Robin yang Menghilang

1545 Kata
Perjalanan akhirnya terus Rey lanjutkan, niatnya untuk kembali memperbaiki hubungan dengan Robin begitu benar-benar ia pikirkan sedari tadi selama di perjalanan. Senakal-nakalnya, dan sebebas-bebasnya Rey tetap saja ia adalah seorang Rey Arsyad yang mana memiliki karakter dan jiwa mulia. Dimana sebenarnya ia sangat sensitif dengan hal-hal yang berkaitan dengan orang-orang yang disayanginya termasuk Robin. Ia anggap Robin sudah seperti bagian dari dirinya. Meski keduanya berbeda, tetap menurut Rey ia sangat membutuhkan Robin. Waktu terus berlanjut, selepas kejadian yang aneh tadi. Rey benar-benar merasa berbeda. Walaupun Rey sering menemui hal serupa dimana memergoki makhluk-makhluk astral yang menggodainya, tetapi kali ini jantungnya berdegup sangat kencang. Apalagi ini berkaitan dengan kebiasaan buruknya yang sering bermain wanita. Hal itu berkaitan erat dengan nasihat Ayah dan Ibu, saat dahulu Rey kecil yang beranjak remaja, Rey dan Dion abangnya selalu dinasihati oleh ayahnya tentang bagaimana supaya menjadi laki-laki sejati. Dari sisi ibu, mereka dinasihati tentang bagaimana supaya memperlakukan perempuan. Ibu mereka sangat ingin anak-anaknya menjaga marwah dan kehormatannya sebagai laki-laki sejati. Dimana jangan sampai dengan mudahnya terkecoh akan kenikmatan pendek yang bisa merugikan mereka dalam jangka waktu yang panjang. Menurut Ibunya, “Lebih baik menderita sekarang untuk meraih ketenangan di masa mendatang.” Tentu nasihat-nasihat ibunya itu berkaitan dengan apa-apa yang berkaitan erat dengan sikap dan kehormatan anak laki-lakinya. Sehingga, karena teringat oleh hal tersebut. Rey benar-benar seperti dipukul keras oleh sesuatu di kepalanya. Ia telah melakukan banyak kesilapan dan kesalahan yang benar-benar sejak ditinggal sang Malaikat. Rey selalu beralibi dengan alasan yang sebenarnya malah semakin membuatnya terjatuh kedalam hal yang merugikannya itu. Apalagi karena kejadian tadi, Rey seperti dibuat kaku dan sangat menyesali perbuatannya kendati itu adalah bukan kesengajaan yang diniatkan dari dirinya. Mungkin ini ada kaitannya dengan doa tulus Eyang Demak yang mengharapkan Rey untuk dilindungi-Nya. Sehingga ia tidak sampai melakukan apa yang diwanti-wanti sejak dulu oleh Ibunya. Begitu juga Rey sendiri meski pada kenyataannya setelah kepulangan Ibunda kepada yang Mahakuasa membuat dirinya sedikit frustasi dan depresi berat. Sehingga ia berani mencoba banyak hal-hal buruk. Seperti persoalan tentang kebiasaan buruknya yang selalu bermain wanita. Walaupun sudah banyak korban yang telah Rey dapatkan. Namun, Rey juga masih dalam taraf sadar dimana ia tidak sampai mempertaruhkan kehormatannya dan menghancurkan kehormatan wanita hanya untuk kenikmatan sesaat. Jikapun ia sedang dalam keadaan tergoda ia selalu melarikan diri seperti kejadian dengan Hera. Dalam perjalanan yang sebentar lagi akan sampai di tempat Kost Robin yang lama. Ia membatin sendirian “Aku salah, kebiasaanku seperti ini tidak baik. Aku tidak seharusnya merendahkan harga diri seorang wanita. Jika aku terus melakukan ini, tentu Ibu akan kecewa padaku.” Mendengar batinan Rey, Eyang langsung terenyuh dan sepertinya kembali mendoakan Rey lagi. Kali ini Eyang mendapatkan sinyal-sinyal dimana Rey merasakan penyesalan yang begitu dalam. Doa yang Eyang panjatkan kepada Allah SWT adalah semata-mata mengharapkan cucunya selalu terjaga dalam jalan-Nya. Kini ia sudah memasuki sebuah wilayah desa pinggiran Kabupaten Bantul. Dimana banyak persawahan dan dibersamai oleh angin sepoi-sepoi yang menyejukkan. Meski tidak begitu sejuk, setidaknya tidak sepanas di Kota Jogja. Ya, semakin kita pergi kearah barat maka kita akan menuju Kabupaten Kulonprogo. Semakin kita kearah barat sedikit keselatan, maka itu adalah wilayah Kabupaten Bantul. Semakin ke selatan, maka kita akan disuguhi pemandangan pegunungan, bukit dan pantai di wilayah Kabupaten Gunungkidul. Dan sisi lain dari Yogyakarta adalah Kabupaten Sleman yang berada di wilayah Utara agak ke Timur. Sesampainya di tempat Kost lama Robin. “Nah ini tempat Kostnya Robin nih…” “Asslamualaikum, ‘tok-tok-tok’. Assalamualaikum…” Rey memberi salam berharap penghuni didalam ada yang menjawab salamnya. Terdengar balasan dari dalam “Walaikumsalam, nggeh sekedap…” (iya sebentar) dalam Jawa Krama (tingkatan Bahasa Jawa paling tinggi, sopan dan halus). “Robinnya ada bu?” tanya Rey pada seseorang yang seperti pemilik tempat ini. “Robin siapa ya?” Akhirnya Rey menjelaskan siapa itu Robin kepada yang bersangkutan. Dan si Ibu baru mengetahui siapa yang dimaksud saat ia mengetahui tempat almamaternya, dan kebetulan si Ibu juga baru kembali sadar bahwa yang ditemui kini adalah Rey. Rey memang pribadi yang ramah dan supel, sehingga banyak orang mudah mengenalinya karena kelihaiannya dalam bergaul. Si Ibu mempersilakan Rey untuk masuk dan bercengkerama dahulu bersamanya. “Repot-repot lho bu…” sampil menggaruk-garuk kepalanya, Robin merasa tak enak dibawakan banyak camilan ringan dari dalam rumah. Si Ibu malah menyanggah Rey “Sudah, anggap saja rumah sendiri…” Mereka kembali bercengkerama dengan berbagai bahasan. Mulai dari latarbelakang Robin, dan Rey. Kemudian keluarga si Ibu. Tentang Kota Bantul dan berbagai hal remeh lainnya. Begitulah orang Jawa, sangat terbiasa dengan basa-basi untuk sekedar semakin mempererat keramahtamahan yang seharusnya ada jika kita sedang berkomunikasi. Mungkin bagi orang, hal tersebut tidaklah menyenangkan. Tetapi tidak bagi Rey. Rey yang dibesarkan oleh Ayahnya untuk bersikap berani dan bertanggungjawab ini sudah dididik agar terbiasa dengan kebiasaan orang-orang Jawa lampau yang mana sudah menjadi tradisi bahwa bersikap sopan dan santun adalah adab yang harus selalu dijunjung tinggi. Ia juga dibesarkan oleh Ibunya dengan didikan lembut dimana selalu diajarkan untuk menghargai sesama tanpa melihat latarbelakang suku, ras, warna kulit dan agama apapun. Oleh sebab itu, Ibu menolak untuk dimakamkan di kampung dimana keluarga mereka tinggal dan memilih dimakamkan di kampung halamannya saja, meski kuburannya bercampur dengan kuburan agama lain. Si Ibu kembali menjawab “Jadi begitu mas, saya kurang tahu kemana lagi Mas Robin pergi. Setahu saya, terakhir kesini ya ketika pindahan barang-barang itu yang katanya mau pindah ke Kost temennya di Kota Jogja, bilangnya begitu mas.” “Oala ngoten to bu? (Oh, begitu ya bu?) Ya sudah bu tidak apa, yang penting saya sudah tahu kalau Mas Robin ga ada di sini” ujar Rey lembut pada si Ibu. “Baiklah kalau begitu saya izin pergi dulu ya bu, terimakasih sudah dijamu begini. Mana disuruh makan lagi. Ini Mie Desnya enak banget bu” Rey berterimakasih karena begitu dihargai saat ia bertamu kesini dan ia juga diberi makanan Mie Des – olahan singkong yang dibuat jadi bentuk Mie yang pedas dan tanpa bentuk pengawet. Hari-hari yang Rey lalui tanpa kehadiran Robin kini, apa yang ia rasakan sekarang adalah kehancuran dalam hatinya. Ia bertanya dalam hatinya apakah ia akan kehilangan lagi? Ia sudah kehilangan Ayah, Ibunya, dan sekarang Robin? Tetapi bagaimanapun usaha Rey untuk mencari Robin tidak berhenti begitu saja karena kegagalan satu kali. Sebab, sepulangnya dari Kost lama Robin dibilangan daerah Bantul itu. Ia coba cari Robin lagi ke tempat biasanya ia menongkrong sendirian. Tempat tersebut berada di tengah kota dekat kampus. Sebuah kedai kopi yang berpenampilan semi-semi kafe dengan harga yang murah. Sebenarnya itu bukanlah satu kedai, melainkan semacam komplek dimana berisi banyak kedai-kedai kopi. Meski berada dekat pusat kota, tempat tersebut terletak di perbatasan antara Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman. Sesampainya Rey disana. Ia langsung menuju kedai kopi itu satu-persatu. “Oi Rey! Suwi koe wes ra tau rene meneh…” sapa salah satu teman Rey disana. “Aku fokus kuliah saiki bro…” Temannya seperti tidak percaya dengan jawaban Rey “Ngapusi tok, matamu.” “Tenan e lho cuk! “Kene-kene lho, njagong sik. Nyapo buru-buru.” Goda teman Rey. Akhirnya mereka bercengkerama sebentar dan berbincang soal permasalahan kuliah, atau urusan sosialnya Rey dan pacar Rey. Teman Rey ini juga sempat menyinggung kabar Anindya. Rey malah seperti langsung tidak mau membahasnya dan mengalihkan perhatian. Langsung saja ia memberi kabar soal kaburnya Robin. Dan si teman kaget tiba-tiba mendengar kabar tersebut. Akhirnya Rey langsung saja menyampaikan tujuannya kemari untuk mencari Robin. Dan benar saja di kafe tersebut ia tidak mendapati Robin disana, kemudian ia cari lagi ke kedai yang lain. Hingga semua kedai sudah ditelusuri dan tidak ada tanda-tanda kehadiran Robin disana sama sekali. Kecuali mereka-mereka yang berada di kedai mengatakan kabar terakhir Robin dating kemari yang mana sudah lama sekali. Rey mengakhiri pencariannya pada hari tersebut yang ia habiskan hingga malam hari. Maka dari itu Rey berencana akan mencari Robin kembali esok hari dan bahkan ia akan terus berusaha mencari Robin sampai ia mendapatkan Robin dan menyuruhnya kembali pulang ke Kostnya. Rey bernazar jikalau Robin balik, maka ia akan segera mengklarifikasi kenapa Robin bisa sampai kabur darinya. Dan iapun tak segan akan memohon maaf pada Robin jika ia memiliki salah. Akhirnya ia mengakhiri hari tersebut dengan sesuatu yang nihil dan tidak mendapatkan apa yang seharusnya ia cari. Tetapi bagaimanapun juga usaha harus terus dilakukan di esok hari. Sudah terpatri dalam diri Rey bahwa ia akan menjaga persahabatannya dengan Robin sebisa mungkin. Sesampainya di Kost. TRENG-TENG-TRENG-TENG… Suara motor butut Rey terdengar dengan kencang, dan teman-temannya langsung mengerubungi Rey mengira ia bersama Robin. Bisa diketahui dari gelagat teman-temannya meskipun mereka terkesan sulit berteman luwes dengan Robin sesungguhnya mereka semua pun sama-sama saling mengkhawatirkan keadaan Robin. Hingga tiba-tiba… “Ya sudah, kita harus cari Robin bagaimana pun juga. Kalau perlu lapor polisi!” Aan berinisiatif. Rey membalas Aan “Jangan, ga perlu ada polisi-polisi berabe dan bikin ribet aje…” Rey menambahi lagi “Mending lu-lu pada, kalau emang care sama Robin, ya temenin gue tiap hari cari dia. Ga usah kabarin ke keluarganya, bilang aja masih sama kita” “Kalau ga ketemu?” Aris tampak ragu. Santoso berusaha menenangkan mereka semua “Ketemu-ketemu santai”. Dan diakhir hari itu, Rey mendapatkan berbagai macam serangan pertanyaan dari teman-teman Kostnya tentang kehadiran Robin berada. Dan karena keadaan tubuhnya yang letih, ia justru mengabaikan semua teman-teman itu dan memilih masuk ke kamar untuk beristirahat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN