Dalam sisi Robin, semua apa yang ada didalam dirinya kini nyaris semuanya berubah. Mulai dari sifat, sikap, dan karakternya. Karena sekarang apa yang mendasarinya melakukan sesuatu adalah niatan yang buruk yang selalu diisi dengan ketidaktenangan seperti dendam, amarah, dan sifat buruk lainnya.
Tetapi lagi-lagi hal tersebut menjadi cadangan makanan bagi Iblis yang diciptakan oleh Robin sendiri. Semakin hari-harinya dipenuhi dengan sifat jelek begitu, semakin kenyang Iblis itu. Dan jika Iblis itu kenyang, maka energinya akan semakin bertambah banyak. Jika energinya banyak, maka ia akan semakin kuat dan bukan tidak mungkin akan mampu menghadapi Rey.
Waktu merayap zaman, kini mereka sudah menempati masa-masa semester tua di Kampus. Dan Rey serta Robin sejatinya bisa saja lulus di semester genap ini. Tetapi bagi Robin, ia tidak begitu mementingkan pendidikannya lagi. Ia tidak peduli itu semua. Yang ia pedulikan sekarang adalah menebus dendamnya pada Rey. Karena hatinya seperti sudah dirobek-robek dan hancur lebur tidak bisa dikembalikan seperti sedia kala kembali.
Dalam Kost baru yang sangat jauh lokasinya dengan Kampus. Robin terus saja berdiskusi dengan Iblis ciptaannya itu.
“Kapan kau akan menghabisi monyet itu!” amarah Robin setiap hari terus menggebu-gebu dan selalu ia keluhkan pada si Iblis bahwa ia sudah tidak sabar lagi ingin menghabisi Rey.
Iblis mencoba menghibur si Robin “Tenang saja bos…” dengan memanggilnya bos.
Tetapi hal itu tidak membuat Robin berubah pikiran, ia masih dengan amarahnya.
“Aku sudah tidak peduli lagi dengan apapun, yang aku pedulikan adalah membunuh Rey k*****t itu!”
“Gaya-gayaan kau tidak mau peduli dengan apapun. Mau pakai apa bayar kost ini ha?” si Iblis justru memberi pertanyaan menohok.
“Oh iya ya, bener juga sih, pakai apa ya?”
Iblis tambah meledek “Nye-nye”.
“Apa yang akan kau lakukan lagi ha?” Iblis terus saja meledeki Robin.
Bersamaan dengan ledekan itu, Robin mendapatkan kabar dari media sosialnya bahwa perempuan incarannya kini sudah tidak bersama Rey lagi dan dia mengunggah kekasih barunya, hal tersebut sedikit melegakan Robin tetapi rasa bencinya terhadap Rey yang sudah menghardiknya secara eksplisit, dalam artian selalu memanfaatkan dirinya dan tidak pernah memikirkan perasaan dirinya membuat Robin begitu dipenuhi api amarah pada Rey. Menurutnya Rey hanya sosok yang egois dan memikirkan dirinya sendiri. Itulah mengapa Robin begitu getol sekali ingin membalaskan rasa sakit yang disebabkan Rey itu.
Tidak habis sampai disitu, ia kini lagi mendapati kabar dari keluarganya “Kapan Robin lulus nak?” kiriman pesan singkat dari Ayahnya. Dapat disimpulkan dari pesan singkat itu ada sebuah pengharapan besar daripada keluarganya untuk kebaikan anaknya Robin untuk bisa lulus dari jenjang pendidikannya. Dan tiba-tiba saja seperti ada yang menggetarkan hati Robin setelah ia mendapatkan kabar tersebut. Benar saja, bersamaan dengan suasana yang tiba-tiba membuat Robin kaget, datanglah sebuah telepon.
Terbaca dalam layer ponselnya, “Ayah” sedang menelepon Robin setelah beberapa saat mengirim pesan singkat yang membuat Robin sedikit emosional. Ia tidak mau mengangkatnya karena masih dikuasai oleh amarah dan takut ia memarahi ayahnya sendiri. Sebab bagaimanapun juga jiwa-jiwa lembut, penutup, dan serba takut dengan orang baru Robin dapatkan dari ayahnya secara tidak langsung.
Karena memang ayah Robin adalah seorang duda sejak Robin ditinggal mati dari kecil oleh ibunya. Dan ayahnya untuk tidak menikah lagi serta fokus saja membesarkan Robin. Setelah kejadian itu, ayahnya sedikit memiliki sifat keibuan pada Robin. Sehingga ayahnya bisa kapan waktu menjadi lembut selembut hati seorang ibu, tetapi jika dibutuhkan pun ayah Robin akan menjadi ayah yang sesungguhnya. Mengayomi, menjaga, dan melindungi keluarganya. Dan setelah telepon yang tidak terangkat sebanyak empat belas kali oleh Robin. Ayahnya kembali mengirimi Robin sebuah pesan singkat yang kali ini tidak kalah membuat emosional diri Robin membuncah, dan sedikit menyadarkan Robin akan satu hal – beasiswa.
“Nak, kapan kamu lulus? Ayah kangen nih. Kamu jangan jadi anak yang buruk ya. Jaga pergaulan. Dan harus ingat sholat. Bagaimana perkembangan kuliahmu sekarang? Kamu akan menghabiskan jatah beasiswamu itu kan?”
Ia baru teringat bahwa ia harus terus berkuliah karena jatah beasiswanya tersisa satu semester lagi. Jika ia sampai mengabaikan kuliahnya sampai semester depannya lagi maka biaya kuliahnya itu harus ditanggung sendiri. Dan sekarang pilihan hanya dua. Lulus dengan beasiswa atau tidak dengan beasiswa, atau yang terburuknya adalah tidak lulus dan dropout dari perkuliahannya. Hal tersebut kini benar-benar memusingkan diri Robin penuh.
Maka dari itu akhirnya ia pada keesokan harinya berikrar dan menyatakan diri dalam hatinya untuk berkuliah dengan beasiswa. Alasan yang mendasarinya adalah karena ayahnya. Ia tidak mau menyakiti ayahnya, lebih baik ia yang harus menanggung sakit karena menahan dendam pada Rey untuk sementara waktu daripada harus melihat kekecewaan ayahnya sendiri karena hal tersebut bisa membuat dirinya menyesal seumur hidup. Jadi ia memilih untuk tidak menyesal.
Dan sesuai dengan perjanjian di awal dengan si Iblis yang diciptakannya sendiri dengan aksen-aksen iluminati dan darah dari nadinya. Bahwasannya Robin harus terus memberikan makanan berupa sifat-sifat dan perasaan buruk pada si Iblis setiap hari. Jika tidak, maka si Iblis akan merasa lemas dan letih.
Hingga pada suatu waktu.
“Robin! Apakah kau tidak ingin membalaskan dendammu lagi? Kenapa kau lebih mengurusi urusan perkuliahanmu sekarang? HA!?” bentak Iblis karena merasa sudah beberapa minggu tak diberi makan.
“Maafkan aku Iblis, aku harus menundanya dahulu. Karena kalau tidak ayahku akan kecewa jika aku tidak lulus kuliah tepat waktu atau menyia-nyiakan kesempatan beasiswa yang langka ini.” Jawab Robin dengan tegas.
Dan jawaban Robin itu sontak membuat Iblis kecewa, tetapi menurutnya itu lebih baik, daripada ayahnya yang dibuat kecewa.
“Bisa-bisanya kau Robin! Arrrghhh” ia tampak kesal pada Robin dan hendak menyerang Robin. Karena Robin sudah mempelajari klenik dan urusan magis secara otodidak melalui jaringan Internet dan mendatangi beberapa orang pintar yang berada di Gunungkidul dan Sleman, kekuatan ilmu hitam Robin lebih besar daripada si Iblis itu.
Tampak tangan dan gadanya ingin disematkan ke kepala Robin. “Apa? Kau ingin melawanku?!” Robin melotot dan mendelik sembari menahan tangan besar Iblis Banteng itu.
Ia mengancam lagi “Apakah kau ingin kulenyapkan?” dan sejak saat itu Iblis menuruti apa kata Robin. Karena jika ia berani melawan Robin, Robin bisa saja membunuhnya karena si Iblis baru sadar bahwa ia didatangkan dan diciptakan karena ulah Robin. Bukan tidak mungkin Robin pun dapat membuatnya lenyap dan mati lalu mengganti dirinya dengan Iblis lain yang mungkin saja lebih kuat dan hebat dari dirinya.
“Iya deh…”
“Kalau kamu ingin tetap menjaga energimu, untuk saat ini aku tidak bisa menjamin memberimu tenaga dan energi padamu. Karena kau tahu, sementara waktu aku harus memfokuskan diri untuk melanjutkan kuliahku terlebih dahulu”
“Jika kamu mau, kamu boleh pergi ke Kampus, ke Kost Rey atau kemanapun. Carilah sesuatu yang buruk selain dari diriku. Ingat, jika aku marah maka kaupun sudah tahu meski kita tidak sedang bersama. Jika aku dibuat kesal karena seseorang maka ganggu saja ia dan itu bisa menggantikan energi baru untukmu, tingkatannya pun sama seperti kau mendapatkan energi dari diriku…”
“Benar juga ya, kenapa aku ga kepikiran dari tadi?”
“Gblk!” ledek Robin pada Iblis yang kini jadi partner keburukannya.
Kini Robin akan lebih fokus dengan sesuatu yang lebih diutamakan oleh keluarganya dahulu, seperti pendidikannya ini. Dan ia baru sadar, bahwa waktu yang ia habiskan ternyata sudah lumayan lama dan mengharuskan ia harus mengejar beberapa mata kuliah yang tertinggal beberapa bulan lalu sehingga ia sangat sibuk dengan perkuliahannya.
Karena ia kini sudah menguasai ilmu hitam, Robin menghasilkan uang dengan cara yang licik dan tidak baik. Ia menyuruh Iblis dan pasukannya untuk mencuri uang dari siapapun yang pernah membuat Robin kesal. Dan kini uang tersebut Robin pakai untuk membeli kendaraan. Karena ia membutuhkan kendaraan, setidaknya sepeda motor. Untuk mengantarkan dirinya ke Kampus ke Kostnya yang jauh ini.
Benar saja. Semua anak-anak Kost Rey mengalami kehilangan uang secara misterius dan tidak terduga. Mereka-mereka yang pernah membuat sakit hati Robin menjadi korbannya.
Seperti Aan, sudah awal diteror dengan kerasukan Kroco-kroco Iblis kiriman Robin sekarang uang tabungan yang ditaruh di sebuah toples di dalam lemarinya yang padahal selalu ia kunci menjadi hilang tak bersisa. Aan menangis sejadi-jadinya…
“Tai, duit gue ilang. Tai lah!” ia seringkali mengumpat jika teringat uangnya hilang begitu. Dan semua orang termasuk Rey menjadi korban umpatan Aan. Semuanya dipersalahkan, meski tidak tahu menahu duduk persoalannya. Apalagi? Aan hanya bisa menggigit jari karena semua anak yang dituduhnya memang tidak ada yang mengambil uangnya dan ia benar-benar sangat marah serta tidak tahu harus berbuat apa.
Seperti sudah diketahui meskipun di lingkungan Kost Rey semua anaknya urakan. Tetapi sebenarnya mereka mengedepankan nilai kejujuran atas teman. Maka dari itu, kehilangan uang Aan ini begitu membuat pertemanan mereka sedikit retak dan runyam.
Hingga hal tersebut kembali terjadi pada Aris, Santoso, dan bahkan Rey. Kesemuanya mendapatkan hal yang serupa dan hal tersebut semakin membuat gaduh keadaan hubungan pertemanan di Kost Rey itu.
Namun bukan Rey namanya bila ia hanya menyerah jika ada satu masalah. Ia selalu bisa mengatasinya dengan cara yang tidak diduga-duga. Ya, Rey berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi karena hal tersebut tidaklah logis. Semua orang bisa mengalami kejadian yang sama dan dengan pola yang sama – kehilangan uang.
Sampai suatu hari. Di Kost Rey.
Ibu Kost tiba-tiba mendatangi kamar Kost Rey “Nak Rey…” sapa Ibu Kost sambil mengetuk pintu.
Dan Rey membukanya, “Iya bu ada apa ya?”
“Ada yang ingin ibu tanyakan pada kamu Rey…” setelah pernyataan yang tidak biasa dari Ibu Kost ini, selanjutnya Rey diajak ke ruang tamu rumah Ibu dan Bapak Kost. Dan kebetulan disana sudah ada bapak Kost yang sedang menunggu.
“Kamu tahu kenapa kok sekarang anak-anak pada jarang pulang ya? Termasuk si Robin sudah dari kapan hari tidak ada kabarnya…”
“Saya kurang tahu bu, pak..”
Bapak Kost mencoba mencari tahu lagi pada Rey “Tolong jawab jujur nak, apa yang sedang terjadi?”
“Bapak sudah menganggap kalian seperti keluarga sendiri, sedang ada yang tidak beres disini. Semua orang pada pergi, dan beberapa hari lalu Ibu dan Bapak tahu sedang ada ribut-ribut kan?”
“Mmm bagaimana saya menjelaskan ya pak?”
Ibu Kost berusaha membujuk Rey agar mau menjelaskan “Nak Rey, tak usah sungkan. Ingat kan kejadian lalu dimana Kost kami diporakporandakan oleh segerombolan preman. Meski itu ulahmu, kami semua benar-benar tidak merasa dirugikan. Kami merugi kalau kamu yang kenapa-napa. Jadi jika sedang tidak baik-baik saja diantara kalian pasti itu akan membuat kami menjadi khawatir, kamu tidak peduli rugi materil kami hanya takut rugi moril atas kalian semua nak. Kami sungguh menyayangi kalian seperti anak kami, meskipun kalian tahu kami tidak bisa memiliki anak.” Pada bagian selanjutnya bisa ditebak adalah guncangan emosional Ibu dan Bapak Kost yang mengetahui sedang ada yang tidak beres dengan anak-anak Kost.
Sedikit informasi, bahwa Ibu dan Bapak Kost tidak bisa memiliki anak. Meski begitu mereka patut dicontoh, karena mereka tetap saling mendukung satu sama lain dan setia selalu dalam kebersamaan serta suka dan duka. Tidak seperti kebanyakan manusia yang tidak puas jika pasangannya diketahui memiliki sedikit kekurangan. Tidak diketahui siapa yang mandul, yang jelas salah satu dari mereka saling menutupi kurangnya masing-masing dan saling mengasihi.
Akhirnya Rey barulah mau menceritakan kejadian yang sebenarnya bahwasannya ada satu kejadian dimana telah terjadi kehilangan uang secara misterius. Meskipun uang tersebut disimpan rapat-rapat tanpa ada orang yang bisa mengetahuinya. Pertama dialami oleh Aan, kemudian Aris, Santoso dan yang terakhir adalah Rey. Sehingga diantara anak-anak Kost terjadi saling prasangka. Semua orang saling tuduh menuduh. Karena Rey lebih mengetahui ini bukanlah hal yang biasa dan tidak logis sekali. Maka dari itu, Rey berusaha menenangkan diri dan mengikhlaskan uangnya yang hilang itu. Tetapi berbeda dengan ketiga temannya tadi. Mereka semua saling mencurigai. Bahkan yang biasa di Kost antara Aris dan Santoso hubungan sangat lekat. Kini mereka seperti tidak saling kenal. Bahkan masih saling mempersalahkan satu sama lain.
“Aan apalagi, mungkin dia akan pindah Kost dan bilang ke saya tidak mau berteman dengan saya lagi. Karena Aan mengira saya yang mengambil uangnya.” Begitulah Rey mengakhiri penjelasannya. Dan ya, Ibu dan Bapak Kost merasa empati pada semua anak-anak Kost. Ibu dan Bapak Kost berjanji akan ikut membantu Rey menyelesaikan masalah ini bersama.
Kini Robin telah kembali ke kesehariannya seperti biasa, dimana berkuliah dan langsung pulang ke rumah sementaranya yang berada jauh dari Kampus. Terkadang ia terlihat sangat sibuk dengan urusan perkuliahannya sehingga jika ia suatu kali diajak oleh teman untuk nongkrong ia selalu menolak dan lebih memilih untuk mengurusi masalah perkuliahannya saja.
Sebisa mungkin ia mengejar ketertinggalan dalam perkuliahannya. Di Kampus ia seringkali mondar-mandir ke ruang tata usaha, ruang program studi, dan ruang fakultas untuk sekedar meminta entah tanda tangan, tugas, remidi dan konsultasi. Dan ia berhasil berkomitmen, pada bulan keempat di semester genap yang sudah tua ini ia bisa mengejar semua ketertinggalan itu. Bahkan ia berambisi sekali agar pada penghujung semester ia langsung saja menghabiskan mata kuliahnya dan sembari menyelesaikan skripsi yang sudah ia kerjakan secara bertahap sejak semester ganjil lalu.
Dan sebisa mungkin pula Robin untuk tidak bertemu Rey di dalam Kampus. Meski mereka satu jurusan, Robin sangatlah pintar agar gerak-geriknya di Kampus tidak terendus oleh Rey. Sehingga ia bisa leluasa dan fokus untuk mengejar semua urusan kampus demi bisa lulus tepat waktu.