Apa yang sudah Rey lalui dengan hari-harinya tanpa Robin “Anying, kalau kayak gini terus, gue gak bisa kalau lagi ada tugas, ada apa-apa yang gue lagi susah. Cuma dia temen yang paling care ke gue, sisanya jarang.” Menyerocos sendiri Rey dalam kamar.
Sudah hendak memasuki satu bulan kaburnya Robin dari lingkungan Rey. Ya, Rey begitu merasa ada yang kurang. Dan ia menindaklanjuti ajakan teman-temannya soal saran untuk mencari Robin bersama-sama.
Rey mengetuk semua teman yang kemarin ikut diskusi untuk ikut mencari Robin. “Ayo dong buka ‘tok-tok-tok!’ aaarrrgghh lama banget lu pade…”
“Matamui lho su, mbudegi.” (Matamu, anjing. Brisik banget) ujar Santoso dan Aris dalam Jawa yang terbangun karena suara ketukan pintu yang disebabkan oleh tangan kekar nan berurat milik Rey.
“Kenapa-kenapa dah?” Aan juga ikut terbangun.
Rey mencoba mengklarifikasi “Ya ayo, ini udah sebulan Robin ga ada di Kost, katanya mau pade nyari?”
“Ah ganggu doang lu Rey, ngapain si. Lagian dia cowok, nanti juga balik sendiri.” Menurut Aan Robin tak perlu dirisaukan.
“Iya, bener itu kata Aan.” Jawab Santoso yang terkantuk-kantuk sehabis begadang bermain PS di kamar Kostnya bersama Aris.
Mendengar respon yang kurang mengenakan, Rey langsung bergegas sendiri saja. Dan kini ia langsung menyiapkan motornya di parkiran Kost. Terdengar suara brisik motor RX King keluaran tahun 1997, dan semua anak-anak merasa kesal karena motor itu membuat bising telinga seisi Kost. Untungnya, Bapak dan Ibu Kost memaklumi semua kelakuan-kelakuan anak-anak Kost yang semuanya laki-laki dan memang berperilaku songong semua termasuk Rey.
“Cen a*u si Rey, ndlogoki. Jancuk!” (Memang anjing si Rey) ujar Aris yang merasa keberisikan akrena suara motor butut Rey itu.
Dalam lingkungan Kost ini, meskipun mereka seringkali berkelakuan aneh dan kadang menyebalkan satu sama lain. Seperti berkata kasar, berkata yang menyinggung dan berbagainya. Sesungguhnya lingkungan ini adalah lingkungan yang sehat, karena setiap teman-teman Rey memang jujur dengan cara yang berbeda. Dan jikapun ada gesekan, pasti tidak lama akan kembali cair dan berdamai lagi. Karena mereka sudah mengetahui gaya berbahasa, berkomunikasi dan bercengkerama satu sama lain. Begitupun dengan Rey dan kawan Kostnya.
Sialnya, hal itu tidak dirasakan oleh Robin. Hanya Robin seorang yang sangat tampak berada dalam ketidaknyamanan sejak hari pertama berada di Kost ini. Karena Kost ini termasuk Kost laki-laki yang lumayan bebas, dimana boleh membawa masuk anak perempuan. Asal tidak sampai berbuat yang tidak-tidak. Ya paling mereka berbuat yang tidak-tidak diluar Kost saja.
Ketika yang lain bercengkerama dengan bebas dan kasar, walau aslinya itu hanya sebatas gurauan sebagai bentuk kedekatan satu sama lain. Tetapi di sisi Robin, mengartikannya dengan cara yang berbeda. Ia merasa, lingkungan Kost ini seperti lingkungan yang kurang terdidik. Bagaimana tidak, dalam lingkungan Kost itu hanya Robin seorang yang berasal dari kalangan pandai dan seorang Beswan yang mendapat beasiswa bersponsor. Sisanya hanyalah anak-anak muda yang urakan dan biasa saja dalam hal akademik.
Tetapi lambat laun, Robin dapat membauri mereka semua. Sehingga akhirnya merekapun merasakan apa yang Rey rasakan. Dimana Robin membaikan mereka semua dalam sikap dan perbuatan, sehingga banyak yang perhatian dan nyaman dengan gaya pertemanan Robin. Meski ia satu-satunya dari golongan yang berbeda, ia begitu disenangi oleh teman-teman Kost Rey.
Namun, satu hal yang diketahui. Sialnya Robin memiliki satu kekurangan, Robin adalah tipikal manusia yang tidak begitu mudah mengolah emosinya, sehingga ia tidak bisa dengan mudah seperti teman-teman Kost lain yang dengan mudah menyatakan perasaan yang negatif meskipun pada teman sendiri. Alhasil hal tersebut membuat Robin hanya dapat memendam apa yang ia rasa. Dan imbasnya meledak saat rasa frustasinya meledak pada Rey, yang seharusnya jadi sahabatnya itu. Apa-apa yang Robin rasa tidak nyaman, ia pendam terus saja. Tidak seperti Rey, seperti teman yang lain. Sesegera mungkin perasaan yang tidak nyaman dengan teman, harus sesegera mungkin dikeluarkan agar klir dan jelas. Sehingga setelahnya hanyalah soal maaf dan kembali berbaikan. Dengan begitu ikatan pertemanan akan tambah dekat walau caranya agak berbeda dari kebanyakan lingkungan.
Karena Rey dan teman-teman Kostnya yang lain sangat tidak suka dengan kepalsuan yang apa-apa selalu ditutupi dan dipendam sendiri. Meski dari luarnya mereka terlihat buruk, sejatinya mereka begitu menghargai apa arti pertemanan yang sebenarnya, yang seharusnya.
Namun sayang, lagi-lagi Robin adalah jiwa yang berbeda. Dan itu wajar. Dan lebih sayang lagi, keberbedaan Robin yang tampak dari kurang bisanya mengolah rasa emosionalnya itu tidak diketahui oleh hampir semua penghuni Kost. Bahkan Rey sendiri sebagai teman sekamar dan terdekatnya saja tidak mengetahuinya. Oleh karenanya, saat kemurkaan Robin meledak yang sejatinya disebabkan karena Rey, Rey sudah barang tentu tidak mengetahuinya apalagi teman-teman Kost yang lain?
Dalam perjalanannya menuju pencarian Robin, Rey mengendarai kendaraannya melaju kearah Kostan lama Robin di bilangan daerah Bantul. Sekitar 20 menit dari pusat kota tempat Rey tinggal sementara di Kostnya.
“Sejatinya anak ini memang punya nurani yang baik… Dan aku akan terus berusaha menemanimu nak…”
DEG!
Dalam telinga Rey terdengar seperti ada suara seseorang. Rey yang masih belum mau percaya dengan hal begituan, benar saja langsung mengabaikan suara Eyang Demak yang berucap lirih itu.
***
Dalam sisi Robin, si Iblis yang dipanggil dan dibuat sendiri oleh Robin seperti menangkap sinyal bahwa Rey sedang mencari Robin. Dan ia lalu menceritakannya pada Robin.
“Rey anak biadab itu, tengah mencarimu Robin… HAHAHA!” masih dengan suara yang menyeramkan dan mengerikan Iblis jika Iblis itu berkata.
“Bawa ia hidup-hidup padaku Iblis!”
“Akan kau apakan dia?”
“Akan kubalaskan dendamku padanya yang telah merenggut semua kebahagiaanku dan menghancurkan harapanku serta membuatku sakit hati!”
Dengan pintar si Iblis tidak langsung berhadapan dengan Rey karena pada masa-masa yang lalu telah jadi keniscayaan akan kemampuan supranatural Rey bersama Eyang Demaknya yang jelas tidak mudah dihabisi begitu saja. Si Iblis inipun mengetahui akan kedahsyatan marwah yang dibawa oleh Eyang Demak dengan pasukannya itu.
Akhirnya dengan sengaja Iblis itu masih bersama Rey dan hanya memerintahkan pasukan Kroconya untuk melawan Rey saat Rey masih di perjalanan.
Karena Iblis akan terus mengecas energinya dengan perasaan-perasaan buruk Robin seperti dendam, amarah, benci, nafsu dan lain sebagainya.
***
Tiba-tiba saja Rey dihadapkan oleh sesosok Wanita cantik di persimpangan Ring Road hendak menuju Kabupaten Bantul. Dan bukan Rey namanya kalau tidak nafsu melihat wanita. Parasnya yang ayu apalagi jika bolamatanya besar, dan buah d**a juga besar sungguh sudah jadi santapan untuk Rey melancarkan aksinya.
Ia langsung menghentikan gas motornya, dan berhenti ke tepian untuk menemui wanita cantik itu. Dan langsung merayunya.
“Mbak e, mau kemana he?” Rey berusaha sok perhatian.
“Mau kemana lho mbak e?” masih Rey berusaha.
“Saya antarkan aja yok, mau kah mbak e?”
Wanita itu hanya mengangguk. Dan langsung membonceng Rey. Benar saja tak lama niat Rey langsung berubah yang seharusnya untuk mencari Robin ke tempat lama Robin, justru ia hendak berhenti di alun-alun Bantul untuk menggoda wanita ini dulu.
Dalam perjalanannya, ada beberapa hal ganjil Rey alami. Tepatnya saat berada di jalan yang kanan kirinya hanya persawahan dan perkebunan. Saat di tempat sepi itu. Si wanita berusaha merayu Rey dengan cara yang kemungkinan akan berhasil karena biasanya Rey selalu kalah dengan nafsunya terhadap keindahan perempuan.
“Mas mandeg neng kene wae mas…” (Mas turun disini aja mas) ujar wanita cantik itu.
Awalnya Rey kaget tetapi tetap saja ia berhenti “Lhaa ngopo mbak, iki sepi lho de..”
“Justru kui mas, ayo mas…”
“Ayo opo mbak?”
Wanita cantik itu berusaha menggoda Rey dengan cara jitu, yakni lewat hawa nafsu yang mana menjadi kelemahan Rey sendiri.
Wanita itu tiba-tiba menyilak roknya di hadapan Rey, benar saja Rey melongo memandangnya.
Tetapi sesaat sebelum kejadian berlanjut jadi lebih parah…
-
“PANASSS! PANASSS!” ternyata wanita itu bukanlah manusia.
Wanita itu langsung lenyap tatkala sabetan sorban dari pada Eyang Demak menyentuh kulitnya.
Setelahnya adalah Rey yang merasa kaget denga napa yang ditemuinya itu. Ia merasa merinding, karena beberapa kali ia rasa ada yang melindunginya. Meskipun tadi ia sebenarnya melihat sesosok putih yang adalah Eyang Demak, tetap saja Rey masih keukeuh untuk belum mengakui kehadiran Eyang Demak itu. Setelahnya Rey hanya melanjutkan perjalanannya.
Dan pada sisi Eyang Demak, ia berdoa setulus mungkin pada sang Khalik. “Lindungilah ia ya Rabb! Aku hanya bisa melindunginya atas Izin dan Kuasa-Mu ya Allah…” Rey pun seperti merasa bahwa sebenarnya dalam lubuk terdalamnya apa yang ia hendak lakukan tadi adalah hal yang keliru dan seharusnya tidak ia lakukan lagi untuk kedepannya, karena ia bisa saja akan tertimpa hal buruk jika terus melakukannya tanpa berniat berhenti.