Robin menolak ajakan Rey karena satu dan lain hal. Yang jelas salah satu sebab utamanya adalah karena Robin sudah memberi pelajaran secara langsung pada Aan sehingga takut jika Robin, Rey dan Aan bertemu nanti si Rey bisa saja terpengaruh oleh Aan agar mau menjauhi dirinya. Maka dari itu, Robin hanya mau bertemu di Kampus dahulu untuk sementara waktu atau untuk selamanya. Meski Robin dengan Ibu dan Bapak Kost berhubungan baik, bahkan sudah seperti anak kandungnya sendiri dimana Robin acapkali diperlakukan sangat baik oleh mereka, diberi makan, minum, dan tempat tinggal tanpa harus membayar biaya sewa tambahan. Benar-benar langka memang Ibu dan Bapak Kost satu ini.
Tetapi bagaimanapun juga Robin tetap berusaha bersikap biasa saja jika suatu waktu akan bertemu mereka termasuk dengan si Aan. Bahkan ia berencana jika memang keadaan memaksanya harus bertemu Aan bersama Rey, maka agar supaya Aan tidak curiga ia akan meminta maaf duluan dan menyesal didepan Aan. Meskipun sebenarnya ia tidak merasa begitu. Itu dilakukan semata-mata untuk menjaga pengaruh-pengaruh luar yang bisa saja mempengaruhi Rey agar Robin tidak bisa lagi berhubungan dengan Rey.
Robin pun terkadang merasa ingin bertemu si Ibu dan Bapak, karena disana ia bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu yang tidak pernah ia rasakan sejak kecil. Menurutnya di tempat Kost Rey, orang yang pantas disayangi dan dipedulikan hanya kedua orang tua pemilik Kost itu saja, dan tidak dengan penghuni-huninya apalagi Rey.
Kepalsuan Robin sebenarnya hendak terkuak, saat Aan memberitahu Rey ketika Rey pulang dari Kampus menggunakan motor bututnya itu. Aan saat itu langsung mendatangi Rey di kamar Kostnya Rey dan bercerita tentang kejadian tersebut. Si Rey yang mendengarnya hanya tertawa dan merasa apa yang Aan sampaikan adalah khayalan semata. Sebab Rey masih percaya Robin adalah anak yang lemah secara fisik dan mental. Oleh sebab itu, cerita Aan sukar dipercaya menurutnya. Tetapi Aan sampai bertaruh pokoknya Rey harus berhati-hati dengan si Robin itu. Karena Aan yang merasakan kebengisannya sendiri bahwa sebenarnya Robin bukanlah Robin. Ia berbeda.
Aan bahkan menceritakan hal itu pada Aris dan Santoso di kamar-kamar mereka masing-masing.
“Eh lu percaya kagak, si Robin sekarang udah kuliah tau!”
“Yowes reti aku, wingi aku ketemu. Jarene emoh balek rene neh.” (iya aku sudah tahu, kemarin aku ketemu. Katanya ga mau pulang kesini lagi) ujar Santoso dalam Jawa.
Aan sangat antusias bercerita “Dengerin dulu ah. Ini gue mau cerita, gue ga yakin itu adalah Aan. Masa kemarin gue nyapa terus ngecengin dia di Parkiran eh malah dibales dengan pukulan si? Pedes banget, mane kena pipi lagi, makanya dari kemarin memar nih pipi gue anying. Disentuh aja udah nyut-nyutan. Tailah.”
Datanglah si Aris yang mendengar cerita Aan sayup-sayup dari kamarnya, karena merasa bahwa cerita Aan seru Aris langsung masuk kamar Santoso dan menimbrungi mereka. “Ada apa, ada apa. Gue ikutan dong!”.
Rey yang mendengar mereka bertiga mengoceh di kamar Santoso yang berada ditengah. Hanya tertawa-tawa kecil dan masih meragukan berita yang dibawakan oleh Aan itu. Menurutnya Aan sedang tidak sadar, sebab Rey juga tahu bahwa Aan gemar mabok.
“Yaudah sih, kalo lu-lu pade ga percaya…” jawab Aan yang kesal mendengar respon Aris dan Santoso yang skeptis.
“Buktiin aja dulu, gue mah kalo ga ngerasain mana mau ngakuin. Males banget, bisa aja lu mabok kali an… Bayangin si Robin jadi bisa sekuat itu… Lu kan kalo mabok ade aje tingkahnye…” Aris meledekinya.
Giliran Santoso dengan logat medhoknya “Ya gini aja, kapan-kapan kalau kita ada waktu. Coba kita ketemu sama Robinnya. Apa iya dia sekarang berani berantem? Anying dulu aja pas ketemu sama si Rey pertamakali tuh anak kikuk dan kaku banget. Keliatan Introvert gitu kan? Lu pada inget ga sih! Dasar pikun semua lu. Kebanyakan mabok sih pada…” suara Santoso yang melantunkan gaya Bahasa Betawi terdengar sangat lucu di telinga. Karena ia mungkin sudah dari kecil hanya terbiasa berbicara dengan Jawa.
“Inget-inget gue, makanya gue aja yang udah ngalamin ga percaya ini…” tandas Aan mengakhiri percakapan itu.
Dan kemudian Rey menimpali dari kamar Kostnya yang berada di pojok berada dekat dengan pagar rumah. “Ngapusi-ngapusi tok kui Aan, hu!” Rey menyoraki Aan dari dalam kamarnya.
Aan tidak membalas ledekan Rey itu. Dan malah mengambil kaus kaki dari sepatu Santoso, kemudian ia berjalan menuju kamar Rey dan dengan tiba-tiba melemparkan kaus kaki Santoso yang bau sekali seperti bau terasi. Si Rey mengejar Aan untuk membalas perbuatannya, si Aan langsung kabur ke kamar mandi dan langsung menguncinya. Sungguh betapa serunya pertemanan di lingkungan Kost Rey ini. Tidak ada kepalsuan semuanya asli, meski tidak dipungkiri terkadang ada saja drama dan intrik yang tidak diinginkan terjadi menimpa mereka semua.
Sesampainya Robin pulang daripada pertemuannya dengan Rey ia langsung mengabari pada Iblis tentang si Rey itu. Dan menurutnya aksinya berjalan mulus sebab Rey malah merasa kasihan pada dirinya dan Rey juga merasa bersalah pada dirinya. Hal tersebut membuat Robin merasa bahwa Rey bisa dengan mudah dihabisi jika menggunakan cara-cara yang senyap begini sehingga walaupun terkesan halus tetapi imbasnya bisaa sangat dahsyat dan kehancuran yang akan diterima oleh Rey akan begitu besar.
Lalu Robin dan Iblis tertawa bersama dengan terbahak-bahak dan membelalakan mata. Terlihat sisi asli Robin lagi yang matanya hampir sama dengan si Iblis terlihat merah dan selalu dipenuhi oleh dendam dan hawa nafsu.
Alasan Robin memilih Kost yang jauh dari kampus adalah untuk menenangkan diri serta merancang strategi untuk misi balas dendamnya dengan si Rey. Kostan baru yang ia pilih yang berada di bilangan Kabupaten Bantul itu, letaknya sangat jauh dari pusat Kota Yogyakarta bahkan melewati semacam pekarangan, persawahan serta kuburan. Di kostan tersebut pula ia memilih kostan yang sebenarnya tidak direkomendasikan oleh si pemilik Kost karena berada dekat dengan sungai dan ruangan kamar Kost tersebut bekas tempat dimana seseorang pernah bunuh diri disitu.
Tetapi agaknya hal tersebut semakin membuat Robin antusias karena suasana yang semacam itu yang dibutuhkan Robin dimana semua benda-benda mati yang terdapat di dalam kamar sudah barang tentu akan menyimpan semua memori hitam dari pada korban bunuh diri itu seperti dendam, amarah, penyesalan dan berbagai perasaan kelam lainnya. Maka dari itu hal tersebut menjadi salah satu faktor penting kenapa Robin bisa dengan mudah menyerap semua ilmu hitam meski baru mempelajarinya beberapa tahun kebelakang saja. Karena lazimnya orang yang ingin belajar hal begituan diperlukan waktu yang lumayan lama. Tidak hanya berlaku di ilmu hitam, baik ilmu hitam dan ilmu putih jika orangnya tidak terpilih oleh “takdir” maka orang tersebut akan sangat lama untuk bisa berhasil mempelajari ilmu tersebut dan berhasil mengamalkannya pula.
Seperti sebuah kebetulan dimana Robin terpilih sebagai orang pilihan yang berada di sisi kesesetan, keburukan, dan kesalahan. Dengan Iblis sebagai pasangan jahatnya yang menemani Robin dengan setia. Sedangkan Rey, terpilih sebagai orang pilihan yang berada di sisi kebenaran, kebaikan, dan kebijaksanaan. Dengan Eyang Demak yang menitisinya untuk menjadi penerus kebaikan tersebut.Dan lagi, perlu diketahui semua orang-orang terpilih ini tidaklah harus dengan sengaja berniat untuk mendapatkan ini semua. Malahan orang yang begitu getol berniat ingin mendapatkan sesuatu, dalam hal ini adalah konteks ilmu hitam dan ilmu putih. Semakin ia berusaha keras, semakin ia ambisi benar maka itu akan menjadi sukar untuk didapatkan apalagi bila tidak sabar dengan prosesnya.
Seperti Rey yang sejak awal tidak percaya dengan hal seperti itu. Dan sekarang berbeda, mulai bertahap menerimanya walau terkadang ia masih saja menolak untuk menerima. Dan seperti Robin yang beberapa tahun lalu belajar dengan begitu rajin sampai ia hampir gila mempelajarinya meski sekaranga ia berhasil untuk menguasai ilmu tersebut. Dan biasanya orang-orang seperti Rey dan Robin akan merasa rendah diri dan tidak mau menampilkan kelebihannya kecuali kepada orang yang pantas untuk diberi pelajaran. Jika orang lain yang baru sedikit menguasai dan sudah sombong, maka ilmu tidak akan berguna dan malah tidak berhasil untuk diamalkan. Ibarat kata Rey dan Robin mungkin sangat menikmati proses yang mereka lewati. Karena perjalanan mereka untuk mendapatkan ilmu ini berat sekali. Walau dalam kenyataannya Rey dan Robin sedikit memiliki keberuntungan dengan bantuan Eyang untuk Rey dan Iblis untuk Robin.