Perkuliahan

1593 Kata
Robin begitu vokal melafalkan rapal mantra yang diucapkannya melalui mulut lunaknya itu. Dalam Jawa dan beberapa Bahasa Sansekerta, ia benar-benar telah mempersiapkan segala dendam kesumatnya pada Rey. Tidak sia-sia menurutnya mempelajari hal-hal hitam selama beberapa tahun kebelakang. Namun sayang, apa yang ia lakukan ini sejatinya akan mendapatkan balasan di kemudian hari. Pada jam 23:59 tanggal 14 bulan keempat itu, Ia langsung memulai rapalannya. Dengan harapannya bahwa saat jam 00:00 disaat tengah malam dimana Purnama mulai mengedarkan cahayanya ke seluruh penjuru bumi. Bersamaan dengan itu, udara di malam itu benar-benar diisi dengan nuansa hitam yang pekat. Dimana orang-orang yang sudah memilih jalan untuk keburukan sedang semangat melakukan ritus terlarang, hal tersebut pun membuat udara pada malam itu jadi sesak. Berbeda dengan kaum ghaib, mereka menganggap malam itu adalah malam yang indah karena banyak makanan yang tersedia di malam tersebut. Tetapi jika para Jin yang muslim dan beraliran putih lebih senang melakukan ibadah malam hingga pagi, begitupun untuk manusia-manusia beruntung lainnya yang melakukan ibadah malam purnama sampai pagi. Mereka yang beribadah dari kalangan manusia masih kalah dengan kalangan Jin. Kurang lebih beginilah suasana malam purnama itu. Selanjutnya apa yang Robin lakukan adalah bersemedi dan memfokuskan diri agar ia bisa mengamalkan mantra itu dengan sempurna, agar ia bisa memakai dua perangai dalam satu jiwa. Dan benar saja, tak lama berselang ada sesosok Jin yang tugasnya memang membimbing manusia yang sudah berniat untuk hidup di jalan kesesatan. Jin tersebut memandu Robin dan beberapa sesaat setelahnya Robin sudah bisa memakai perangai barunya itu. Sebenarnya tidak baru, sebab jiwa, karakter dan sifat aslinya memang seperti itu. Karena ia sudah berikrar untuk menjalani kehidupan hitam dalam kesesatan maka Robin yang dulu lama-kelamaan sudah memudar dan berganti dengan Robin sekarang yang dipenuhi amarah, dendam, dan rasa benci. Perangai barunya itu, ia niatkan untuk intensi yang buruk. Sehingga orang yang tidak tahu masih mengira Robin adalah masih orang yang sama. Walaupun, sebenarnya itu bukanlah diri Robin yang sebenarnya lagi, seperti saat Robin bertemu dengan Wahyu salah satu teman Kampusnya. “Robin kok lu baru kesini? Kemarin kemana aja, gak pernah nongol sih?” Robin hanya diam mendengar sapaan Wahyu yang menurutnya sok peduli itu, dan melihat hal tersebut Wahyu malah terus semakin mendekati Robin dan menanyakan banyak hal pada Robin. Dengan tiba-tiba… “KENAPA SIH LU! ADA MASALAH APA SAMA GUE NYET!” Robin membentak Wahyu tanpa sebab yang jelas. Sontak membuat Wahyu tak terima, “Gue nanya baik-baik ye. Ga usah nyolot bisa ga?!” sambil menarik kerah baju Robin. Dan tanpa dinyana, Robin malah langsung menyabet muka Wahyu dengan tamparan yang sangat keras. PLAK! Sekali tampar, membuat Wahyu langsung pingsan terkapar. Semua orang yang memergokinya langsung pada kaget dan melihat Robin ketakutan. Karena tatapan mata Robin yang baru nongol di Kampus itu seperti sangat jauh berbeda dari Robin sebelumnya yang selalu menutup diri dan pemalu. Langsung saja orang-orang pada berlarian menuju tubuh Wahyu dan Robin malah berlalu begitu saja. Tidak memedulikan Wahyu yang terkapar itu. Meski dari belakang terdengar jelas “Woy! Tanggungjawab dong lu bin!” seseorang menyahuti namanya. Dan Robin sempat berbalik dengan pandang mata yang mengerikan pada yang menyahutinya secara kasar itu. Sontak pandang dan tatap mata Robin itu membuat si penyahut menjadi kecut dan tiba-tiba langsung ketakutan melihat mata Robin yang memerah seperti habis begadang beberapa hari. Semenjak saat itu, Robin yang sekarang jadi bahan omongan setiap mahasiswa Fakultas. Bahkan saking hebohnya, kabar tersebut sampai tersiar nyaris kesemua Fakultas yang ada di Kampus. Nama Robin dan Wahyu jadi viral. Wahyu yang mendapati hal traumatis itu setelahnya langsung berbeda jika bertemu Robin. Selalu ketakutan dan tidak ingin berbicara pada Robin lagi. Oleh karena kabar heboh tersebut tersiar kemana-mana di Kampus. Sampai-sampai Aan mendengar kabar ini. Dan awalnya Aan merasa tidak percaya atas apa yang sudah ia dengar dari kabar-kabar yang berseliweran ini. Ia merasa tidak mungkin Robin bisa seberani itu. “Halah kalo di Kost aja orangnya pendiam gitu” dalam hatinya saat ia pertama kali dengar kabar tersebut. Dan ia menganggap ia tidak akan mempercayai kabar itu, kecuali ia sudah mendengarkan, dan melihatnya secara langsung mungkin ia akan otomatis percaya. Hingga suatu petang di Kampus. Aan yang baru saja menaruh motornya di parkiran kampus mendapati Robin lagi, dan ia langsung menyapanya, “Robin!” Robin langsung pergi berlalu saja tanpa menjawab panggilannya. “Sombong banget lu sekarang ye” canda Aan tiba-tiba pada Robin yang berjalan cepat seperti ada yang mau dikejar. “Ahaha iya an…” Aan mencoba menawarkan Robin untuk mengobrol sebentar “Mau kemana si, kalem napa, sini di motor ngobrol dulu.” “Gue buru-buru an, tar aje.” Aan mengakhiri dan berlalu “Tai lu, sekarang gitu. Awas aje” meninggalkan Robin. “Apa dia bilang?” dalam hati Robin sebenarnya memiliki dendam-dendam kecil dengan si Aan ini, ia merasa kaget dengan kata-kata yang selalu ia ucapkan padanya. Ya, Aan acapkali becanda dengan candaan kasar meski sebenarnya hanyalah untuk niatan bercanda. Tetapi hati Robin yang terlampau lembut, terkadang tidak bisa membiasakan perasaannya untuk menerima candaan Aan yang menurutnya tetap kasar dan bisa saja sedikit melukainya. Robin gantian memanggilnya, “Aan!”. Dengan tiba-tiba Aan sudah terkapar di tanah karena diberi bogem mentah dari Robin tiba-tiba tanpa aba-aba. Meski begitu, Aan tidak sampai pingsan seperti Wahyu, ia hanya jatuh saja. Dan sejak saat itu Aan merasa ada yang berbeda daripada diri Robin yang sekarang. Sejak saat itu pula ia mempercaya berita-berita tentang Robin itu. Sementara itu, Robin langsung pergi dengan tenang dan tidak lari. Robin merasa orang seperti Aan musti mengetahui bahwa tidak semua orang bisa diajak bercanda seperti gaya bercandanya. Ia pikir bahwa mental dan perasaan setiap orang berbeda jadi jangan disamaratakan model bercandanya yang kasar itu pada dirinya. Usia Robin yang tergolong muda, dalam Angkatan pun hanya segelintir mahasiswa yang sesuai dengan usianya. Dalam artian, jika seseorang memasuki kuliah sebagai angkatan 01 maka secara ideal ia seharusnya bisa lulus 3-4 tahun kedepan dan ia bisa lulus bersama angkatan 01 tersebut secara tepat waktu. Tetapi berbeda seperti Rey, ia tertinggal 2 semester dan sekarang usianya sudah 22 tahun yang idealnya sudah lulus dari masa perkuliahan. Tetapi Rey sekarang malah bergabung dengan angkatan Aan yang lebih muda satu tahun dibawahnya. Sebenarnya tidak ada ukuran yang pas tentang kelulusan kuliah, yang menjadi ukuran yang seharusnya disepakati oleh kita semua adalah bagaimana seseorang bisa menghargai jatah waktu masing-masing orang yang berbeda. Sedari menjadi mahasiswa baru, Robin sudah terkenal ambisius dan rajin. Tak heran bilamana ia sangat rajin berkuliah dan dijuluki kutu buku atau ambis. Tetapi mendapat ledekan semacam itu tidak membuat Robin merasa rendah diri, ia justru semakin semangat dalam belajar. Ia sudah lakukan komitmen-komitmen kecilnya pada diri sendiri. Bahkan dari awal masuk saja ia merupakan mahasiswa yang masuk karena prestasi dan beasiswa. Jadi sudah tidak diragukan lagi kemampuan otaknya yang cerdik. Kemudian ia tahu, kecerdikannya ia pakai sekarang untuk hal yang tidak baik – membalas dendam pada Rey. Sehabis ia berhasil mengamalkan rapalan mantranya, tentu kini ia sudah mendapatkan kembali perangainya yang dahulu. Pada saat bertemu dengan Rey lagi, Robin sama sekali tidak gugup atau termakan dendam yang sudah disimpannya. Karena sejatinya dirinya yang asli yang dipenuhi dengan dendam itu sedang beristirahat dan sekarang ia menggunakan perangai lain sehingga tidak diketahui sebenarnya ini adalah Robin palsu. Rey langsung merangkul bahu Robin begitu antusias karena rasa rindu sebagai seorang teman dekat yang berbulan-bulan tidak bertemu. Si Robin hanya memberitahu satu hal bahwa kaburnya ia adalah karena masalah keluarga dan ia beralasan tidak ingin membuat Rey dan teman-teman Kost menjadi terbebani karena masalah tersebut. Bukan Rey namanya, Rey langsung menyanggah alasan Robin itu. Dan berucap “Jangan kau anggap aku dan teman-teman ini orang lain Rob” tidak seperti kebanyakan orang yang memanggil dirinya “bin”, Rey justru memanggil Robin dengan sebutan “Rob”. Darisini saja sudah terlihat secara perlakuan pun sebenarnya Robin diistimewakan oleh Rey, tidak seperti teman biasa. “Tapi aku hanya tidak ingin membuat kalian semua merasa pusing, kan selama ini kalian sudah baik padaku, aku ga enak…” Rey dengan santai menjawab menggunakan Bahasa anak muda – Bahasa ibukota, biasanya Bahasa Betawi. “Yaelah Rob-rob, kita kan udah sahabatan, udah temenan dari awal lu masuk kuliah kan? Santai aja napa…” “Lu baik banget si Rey” “Mau banding-bandingan nih? Kebaikan lu lebih gede daripada gue Rob…” Rey semakin meyakinkan Robin bahwa ia kalah baik dari dirinya “Yakin dah.” “Masa sih?” “Yeh si t***l merendah…” Akhirnya mereka mengakhiri percakapan itu dengan canda tawa yang ceria tanpa ada sedikitpun intrik karena sesaat sebelum percakapan itu berakhir Rey telah memohon maaf secara pribadi jika ia memiliki salah pada Robin. Beberpa setelahnya adalah diskusi mengenai kelulusan keduanya, mereka bercerita tentang kapan mereka akan berencana menyelesaikan studinya ini. Apakah tahun ini? Atau lebih cepat pada semester ini? Tentu saja pertanyaan tersebut sudah dinantikan Robin dan ia dengan antusias menjawab bahwa ia telah mempersiapkan segala sesuatu untuk kelulusannya nanti. Karena sudah sejak dari semester ganjil yang tua pada satu semester yang lalu. Robin sudah menyicil sedikit demi sedikit naskah skripsinya. Sehingga ia berujar bahwa rencananya bila tidak ada halangan maka ia bisa lulus semester 8 ini. Dan itu membuat Rey sangat senanng mendengarnya. Namun saat Robin balik bertanya kapankah Rey akan lulus. Rey malah menjawab, bahwa dirinya santai saja yang terpenting tidak lebih dari 4 tahun. Meski sekarang sudah memasuki tahun ketiga dan 5 bulan lagi akan masuk tahun ke 4. Dan pada akhirnya Rey menawarkan Robin untuk berpindah Kost lagi dengannya. Dan bisa diketahui bahwa Robin menolak dengan alasan yang sama yaitu karena merasa tidak enak selalu membebani Rey dan teman-temannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN