Robin sengaja tidak ingin bertemu dengan Rey dahulu agar ia bisa menjaga ritme belajar, semangat, dan emosinya untuk bisa konsisten dan dapat menyelesaikan urusan akademiknya dahulu. Karena jika ia mendapati Rey ia bisa saja langsung emosi.
Tetapi, pernah suatu kali di Kost Robin yang mana Robin hanya ditemani oleh si Iblis dan pasukan Kroconya saja. Robin yang sekarang tidak begitu betah jika harus berhubungan dengan orang lain, karena menurutnya Iblis lebih mengerti dirinya daripada seorang manusia.
Iblis dan salah satu Kroco terkuatnya bilang ke Robin “Bin, kenapa kamu ga mencoba bersikap biasa aja kalau ketemu Rey?”
“Hah, maksudnya?”
“Iya, kamu tinggal berlagak seolah tidak ada yang terjadi, dan biasa saja.”
“Heh, tidak akan. Aku sungguh membenci Rey!”
Iblis kini berusaha menasihati Robin “HAHA! Kau tak tahu ya? Dengan kau berlagak biasa saja, maka rencanamu tidak terendus bodoh!”
“Iya juga ya?”
Baru kali ini Rey mengiyakan Iblis “Benar sekali, aku akan melakukannya. Toh kalian pun memang sudah mendapatkan energi dari makanan diluaran sana kan?”
“Hari ini aku sangat senang mengerjai dosen yang kau kesali itu. Dia sangat ketakutan melihatku HAHAHA!” Iblis berusaha mengkonfirmasi rasa kesal Robin pada seorang dosen itu.
“Lagian, dia jadi dosen belagu sih. Masak urusan nilai aja dipersulit, masih untung aku rajin begini kan?”
Setelahnya merekapun kembali bercakap dan mengadakan sebuah diskusi serta rencana strategi dalam menghancurkan Rey secara perlahan. Kali ini tidak seperti di awal dengan rencana yang terburu-buru dan terkesan tidak diatur serta direncanakan dengan baik.
Mereka berujar untuk tetap melanjutkan friksi yang sudah ada dalam lingkungan pertemanan Kost Rey. Dengan begitu, menurut Iblis dan Robin, Rey dan teman-temannya akan hancur secara bertahap. Dan itu pasti akan lebih menyakitkan buat Rey.
Salah satu Kroco daripada Iblis Rey memberikan saran pada Robin, bahwa lebih baik ia bertemu dengan Rey dahulu agar Rey merasa bersalah dan bersimpati pada Robin. Baru setelahnya Robin melancarkan aksi bulusnya, dengan memanas-manasi Rey dengan harapan agar Rey memihak pada dirinya daripada teman-teman Kostnya itu. Karena jika hal tersebut berhasil maka Robin akan lebih mudah untuk menghabisi Rey kedepannya.
Setelah beberapa hari, akhirnya pesan yang isinya banyak sekali dari Rey baru ia baca dan ia balas lagi. Dengan demikian ini akan membuat Rey kaget. Ia pun membalas satu persatu pesan tersebut, dan pada akhiran balasan itu Robin mengajak Rey untuk bertemu. Tidak di Kost, karena akan semakin membuat Robin kelimpungan jika bertemu dengan teman Rey yang lain. Karena bisa saja Robin nanti merasa bersalah juga pada mereka. Sudah diketahui Robin memiliki hati yang lembut dan mudah sensitif.
Sudut pandang Eyang Demak, setelah mengetahui masalah yang terjadi antara Rey dan teman-temannya di lingkungan Kostnya itu membuat Eyang Demak merasa prihatin. Dan dengan karomah yang ia miliki, ia menggerakan hati Ibu dan Bapak Kost untuk membantu masalah yang Rey alami.
Tidak hanya berhenti di ruang tamu, bantuan dari Ibu dan Bapak Kost bahkan sampai serius betul. Karena mereka sampai menghubungi orang tua mereka satu-satu dan menanyakan kabarnya mereka juga satu-satu. Dan saat mereka mendapatkan kabar bahwa semua anak-anak dalam keadaan baik-baik saja, mereka tenang. Namun, yang membuat mereka tidak tenang adalah masalah yang belum selesai. Sehingga Ibu dan Bapak Kost secara intens berkabar dengan masing-masing orangtua mereka dan secara bertahap menceritakan masalah yang terjadi di Kost mereka. Alhasil orang tua mereka langsung memberitahu keberadaan anak-anaknya. Karena dari sudut pandang orang tua mereka pun lebih setuju jika tinggal di Kost milik Ibu dan Bapak Kost ini daripada harus ke lain tempat yang lebih mahal dan jauh. Berbeda dengan tempat Ibu dan Bapak Kost, sudah dekat dan terjangkau.
Akhirnya para orangtua memberitahu bahwa Aan sekarang sedang berada dan sementara menginap di asrama daerahnya, meskipun Aan sebenarnya tidak betah tetapi dia terpaksa melakukannya karena ia kesal pada teman-teman Kost. Padahal di asrama daerah, justru banyak teman yang licik. Dan mengincar harta Aan saja.Tapi mata Aan sepertinya sudah buta karena saking kecewa dia pada teman-teman Kost lamanya.
Sementara kabar keberadaan Aris ditelusuri Ibu dan Bapak Kost melalui kekasihnya, karena Ibu dan Bapak Kost mengetahui kebiasaan buruk Aris yang suka berpacaran di Kost meski tidak sampai berbuat yang tidak-tidak di Kost mereka. Tetapi Ibu dan Bapak Kost tahu bahwa Aris bisa saja melakukan tindakan itu di tempat lain karena menghargai mereka sebagai pemilik Kost. Dan kebetulan hubungan Ibu dan Bapak Kost dengan pacarnya berjalan baik sehingga kabar Aris bisa dengan mudah diketahui.
Untuk Santoso, dikabarkan sedang pulang kampung ke Purworejo. Karena jarak Purworejo dan Yogyakarta yang dekat. Membuat dirinya depresi sebab hubungan pertemanannya dengan Aris retak hanya karena soal uang yang seharusnya tidak sampai membuat mereka jadi berenggangan macam ini.
Terkhusus Santoso, Ibu dan Bapak Kost sudah mengenal orangtua Santoso sejak awal semester saat Santoso hendak mencari Kost bersama orangtua mereka sehingga Santoso adalah yang paling mudah dihubungi dan dicari.
Sebisa pun Ibu dan Bapak Kost mengerahkan kemampuan terbaik mereka untuk menyelesaikan permasalahan ini. Bahkan sampai keluar tawaran yang tidak bisa ditolak dari ketiga anak muda itu yang kurang lebih seperti ini “Kalau kalian tidak mau lagi tinggal di Kost Ibu dan Bapak tidak apa, tetapi kalian yakin, Ibu dan Bapak gratiskan deh, minimal sampai kalian lulus. Itupun jika kalian kembali kesini lagi, dan dengan satu syarat, kalian harus berunding bersama untuk menyelesaikan masalah ini.” Itu mereka kirimkan melalui pesan suara dari Ibu Kost yang memelas dan saking merasa dekatnya dengan mereka semua.
Akhirnya dalam sudut pandang ketiga anak itu, sudah bisa ditebak tidak ada yang menolak. Sebab alasan terbesar mereka kabur dari Kost selain karena rasa kecewa pada teman, tetapi juga sudah tidak ada biaya untuk membayar Kost tersebut sehingga daripada kepalang malu. Mereka bertiga bisa dengan kompak untuk kabur saja. Seperti ada kemistri diantara ketiga sahabat itu. Dan Rey pun mendengar kabar tersebut dari Ibu dan Bapak Kost.
Rey merasa bahwa Ibu dan Bapak Kost telah membantunya. Sehingga semuanya bisa mau kembali lagi ke Kost lagi. Meski mereka datang dengan suasana hati dan raut wajah yang berbeda. Seperti menyimpan dendam satu sama lain.
Dan Eyang langsung memberi gerakan batin pada Rey. Seolah menggerakan hati Rey untuk terus mendukung apa yang sudah dilakukan oleh Ibu dan Bapak Kost yang telah membantu menyelesaikan masalah tersebut.
Rey dan Ibu Kost sudah bersekongkol untuk mendatangi mereka ke kamarnya satu-satu. Dan mencoba berbicara dari hati kehati agar mereka mau berdiskusi bersama teman yang lain di ruang tamu di rumah Ibu Kost. Tentu saja, jika Rey yang membujuk maka tidak akan mereka mau berkumpul. Oleh karena andil Eyang Demak yang juga ikutan meringankan perasaan kecewa Aris, Aan, dan Santoso akhirnya mereka semua mau diajak berdiskusi untuk membahas masalah tersebut.
Seperti biasa di ruang tamu sudah ada Bapak Kost yang menunggu. Bapak Kost yang sukanya sarungan dengan membaca koran ditemani kopi setiap pagi itu kali ini akan menengahi permasalahan keempat anak angkatnya ini.
Bapak Kost mengawali “Itu tawaran yang dikirimkan Ibu pada kalian benar-benar akan kami tunaikan dengan syarat kalian harus menyelesaikan masalah ini, syukur-syukur bisa berdamai lagi satu sama lain. Bapak ga enak kalau lihat anak-anak Bapak saling berselisih begini, tidak elok dipandang mata.”
Tatkala Bapak Kost mulai membahas duduk persoalannya seperti biasa darah muda dari ketiga anak itu membuncah dan saling salah lagi diantara ketiganya.
Entah ilham apa yang ada dalam benak Ibu Kost, tiba-tiba Ibu Kost menangis dengan tanpa mengeluarkan suara dan tetesan airmatanya membasahi lantai. Melihat itu semua, ketiganya termasuk Rey merasa tertunduk lesu. Mereka dibuat seperti sedang membuat nangis ibu mereka sendiri, mereka bisa merasa begitu ya siapa lagi kalau bukan karena bantuan Eyang Demak. Karena melihat pemandangan yang emosional itu. Akhirnya perlahan mereka mulai saling terbuka dan mau diajak kompromi untuk mendapatkan jalan tengah masing-masing.
Hingga pada akhirnya jalan tengah yang diambil adalah dengan mengambil tawaran Ibu Kost dan mengikhlaskan semua kejadian itu. Hal itu mereka terima karena tidak tega melihat keadaan Ibu yang menangis dan dikuatkan oleh Rey yang menyerangkan kata-kata pada teman-temannya untuk tetap menghargai ibu dan bapak Kost, Rey juga menasihati bahwa jangan hanya karena nominal persahabatan yang dibangun atas dasar nilai dan moril hancur begitu saja. Oleh karena itu, mereka mau memaafkan satu sama lain lagi.
Setelahnya hanyalah gambaran perasaan senang Ibu dan Bapak Kost, seperti dalam percakapan ini dimana mereka pun akhirnya memberitahukan sesuatu.
“Nak Aris, Santoso, dan Aan… Kami berdua meminta maaf jika selama kalian tinggal disini kalian merasa kurang dan tidak nyaman. Kami berusaha memberikan yang terbaik untuk semua penghuni Kost, termasuk kalian.”
Santoso yang asli Jawa pun langsung membalasnya dalam Jawa Krama “Tidak apa-apa bu, seharusnya kami yang meminta maaf diberi keringanan terus padahal kami sering membuat Ibu dan Bapak merugi akibat ulah kami…”
“Rugi apa yang kamu maksud nak?” Ibu Kost menyela.
“Banyaklah bu, dulu karena ulah saya, Kost Ibu dan Bapak jadi berantakan banyak perabotan rusak karena tempat Kost ini didatangi banyak preman.” Rey langsung menyambar pertanyaan itu.
“Saya juga sering membuat onar disini” Aan kali ini yang merasa tidak enak.
Tetapi saat yang lain merasa tidak enak dan merendahkan diri di hadapan Ibu dan Bapak Kost, hanya Aris yang masih saja membisukan bibirnya dan tidak mengeluarkan satu-dua patah kata pun. Aneh sekali memang Aris ini.
“Ris, lu ngomong dong…” tegur Aan pada Aris dengan menyenggol bahunya.
“NGOOOKKKK-NGOOOKKK…”
Ternyata kebiasaan buruknya masih dia pertahankan, Aris memang getol sekali kalau untuk urusan tidur, lebih-lebih kalau dalam posisi terkantuk-kantuk. Namanya manusia ada yang berbeda. Satu manusia dengan manusia lain pasti memiliki satu keunikan dan tidak ada yang mirip sama persis, pasti ada satu dua hal yang berbeda. Layaknya mereka semua.
Sebenarnya Kost daripada Ibu dan Bapak ini ada 5 kamar, tetapi satu kamarnya lagi digunakan mereka sebagai Gudang, jadi ketika Robin pernah tinggal disini ia gabung satu kamar dengan Rey.
Rey pun sekarang seperti sedang mendapati keberuntungan. Lambat laun masalahnya satu persatu selesai, terlebih masalahnya dengan Robin yang begitu menguras batinnya. Dan seperti biasa tanpa pertimbangan yang berarti Rey langsung mengiyakan ajakan Robin untuk bertemu.
Meskipun dari sisi Eyang Demak mengatakan yang sebaliknya, “Jangan kau terkecoh tingkah palsu Robin nak…” Kata-kata tersebut seperti bersemayam di hati Rey dan berkelibatan sekilas di telinga Rey. Tetapi bisa diketahui Rey masih sama dan bersikap denial akan takdir yang seharusnya sudah Rey dapati.
Pertemuan itu akan diadakan beberapa hari lagi, dalam waktu sebelum mereka bertemu. Eyang Demak hanya bisa pasrah karena semua itu adalah kehendak-Nya. Mungkin ini adalah yang terbaik bagi Rey untuk bertemu dengan Robin. Yang bisa Eyang lakukan lagi-lagi hanyalah berdoa dan berdoa pada yang Kuasa. Agar Rey selalu tabah dan diberikan perlindungan-Nya.
Langit-langit Arsy’ pasti akan bergemetaran jika menerima doa dari orang-orang terpilih macam Eyang. Selain doa orang yang tersakiti dan teraniaya, doa para wali allah SWT juga akan menggetarkan langit-langit Arsy. Dimana doa-doa tersebut sudah pasti akan terkabul. Karena apa yang Eyang pinta tidak lebih hanya untuk melihat cucunya Bahagia dan tetap berada di jalan kebenaran allah. Meski dalam perjalanannya diuji dengan cobaan yang begitu berat.
Sedangkan daripada sisi Iblis Robin, mereka cukup antusias untuk melancarkan strategi liciknya pada Rey.
Iblis tiba-tiba saja memberi wejangan “Persiapkan mentalmu bin! Jangan sampai tidak terkontrol dan emosional begitu…”
Robin menjawab “Aku akan berusaha, dan akan kuamalkan jimat-jimat yang sudah kupelajari agar aku bisa memakai dua kepribadian. Sehingga jika aku bertemu dengan si b******n itu aku bisa tetap dengan perangai Robin yang dulu. HAHAHA! Dan ia pasti tidak akan mengetahui bahwa diriku sudah berubah!”
Mereka kemudian berencana melancarkan aksinya pada malam bulan purnama di tanggal lima belas bulan keempat di semester genap yang akhir ini. Dipercayai menurut Robin bahwa pada saat bulan purnama. Para pemuja setan dan penganut ilmu hitam sedang menyerbakkan ilmu-ilmu hitamnya di malam itu. Para iblis, hantu, demit, dan jin saling berebut makanan yang termanifestasikan kedalam aura-aura hitam yang dibentuk dari rasa benci, kecewa, dendam, amarah serta yang paling mengenyangkan bagi mereka adalah rasa kufur yang tercipta dari para manusia bodoh itu.
“Kau akan merapalkan jimat itu?” tanya Iblis yang tampaknya sudah tahu apa yang dimaksud Robin.
“Ya?”
Robin menambahi, “memangnya kenapa?”
“Kau tahu risikonya Robin? Itu bisa berbahaya, jika kau tidak sempurna merapalkannya pada malam purnama maka Jiwamu yang akan terbawa…”
“Kukira aku bodoh?”
“Aku sudah tahu, dan sudah mempersiapkan itu”
“Itulah sebabnya aku memanggilmu untuk menjadi pasangan kriminalku bodoh!” kini Robin terus saja mencerca si Iblis. Karena pada dasarnya Iblis juga punya kemampuan untuk memberikan cadangan kekuatan sehingga bila-bila ia gagal merapalkan mantranya dengan sempurna maka yang akan terambil adalah nyawa para pasukan Kroco si Iblis.
“Tapi kau sudah mempersiapkan semua syaratnya?”
Robin menjawab Iblis secara tenang, “Sudah. Bawang putih, kemiri, tanah kuburan, dan bunga melati bukan?” Mendengar jawaban Robin. Si Iblis tampak yakin bahwa apa yang direncanakan Robin agaknya akan berhasil karena Robin menjawab semua pertanyaannya dengan pasti dan penuh keyakinan.