Saat Robin Tidak Ada.

2662 Kata
 “Dari kemarin kenapa telepon dan pesan dari gue ga ada yang dibales Robin ya?” gumam Rey dalam hati. Ia kini benar-benar khawatir dengan Robin. Meskipun secara sifat, mental, dan karakter sangat berbeda. Tetapi persahabatan mereka sejatinya saling melengkapi. Dimana saat Rey memiliki kekurangan dalam bidang akademik, hadirlah Robin yang selalu perhatian untuk mengajari Rey atau bahkan membuatkan tugas-tugas kuliah Rey secara sukarela. Saat Robin kesepian tidak ada yang menemani, dan selalu menyendiri baik saat di kampus atau dimana pun, hadirlah Rey yang siap siaga bilamana sahabatnya diganggu. Dalam sudut pandang Rey, seseorang yang seperti Robin seharusnya didekati dan diberi perhatian agar ia mau terbuka dan berteman dengan siapapun. Menurut Rey orang seperti Robin jika tidak dibantu, maka ketika mengalami sebuah kemalangan akan begitu menderita dalam kesendiriannya. Oleh karena itu, Rey berusaha menjadi teman yang baik untuk Robin. Robin yang pendiam dan pemalu sebenarnya juga memiliki hati yang tulus dalam apapun. Saat Rey mendatanginya, Robin merasakan ketulusan tersebut sehingga berani bertaruh bahwa Rey akan tetap jadi temannya dan tidak akan menyakiti Robin kedepannya. Harapan Robin tentang persahabatannya dengan Rey begitu membumbung tinggi. Jadi bisa ditebak tatkala ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan itu, terutama yang berkaitan dengan Rey sendiri. Maka Robin akan begitu sakit hati menyikapinya. Akhirnya Rey bercerita dengan teman-teman Kostnya. Tentang ketidakhadiran Robin yang misterius ini. Rey berujar pada teman-teman Kost “Apa gue harus cari dia ya? Udah mau dua minggu ini dia ga ada” “Lah emang lu tahu dimana rumahnya?” sanggah Aris. “Gue cuma tahu bekas kostnya yang dulu, pas sebelum bareng gue.” Aan menengahi “Yaudah gini aja, kita lihat dulu paling ga sampai sebulan kek. Apakah dia balik. Kalau ga balik-balik juga ya ayo kita cari bareng-barenglah…” “Boleh juga tuh” Rey mengiyakan. Akhirnya berdasarkan diskusi Rey dengan beberapa teman Kostnya. Ia memutuskan untuk menunda pencarian Robin sendirian. Karena bisa saja beberapa hari kedepan Robin akan kembali. Dalam hari-harinya, saat pertamakali Rey ditinggal kabur oleh Robin. Rey awalnya tidak begitu benar-benar peduli. Ia justru terus saja bermain hati dan mata dengan perempuan pindahan yang sebenarnya ditaksir oleh Robin. Nyaris tak lupa waktu Rey begitu kepincut akan kecantikan paras perempuan itu. Ia kerapkali berjalan sampai tengah malam, dan parahnya selalu mengiyakan maunya si perempuan meskipun itu adalah sesuatu yang tampaknya tidak akan dilakukan oleh sebagian laki-laki. Benar-benar jiwa Rey dimakan habis oleh perempuan itu. Rey telah jadi b***k cintanya, bagaimana tidak Rey bisa sampai rela-rela membelikan makanan, mengantar-jemput meski waktunya sudah larut malam. Rey melakukan hal tersebut karena sejujurnya hanya mengincar keindahan tubuh si perempuan itu. Dimana memiliki badan yang aduhai macam gitar spanyol dengan buah d**a yang muda tapi ranum sekali. Membuat sisi gelap Rey selalu bergejolak dan burungnya selalu berdiri bila berada didekatnya. Dan bisa ditebak bahwa apa-apa yang Rey niat dan rencanakan itu sejatinya sudah diketahui oleh yang bersangkutan. Karena tingkat kenakalan mereka pun sama. Rey suka bermain perempuan. Dan perempuan ini pun sama. Rey sejatinya adalah korbannya. Bukannya Rey mendapatkan untuk melampiaskan sisi gelapnya di sebuah kamar kost sewaan atau entah dimana yang penting nafsu gilanya tercurahkan. Tetapi kenyataannya berkata lain. Si perempuan sudah mencium akal bulus Rey. Sehingga justru Rey tambah dipermainkan. Puncaknya adalah ketiak sudah memasuki minggu kedua bersamaan dengan hilangnya kabar Robin. Si perempuan ini mulai memudar sikap baiknya pada Rey, ia tak lagi sering bercengkerama dengan Rey dan membatasi apapun dari Rey. Puncaknya adalah saat Rey memergoki si perempuan sedang berjalan dengan lain pria dan itu membuat Rey begitu murka pada perempuan tersebut. Sehingga membuat Rey mencari jalan pintas dengan meminum-minuman beralkohol di kostnya dengan beberapa teman yang bisa ia ajak untuk minum. Seperti hasil diskusi yang membahas tentang pencarian Robin di pelataran Kost yang agak luas itu, mereka mengobrol sambil meminum dan sedikit mabuk. Apalagi Rey yang benar-benar menyesal dan malah terkena jebakan Batman si perempuan k*****t itu. Untuk sementara semua hal tentang perempuan Rey tahan dulu. Karena rasa sakit yang disebabkan dari si perempuan itu. Kini ia hanya ingin berusaha mengembalikan Robin ke Kost lagi. Karena banyak sudah yang merindukan kebaikannya. Entah untuk sekedar teman bercerita atau dimanfaatkan oleh beberapa teman-teman kurang ajar. Dan jarangpun Rey secara jujur mengakui bahwa beberapa kali memanfaatkan kebaikan Robin yang begitu besar. Benar apa kata pepatah. Kita baru menghargai sesuatu jika sudah hilang. Itulah apa yang terjadi pada Rey. Kuliahnya di Jogja yang sekarang sudah berjalan 7 semester dan seharusnya satu semester lagi ia lulus. Tetapi, karena banyak mata kuliah yang tertinggal menurut penghitungan Rey sendiri. Ia baru akan lulus secepatnya pada semester 9 atau pahit-pahitnya 10. ***            Kehidupan Kampus Rey kini dirasai Rey agak berat rupanya. Sebab sudah tak ada lagi teman yang biasa membantunya dalam hal pelajaran. Ia bingung harus bertanya pada siapa. Rey paling malas jika harus bertanya pada Dosen. Menurutnya segala hal yang berhubungan dengan dosen akan berjalan sangat ribet. Oleh karena itu, ia merasa bertanya dengan Robin sudah paling enak. Penjelasannya mudah dipahami, tidak seperti Dosen. Dan yang paling enak adalah kebaikan hati Robin yang acapkali disalahgunakan oleh Rey. Ditambah lagi, jika ia harus pergi ke perpustakaan untuk mencari referensi ilmiah, Rey merasa sangat malas. Meskipun ia mahasiswa, tetapi watak malasnya begitu tinggi. Dasar Rey. Sejak pertama ketidakhadiran Robin. Rey sekarang diselimuti hal-hal yang memberinya kesulitan. Khususnya dalam hal akademik. Bagaimana tidak, Rey jika mendapatkan tugas dari sebuah mata kuliah. Dosennya memberi tugas yang seabreg dan membuat Rey kelimpungan. Dengan kehadiran Robin tentu akan berbeda. Meskipun tugasnya banyak, tetapi bisa terselesaikan. Suatu waktu dimana ketika tugas sudah mencapai batas tenggat waktu yang ditentukan Dosen. Rey mengumpulkan seadanya sesuai dengan kemampuannya dalam mengerjakan tugas yang tak seberapa itu. “Ini tugas milik siapa?” ketus Dosen. Tidak ada yang menjawabnya. Semua orang di dalam kelas senyap, tak bersuara. “Sekali lagi, siapa itu Rey Arsyad?” Dengan mata yang sedikit grogi, dan tidak tenang Rey mengaku bahwa nama itu adalah miliknya “Saya bu” “Kamu ini! Kenapa semua tugasnya plagiat. Kamu ini mahasiswa apa bukan sih? Mahasiswa kok suka plagiat!” Rey hanya terdiam. Tak berkata-kata. Karena sebenarnya ia telah mengakui telah berbuat salah. Tetapi apa mau dikata, kemampuan otaknya hanya segitu. Tetapi akhirnya Rey berusaha mencari jalan tengah, dan ia meminta dosennya untuk remidi. Apes kini Rey dapati. Remidi yang ia minta benar-benar banyak sekali. Meskipun ya dapat diakui tingkat kesulitannya tidak begitu berarti, menurut Rey ini masih mending daripada sedikit tetapi sulit. Ya, sepertinya apa yang Iblis Banteng nasihati pada Robin, kini telah Rey rasakan sendiri. Dimana seseorang jika benar-benar menginginkan sesuatu. Ia harus berkorban sebesar keinginannya tersebut. Nah, dalam hal ini pengorbanan yang Rey alami adalah tugas yang begitu banyak. Karena kini ia telah menyadari bahwa dirinya telah beranjak terus usianya. Oleh sebab itu, ia tak mau membebani abang Dion, karena bisa saja abang Dion banyak memiliki tanggungan. Jadi ia tak mau membebani abangnya yang kini berganti jadi kepala keluarga menggantikan Ayah dan Ibu yang telah tiada. Hal tersebut pada Rey tidak hanya pada satu mata kuliah, beberapa mata kuliah. Dan untungnya hanya ada segelintir yang kejam. Ia hanya mendapatkan tugas berat dari dua mata kuliah saja. Sisanya Dosen-dosen di Kampusnya begitu baik hati dengan Rey. Sehingga ia tidak dibebankan untuk menanggung remidi, atau harus mengulang tugas lagi. Menurut beberapa Dosen, jika mahasiswa sudah rela mengerjakan dengan tingkat kemampuan yang dipunyainya maka itu sudah cukup. Itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Ada beberapa Dosen yang mewajarkan kemampuan Rey, karena beberapa Dosen itu telah mengenal Rey secara personal. Menurut beberapa Dosen juga yang dekat dengan Rey itu. Penilaian Rey sudah baik dari cara ia memperlakukan seseorang yang jauh lebih tua diatasnya. Seorang Rey begitu menghargai orang yang lebih tua diatasnya. Hal tersebut diajarkan oleh Ibu dan Ayahnya serta abang Dion. Dan hal tersebut pun semakin menguat saat Rey mendapati fakta bahwa ia adalah titisan Eyang Demak. Jadi disaat ia harus bersama dengan Eyang Demak, disaat itulah ia harus terbiasa untuk terus bisa selalu menghargai orang yang lebih tua. Tidak peduli suasana hatinya sedang tidak baik, jika ada orang tua maka sudah wajib hukumnya untuk Rey mengalahkan egonya dan menghargai orangtua itu. Didikan keras orangtuanya sudah benar-benar mengakar dalam jiwa Rey Arsyad. Tidak hanya itu, Rey ini juga dekat dengan beberapa dosen yang usianya nyaris sama dengannya tetapi secara akademik, levelnya berbeda. Ia adalah Dosen dan dirinya adalah mahasiswa. Hubungannya dengan Pak Aryo begitu unik. Meski Pak Aryo tergolong baru di Kampus Rey. Rey selalu membantu Pak Aryo dalam berbagai hal. Bahkan ia lebih menolong daripada kalangan Dosen lain yang seharusnya membantu Pak Arya ini. Seperti saat dalam sebuah perkuliahan itu, di tengah pekan. Pak Arya sedang mengajar “Jadi begitulah, dinamika Ekonomi dunia. Dimana awal kemunculan Ekonomi Makro dan Mikro memecah peradaban dunia yang akan menimbulkan paham dan ideologi baru…” Dalam sela-sela mengajar itu, Rey sudah tahu dan merasakan Pak Arya sejatinya sedang tidak nyaman dalam waktunya mengajar. Akhirnya selepas ia mengajar itu. Rey mendatanginya dan berkata “Pak, itu lihat ga pak. Semua anak-anak tadi merasa bosan, banyak yang menguap dan tidak memperhatikan bapak.” “Saya juga tahu Rey” “Saya sudah berusaha dengan berbagai macam cara agar mahasiswa yang saya ajar merasa enak dengan pelajaran saya” “Begini saja pak…” Kemudian Rey menawarkan sebuah metode pengajaran yang menurut Rey akan berjalan efektif bilamana diterapkan di kelas. Ia menyuruh Pak Arya untuk menghubungi Pak Rasyid, itu juga salah satu Dosen yang dekat dengan Rey, dimana Pak Rasyid ini selalu disukai mahasiswa dalam mengajar. Pada intinya Rey memberi saran bahwasannya untuk mengajar anak muda seperti mahasiswa ini, yang perlu diperhatikan adalah tingkat kenyamanannya. Tidak semua mahasiswa ingin selalu berteori. Dan tidak semua mahasiswa ingin selalu praktek. Maka dari itu harus ada jalan tengahnya, yang mana bisa menyentuh hati mahasiswa untuk terus antusias dalam kelas dan kelas menjadi aktif. “Kurang lebih seperti itu Pak…” ujar Rey pada Pak Arya. “Tak usah panggil saya Pak, mas atau saya lebih suka nama saja, biar akrab.” “Kan bapak dosen pak” sanggah Rey. “Kan saya jaraknya paling beberapa tahun dari kamu Rey” “Memangnya kamu berapa usianya Rey?” Pak Arya menambahi. “Nyaris 22 sekarang pak” “Nah saya akselerasi, saya 3 tahun diatasmu. Tetapi sudah semenjak sekolah menengah saya selalu akselerasi. Dimana saya selalu bisa dengan cepat menyelesaikan Pendidikan lebih cepat dari teman-teman saya pada umumnya. Dan kini saya berhasil mencapai cita-cita saya menjadi Dosen, Rey…” Rey justru berusaha meledek Pak Arya “Halah pak-pak, percuma akselerasi kalau ngajarnya garing, ahaha…” “Yang jelas begini saja pak. Bapak jangan terpaku pada kurikulum yang diberikan oleh fakultas. Poinnya adalah yang saya dapat simpulkan ketika selalu ikut kelas Pak Rasyid yang selalu asyik. Bapak harus bisa membuat mahasiswa bebas, tetapi dilain sisi mahasiswa juga dalam waktu yang sama akan merasa penasaran dan dengan mengalir sendiri mereka akan belajar dengan antusias dan ikhlas pak” “Bagaimana caranya memang?” “Misal dalam kurikulum poin pengajarannya adalah agar mahasiswa mampu memahami ekonomi makro dan mikro. Nah, kalau Pak Rasyid pasti akan membebaskan mahasiswanya berpendapat dahulu meski tidak punya referensi tak masalah. Yang jelas, pendapat mahasiswa itu begitu penting, darisitu dosen juga bisa mengukur mahasiswanya. Barulah pertemuan selanjutnya, Bapak utarakan definisi yang ideal tentang tema tersebut.” Rey seperti terlihat pintar sekali didepan Pak Arya “Pada intinya adalah, tema yang akan dibahas diberitahu pada mahasiswa, kemudian biarkan mahasiswa menginterpretasikannya sendiri. Kurangi menghakimi, jangan sampai ada benar-salah Pak. Dan nanti barulah di akhir kelas, diakhiri dengan diskusi. Jika mahasiswa antusias biarkan mereka saling adu pendapat untuk melatih public speakingnya, jika tidak begitu antusias maka sesuaikan alurnya, yang jelas yang terpenting sentuh hati dan buat mahasiswa selalu nyaman!” Pak Arya benar-benar terkesima oleh kecakapan Rey dalam menjelaskan. Itulah kurang lebih yang Pak Arya dapatkan dari seorang Rey yang seharusnya didapatkan dari beberapa Dosen lain. Benar saja, setelahnya Pak Arya tampak menemui Pak Rasyid yang orangnya begitu supel dan ramah. Pak Arya begitu merasa terbimbing oleh Pak Rasyid dan sekarang Pak Arya mulai disukai oleh mahasiswa-mahasiswa yang diajarnya. Semua itu tak ayal adalah berkat dari Rey yang begitu senang dalam menolong dan membantu orang lain yang sedang berada dalam kesulitan meskipun apa yang ia berikan tidak seberapa tapi itu sangat berarti untuk orang lain. ***            Rey selain mengalami kemalangan dalam bidang percintaan dan perkuliahan. Ia juga berduka dalam sisi finansialnya. Keuangannya tidak terkontrol bila nafsu sedang menguasai dirinya. Uangnya itu dihabiskan untuk hal-hal yang tidak berfaedah. Seperti minuman keras, rokok, menghabiskan uang untuk bermain wanita. Dan hal-hal mudharat lainnya.            Sehingga bisa dipastikan jika mau akhir bulan, uangnya menipis dan uang yang seharusnya dipakai untuk kebutuhan terlebih untuk makan dan minum bisa habis dengan begitu saja, dan bersisa.            Jika biasanya saat masih ada Robin makan minumnya ditanggung oleh Robin dahulu yang mana orang seperti Robin sangat mengatur uangnya. Dan berhati mulia, dan ia selalu menganggap orang yang berperilaku baik padanya akan terus selalu berlaku baik. Sehingga balasan yang Robin berikan terkadang terlampau baik. Sehingga membuat Rey sampai merasa kehilangan saat Robin tidak ada. Karena ia baru sadar satu hal; penghargaan dan penghormatan.            Bayangannya melempar saat-saat kebaikan Robin yang begitu besar pada Rey. Saat itu Robin masih ngekost di tempat lama, yang jaraknya agak jauh. Rey selalu mengantarkannya dan setiap ia meminta makan, pasti ia selalu dikasih entah itu hasil masakan sederhana Robin sendiri atau dibelikan oleh Robin, barang hanya nasi kucing di angkringan Jogja atau Warmindo murah meriah yang banyak menjamur di tanah Gudeg itu. “Gimana kalau lu sama gue aja ngekostnya bro?” saat itu Rey yang mulai mengakrabi Robin yang pendiam. “Ga ngerepoti? Ga enak ah…” ucap Robin. “Emangnya kenapa? Lagian itung-itung balesan lu selalu ngasih makan gue kalau gue ga ada duit.” Robin mengelak dan masih sama “Kan lu juga sering anterin gue juga Rey” “Udah sih..” paksa Rey. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, Robin mau dan mengiyakan untuk tinggal bersama di Kost Rey. Alasan dasarnya adalah untuk menghemat biaya saja. Semenjak mereka sudah satu tempat tinggal, kedekatan mereka semakin erat. Meski secara karakteristik sangat jauh berbeda. Rey yang terkesan rebel dan berandal justru bersahabat dengan dengan orang penutup dan pemalu seperti Robin. Ya, begitulah adanya, Rey membutuhkan Robin dalam hal-hal genting. Dan Robin pun sama. Mereka bertemu karena takdir yang Mahakuasa. Sekarang, saat tidak ada Robin. Rey kebingungan karena tidak ada yang memberinya kebaikan sebesar Robin. Teman-temannya yang lain baik jika dalam waktu tertentu saja, dan biasanya baik saat ada maunya. Kalau Robin tidak begitu. Kali ini uangnya yang menipis semakin tambah tipis. Dan bodohnya lagi Rey lebih mementingkan untuk membeli rokok ketimbang makan. Menurutnya… “Iseh mending nyuled udud, timbang ora sama sekali” (Lebih baik merokok daripada ga sama sekali) dalam Jawa Rey berujar. Dan ya untuk mengakhiri akhir bulan kali ini, Rey telah beranggapan akan berpuasa makan untuk beberapa hari kedepan, setidaknya sampai bang Dion mengirim uang di tanggal 5. Tanggal dimana Rey mendapat jatah uang bulanan. Tetapi tidak dinyana selama perjalanan waktunya untuk bersabar dalam menunggu tanggal 5 di bulan baru itu, ada saja dewi fortuna yang menghinggap pada Rey. Apakah ini karena ulah Eyang Demak? Entahlah. Yang jelas, teman-teman Kost tumben sekali memberinya makanan walau hanya sekedar Roti, s**u sachet, atau Kopi. Itu sangat Rey syukuri. Bahkan di hari-hari terakhir sebelum esok hari Rey dikirimi uang, Ibu dan Bapak Kost kini yang selalu memberikan Rey masakan. Terkadang begitulah nasib Rey, selalu ditimpali nasib baik. Mungkin karena kebetulan saja piker Rey. Tetapi yang sebenarnya terjadi adalah… “Lek, lek. Kasihan sekali kamu, biar Eyang bantu ya…” dalam Jawa Eyang Demak beraksi dengan segala hal yang tidak Rey ketahui. Dan ternyata benar saja rupa-rupanya semua keajaiban ini disebabkan oleh ilham yang dibawa daripada Eyang Demak itu sendiri yang sudah menitisi Rey dan memang sudah menjadi jalan Rey untuk menjadi penerus lanjutannya. Dan tiba-tiba Eyang berucap lagi dalam batin “Mungkin ini waktunya kau diberi cobaan nak, tetapi Eyang akan berusaha terus membantu cucu kesayangan Eyang” Eyang Demak seperti berfirasat dalam-dalam, entah apa maksudnya. Sepertinya berhubungan dengan masalahnya Robin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN