari tubuhnya. Hasil dugaan sementara ini ada kaitannya dengan persaingan dagang barang haram tersebut atau sindikat perdagangan narkoba jaringan internasional. Berdasarkan info terkini dari kepolisian korban adalah Bandar terbesar di kota ini. Semalam sewaktu dilakukan penangkapan, ia berhasil kabur dari petugas. Ketika dilakukan pencarian ke seluruh sudut kota, baru pagi ini di temukan telah menjadi mayat. “Bu, bu … mreneo sedelut,” (kesini sebentar) teriak si bapak kos memanggil istrinya. “Enek opo to pak, isuk isuk wes bengak bengok kae.” (ada apa ya pak, pagi pagi sudah teriak teriak begitu) kata sang istri yang terlihat terburu buru memenuhi panggilan suaminya. “Kae lho, delok en berita dino iki ning tv …” (itu lho, lihat berita hari ini di tv) jawab bapak sambil menunjuk tv yang sedang ia tonton. “Berita opo to pak? Aku ki iseh akeh gawean, mbok ya ngomong wae langsung ngopo?” (berita apa ya pak, aku ini masih banyak kerjaan, coba ya bicara saja langsung) sang istri mulai terlihat kesal karena mau tidak mau harus menunda kerjaannya. “Kejadian semalam itu pelakunya masuk berita lho bu. Dan ternyata orangnya meninggal pagi ini.” “Innalillahi wa innalillahi rojiun. Lha kok bisa pak?” “Iya bu, padahal semalam bapak sendiri yang lihat dia di bawa polisi. Tangannya yo di iket gae borgol kok.” “Lha terus piye kok bisa kabur terus meninggal?” “Lha ya itu, bapak ya ora ngerti bu. Kok tau tau paginya wes modyar.” “Husst, ga boleh gitu pak. Dia juga manusia, meski kelakuane jahat tetep ciptaan Allah.” “Iyo sepurane bu.” (maaf bu). Di ruang tengah tempat anak anak kos yang biasanya menonton tv tampak sedikit heboh. Meski hamburan kaca dan kotoran yang di akibatkan kejadian semalam masih menyisakan trauma buat para penghuni kos. Tidak menghilangkan antusias mereka untuk memulai hari itu. Berita tentang kematian sang Bandar sedikit banyak membuat anak anak kos sedikit bernafas lega terutama dengan korban yang menjadi sandera semalam. Sementara di kamar lain yang masih tampak berantakan ada seseorang yang sedang tertidur dengan pulasnya. Ia tidak tahu keadaan dunia saat pagi itu. Dunia alam bawah sadar ia sedang berselancar di sana. Sejumlah peralatan tulis dan juga kaca kamar yang pecah di biarkan begitu saja berserakan di depan kamarnya. Kasur yang tanpa seprai serta guling bantal yang tanpa kain penutup, masih setia menemani tidurnya saat itu. Orang tersebut adalah Rey. Setelah kejadian semalam ia di temukan temannya tak sadarkan diri di jalan. Untung saja beberapa teman yang sedang mencarinya menemukan dirinya. Setelah itu ia dibawa ke kos dan di biarkan tergeletak di kamarnya. Tidak ada seorangpun yang berani membangunkan dirinya. Begitu juga dengan bapak dan ibu kos yang tahu dengan kelakuan anak kosnya tersebut. Hingga pukul 2 siang Rey baru bangun dari alam bawah sadarnya. Ia rasanya ogah ogah untuk bangun, apalagi melihat kondisi kamarnya yang seperti habis di terjang tsunami. Belum lagi kondisi badannya yang pegal semuanya. Rasanya hampir seluruh tulang yang menopang tubuhnya menjadi patah patah. Matanya ia edarkan ke seluruh kamarnya. Bingung harus mulai dari mana untuk membereskan semua kekacauan ini. Saat matanya mengarah ke pintu keluar betapa terkejutnya dia, ternyata di depan kamar sudah banyak anak anak kos yang memperhatikan dirinya. “Cuk! Bikin kaget saja kalian, pada ngapain disitu woi?” “Rey, lu baik baik aja kan?” “Rey dah makan belum, gue belikan makan ye?” “Rey temen gue si Anis titip salam manis dengan lu, die nanya lu dah punya pacar belum?” “Rey main game yuk.” Tiba tiba semua mendadak baik dengan Rey. Melihat hal itu ia jadi bingung, ia lalu menggaruk garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, sambil berpikir kenapa hari ini semua penghuni jadi bertingkah aneh. Tidak biasanya begitu baik dengan dirinya. Selesai mengumpulkan nyawa sehabis tidur tadi ia langsung bergegas mandi karena dari semalam ia belum mandi sama sekali. Sehabis mandi, makan siang juga sudah tersaji di kamarnya yang masih berantakan. Kembali ia terkejut dengan apa yang ia lihat. Sementara teman teman kosnya masih setia berdiri menunggu di depan kamarnya. Entah apa yang ada di pikiran mereka dengan menunggu dirinya. Rey berusaha acuh tak acuh tapi tetap tak membuat mereka menjauh atau meninggalkan kamarnya. “Woi, lu pade ngapa pada mangap doang disitu, ga capek ape?” “Ga Rey, kami lagi nungguin lu. Dah kelar belum?” “Apaan sih lu pade?” Sambil membuka nasi bungkus dan memakannya ia terus memperhatikan kelakuan teman temannya yang tampak aneh hari ini. “Emang lu pade perlu ape, tumben pade bae hari ini?” “Udeh lu habisin dah makanan lu, ntar ngebacot malah kesedak telor kan ga lucu bro.” “Ok five minutes gue kelarin nih makan ye, tungguin.” Benar saja dalam waktu singkat Rey yang kebetulan lagi lapar dengan cekatan bisa menghabiskan makannya. Es teh tak luput dari kerakusannya saat itu. Hanya dengan sekali sedotan tanpa jeda kelar hidupnya minuman tersebut. Setelah ia benar benar selesai barulah banyak pertanyaan dari teman temannya. “Bro semalam itu beneran elu kan?” tanya salah satu temannya yang tampak tak yakin dengan apa yang mereka lihat dengan kejadian semalam. “Hebat euy lu bro bisa begitu. Ajari gue nape.” Sang teman yang lain ikut nyahuti. “Aku suwun lho bar di selamatin uripku bro.” (aku terima kasih sudah di selamatkan hidupku bro.) kata temen dari jawa. “Udeh udeh ah, bosen gue dengernya hari ini. Kirain apaan, ternyata gitu doang. Udah lah pada balik sono. Kirain mau bantu beresin kamar gue kek, ternyata ghibah doang lu pade.” “Tapi Rey … tadi pagi orang yang lu hajar semalam masuk TV. Beritanya heboh, orangnya koit lho bro. Pelakunya bukan elu kan bro?” “What?! Eh beneran lu orang itu koit. Ah ga percaya gue.” “Iya Rey bener kok, semua anak anak pada nonton juga.” “Tapi semalam kan dia dibawa petugas.” “Iya Rey, tapi berita tadi wajah dan pakaiannya di sorot kok, beneran itu orang semalam.” “Kok bisa ya?” “Coba dah lu tanya ke bapak dan ibu kos, mereka juga tadi tanyain keadaan lu.” “Ok dah ntar gue tanya bapak.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN